Tubuh kecil Alia menyusup di antara juntaian ranting berdaun lebat. Dia menikmati setiap sentuhan daun yang menerpa wajah dan menggelitik lehernya. Semakin rimbun daun yang menerpa wajahnya, semakin lebar senyum di wajahnya. Ketika ujung-ujung dedaunan yang berbulu dan basah oleh embun menyentuh leher, dia terkekeh geli. Tapi, hal itu tak membuatnya keluar dari rerimbunan, malah kembali berbalik menyusuri lorong di antara dua lajur tanaman.
"Alia? Apa yang kamu lakukan?"
Alia mendengar suara ayahnya, terdengar kesal di ujung sana. Tentu saja dia kesal, karena Alia berjanji membantunya memanen tomat, tapi Alia malah asyik menyapu wajahnya dengan daun-daun tomat. Daun berbulunya terasa geli ketika menyentuh wajah dan lehernya.
"Aliaaa!"
Suara Ayah meninggi. Alia sontak berdiri, dan tubuh mungilnya menyembul dari sela-sela rerimbunan perdu tomat. Kepalanya setinggi perdu tomat. Ayahnya tersenyum di ujung sana, sembari mengacungkan keranjang plastik. Ayah tidak marah, dia tidak pernah marah. Hanya terkadang suaranya saja bernada tinggi, bila Alia tidak segera merespon panggilannya. Seperti tadi.
"Ayah ada keperluan, sayang. Bisakah kamu menyelesaikan semuanya?"
Alia berjalan mendekat, membentangkan kedua tangannya, hingga kulitnya disapu oleh dedaunan tomat. Dia tersenyum geli.
"Hei, apa kamu tidak merasa gatal? Daun tomat itu berbulu dan kasar."
Alia menggeleng dan tersenyum, meraih keranjang plastik dari tangan ayahnya.
"Setelah penuh satu keranjang, segera mandi. Atau badanmu gatal semalaman."
"Aku sudah mandi tadi," sahut Alia sembari mengembang senyum lebar.
"Mandi lagi, sayang."
Alia terdiam, mengayunkan keranjang ke atas kepalanya.
"Ingat, ambil yang..."
"Orange...."
"Oke, satu keranjang saja. Berikan pada Ibu untuk ditimbang. Lalu, antarkan ke rumah Tuan Leadder. Dia memerlukannya besok pagi. Bila nanti terlalu malam, kamu bisa mengantarnya besok pagi."
"Ayah mau ke mana?" tanya Alia agak kecewa. Tadi dia memaksa untuk memetik tomat di kebun hidroponik milik ayahnya, padahal ibu sudah melarang. Karena, besok adalah ujian terakhir di sekolah. Alia harus belajar. Tapi, tentu saja Alia tidak mau mendengar perkataan ibunya. Sudah banyak tomat yang mulai ranum, dan beberapa orang sudah memesan tomat hidroponik ayahnya. Biasanya, hampir setiap hari mereka panen tomat. Dan teman-teman ayah dan ibu akan sering datang ke rumah, membeli tomat. Tapi mereka tidak diijinkan memetik sendiri. Hanya ayah, ibu atau Alia yang memetik tomat.
Bagi Alia, berada di kebun hidroponik ayahnya lebih menyenangkan daripada berkutat dengan buku-buku di kamar. Di matanya hanya ada dedaunan dan ranumnya tomat. Dia hanya akan mengelus-eluskan wajah di buku, berimajinasi bahwa buku-buku itu adalah daun-daun tomat yang membuat geli wajahnya.
"Ayah lupa, ada pertemuan, " sahut ayahnya sembari asyik dengan benda persegi di tangannya, sembari ujung jarinya mengelus-elus benda persegi itu.
Benda itu bernama Android. Ayah menyebutnya begitu. Tapi, kata ibu, benda itu adalah telepon yang bisa digenggam dan dibawa ke mana-mana. Berbeda dengan telepon di rumah, yang kabel ulirnya menjuntai di belakang meja tempatnya berada. Dan deringnya kerap membuat Alia terlonjak. Alia lebih menyukai telepon seperti itu daripada Android seperti milik ayahnya. Yang dia herankan, kenapa Android itu disebut telepon genggam, padahal telepon berkabel ulir di rumah juga digenggam ketika sedang menelpon.
"Bagaimana, kau bisa? Kalau tidak bisa, ayah akan panggilkan ibu."
"Tidak. Aku bisa sendiri," ujar Alia mantap.
Ayah menatap Alia sedikit ragu. Berkali-kali dia kerap memberi tugas pada Alia, tapi anak itu malah lebih asyik berbicara dengan daun-daun. Atau mengelus batang tomat. Bahkan mengumpulkan semua ulat. Walaupun ayah senang, anaknya tidak kecanduan gadget seperti anak-anak temannya-yang kerap dia dengar keluhannya. Tapi, di jaman serba digital seperti ini, perilaku Alia terlihat aneh.
"Kau yakin?"
Alia mengangguk, sembari mengayunkan keranjangnya.
"Kau tidak perlu mengumpulkan belalang. Kemarin kamu sudah melakukannya. Dan daun-daun yang menguning dan kering biarkan saja jatuh sendiri, tidak usah kau petik. Kemudian ..."
Alia sudah masuk di lorong antara dua lajur perdu tomat, merunduk-runduk sebentar, lalu mengangkat tangannya. Sebuah tomat ranum berwarna orange tua sudah di tangannya. Raut wajahnya menyembul dan dia tertawa gembira. Sejurus kemudian, dia kembali merunduk-runduk, dan setiap tomat yang sudah dia petik, ditunjukkannya pada ayahnya.
"Aku tidak yakin kau melakukannya sampai keranjang itu penuh, " gumam ayahnya sembari mengacungkan jempol.
Sejurus kemudian, sembari melangkah keluar dari kebun hidroponiknya, ayah menelpon.
"Bu, aku meninggalkan Alia di kebun. Aku lupa kalau sore ini ada pertemuan Rockwool. Aku harus hadir karena hari ini mereka mendatangkan seorang marketer hidroponik ternama. Bisa kau mengawasi Alia? Aku tidak yakin pesanan Tuan Leadder bisa dipenuhi Alia sore ini. Tadi saja dia sudah asyik membasuh wajahnya dengan daun-daun tomat."
Terdengar tawa istrinya di seberang dan suara tangis bayi di belakangnya. Dan istrinya menyanggupi, meski harus membawa bayi mereka ke kebun.
***
Tuan Christoff mengakhiri ceritanya sembari menyusut sudut matanya. Aku bisa merasakan kesedihannya. Kesedihan yang lebih perih dari ketika dia menikahkan aku dengan Alia, putri semata wayang yang dibanggakannya.
“Dia suka mengumpulkan serangga. Di gudang bawah tanah rumah kami, ada puluhan toples yang semuanya berisi beraneka macam serangga yang dia dapatkan dari kebun hidroponik. Dia memberinya makan setiap hari. Sehingga saat dia kuliah mengambil jurusan botani, ibunya bertanya apa dia tidak salah jurusan? Bukankah dia mencintai serangga?”
Jayen menepuk bahuku. Dia meletakkan sebuah kotak besar di pangkuanku.
“Kurasa dia tidak bisa menikmati koleksi Alia, Tuan Chistoff. Mohon dimaafkan.” Ucapan Jayen menyadarkanku, bahwa aku dalam status buta. Tidak bisa melihat. Sejak kedatangan ayah Alia untuk menyampaikan belasungkawa, dia memintaku untuk menutup kelopak mata, khawatir ayah Alia ketakutan melihatku.
Namun ketakutan mertuaku itu bukan pada bola mata hitamku. Dia takut bahwa dia tidak akan bisa melupakan Alia. Masih menanti kepulangannya untuk membandingkan kebun hidroponik miliknya dengan milik ayahnya. Maka, dia sengaja datang untuk menengokku, meski itu semakin menambah luka di hatinya.
“Aku yakin dia masih hidup di Mars,” ucap Chistoff, membuat aku menelan ludah. Keyakinannya adalah harapanku. Aku masih berharap Alia tertinggal di Mars, karena Frontier XI tidak membawa pulang jasadnya.
“Jasad Alia terlempar jatuh ke palung yang sangat dalam, Tuan. Langsung menuju inti Mars, tanpa halangan. Tidak ada manusia yang bisa hidup bila terlempar ke inti planet,” ucap Jayen menegaskan.
“Semalam dia datang dalam mimpiku. Dia bilang dia bahagia. Dan dia juga bilang kalau dia bertemu dengan banyak serangga yang disukainya.”
Jayen menepuk kotak di pangkuanku. “Bila Tuan Chistoff masih ingin mengenang Alia, saya rasa lebih baik Tuan yang menyimpan koleksi serangga ini. Toh Eran tidak bisa melihatnya. Bagaimana Eran?”
Aku mengangguk, namun kulihat mertuaku menggeleng dalam cahaya birunya. Dia tampak lebih kurus dan bungkuk.
“Bila Alia datang, berikan padanya Eran.”
Lelaki itu masih berharap Alia kembali dari Mars.