Lahirnya Keputusan.

1082 Words
Surat Permohonan itu hampir ditolak. Beruntung, ucapan Althaf berhasil meluruhkan hati Pak Hartanto—selaku Dekan Fakultas. BEM berhasil mendapat suntikan dana untuk meng-cover beberapa kerugian. Habis ini tinggal ngurus beberapa orang yang kabur, Brian menukas. Urusan ini makin lama makin berbuntut, selalu ada yang belum lunas karena mereka lepas tanggungjawab. Lana sampai kewalahan menagih iuran itu dan bertindak macam rentenir. "Orang-orang pinjol kemarin nelpon, mereka bakal dateng kalo nggak segera dibayar." "Katanya ngasih waktu dua minggu?" tanya Lana pada Brian. "Annette udah minjem dari lama—mereka pingin semuanya dilunasi. Kemaren gue udah ngobrol sama nyokap, dan beliau nggak keberatan kalo gue jual mobil lawasnya." Hati Lana tercabik mendengar ucapan Brian. Keningnya mengerut frustasi dan bergurat marah. Ia bersumpah akan nonjok Annette sampe kepalanya putus. "Nggak usah tegang, Lan. Lagipula nggak apa-apa kok, itu mobil lama nggak dipake. Mending dijual daripada menuhin garasi." "Tetep aja ini tanggungjawab seluruh panitia, Bri. Katanya keluarga Annette mau bayar? Mana, omong kosong sampe sekarang!" "Kita lakuin apa yang kita bisa lakuin. Nggak ada waktu—ini jalan tercepat, nyokap gue udah bantu nyari calon pembeli mobil kami. Lo nggak usah cemas." Percakapan itu menyisakan kekosongan di hati Lana. Ia terduduk di balkon kamar sepulang kelas siang, memantik api ke batang rokok, lalu mengisi paru-paru dengan asap. Di samping kekacauan kampus, pernikahan orangtuanya pun hampir terjerembab. Lana dan Ratih terancam tidur di jalan kalau keputusan Aryo tak diindahkan. Ia merasa seperti terikat di atas rel, menunggu kereta api menghantamnya. Ucapan Brian benar. Kalimatnya soal "Kita lakuin apa yang kita bisa lakuin." mendengung di kepalanya. Lana berpikir sejenak sambil memandang bercak lipstik di batang rokok itu. Gelombang asap mengepul dari mulut. Usai merenung beberapa saat, ia menghela. Baiklah. Sebuah keputusan telah lahir. Waktunya kembali ke realita. *** Aryo menghabiskan sore harinya dengan bermain tenis. Sambil memukul-mukul bola, terkadang ia membahas hal-hal krusial bersama para kolega. Agenda bisa berlanjut kalau suasana hati sedang bagus, ke bar atau menyewa jasa misalnya. "Kenapa ribet-ribet ngurus dokumen, kasih aja uang rokok ke petugasnya. Beres masalah!" "Nggak semudah itu, soalnya saya dulu pernah." "Pernah apa?" "Pernah kepergok atasannya." Mereka tertawa. Para pebisnis di area tenis ini didominasi pria empatpuluhan. Mereka mengobrol sembari menyaksikan permainan kolega lain. Di tengah obrolan ringan itu, Aryo mendadak diinterupsi oleh Bara. Sang asisten menunduk dan berbisik di atas telinga bosnya. Informasi itu tampaknya membuat Aryo terkejut, ia langsung menoleh sambil berdiri. Kolega lain yang penasaran ikut menoleh. Mereka menyipitkan mata begitu melihat sosok gadis muda memasuki area. "Selamat sore. Mohon maaf apabila saya mengganggu di tengah sesi." Suara Lana menyapa telinga mereka. Ia datang dengan wajah yang baru dirias. Cantik dengan busana tenis. "Ini anak kamu, Aryo?" salah satu kolega berceletuk. Ia tersenyum sambil memandang tubuh si gadis dari kepala hingga kaki. "Nama kamu siapa, cantik?" Para pria itu tertawa. Pertanyaan itu tak dihiraukan. Aryo justru bangkit dan menyalak ke putrinya. "Mau apa ke sini?" "Saya mau membicarakan sesuatu." jawab Lana. Ia melihat para pria itu yang asyik memandanginya. "Tapi tidak di sini," Ia merasa ditelanjangi. "Memangnya kenapa, apa yang mau kamu bicarakan?" Gadis itu menelan ludah. Sedikit mendekat ke papanya. "Saya mau membahas tawaran papa tempo lalu." Aryo mengangkat alis kiri. "Soal pernikahan?" Para kolega bisnisnya ikut menyimak. Kepala Lana mengangguk pelan. Dari gestur tangannya yang meremati baju, tampaknya ia gugup. Meski begitu ia tetap bicara tegas. "Saya setuju atas permintaan papa. Saya siap dijodohkan, asalkan papa tetap mempertahankan mama sekaligus mendukung finansialnya." Salah satu pria menyerobot. "Kebetulan saya lagi cari istri muda. Kamu mau?" "Ndo, ini urusan saya sama putri saya. Ini masalah serius." "Kamu pikir saya nggak serius, Aryo? Istri saya udah tua, udah nggak sempit lagi." Aryo tampak malas mendebat. "Saya sudah punya calon besan, dan kalo ini berhasil, saya bisa bukain jalan buat perluasan bisnis." Mereka tertawa rendah sambil mengangguk-angguk. Lana memandang getir. Ia merasa seperti alat pria-pria tua ini. Tubuhnya seperti sedang diperdagangkan. Sebentar lagi ia tak akan bebas atas hidupnya. "Terus," salah satu kolega berceletuk, "Siapa calon suaminya?" Calon suami—terdengar sangat ganjil. Semoga dia tidak tertarik padanya. Semoga perjodohan ini tidak berhasil. Meskipun berhasil, semoga lelaki itu sibuk dengan kekasihnya sendiri—Lana bermonolog dalam hati. Janji temu dengan calon besannya diatur dengan sangat cepat. Di akhir pekan yang mendung, Aryo justru tersenyum begitu cerah. Ia berangkat bersama putrinya dengan Land Cruiser hitam yang disetiri asisten. Bara meliukkan mobil memasuki kawasan apartemen megah. Hunian eksklusif yang ditempati para pemain bisnis besar ini menyiratkan kesan yang angkuh. Sepanjang melewati area parkir, ia seolah memasuki showroom. Banyak mobil impor berderet-deret yang amat berkilau. "Kenapa harus di apartemen, kenapa nggak dinner resmi aja?" Lana berceletuk. "Pak Danu ingin pertemuan ini dirahasiakan." "Pak Danu?" "Iya, Kamandanu Widyoseno. Kamu udah tahu, kan? Papa udah suruh Bara kirim profilnya ke kamu." Ah, jadi panggilannya Pak Danu. Pemilik perusahaan rokok yang produknya tersebar di seluruh penjuru. Gedung apartemen itu mencapai empat puluh lantai. Mereka naik ke lantai paling atas seolah terbang di dalam elevator. Aryo memencet bel. Dan baru dibuka dua menit kemudian. Dari dalam, muncul seorang wanita paruh baya yang mempersilakannya masuk. Lana mengekori sang ayah dengan punggung menegak. Jemarinya meremat strap tas bahunya sambil menebar pandangan. Langit-langit ruang tamu ini begitu tinggi. Lengkap dengan pernak-pernik lampu dan karya seni rupa yang mengisi estetika. Lukisan, patung kepala, namun tidak dengan foto keluarga. "Pak Aryo Nugroho. Akhirnya anda tiba di sini." seorang pria yang tampak berusia enampuluhan menyambut mereka. "Terimakasih, Pak Kamandanu." Aryo membalas pelukan hangatnya. "Dan ini, anak kamu? Wah, cantik sekali. Masih ranum." Cih, memang dirinya buah? "Selamat pagi, Om Danu. Saya Atlana." Lana mengatur suaranya begitu lembut. "What a beautiful name. Senang berjumpa dengan kamu, Atlana. Mari duduk." Danu memimpin mereka menuju sofa. "Gimana, Pak Aryo? Bisnis lancar?" "Ya, begitulah. Pasang-surut pasti ada." Gelagak tawa rendah menguar. "Memang betul. Ada kalanya bisnis juga lesu. Lalu, bagaimana dengan Atlana? Sudah lulus?" Lana tersenyum hangat. "Masih di tahun kedua, Om Danu." "Oh iya, putra saya masih dalam perjalanan. Sebentar lagi pasti sampai. Silakan nikmati kopinya dulu." Kepulan kopi naik mencium hidungnya. Lana meneguk minuman itu sambil dengan malas menyimak perbincangan bisnis. Waktu semakin bergulir dan ia mulai mengantuk. Perasaan kesalnya mulai muncul. Siapa b******n yang tak segera muncul ini? "Nah, itu putra saya datang." Kantuk itu seketika menguap. Sesosok lelaki berkacamata masuk dari pintu. Kakinya berhenti tak jauh dari ruang tamu. Lana memandang lekat lelaki itu, dan dibalas dengan tatapan datar sulit terartikan. Ada sekelumit rasa tak nyaman yang tersirat di wajah mereka. Diserta sebuah tanda tanya yang menggantung begitu besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD