Apa Aku Bisa Selamat?

1642 Words
* Dua malam aku disekap tanpa diberi makan. Aku mulai merasa lemas. Kau lapar. Rafael, bagaimana keadaan lelaki baik itu? Semoga dia tetap baik-baik saja. Aku berharap Rafandra tidak menyakitinya. Semakin kutahan, perut ini semakin terasa melilit saja. Kepala yang tadi pusing, kini rasanya semakin bertambah berat. Rasanya aku tak sanggup lagi untuk menahan berat badan ini. Apakah benar tak ada yang ingin menolongku? Sekadar memberi minum atau makan misalnya? Aku benar-benar tidak kuat lagi. Apakah meninggal itu rasanya seperti ini? Diri sudah berusaha melepaskan ikatan, tetapi sama sekali tak ada perubahan. Justru pergelangan tanganku mulai perih. Tuhan, ambil nyawaku dengan bahagia, jangan seperti ini! Mendadak bayangan Bu Rossa Chandraningsih berputar-putar di kepala. Aku masih bisa melihatnya. Wajah cantik yang tak menurun padaku, bibir mungil dan seksi, bulu mata lentik. Ya, ampun! Aku merindukannya. Mama! Tiba-tiba gelap, aku masih bisa mendengar derap langkah, tetapi setelah itu semuanya senyap. Diri tak mampu merasakan apa-apa lagi. Saat tersadar, aku sudah berada di sebuah ruangan dengan tangan berhiaskan selang infus. Apa ini artinya aku di rumah sakit? Mata ini mengerjap berkali-kali, memastikan bahwa aku tak lagi ada di ruangan gelap mengerikan dengan tangan terikat itu. Sebuah pemandangan sempat membuat diri ini terkejut. Seseorang tengah tertidur di sofa yang dapat kupindai dari tempatku berbaring. Siapa orang itu? Apakah dia Rafael? Ah, tidak mungkin. Pasti dia Rafandra. Dia pasti tak ingin melihatku dengan mudah. Jadi, dia membawaku ke rumah sakit, lalu bila sembuh nanti dia akan menyekapku lagi dan membunuhku pelan-pelan. Aku yakin itu. Tidak, tidak! Aku harus kabur dari sini sebelum Rafandra melihatku siuman. Aku yakin, dia yang telah menemukanku pingsan di tempat penyekapannya waktu itu. Apa aku boleh kabur seperti di sinetron-sinetron Indonesia yang dengan mudahnya mencabut selang infus ini? Ya ampun, sakit tidak, sih? Aku takut jarumnya justru melukai kulitku, lalu berdarah-darah. Hiii, ngeri! Namun, bila aku tidak kabur saat ini juga, bisa-bisa Rafandra kembali menyekapku. No, No! Aku tidak mau itu terjadi. Astaga, mencabut jarum infus justru lebih mengerikan dari tamparan Rafandra. Bismillah! Perlahan-lahan aku bangkit, agar tak menimbulkan decit pada brankar. Tubuh ini bergeser pelan menuju tepi brankar, lalu kulepas jarum infus penuh kehati-hatian. Agak khawatir terjadi kesalahan dalam pencabutannya, tetapi sungguh aku terpaksa melakukan ini. Mataku terpejam kuat, antisipasi kalau-kalau terasa sakit pada punggung tangan. Au! Diri ini menggigit bibir bawah. Sedikit nyeri, tetapi tak masalah. Aku harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum cowok itu bangun. Aku mengendap-endap, sesekali menoleh ke Rafandra yang tidur miring menghadap punggung sofa. Sepertinya dia nyenyak sekali tidurnya. Aku kembali berjalan pelan menuju pintu. Kenop pintu sudah berhasil kuraih, aku memutarnya pelan sekali supaya tak menimbulkan suara. Akhirnya! Lega sekali melihat pintu yang mulai terbuka sedikit. Ini artinya aku bisa segera pergi dan menemui Dito. Aku ingin melaporkan tindak kejahatan yang dilakukan Rafandra kepadaku dan saudara kembarnya. Aku juga ingin cerita pada Tissa. Cewek itu harus menjelaskan kepadaku, ada hubungan apa dia dengan Rafandra. Biar semua jelas saja, dan Dito juga tahu semua ini. Oh, mungkin Dito sudah tahu lebih dahulu daripada aku. Oke, tak masalah, terpenting sekarang aku berhasil pergi dulu. "Mau ke mana kamu?" Alamak! Mataku kembali terpejam. Belum juga kaki ini menginjak lantai di luar kamar, suara itu sudah membuatku berhenti melangkah. Sialan, aku gagal kabur! Bisa jadi tawanan seumur hidup kalau begini caranya. Kenapa Rafandra harus bangun, sih? "Em ... itu. A-aku ma-mau ke to-toilet," alibiku. Jujur, aku takut sekali. Sifat Rafandra tak setampan wajahnya. Benar kata pepatah, don't judge book by its cover. "Toilet di sana, bukan di situ." "Oh, iya. So-sorry. Ke-kepalaku masih pusing, ja-jadi nggak konsentrasi," kataku lagi. Aku bicara dengan Rafandra masih pada posisi membelakangi cowok itu. Sebentar, apa aku langsung kabur saja, ya? Kalau dia mengejar, aku bisa teriak minta tolong pada orang-orang. Iya, benar! Jantungku berdebar kencang. Otakku berpikir, mengambil ancang-ancang untuk lari segera. Namun sialnya, tanganku sudah dicekal oleh Rafandra kuat-kuat. Astaga! Sepertinya Tuhan tak mengizinkan aku untuk bebas dari lelaki kejam ini. Serius, aku benar-benar panas-dingin. "Mau ke mana, sih? Kamu masih sakit, selang infusnya kenapa dilepas? Jarum infus nggak akan bikin kamu mati, kok." Eh, eh, tunggu dulu! Ini bukan suara Rafandra. Apa telingaku saja yang eror akibat pingsan? Diri mengambil napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Orang yang mengetahui phobia-ku hanyalah Bu Rossa Chandraningsih, adikku, Dimas, dan terkahir Dito. Hei! Apakah cowok di belakangku ini Dito? Tidak mungkin Dimas ada di sini, pasti dia sibuk mengurus pacarnya yang posesif itu. Cepat-cepat aku balik badan, menatap sosok di belakang walaupun jantung masih dangdutan. "Dito?" Tak tahu, aku berhambur begitu saja memeluk Dito. Rasanya seperti ada seorang penyelamat yang mampu membuatku tenang. Aku menangis, sesenggukan. Aku merasa kalau Tuhan sangat baik kepadaku. "Kamu udah aman sama aku," kata Dito. Sedetik kemudian aku memberi jarak pada tubuh kami, pandanganku mengedar, takut kalau ada Tissa di sini. Nanti bisa semakin runyam masalahnya. Rafandra juga tak ada di sini, hanya aku dan Dito saja dalam ruangan ini. "Kamu cari siapa?" tanya Dito yang turut mengedarkan pandangan. "Ra-Rafandra," jawabku tanpa menoleh ke Dito. "Dia udah aman." "Maksudnya?" Aku menautkan alis sambil menatap Dito, meminta kepastian. "Ceritanya panjang. Yang penting sekarang kamu udah selamat dan baik-baik aja." "Enggak, enggak. Masih ada yang harus kamu selamatkan lagi, Dit," ungkapku gemetaran. "Saudara Rafandra? Dia baik-baik aja dan udah dirawat. Kemarin dia ke sini, menemui kamu." Aku tercengang. "Lalu?" "Dia mau pamit sama kamu, tapi kamunya belum siuman. Jadi, dia hanya nitip salam buat kamu aja." "Terus, sekarang di mana?" Aku khawatir dengan keadaan Rafael. "Dia pulang ke Indonesia setelah merasa sembuh. Dia yang menceritakan semuanya ke pihak berwajib." Aku lega, tetapi kenapa Rafael tidak menungguku sebelum pulang? Ke Indonesia? Dia tinggal di sebelah mana? Indonesia itu luas sekali, terdiri dari berbagai macam pulau. Ah, kenapa waktu itu aku tidak bertanya? Aku juga belum mengucapkan terima kasih. "Kenapa ngelamun?" Pertanyaan Dito membuatku tersadar. "Enggak. Dia beneran udah sembuh, 'kan?" tanyaku lagi. Dito mengangguk. "Pesan yang dikirim Rafael baru terbaca sehari setelah pengiriman. Untung saja polisi langsung bertindak. Jadi, kalian berdua selamat." Mata Dito berkaca-kaca. "Kamu terkulai dan tak sadarkan diri dalam kondisi terikat. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Tangan Dito menempel di pundakku. "Itulah sebabnya aku nggak pernah mengizinkan kamu pergi sendirian." Aku mengerti sekarang. Dito melarang bukan karena egois dan menyebalkan, justru sebaliknya. "Aku lega menemukan kamu, walaupun dalam keadaan kritis." Dito benar. Aku bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bernapas dan menikmati hidup ini. Menikmati? Aku tidak yakin. Bahkan, perasaanku saja belum jelas seperti ini. Melupakan atau kembali, semua harus selesai. Dito hendak memandu diri ini kembali ke brankar, tetapi aku menolak. Maksudnya, aku bisa jalan sendiri ke pembaringan. "Tunggu sebentar, aku panggil suster dulu biar dia masangin infus lagi." "Dit, nggak usah," cegahku. Oke, tadi memang aku terpaksa melepasnya, tetapi bila dipasangkan kembali, aku tak yakin bisa melakukannya. Maksudku, pasti sakit, 'kan? Apalagi pasti nanti susternya cari-cari uratku dulu baru dipasangi infus. No, no! Itu pasti menyakitkan. Belum lagi kalau uratnya tidak pas, bisa-bisa aku jadi bahan uji coba. "Kenapa, takut? Entar kamu bisa gigit aku kalo terasa sakit." Dito seolah-olah tak peduli dengan permintaanku. Dia melenggang begitu saja meninggalkan diri ini. Ish! Kenapa jadi sok perhatian? Eh, masalah dia dengan Tissa bagaimana, ya? Apakah sudah selesai? Tak berselang lama, Dito sudah kembali bersama dua orang perempuan. Aku rasa mereka suster dan dokter. Salah satu dari mereka mengalungi stetoskop. Mereka bertiga mendekat. Dito berada di sisi kanan, bersama dokter cantik dengan senyum ramah sejak dari ambang pintu tadi. Suster berada di sisi kiri, langsung mengutak-atik selang infus yang menjuntai hingga lantai. "Sudah baikan?" tanya dokter cantik ini. Dia bisa ngomong bahasa Indonesia? Mataku menyipit, memperhatikan wajahnya. "Kaget, karena saya bisa bahasa Indonesia, ya?" tanyanya lagi. Dia mulai menempelkan ujung stetoskop ke da'daku. "Mendingan, Dokter. Udah nggak lemes." Dokter berkulit putih bersih ini melepas dan meletakkan stetoskop di saku jasnya. Setelah itu, dia meminta pada sang suster untuk memasangkan selang infus itu ke tanganku lagi, tentu saja dengan bahasa Inggris. Aku mengerti kalau memakai bahasa Inggris. Jadi, buru-buru aku menarik tanganku. "No!" teriakku. "Why?" Dokter cantik ini bertanya. Mataku langsung terarah ke Dito, berharap dia mau menjelaskan tentang ketakutanku pada jarum. "Dia phobia jarum, Dokter." Aku melihat Dito setengah tertawa ketika mengatakan hal itu. Dokter cantik itu pun sempat membungkam mulutnya. Hanya suster yang diam saja, karena mungkin tak paham dengan bahasa kami. "Kare wa hari ga kowai, Shisutā. Deyou!" Setelah dokter cantik itu bicara pada suster menggunakan bahasa Jepang, sang suster langsung menatapku, kemudian tersenyum. Aku menangkap kegelian pada tatapannya ketika melihatku. Jangan bilang dokter itu membuka aibku pada suster! Astaga, memalukan sekali! "Banyak istirahat, karena kondisi kamu masih lemas. Seharusnya saat ini kamu masih harus pakai selang infus, karena kamu mengalami dehidrasi. Tapi ... karena pacar kamu perhatian," Aku langsung melirik Dito ketika mendengar ucapan dokter tersebut. Pacar? Yang benar saja! "Jadi, saya maklumi. Kalau begitu, kami permisi dulu," lanjut sang dokter. Aku hanya mengangguk. Memang badan ini belum pulih benar, masih ada sisa-sisa lelah dan pusing. Namun, aku tidak mau dipasangi infus lagi, itu terlalu mengerikan. Tak lupa kuucapkan terima kasih karena menuruti mauku. Namun, aku masih belum terima dengan ucapannya tentang "pacar" tadi. Selepas dokter dan suster itu menutup pintu dari luar, Dito mendekat. "Udah waktunya minum obat. Jadi, kamu harus makan dulu." "Nggak lapar," tolakku tanpa menoleh. Diri ini masih ingin membahas perihal Tissa, Rafandra, dan semuanya. Sampai aku bisa sampai di rumah sakit. "Dua hari nggak kemasukan makanan, masih bisa bilang nggak lapar?" kata Dito. "Aku mau kamu jelasin semuanya. Tissa, Rafandra, dan kamu sendiri. Jangan membuat aku bingung macam kayak kambing congek di sini." Nada bicaraku sedikit ketus. Kesal saja, masa aku tidak tahu apa-apa? Selama ini hanya menduga-duga dan menjadi serba salah kalau bertemu Tissa. Aku mendengar Dito mengembuskan napas. "Nanti setelah makan dan minum obat, kita ngobrol." Kepala ini langsung menoleh tanpa diperintah. "Kenapa nggak sekarang?" "Oke, sambil makan." "Kenapa, sih, kamu maksa banget?" kesalku. "Ya, karena kamu kudu dipaksa baru bisa nurut."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD