What, Dilamar?

1567 Words
Kepala ini langsung menoleh tanpa diperintah. "Kenapa nggak sekarang?" "Oke, sambil makan." "Kenapa, sih, kamu maksa banget?" kesalku. "Ya, karena kamu kudu dipaksa baru bisa nurut." Jawaban yang sangat tak mengenakkan. Lagian aku bukan anak kecil yang bisa dirayu begitu saja. Semua harus jelas, biar sama-sama nyaman. Aku melihat tangan Dito begitu cekatan mengambil makanan yang telah tersedia di nakas. Dia kenapa jadi berubah aneh gini, ya? Kok aku jadi takut sendiri. Diri ini mencoba membuang segala perasaan. Tak ingin yang lalu itu kembali menembus dinding-dinding hatiku yang rapuh. "Sini, aku suapin." "Aku bukan bayi. Jadi, aku bisa makan sendiri." Aku langsung bangkit, meraih piring dari tangan Dito, kemudian meletakkan di pangkuan. "Sok atuh, cerita. Aku, kan, udah makan." Lagi-lagi aku mendengar Dito mengembuskan napas. Dia menyeret kursi agar lebih dekat denganku. Cowok dengan trench coat hitam ini tampak begitu tampan. Ya, ampun! Bagaimana aku bisa move on kalau begini terus? "Hal pertama yang ingin aku sampaikan adalah ... aku seneng kamu selamat dan baik-baik aja. Tadinya aku panik karena kamu menghilang hampir sembilan puluh enam jam." Aku masih bisa mendengarkan Dito, walaupun sambil makan. Sebetar, sembilan puluh enam jam? Berapa hari itu? Astaga, tiba-tiba matematikaku anjlok begini. Oke, Dito terlalu berbelit. Kenapa tidak bilang empat hari saja? Ish! "Kamu ngitungin? Kurang kerjaan banget." Aduh, mulut ini! "Aku selalu menghitung hari-hari bersama kamu, Rea. Kalau kamu mau tahu." Untung saja aku tidak tersedak makanan mendengar ucapan Dito barusan. Ini mimpi atau nyata? "Tissa udah mengambil keputusan. Dia memilih melepaskan aku." Aku melirik Dito sekilas. "Karena dia marah sama aku? Dia cemburu, Dit. Kenapa nggak menahan dia? Tissa harus dijelasin secara detail biar nggak salah paham. Ke mana dia sekarang? Biar aku aja yang ngomong." Rasanya sama sekali tidak nyaman berada di posisiku saat ini. Berkaca pada diri sendiri, aku tak akan rela melihat calon suamiku dekat-dekat lagi dengan mantannya. Jadi, wajar saja bila Tissa cemburu. "Aku udah jelasin semuanya. Aku juga udah bilang kalo kita nggak ada hubungan apa-apa." Eh, kok sakit mendengar ucapan Dito barusan? Ck! Itu memang sebenarnya! Sadarlah wahai diri! "Tapi aku juga nggak bisa maksa dia buat kembali sama aku. Dia memilih melanjutkan karirnya sebagai model." Nah, kan. Dugaanku di awal memang benar, Tissa adalah model. "Pantes dia cantik banget," gumamku. "Dia model majalah." Dito memberi kode dengan tangan. Seketika aku tersedak. Dito sigap mengambilkan minum. Sungguh, aku tak menyangka saja wanita secantik Tissa mau-maunya menjadi tontonan bagi para pria seperti itu. Memang dibayar, tetapi pilihannya itu membuatku tak habis pikir. Apa ini hanya bentuk kenyinyiran dariku yang tak cantik seperti Tissa? Tidak, tidak! Banyak pekerjaan baik yang bisa dipilih, tidak harus menjual kemolekan tubuh. Namun, yang membuatku semakin tak habis pikir adalah, kenapa Dito bisa hampir menikah dengan Tissa? Ya, sedikit banyak aku tahulah bagaimana keluarga Dito, atau selera Dito sendiri. Bukan, bukan berarti seleranya seperti aku yang seadanya ini, tetapi Dito pasti akan memilih wanita berkelas dan pastinya dari kalangan orang baik. Bukan berarti Tissa tak baik, hanya saja pekerjaannya itu pasti akan dibenci keluarga Dito. Kecuali, Tissa benar-benar berhenti dari pekerjaannya. Aku menatap Dito penuh tanda tanya. Dia harus menguraikan semuanya detik ini juga. "Kamu pasti bertanya kenapa aku bisa mau menikah sama dia, 'kan?" Diri ini tak menjawab, hanya menatapnya sambil menunggu kalimat berikutnya. Tentu saja masih sambil mengunyah. Dito meletakkan gelas yang tadi dia sodorkan padaku ke tempatnya. "Ceritanya panjang, sih, sebenarnya." Mendadak otakku melanglangbuana. Tissa adalah model majalah dewasa, jangan-jangan Dito penggemarnya. "Intinya–" "Kamu sering beli majalah dia, lalu mulai suka sama dia karena lihat body dia yang bertebaran, ya?" tudingku penuh curiga. "Mulai lagi deh membenarkan pikirannya sendiri." Hei, bukan begitu! Bisa jadi apa yang aku pikir itu benar, bukan? "Intinya, aku kenal dia dari teman. Sama sekali aku nggak tau kalau dia model apalah itu namanya. Tissa menutup rapat rahasianya. Kamu tau sendiri gimana orang tuaku, 'kan? Mereka akan mencari informasi apa pun dengan mudah. Tapi seakan-akan Tissa lebih cerdik. Dia memintaku menikahinya. Orang tuaku nggak setuju di awal, tapi karena aku merasa nyaman sama dia, ya udah, aku memaksa mereka untuk merestui." "Kamu cinta banget sama Tissa, ya?" Entah, aku melihat sebuah kehilangan di mata Dito ketika menceritakan hal ini. "Apakah orang yang akan menikah bisa tak saling mencintai?" Pertanyaan sekaligus jawaban yang membuatku mengangguk. Dito benar. Dia tak mungkin akan menikahi Tissa kalau tak mencintai cewek itu. "Tapi ... lama-lama orang tuaku menemukan identitas Tissa yang asli. Sebenarnya udah lama aku tahu semua itu, tapi nggak pa-pa. Maksudnya, aku berharap Tissa benar-benar bisa meninggalkan pekerjaannya. Ternyata aku salah. Dia memutuskan kembali pada pekerjaan itu, apalagi mendapat tawaran bagus di sini." Di sini? Maksudnya di Jepang? Aku sangat menyayangkan keputusan Tissa. Padahal dia bisa hidup bahagia bergelimang uang kalau memutuskan tetap menikah dengan Dito. "Kamu nggak mencoba mempertahankannya, Dit?" tanyaku penuh keharuan. Biar bagaimana pun, Dito dan Tissa pernah saling mencintai. "Udah. Tapi dia kukuh. Dia memberiku alasan tak mau diremehkan keluargaku atau direndahkan. Dia memilih pergi dan mencari seseorang yang mau menerima kekurangannya." Diri ini jadi ingat wajah kalut Dito waktu di taman, tetapi aku malah meninggalkannya begitu saja. "Lalu, Rafandra?" tanyaku kemudian. Sepertinya sudah cukup mengorek masalah tentang Tissa. Dia wanita baik, aku yakin dia bisa menemukan sosok baik yang membawanya dalam kebahagiaan. Tentu saja aku berharap sosok itu bisa membuat Tissa berhenti dari pekerjaannya. "Aku juga baru tahu tentang cowok itu ketika dia menculik kamu." Jadi, selama ini mereka betul-betul tak saling mengenal? Maksudku, Dito benar tak mengenal Rafandra. Namun, aku sangat yakin bahwa Rafandra mengenal Dito dengan baik. "Siapa dia? Kenapa dia menculikku?" "Kamu dianggap ancaman baginya, karena mengetahui hubungannya dengan Tissa. Dia menyukai Tissa sejak lama. Berhasrat penuh untuk memiliki Tissa." "Jadi, dia menganggap aku penghalang?" Kali ini aku larut dalam obrolan serius yang diciptakan Dito. Kuletakkan piring di nakas. "Kenapa nasinya nggak dihabisin?" tanya Dito sambil melirik ke piring. "Udah kenyang," jawabku sambil memegang perut. "Makan yang banyak, biar berisi." Aku menatap Dito tajam. Secara tidak langsung, dia telah mengataiku kerempeng dan datar. Itu tak sepenuhnya benar, karena saat curhat kepada Dimas tentang Dito yang meninggalkanku, Dimas bilang postur dan bentuk tubuhku sudah pas. Jadi, Dito tak bisa seenaknya mengataiku seperti tadi. "Jangan ngalihin pembicaraan deh," kataku ketus. "Masih mau dilanjutkan? Udahlah, Rafandra udah ada di tempat yang aman sekarang." "Dia dipenjara?" selidikku. Dito menggeleng. "Dia di rumah sakit." Aku semakin tidak mengerti. Apakah Rafandra dihajar Dito habis-habisan, sampai harus masuk rumah sakit? "Rumah sakit kejiwaan," lanjut Dito. Astaga, kasihan sekali Rafandra. Seharusnya, dia tidak perlu sampai separah itu hanya untuk mendapatkan pujaan hati. Sepertinya dia terlalu depresi, sehingga akalnya tak bisa bekerja dengan baik. Untung saja saat putus dari Dito aku masih berpikir normal, dan pastinya ada Dimas yang terus menyemangati. Ah, jadi rindu sama dia. Sudah lama aku tak berkabar dengannya. "Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan di sini? Kita pulang aja ke Indonesia. Aku kangen Bu Rossa Chandraningsih." "Bisa nggak, sih, panggil Tenta Rossa dengan sebutan wajar seorang anak ke ibu kandungnya?" Dito mulai protes. "Nggak bisa," jawabku secepat kilat. "Kenapa begitu? Itu nggak sopan namanya." "Ya, karena memang Bu Rossa Chandraningsih suka aku memanggilnya seperti itu. Kenapa kamu yang repot, sih?" ketusku. "Kamu memang unik." Hei, apa aku tidak salah dengar? Aku menatap Dito, mencari kebenaran atas perkataannya. Namun, Dito malah berdiri, melebarkan jarak antara kami. Dia bergerak ke jendela, menyibak gorden putih transparan itu. "Tante Rossa akan menyusul ke sini," katanya. Waduh! Bisa berbahaya kalau Bu Rossa Chandraningsih datang ke sini. Bisa-bisa dia menguras tabungan masa depanku. "Eh, jangan! Kita pulang aja. Lagian aku udah bosan di Jepang. Kangen masakan Indonesia. Pengin makan bakso, cimol, siomay, kerak telor, ketoprak, gado-gado, dan nasi goreng." Aku menyebut segala makanan dengan cepat sambil menghitungnya dengan jari. "Tante Rossa bisa masak itu di sini, nanti." "Enggak, enggak. Rasanya tetap aja beda," tolakku. Dito balik badan, tangannya masih masuk di saku trench coat yang dia kenakan. "Kamu beneran nggak nyaman ada di sini?" Dito berjalan ke arahku. Pertanyaan Dito seolah-olah mengunci kebisingan. Bahkan, aku tak dapat berkata-kata setelah pertanyaan itu terucap. "Aku ingin hidup sama kamu di sini, Rea. Kita menikah." Tiba-tiba jantungku berdentum tak keruan. Ucapan Dito berhasil membuatku mengeluarkan keringat dingin. Mata ini menatapnya. Walaupun dari jauh, aku bisa melihat keseriusan perkataannya tadi. Dito semakin mendekat, tetapi aku masih saja belum bisa mengendalikan perasaan ini. "Will you marry me?" Dito menggenggam jemariku, membuat diri ini semakin membeku. Apa ini tidak terlalu cepat? Entahlah, aku memang deg-degan ketika Dito melamarku, tetapi getaran dalam hati ini terasa berbeda. Aku malah ragu untuk mengiakan. Seharusnya aku bahagia dan senang, bukan? "Sorry, Dit. Ini terlalu cepat." Kutarik tangan yang tadi digenggam Dito. "Aku ngerti, kamu pasti masih terluka dengan sikapku yang nggak dewasa waktu itu." Aku menunduk. Rasanya jadi rindu Dimas. Aku ingin meminta pendapatnya tentang ungkapan Dito. "Tolong, larang Bu Rossa Chandraningsih ke sini. Kita pulang aja," pintaku. Tak perlu merengek untuk sebuah permintaan kecil, 'kan? Sekian detik aku tak mendengar ucapan Dito, bahkan tak kudengar pergerakannya sama sekali. "Oke, kalau kamu maunya seperti itu. Tapi nunggu kondisi kamu fit dulu, ya." Kuangkat wajah, lalu mengangguk pelan. "Dan akan aku menunggu jawaban kamu." "Beri aku waktu, Dit," jawabku. "Of course." Tak kudengar sebuah kekecewaan dari perkataan Dito. Sepertinya dia mengerti sekali tentang hati ini yang masih menyimpan luka. Sedikit banyak, aku agak trauma dengan sikap Dito yang tiba-tiba menghilang. Istilah kerennya saat ini adalah ghosting. Ya, itu sangat menyakitkan. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu membuatku trauma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD