Urdha merasa bersalah dan dia menganggap di sini telah banyak satu perubahan. Saat ini masih bisa di lakukan juga, perjuangan diri kalau memang telah bisa di lalui jangan merasakan kalau setiap beberapa kejadian di beberapa kejadian ini telah ada perubahan di sini bisa di lalui jangan sampai kekuatan tanpa memikirkan keadaan ini juga.
"Iya mbah, saya yang salah membawa dia keluar. Mbah tolong bantu saya jangan merasa aku merasa diri kejadian juga, setelah banyak gangguan itu jadinya Anjani semakin melemah begitu." Jelas Urdha kepada Mbah Parno yang begitu menjadi satu perubahan.
"Saat ini masih bisa di lalui jangan membuat masalah, dia sedang dalam pengobatan dan di sisi lain pun berjalan sampai perlahan kalian sudah membuat kesalahan!" Ucap Mbah Parno yang sudah bisa berjuang demi keadaan di sini.
"Mbah, saat ini saya hanya meminta tolong kepada Mbah agar mengobati Nyonya lagi, dia masih belum sadar juga."
Urdha merasa begitu menjadi satu beberapa keyakinan juga, beberapa di dalam kejadian di sini bisa kalau setiap permasalahan ini bisa menjadi sebab dirinya juga.
"Telah banyak masalah yang terbaik sekarang di sini, aku yang bersalah melakukannya. Mbah, sekarang aku yang mau istriku sadar juga dan di sini bisa di lakukan keadaan juga." Ucap Urdha yang akan beberapa kejadian satu sama lainnya.
"Baiklah, sekarang kalian diam, biarkan Urdha memegang kepala Anjani."
Mbah Parno sekarang merasa tidak ada beban juga bisa di bilang memikirkan kejadian satu beberapa ingin mengobati semuanya di sini juga, pria tua itu merasa tidak tenang memikirkan kejadian ini telah di lakukan orang yang sama.
"Ini ada orang yang sama juga membuat Anjani seperti ini, bukan orang yang berbeda juga." Ucap Mbah Parno saat ini masih terus berada di sini bisa di lakukan juga.
"Apa mbah tidak bisa memberitahu siapa yang melakukannya, saat ini masih bisa di bilang menjadi beberapa kejadian satu sama lainnya. Harapan di sini bisa di bilang menjadi keadaan di setiap beberapa ingin aku memegang diri ini." Urdha berkata kepada Mbah Parno yang saat ini masih bisa di lakukan kejadian juga.
"Saat ini tidak bisa aku katakan beberapa masalah jika telah keadaan juga, jangan di tanya lagi kalau setiap kalian tanya akan bisa di lakukan untuk di lalui. Jangan khawatir sekarang aku akan membantu untuk menyembuhkan semuanya di sini juga." Jelas Mbah Parno.
Mbah Parno membaca semua mantra saat ini menjadi beberapa keadaan juga, bisa di lalui jangan berjalan demi membantu Anjani akan bisa memperlakukan keadaan juga.
Tidak lama Anjani menggerakkan jari-jari juga bisa di berikan keadaan juga satu sama lainnya. Beberapa saat ini wanita itu sudah perlahan membuka mata dan langsung memandangi wajah Urdha.
"Urdha ada apa ini?" Tanya Anjani dengan bingung saat melihat orang sudah ramai di dalam kamarnya.
"Huft... Syukurlah kau sadar dan aku tidak bisa di lakukan juga, sudah hampir 2 jam kau tidak sadarkan diri, aku sangat khawatir juga." Ucap Urdha begitu saat ini masih begitu menjadi nyata.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Anjani lagi.
"Nyonya, jangan banyak bicara sekarang tenang dulu dan saat ini butuh istirahat juga." Ucap Abraham begitu khawatir.
"Untuk kalian berdua tolong jaga Anjani, untuk sementara waktu jangan menyuruh Anjani pergi sendiri apa lagi bertemu dengan orang dulu dalam waktu 40 hari, karena dia masih dalam pengobatan. Ooo iya, jangan pernah keluar malam lagi lewat dari magrib." Jelas Mbah Parno begitu menjadi tenang juga.
"Kalau sekarang aku akan menjaga Anjani dan saat ini masih bisa di bilang menjadi nyata juga untuk kesembuhan dia dan tidak pernah membuat permasalahan itu." Ucap Urdha yang begitu menjadi satu sama lainnya.
Asisten Rumah tangga itu adalah satu-satunya orang yang di kenal Urdha, Urdha memperkerjakan Ibu ini sebagai asisten rumah tangga agar bisa membantu pekerjaan rumah dan menjaga Anjani semenjak awal pernikahan. ibu tersebut bernama Sri, dia sudah banyak membantu tanpa memikirkan keadaan apa pun.
Anjani yang berada di dalam kamar di temani Asisten rumah tangganya itu langsung Abraham, Urdha dan Mbah Parno menuju ruang tamu untuk berbincang lagi.
Anjani masih saja terus bertanya penasaran dengan waja memelasnya itu pun kepada Asisten rumah tangga nya itu berjalan satu sama lainnya.
"Bu, ada apa dengan aku? saat ini aku merasa begitu sangat lemah sekali" Tanya Anjani.
"Hm... Jangan di pikirkan Nyonya, tadi pingsan dan tidak sadarkan diri begitu lama, setelah pulang wajah Nyonya begitu sangat pucat dan di sini bisa di bilang menjadi beban terjadi satu sama lainnya di dalam diri ini berjalan sampai begitu tanpa keyakinan juga." Jelas Asisten tersebut dan di dalam hatinya begitu ragu menjelaskan nya.
Anjani memandang ke arah jendela, melihat sosok yang sangat menyeramkan dan membuatnya dia takut. Teriakkan Anjani begitu sangat kuat membuat Asistennya tersebut ketakutan dan berusaha menenangkan dirinya satu sama lainnya di dalam diri ini berjalan dengan baik pula kejadian ini bisa di tentukan.
"Arrrgggghhhh....!!!! Jangan ganggu aku! Jangan mendekat."
"Nyonya ada apa?! Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar ini."
"Itu ada orang dengan wajah yang sangat menyeramkan ingin membunuh aku! Tolong...." Teriak Anjani.
Asisten tersebut berteriak meminta tolong memanggil siapa pun yang mendengarnya.
"Tolong.... Tolong.... Bos... Abraham Tolong...."
Abraham mendengarkan suara teriakkan itu, dengan cepat mereka bertiga langsung pergi menuju kamar.
Terlihat Anjani seperti orang ketakutan dengan wajah begitu pucat.
"Ada apa ini Bu?!" Tanya Urdha.
"Nyonya melihat ada orang dengan wajah yang hancur di balik jendela itu ingin membunuhnya. Makannya saya berteriak."
Angin yang kencang tadi sudah berhenti saat mbah Parno membaca sesuatu dan sosok tersebut langsung menghilang dan membuat Anjani pingsan kembali.
"Ini sudah sangat parah! Kalian sedang di permainkan dan berusaha membuat Anjani seperti ini terus. Aku memang melihat sosok itu seperti arwah penasaran dengan membawa dendam sampai mati juga, jadi aku rasa ini sengaja melakukan demi kejadian satu sama lainnya. Dan saat ini masih bisa di lakukan demi kejadian satu sama lainnya." Ucap Mbah Parno.