Bab 11

918 Words
"Bu, ada apa? Pintu kamar kenapa terkunci?" Tanya Urdha yang saat ini masih berpikir akan mendalam juga bisa di tentukan satu sama lainnya. "Iya Bos, saya tidak tahu kenapa bisa kamar terkunci tadi sudah berusaha membuka karena mendengarkan teriakan Nyonya begitu sangat kuat saya berusaha untuk membuka pintu juga." Ucap Asisten rumah tangga yang saat ini masih terus berjalan demi keyakinan di sini bisa di lalui menjadi satu keadaan juga. "Abraham aku akan mendobrak pintu ini!" "Jangan bos biarkan saya saja." Ucap Abraham. Abraham terus mendobrak pintu yang dari tadi tidak terbuka juga, saat ini masih bisa di bilang terkunci dari dalam juga di sini bisa di lakukan dengan apa yang terjadi satu sama lainnya di dalam kehidupan nyata juga bisa di lalui keadaan ini berjalan dengan baik pula. "Biar aku coba dulu Abraham, di sini kita harus bekerja sama." Ucap Urdha yang saat ini masih terus berada di dalam keadaan juga perlahan di sini juga. "Baiklah." Teriakkan Anjani begitu keras berteriak dan menjadi beberapa masalah nya masih terus berjalan satu sama lainnya, kalau semuanya berharap tidak memiliki perubahan diri satu sama lainnya. Jangan merasa kalau setiap beberapa kejadian juga. "Bos, bagaimana ini saya rasa Nyonya sedang sakit juga." Ucap Asisten rumah tangga tersebut. Brraaaggghhh.... Akhirnya pintu itu terbuka terlihat jelas Anjani seperti orang yang tidak terkontrol sambil meronta ronta di tempat tidur. "Sayang, kau kenapa? Sadar sayang, ini aku suamimu!!!" Teriak Urdha seperti orang kesurupan juga, dan banyak sekali harapan terjadi satu sama lainnya.  "Bos, Nyonya kesurupan dan dia sekarang merasakan kalau semuanya bisa di lakukan apa kita memanggil mbah Parno kembali, ini tidak bisa kita halangi lagi." Ucap Abraham kepada Urdha. "Iya sudah sekarang kau jemput mbah, aku akan menjaga Anjani. Bu tolong siapkan air minum dan sekalian tutup semua pintu dan jendala soalnya takut ada yang mau menjahati."  "Siap Bos." Urdha semakin cemas dan di saat ini masih bisa dia menangis agar Anjani bisa berhenti untuk mengamuk, wajah yang memerah itu membuat pria tersebut takut tetapi dia berusaha menenangkan hatinya saat ini begitu perjuangan dia mendapatkan keadaan di sini berjalan dengan baik pula saat ini semuanya bisa di katakan sebagai beban terjadi satu sama lainnya. kalau semuanya bisa di selesai begitu bahagia sampai begitu mendalam juga. Abraham sedang berada di jalan bersama mbah Parno yang saat itu terus saja berkomat kamit mulutnya bisa di lakukan keadaan di sini bisa di lalu perjalanan diri satu sama lainnya. Pria tua itu begitu serius memandangi jalan tidak sama sekali berbicara kepada Abraham. Ponsel Abraham berbunyi ternyata Urdha yang meneleponnya. "Di mana sekarang? Anjani sudah sadar dari tidurnya dan saat ini semuanya bisa di lakukan tanpa memikirkan kejadian satu sama lainnya." Tanya Urdha. "Sebentar lagi akan sampai, saya sudah membawa mbah." Ucap Abraham di balik telepon juga bisa di katakan dengan baik pula. "Baiklah, hati-hati di jalan ya."  Abraham membawa mobilnya yang begitu kencang dan dia beberapa keadaan juga satu sama lainnya. Kalau memang saat ini masih terus berjalan satu sama lainnya berjalan demi keadaan ini telah berjuang satu perubahan demi keyakinan juga sampai ada keadaan juga. Harapan di sini bisa di katakan kalau semuanya bisa di jalan kan tanpa ada kehidupan Urdha yang saat ini terus di lakukan nya juga, beberapa kejadian ini telah membuat pria tersebut bingung dengan apa yang terjadi juga. Anjani yang belum sadarkan diri juga, khawatir itu di rasakan Urdha juga. "Anjani sayang bangun, saat ini aku sudah tidak tahu lagi memikirkan apa pun kejadian nya dan harapan berjalan dengan baik pula. Sayang, aku sangat mencintaimu jangan meninggalkan aku juga." Tangisan Urdha begitu membuat diri ini berjalan dengan baik pula.  Saat ini masih bisa di lakukan kejadian Urdha terus saja memeluk Anjani yang saat ini masih terus berjalan menuju keadaan diri satu sama lainnya, perjuangan diri sampai penderitaan terjadi juga. "Bos, tunggu saja Abraham pulang jangan bersedih lagi. Nyonya akan baik-baik saja dan jangan memikirkan kejadian satu sama lainnya. Harapan di sini bisa di lakukan tanpa memikirkan kejadian satu sama lainnya." Ucap Asisten rumah tangga tersebut bisa di bilang memikirkan nya. Tapi telah menjadi nyata juga, beberapa keadaan di sini bisa juga bisa di lakukan. Begitu perlahan di satu kejadian satu perubahan diri juga. "Iya bu, saya hanya kasihan melihat Anjani harus begini terus mendapatkan beberapa kejadian ini telah berada di sisiku menjadi nyata juga." Ucap Urdha yang saat ini masih telah banyak begitu menjadi nyata. Tidak lama Abraham dan Mbah Parno yang saat itu masuk ke dalam kamar. "Dari mana kalian tadi sampai seperti begini?" Tanya Mbah Parno. "Mbah, syukurlah sudah datang juga bisa lagi memikirkan kejadian telah ada keadaan di sini juga." Ucap Urdha. "Saya tanya kalian membawa dia keluar dari rumah ya?"  "Iya mbah, kita bertiga berada di luar sendang makan malam juga. Dan saat ini masih telah menjadi satu beberapa kejadian satu keadaan juga." Ucap Urdha. Abraham sudah menjelaskan semua yang terjadi pada malam ini juga, beberapa keadaan di sini telah menjadi keyakinan juga, mbah Parno merasa penjelasan sudah di dalam keadaan diri menjadi tidak tenang di dalam keadaan di sini perjuangan sebagai permasalahan. "Aku sudah menduga pasti ada masalah yang terjadi sekarang ini kalian membawa Anjani yang masih sakit juga, kalian tidak bisa bersabar untuk tenang jangan membawa orang sakit keluar rumah, Anjani sedang di selimuti kabut hitam yang sangat pekat." Jelas Mbah Parno yang begitu menjadi satu sama juga. "Iya, kita memang pikir dia sudah merasa sehat dan tidak akan berjalan di sini telah banyak juga, beberapa keadaan di sini bisa kalau sudah berjalan begitu perlahan juga." Ucap Abraham yang saat ini telah menjadi keadaan di sini juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD