Setelah mencari, akhirnya Rianti menemukan kamar mandi. Membersihkan diri dan keluar dengan wajah lebih segar. Rianti langsung menuju kamar Sava. Pintu kamar Sava masih terbuka, Rianti membukanya lebih lebar.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Sava terbatuk dan duduk di lantai. Rianti langsung berlari menghampirinya. "Sava!" pekik Rianti kaget. Dia ikut duduk di lantai, spontan memegangi pundak Sava dan menuntunnya untuk naik ke ranjang. Rianti sangat khawatir karena Sava meremas dadanya. Terlihat sangat kesakitan.
"Jangan di remas. Minum obat aja, ya. Emm, mana obatmu?" tanya Rianti.
Sava tidak menjawab tetapi menunjuk laci. Rianti langsung mencari di laci itu. Menemukan obat yang sangat banyak dengan jenis yang sama.
'Sepertinya, ini racikan khusus.' batin Rianti melihat semua obat itu.
Rianti menyerahkan obat itu tanpa naik di ranjang. Dia berdiri di samping Sava. "Ini, minum obatnya!" pinta Rianti.
Sava menerimanya, dia langsung menelan tanpa minum. Batuknya perlahan mereda. Sava terengah dan bersandar kepala ranjang. Rianti menatapnya bingung. "Gimana? Udah lebih baik?" tanya Rianti.
Sava membuka matanya lagi, menatap Rianti dengan pandangan tidak mengerti. Sava melihatnya dari atas sampai bawah, berkerut heran. "Kenapa kau ke sini? Sudah dapat kamarmu?" tanya Sava balik.
Rianti tersenyum dan langsung naik ke ranjang lagi. Sava melihatnya dengan mengerutkan dahi. "Aku ke sini untuk menemuimu, lah. Aku sudah bertemu dengan Paman Rey dan kamarku ada di sebelah kamarmu. Kalau kau butuh apa-apa, panggil saja aku," ujar Rianti.
Sava berdecak. "Aku tidak butuh bantuanmu," ujar Sava memalingkan wajahnya.
Rianti jadi diam. 'Aku tau situasimu sekarang, Sava. Tapi kau tidak boleh murung seperti ini. 'Benar juga, siapa yang tidak murung kalau tahu umurnya tinggal sebentar lagi. Rianti payah!' batin Rianti.
Rianti mengukir senyum kembali. Tidak menghiraukan ucapan Sava, dia terus mencoba mengajaknya bicara. "Eh, Sava. Semua baju cewek itu, kau yang beli? Untukku? Aku memakainya, rasanya nyaman sekali," kata Rianti sok senang.
Sava tetap membisu dan tidak berpaling. Rianti tidak kehabisan akal, dia terus bicara. "Kata Paman Rey, dia akan ke sini besok pagi. Jadi, hanya kau dan aku di sini." jelas Rianti.
"Hmm, pergilah!" Suruh Sava tanpa menoleh.
Rianti menatapnya agak kaget. Tapi, dia tersenyum lagi. "Aku sudah tau sedikit tentangmu. Pernikahan ini seperti teka-teki. Kenapa Ayahku dan orang tuamu pergi? Lalu, kita menikah di usia muda." terang Rianti lagi.
"Pergi!" pinta Sava masih membuang muka.
Rianti menatapnya iba. "Tentang kau yang ... Ehm, maaf, mengidap sakit jantung dan di vonis umurmu tinggal sebulan lagi. Aku ..." ucapan Rianti terpotong oleh Sava. Sava menoleh dengan wajah kesal.
"Aku bilang, pergi!" marah Sava. Rianti tersentak, dia hanya diam sedikit ketakutan. Mereka saling pandang sampai Sava sendiri yang memalingkan wajahnya. Dia berdeham. "Ehm, maaf. Aku tidak bermaksud membentak. Kau, pergi saja." pinta Sava tak memandang Rianti.
Itu justru membuat Rianti semakin tersentak. "Eh, aku kira kau mau marah," ucap Rianti.
"Tidak, pergilah!" Suruh Sava lagi.
"Aku nggak mau pergi!" tolak Rianti.
Membuat Sava menoleh padanya. Rianti tersenyum. "Maaf, Tuan Sava, kalau saya lancang." canda Rianti mengikuti gaya bicaranya saat bertemu Sava. Sava mengerutkan dahi, Rianti jadi tertawa kecil. "Hahaha, aku nggak mungkin manggil, Tuan dan ngomong kaku, 'kan? Aku rasa kau seperti kakak kelasku. Kita, emm ... mungkin sama." terang Rianti bingung.
Sava semakin mengerutkan dahi bingung.
'Aku nggak mungkin ngomong umur, Sava. Kau akan tambah sedih, nanti,' batin Rianti.
Sava menggeleng pelan. "Kau ini, pergi sana!" usir Sava lagi.
"Kau masih mengusirku? Kalau kau tidak menganggapku istrimu, setidaknya kita bisa berteman, 'kan? Aku tidak peduli penyakit yang kau derita. Bagiku, kau tetaplah manusia. Manusia berhak hidup normal sampai dia mati. Meskipun dokter bilang hidupmu tidak lama lagi, memangnya hanya orang sakit yang bisa seperti itu? Takdir nggak ada yang tau, iya, 'kan?" ucap Rianti panjang.
Sava terus menautkan alisnya, menatap Rianti tanpa berkedip. Rianti melanjutkan ucapannya lagi. "Hidup dan mati, 'kan Tuhan yang mengatur. Bisa saja, aku yang seperti ini besok mati, atau nanti malam mungkin, atau sebulan lagi, satu tahun lagi, atau masih lama lagi. Tidak tau, 'kan? Jadi, kau jangan bersusah hati, Sava." Rianti menjelaskan.
Sava mengedipkan matanya sekali. Rianti mencoba ceria. "Aku akan jadi temanmu. Mau berteman denganku?" tanya Rianti mengulurkan tangan.
Sava menunduk melihat tangan Rianti. Dia terlihat ragu untuk menjabat tangannya. Sangat terlihat jika Sava bingung. Rianti tersenyum jahil, melanjutkan ucapannya. "Suamiku? Kita teman?" tanya Rianti senyum lima jari.
Dipanggil seperti itu membuat Sava perlahan mengukir senyum. Dia menatap Rianti sambil menjabat tangannya. "Teman." Jawab Sava.
Rianti tertawa dan Sava tersenyum kecil. Tangan mereka masih berjabatan. "Hahaha, kau tau Sava? Aku tadinya berpikir kalau kau pemarah. Jadi, agak takut padamu. Biasanya, 'kan orang kaya suka marah dan seenaknya sendiri. Temanku ada yang orang kaya. Dia sangat sombong!" ucap Rianti.
"Aku tidak seperti itu," kata Sava sambil melepaskan jabatan tangannya. Rianti mengerti, dia kembali bicara. "Iya aku tau, kau kelihatannya sangat baik," ujar Rianti.
Sava menatapnya polos. Wajah keraguan dan pasrah akan mati dapat Rianti lihat. Tetapi, Rianti jadi terpaku dengan mata Sava. Dia melamun tidak sadar tersenyum dan berkata, "Tampan sekali."
Sava masih bisa mendengar suara Rianti, dia mengerutkan dahi. "Apa?" tanya Sava. Membuat Rianti mengerjap sadar. "Eh, apa? Maksudku ... Kau, kau tampan pakai baju pengantin, hehe. Kenapa masih kau pakai?" jawab Rianti gugup.
"Aku, lupa." Jawab Sava singkat.
"Mau aku bantu?" tawar Rianti tersenyum polos. Sava melotot kaget. Seketika Rianti juga kaget. "Eh, maksudku aku bantu ambilkan bajumu, mungkin? Atau, aku antar ke kamar mandi? Aduh, salah lagi ... Maaf, maaf bukan itu maksudku. Aku ambilkan baju, ya. Di mana? Lemari, ya?" ucap Rianti salah tingkah.
Rianti meringis. 'Duh, Rianti. Bodoh sekali kau! Malu-maluin tau, gak!' batin Rianti.
Sava menghela napas. "Tidak perlu, aku bisa sendiri." jawab Sava dengan senyum tipis. Hati Rianti senang. Dia menatap Sava berbinar, sedangkan Sava berdiri dan mengambil pakaian di lemari dengan perlahan.
'Wah, manisnya ... Dia senyum. Andai saja kau sehat dan ada di sekolah, aku pasti tergila-gila. Eh, tunggu. Kalau Sava beneran sakit jantung, dia pasti gak bisa keluar kamar jalan ke kamar mandi dengan baik, 'kan? Ini, dia jalan sendiri santai. Masa iya dia sakit? Ini aneh.' batin Rianti berpikir.
Rianti menatap semua sudut kamar Sava, penuh dengan aroma Sava. Rianti menghirup dalam-dalam napasnya dan membuangnya pelan. Dia menepukkan tangannya satu kali. "Oke. Aku harus cari tahu ini semua. Ini mengganjal, dan aku tau siapa orang yang harus aku waspadai. Paman Rey, aku mencurigaimu. Kau pasti tau tentang Sava dan keluarganya. Lalu, pernikahan ini juga. Aku harus mengumpulkan bukti dan kebenaran Sava sakit atau tidak." ucap Rianti penuh tekad.
Menunggu Sava sampai selesai ganti pakaian. Justru, Sava masuk ke kamar dengan keadaan sehabis mandi. Rambutnya agak basah dan pakaian yang santai. Hati Rianti bereaksi lagi. Dia terpaku hanya melihat Sava berjalan ke arahnya.
'Ini, aku yang sakit jantung apa Sava? Jantungku berdetak-detak cepat.' batin Rianti bingung.
Sava duduk di samping Rianti dan merebahkan dirinya bersandar kepala ranjang. Rianti masih tidak sadar jika sedang terpesona. Sampai Sava menoleh dan bertanya padanya. "Kenapa kau menatapku?" tanya Sava. Rianti jadi mengerjap sadar. Dia kelagapan mencari alasan. "Ha? Eee, aku tidak menatapmu. Eh, kau sudah selesai? Habis mandi, ya?" tanya Rianti.
Rianti menggigit lidahnya. "Ck, salah ngomong lagi," gumam Rianti membuat Sava tertawa. Rianti melongo melihat tawa ringan Sava.
"Haha, ternyata kau lucu dan cerewet," kata Sava di sisa tawanya. Rianti menganga. "Apa kau bilang? Kau mengejekku, ya?" tanya Rianti sok kesal. Padahal bibirnya tersenyum.
Sava menggeleng. "Tidak, itu fakta," jawab Sava.
Rianti pura-pura kesal. "Dengar, ya! Biarpun aku cerewet, aku ini pintar. Aku salah satu siswa terbaik di sekolah." bangga Rianti sambil menepuk dadanya.
Sava tersenyum unjuk gigi. Dia mulai nyaman dengan Rianti, tidak terlalu murung. "Oh, ya?" goda Sava.
"Iya, dong. Hari ini, hari kelulusanku dan aku menikah saat ini juga. Hahaha, keren, 'kan?" tanya Rianti.
Rianti masih duduk sedangkan Sava bersandar kepala ranjang. Sava menjawab. "Hmm, jadi kau anak pintar?" tanya Sava masih menggoda.
"Iya, lah. Aku pasti lebih pintar darimu," ejek Rianti.
Sava tiba-tiba bingung. "Tunggu dulu, berarti, kau baru lulus? SMA?" jawab Sava bertanya.
Rianti mengangguk. "Iya, awalnya aku marah karena dinikahkan paksa. Datang ke sini sudah resmi menikah. Entah seperti apa kau menikahiku. Memangnya kita benar-benar menikah?" tanya Rianti.
Sava mengangguk. "Iya. Karena itu, aku tau nama lengkapmu. Rianti Salsavitri," jawab Sava.
Mendengar Sava menyebutkan nama lengkapnya, Rianti jadi kikuk. "Hehe," cengir Rianti kaku.
Sava justru salah paham. "Kau tidak suka? Menyesali pernikahan ini?" tanya Sava dengan mata sayu. Dia kembali murung.
Rianti menggeleng dengan cepat sambil menyilangkan tangannya. "Enggak kok enggak. Enggak menyesal. Aku tidak masalah, haha," tawa Rianti kaku.
Namun, wajah Sava semakin murung. Rianti jadi serta salah.
"Huft, apa untungnya menikah denganku. Aku hanya seonggok daging yang membusuk satu bulan lagi." ucap Sava melengos. Wajahnya langsung di tarik Rianti. Membuat Sava melotot kaget.
Rianti memegang kedua pipi Sava. "Enggak! Kau nggak boleh ngomong begitu! Apa bedanya mati sekarang atau nanti? Kalau memang tiga puluh hari kedepan kau tiada, tetap saja hari ini dan besok kau masih hidup! Aku senang menikah denganmu. Buktinya, aku mau jadi temanmu. Aku akan menemanimu sampai kapanpun!" seru Rianti serius.
Sava masih menatap Rianti kaget. Lalu, dia melirik tangan Rianti di wajahnya. Rianti ikut memandang tangannya, dia langsung menarik tangannya. "Ehm, maaf. Aku nggak sengaja," kata Rianti menatap ke segala arah.
Sava masih menatapnya. "Kau, tidak keberatan? Kalau aku mati, kau akan jadi janda muda." kata Sava polos. Rianti spontan menatapnya dan tertawa pelan. "Hahaha, kau bercanda, ya? Ehm, kalau begitu, kau harus tetap hidup!" pinta Rianti.
Sava mengerutkan dahi. "Apa?" tanya Sava.
Rianti mengangguk pelan. "Iya, Sava. Kau harus tetap hidup. Jangan menyerah, aku bersamamu." ujar Rianti.
Sava menatapnya dalam. "Kau serius? Ingin bersamaku?" tanya Sava lagi.
Rianti mengangguk lagi. "Aku serius." jawab Rianti.
Sava bertanya lagi. "Apa karena hartaku? Iya, 'kan?"
Rianti menggeleng cepat. "Enggak. Aku nggak mau hartamu sama sekali. Meskipun kau tidak punya rumah sekalipun, aku akan tetap bersamamu!" tekad Rianti.
Sava sangat tersentak dalam hati. Tidak pernah ada orang yang mau menemaninya, apalagi di kondisinya saat ini. Sava bertanya terus. "Kenapa?"
Mereka saling tatap dengan Sava yang bertanya-tanya dan Rianti penuh tekad. Rianti menjawab. "Karena kita sudah menikah. Seperti apapun kau, aku akan menerimamu." Rianti sungguh-sungguh. Itu membuat Sava tersentak lagi.
"Kau tertarik padaku?" tanya Sava.
Rianti mengerjap. "Hmm? Tertarik? Tidak tau, meskipun kau sangat tampan, sih, hehe." Jawab Rianti nyengir.
Sava berdecak. "Ck, kalau bukan harta, bukan suka, terus apa? Kau bisa saja pergi dan bawa semua hartaku. Aku tidak punya harapan hidup. Untuk apa menemaniku bahkan kalau aku tak punya rumah sekalipun. Kenapa Rianti?" tanya Sava heran.
Rianti di buat diam sebentar. Dia ikut berdecak karena Sava tidak mengerti ucapannya. "Ck, kau ini. Suasana hatimu cepat sekali berubah, ya? Sudah kubilang, kita ini suami istri. Tidak peduli masih muda atau kayak gimana keadaannya, aku akan tetap bersamamu. Gimana, sih? Gak paham juga? Ah, sudah kuduga kalau aku lebih pintar darimu." Jawab Rianti.
Sava diam. Wajahnya murung lagi. "Kau, menganggapku suamimu?" tanya Sava. Matanya sangat murung seperti hilang semangat. Rianti jadi ikut sedih. "Ayolah, Sava. Jangan murung begini! Aku harus apa kalau kau murung lagi?" Rianti bertanya sedih.
"Aku, sudah tidak ada harapan hidup. Aku ini laki-laki yang tidak berguna. Kau pantas dapat yang lebih baik. Bukannya laki-laki yang sudah bau tanah!" ujar Sava menunduk.
Rianti menggeleng. "Kau jangan begitu. Ih, aku pengen meremas wajahmu." ucap Rianti sambil tangannya ingin meremas wajah Sava. Membuat Sava melotot. "Ha?" tanya Sava heran.
"Jangan-jangan, kau tidak mau aku di sini, ya? Terus, kenapa menikahiku?" tanya Rianti.
Sava terlihat kebingungan. Dia memutar bola matanya ke segala arah. "Aku, tidak tau," jawab Sava.
Rianti mendesah. "Haduh, kau ini! Sudahlah, jangan bahas itu lagi! Kita berjalan saja, oke?" Rianti tersenyum senang.
Sava perlahan tersenyum dan mengangguk. Rianti mengalihkan pembicaraan. "Oh, ya. Jam berapa sekarang?" tanya Rianti menatap dinding mencari jam.
Sava menjawab, "Tiga sore."
Rianti menatap Sava lagi. "Kok, tau? 'kan, nggak ada jam di dinding," tanya Rianti.
Sava menunjukkan pergelangan tangannya sambil menjawab, "Dari arloji."
Rianti menatap arloji dan Sava bergantian. Rianti meringis. 'Singkat banget jawabnya. Pasrah hidup, nih,' batin Rianti.
"Emm, kau mau makan?" tanya Rianti.
Sava menggeleng.
"Mau ... Mandi lagi?" tanya Rianti bingung mencari topik pembahasan.
Sava menggeleng lagi.
'Haduh, gimana lagi sekarang?' batin Rianti. Rianti menaikkan kedua alisnya sambil bertanya, "Eee, mau main?"
Sava tersenyum geli lalu menggeleng.
Rianti mengerucutkan bibirnya dan berdecak. "Terus, mau apa sekarang?" tanya Rianti bingung.
Sava menatapnya polos dan menggeleng lagi. Rianti menjambak rambutnya pelan. Membuat Sava tertawa tanpa suara. Tiba-tiba Rianti memajukan wajahnya dengan mata melebar. "Mau menciumku?" tawar Rianti.
Sava terbelalak, wajahnya dengan Rianti sangat dekat. Sava menyentuh dahi Rianti dengan telunjuknya lalu mendorongnya. "Kau, agresif sekali!" kata Sava.
Rianti mengelus dahinya. "Habisnya, kau di tanya mau apa, menggeleng terus. Ya, aku bingung," jawab Rianti jujur.
"Memangnya, mau aku cium?" tanya Sava.
Rianti menatapnya. "Ha? Hahaha," tawa Rianti pelan.
Sava bingung, "Kenapa?"
"Hahaha, perempuan mana yang nggak mau kau cium? Ada-ada saja." jawab Rianti.
Sava memutar bola matanya. "Aku, 'kan sekarat. Udah kayak mayat hidup!" jelas Sava.
Rianti langsung melotot. "Eh, eh, nggak boleh ngomong gitu! Aku cium beneran, nih!" ancam Rianti.
'Kalau Sava terus nggak ngerasa hidup, 'kan kasihan,' batin Rianti.
Sava menaikkan sebelah alisnya. "Emang berani?" tanya Sava menantang.
Rianti maju sedikit. "Berani!" jawab Rianti.
"Oh, ya?" goda Sava.
"Iya, dong," jawab Rianti serius.
Sava mengangguk-angguk saja, "Coba aja kalau berani." tantang Sava sambil memajukan wajahnya dan menutup mata. Membuat Rianti tersentak. Dia mengerjap menatap wajah Sava yang jelas di depannya. "Ayo! Katanya mau cium?" ucap Sava lagi.
Rianti jadi meneguk salivanya. 'Gimana, nih? Mana ganteng banget lagi. Eh, minta di cium beneran. Syok, aku,' batin Rianti.
"Iya, iya!" jawab Rianti.
Rianti menutup matanya rapat sambil memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Jantungnya berdebar karena ingin mencium Sava. Tidak pernah Rianti menyentuh lawan jenis apalagi menciumnya. 'Sudah halal, 'kan, ya?' batin Rianti.
Sava membuka matanya saat Rianti ingin menciumnya. Dia tersenyum geli menatap Rianti. 'Lucu sekali! Matanya ditutup rapat,' batin Sava.
Terus menatap Rianti sambil kepalanya mundur, seiring Rianti maju. Terus tersenyum melihat wajah Rianti. Lalu, Sava berpindah ke samping. Semakin geli saat Rianti meraba tangannya di udara.
"Sava? Sava kau pergi, ya? Kok, gak nyampe-nyampe, sih!" tanya Rianti heran.
Sava terkikik lalu menepuk pundak Rianti. "Hei, mau nyium siapa?" tanya Sava menggoda.
Seketika Rianti membukanya matanya. Dia kaget, karena Sava tidak ada di depannya. "Ha? Kok, nggak ada?" tanya Rianti bingung. Menoleh ke samping mendengar Sava yang tertawa pelan. "Loh, kok, di sini? Kapan pindahnya?" tanya Rianti heran.
"Apa? Mau nyium siapa? Angin? Haha," tawa Sava pelan.
Rianti ternganga. "Oh, kau menggodaku, ya? Sengaja, 'kan pasti?" tanya Rianti dengan suara melengking. Sava sampai meringis mendengarnya. "Tidak, hanya ingin melihat kau berani menciumku apa tidak," jawab Sava.
Rianti berdecak kesal, "Ya, berani, lah. Kau malah pindah, 'kan sayang nggak jadi nyium, eh." ucap Rianti lalu membekap mulutnya.
Sava tertawa kecil lagi. "Hahaha, emang apa untungnya menciumku? Aku udah hampir mati." tanya Sava sambil menaikkan alisnya.
"Eh, eh, eh, sudah kubilang nggak boleh ngomong gitu. Ya, untungnya banyak, lah. Secara, kamu ganteng, apalagi kalau senyum. Aduh, perutku sampe mules. Eh, boleh aku panggil kamu? Biar lebih akrab gitu," pinta Rianti nyengir.
"Boleh, almarhum juga boleh," jawab Sava.
Rianti tersentak. Wajahnya jadi murung dan matanya sayu menatap Sava. "Sava ... Aku mohon. Kamu jangan begini," pinta Rianti.
Sava tersenyum tipis. "Memang kenyataannya begini, Rianti," jawab Sava. Rianti mengusap hidungnya dan menarik napas cepat. "Kamu tau? Aku ingin menangis, padahal aku jarang menangis. Jangan patah semangat Sava, aku yakin kamu kuat. Kita akan temukan jalan keluarnya." ucap Rianti sambil memegang tangan Sava.
Sava menunduk melihat tangannya yang di pegang Rianti. Dia mendongak menatap Rianti lagi. "Rianti," panggil Sava pelan.
Rianti menaikkan kedua alisnya sambil bergumam. "Hmm?"
Sava menundukkan matanya dan menatap Rianti lagi. "Boleh, aku memelukmu?" tanya Sava.
Rianti terkejut. Pikirnya, Sava tidak mau di cium tapi justru minta di peluk. Rianti mengangguk. Dia mendekat ke Sava, dan Sava menariknya pelan sambil tersenyum. Mereka saling menutup mata dan membuang napas saat berpelukan.
Jantung Rianti berdegup kencang. Dia merasakan jantung Sava juga sama. Rianti sempat berpikir, apa akan berpengaruh pada sakit jantungnya Sava. Namun, di hatinya dia merasa nyaman. Pertama kalinya dia dipeluk laki-laki. Sava mendekapnya erat.
"Rianti," panggil Sava lagi.
"Hmm," jawab Rianti bergumam.
"Bisakah aku hidup lebih lama?" tanya Sava.
Pertanyaan Sava begitu menyayat hati Rianti. Suaranya lirih membuat Rianti ingin menangis. Rianti mengangguk. "Iya. Tentu saja bisa. Kamu bisa hidup selama yang kamu mau." Jawab Rianti sambil mengusap punggung Sava pelan.
'Ya Allah. Inikah suamiku yang belum ada satu hari? Dia, terlihat rapuh. Aku sayang padanya entah kenapa. Tapi, aku juga tidak tega, Tuhan,' batin Rianti.
"Sungguh?" tanya Sava lirih.
Rianti semakin sesak mendengar suara Sava. Dia memeluk suaminya lebih erat. Hangat menjalar dan Sava mengelus rambut Rianti.
Rianti mengangguk kuat. "Iya," jawab Rianti.
Sava menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Maukah kamu di sisiku sampai aku mati?" tanya Sava sedih. Rianti menutup matanya dalam menahan tangis. Lalu, dia menjawab, "Aku temani. Pasti aku temani."
Sava bertanya lagi. "Kenapa?"
"Tanya itu lagi. Ya, karena kita pasangan sah dan teman. Sava, jangan bahas itu lagi, hanya membuatmu sakit. Aku yakin kamu tidak separah itu. Kita bisa cari jalan keluar biar kamu sembuh." bujuk Rianti meminta.
Sava menundukkan kepalanya. Dia memejamkan mata tenang. "Terima kasih. Istriku," lirih Sava.
Rianti terkejut dalam diam. Hanya menambah debaran di jantungnya. Senangnya bukan main dia diakui sebagai istri. 'Aku, aku di anggap istri? Aku istri Sava?' tanya Rianti dalam hati.
Rianti mengangguk kuat. "Sava, tetaplah hidup. Aku bersamamu," lirih Rianti.
Sava mengangguk. Rianti tahu, saat ini pikiran dan hati Sava sedang kalut. Rianti terus mengusap punggung Sava. Begitu tenang, terhanyut dalam pelukan. Sampai beberapa menit terlewat. Rianti bertanya. "Sava, kapan pelukannya selesai?"
Sava langsung membuka matanya. "Hmm?" jawabnya bertanya.
"Udah lama, nih. Aku lapar, kamu juga belum makan, 'kan? Aku mau masak," terang Rianti.
"Emangnya bisa masak?" tanya Sava mengejek.
Rianti terpancing. "Wah, meremehkan. Ya, bisa, lah. Lepasin dulu," pinta Rianti sambil melepaskan pelukannya. Namun, Sava menahannya. "Nggak mau," ucap Sava.
"Kok nggak mau?" bingung Rianti.
"Ya, nggak mau," jawab Sava enteng.
Rianti tidak mau mengambil pusing. Dia mencoba melepaskan diri tapi Sava terus menahannya. "Ih, lepasin Sava! Aku mau masak!" pinta Rianti.
"Aku nggak lapar," ujar Sava.
"Aku lapar, lepasin!" pinta Rianti lagi.
Akhirnya Sava melepaskan pelukannya. Menatap Rianti polos. Membuat Rianti salah tingkah sendiri sekaligus bingung harus apa. "Aduh, Sava. Dari tadi di kamar terus, pengap tau! Lagipula aku lapar, masa' Aku nggak boleh makan?" tanya Rianti.
Sava menggeleng, membuat Rianti membelalakkan matanya. "Ha! Nggak boleh makan?" tanya Rianti memastikan.
Sava menggeleng lagi dengan cepat. Rianti semakin bingung. Dia bertanya lagi, "Emm, aku boleh makan, 'kan?" Sava mengangguk, Rianti jadi tersenyum. "Haha, ayo, kamu juga ikut keluar. Jangan duduk di kamar terus." ajak Rianti sambil turun dari ranjang.
Sava diam saja dan hanya menatapnya. Rianti menghela napas dan menarik tangan Sava, menuntunnya turun, "Ayo, Sava."
Sava menghela napas pasrah dan ikut Rianti. Rianti dengan senang mengajak Sava keluar kamar. "Sava, tunjukkan di mana dapurmu, ya! Pasti banyak bahan makanan," pinta Rianti. Sava hanya mengangguk sebagai jawaban. Menuruni tangga dan berada di lantai dasar. Rianti terus mengikuti langkah Sava sambil memegang tangannya.