4. Hujan Pertama

1104 Words
Aku tidak tahu ini pikiran gila karena aku merindukan Alia, atau karena pengaruh bola mata Phospherium yang semakin hari seolah mendominasi pikiranku. Pandangan mataku tidak lagi gelap gulita, tapi menjadi biru terang. Namun pada gestur manusia atau makhluk bernyawa, ada cahaya biru yang lebih pekat, membentuk gestur tubuh. Siluet Cherry mendominasi pandanganku, karena tentu saja hanya dia yang bersamaku. 24 jam sehari selama 50 Lunar berjalan. Cara berjalannya, kehadirannya, menimbulkan sensasi berbeda dalam jiwaku.  Semula Cherry hanyalah suara dalam kegelapan. Setiap sentuhannya saat menjalankan terapi padaku, kerap membuatku merasa semakin terpuruk menjadi pecundang. Membuatku semakin melemah tak percaya diri, meski Cherry selalu mengatakan hal-hal positif. Tentang lututku yang sudah mulai lentur dan dia yakin dalam beberapa bulan aku sudah bisa berjalan. “Kau boleh meninggalkanku jika kontrakmu sudah habis,” ucapku antara berharap dan putus asa. Aku tahu, kontrak yang ditandatanganinya dengan Alia diperpanjang oleh Jayen. Dengan biaya dari tunjangan kematian Alia.  Aku sudah menolak karena merasa tidak layak menggunakan tunjangan sebesar itu demi kesembuhanku. Tapi kata Jayen, kontrak diperbaharui oleh Kesatuan atas permintaan Alia. Sebelum dia berangkat ke Mars, dia banyak menandatangani berkas yang semua isinya diatasnamakan aku. “Tuan tahu jawabannya,” ucap Cherry. “Bagi saya tidak masalah. Ada pasien lain yang masuk dalam daftar antrian saya di Kesatuan. Tapi Kesatuan menempatkan saya di sini. Sebagai bentuk penghormatan Kesatuan pada istri anda. Dia telah banyak berjasa.” Aku hanya bisa diam, membiarkan Cherry membereskan peralatan fisioterapinya. Kelebatan cahaya biru Cherry tiba-tiba memunculkan kerinduanku pada Alya. Andai wajah dan suaranya adalah milik Alia, aku tidak akan seputus asa ini. “Bagaimana mata anda?” Cherry mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Dia mengeluarkan salep dari kotak obat. “Professor Nomad hanya mengijinkan saya mengoles salep di sekitar mata anda, sampai bengkaknya hilang.” Aku hanya diam, merasakan krim dingin itu dioleskan Cherry ke sekeliling kelopak mataku. “Anda tidak memejam mata sejak jam dua malam. Sudah dua belas jam, apakah kelopak mata anda tidak terasa kaku?” Suara lembut Cherry, seperti biasa membuatku nyaman. Kadang aku memintanya untuk membacakan cerita dari buku-buku di perpustakaanku. Aku hanya ingin mendengar dia bicara tanpa menyinggung kelumpuhan dan kebutaanku. “Aku tidak bisa tidur.” “Tidak mesti tidur, tapi cukup memejam. Saya rasa itu bisa mengurangi kram di sekitar kelopak mata sini.” Cherry masih mengoleskan krim dingin itu, sembari memijat lembut sekeliling kelopak mataku. “Mataku tidak kram. Hanya saja …” “Anda masih melihat cahaya itu?” tanya Cherry. Aku nyaris membuka mulut untuk menjawab iya, namun kemudian mengurungkannya. Ada gestur warna biru berdiri di depan pintu kamar, tanpa suara. Sepertinya dia seorang lelaki berbadan gempal. Cherry tidak menyadari kedatangannya.  Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Cherry, tanpa melepaskan arah tatapan dari bola mata Phosperium pada gestur itu. Sudah jelas, dia orang asing yang hadir tanpa memberitahu pemilik rumah ini. “Cherry, bisa ambilkan aku minum?” tanyaku. Cherry tidak beranjak dari sisiku, hanya menjangkau botol minum yang selalu disiapkannya di atas meja. “Aku mau yang dingin, dari kulkas.” Aku hanya ingin Cherry berdiri, lalu mengambil air minum dari kulkas di dapur. Agar dia bisa mengetahui gestur di depan pintu yang mengamati kami berdua.  “Anda tidak boleh minum dingin.” “Aku ingin minum dingin sekarang, Cherry!” bentakku. Cahaya biru Cherry terpaku, diam tak bergerak. Jujur aku menyesal telah membentaknya lagi, setelah beberapa waktu tabiat emosiku yang tak stabil sudah membaik. Tapi Cherry harus melihat siapa gestur itu. Cherry sontak bangkit dan menuju pintu. “Lihat Tuan Jayen, dia mulai melanggar prosedur kesehatan dari kesatuan.” Cherry berucap sembari melebarkan tangan di depan gestur lelaki di depan pintu. Jayen. Aku lupa, dia memang kerap hadir di rumah ini tanpa suara. Kadang dia tiba-tiba menyentuhku tanpa menyapaku sebelumnya. Kurasa aku harus mulai terbiasa dengan kehadirannya yang seperti hantu. Meski kerap mengejutkanku, tapi dia selalu membawa berita baru. Jayen mendekat, aku harus mulai mengenali cahaya birunya. Ternyata dia atletis juga, meski bila dilihat sepintas agak kerempeng.  “Halo Tuan Phosperium!” Jayen menepuk pundakku seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya. “Akhirnya kau punya bola mata juga, meski keduanya berwarna hitam pekat. Setidaknya kau menyamai manik mata Cherry. Hitam.” Aku mendengus pelan. “Pasti aku terlihat menyeramkan. Kau takut?” Jayen terbahak. Sejak dulu, dia seperti orang tanpa beban di Kesatuan. Tawanya kerap terdengar menembus ruangan. Meski sedang menghadapi masalah berat, dia seolah bisa meletakan masalah di atas meja hingga bisa tertawa begitu ringan.  Tentu saja hal itu membuatku iri. Sejak kecelakaan itu merenggut dua bola mataku dan melumpuhkan kedua kakiku, aku sama sekali tidak pernah tertawa hingga hari ini. Meski Jayen membawa berita menggelikan dari kesatuan. Hanya mampu menarik sudut bibirku sedetik saja. “Aku harus membawamu ke luar rumah.” “Kenapa? Apakah kau membawa berita rahasia hingga Cherry tidak boleh tahu?” Pertanyaanku tidak mendapat jawaban. Jayen menarik paksa tanganku dan mendudukkanku di atas kursi roda. Lalu membawaku ke teras depan. Seperti biasa, tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam. Cherry kerap mengandalkan Jayen bila aku mogok, tidak mau mengikuti fisioterapinya. Dan Jayen selalu datang sepulang jam kerja, membantu Cherry, lebih tepatnya memaksaku untuk mengikuti fisioterapi dari Cherry. Hingga aku sempat berpikir, mereka berdua dibayar sangat mahal oleh kesatuan untuk bisa membuatku berjalan lagi. Kami berdua sudah sampai di teras. Cherry meneriaki Jayen untuk tidak terlalu lama membawaku di teras, karena angin mulai bertiup dengan tiga hari ini. Dia tidak ingin aku kedinginan yang berujung menyusahkannya di malam hari. “Apa yang kau rasakan?” tanya Jayen ketika angin sudah menerpa wajahku. “Dingin.” “Apa lagi?” tanya Jayen memaksa. “Indera penglihatanmu tak berfungsi. Pasti indera yang lain akan lebih tajam. Itu yang banyak k****a di perpustakaan. Ayo, paksa dan rasakan.” Jayen dan Cherry adalah dua orang dari kesatuan yang bekerja sama untuk menyiksaku selama ini, dengan dalih terapi dari kesatuan. Tugasku dari kesatuan hanya pasrah dan menurut. Dan payahnya adalah, aku tidak boleh berhenti dari kesatuan. Berhenti hanya bila sudah tidak bernapas, baru diijinkan. Aku menghirup udara. Indera penciumanku memang bekerja lebih baik saat mulai buta. Aroma Cherry sangat kuhapal, meski dia melintas lima meter di belakangku. Dia beraroma jasmine, meski samar. “Aku mencium bau … apa ini?” Aroma ini sangat familiar  sekaligus membuat dadaku bergemuruh. Apakah ini nyata? “Bau apa?” bisik Jayen di telingaku, lalu dia menarik kepalaku untuk mendongak. “Air,” bisikku. Dan aku merasakan butiran halus menerpa wajahku. Hujan. “Hujan, my dear. Ini HU-JAN!” teriak Jayen di telingaku, membuat pekak. Lalu dia mengecupk keningku dengan kasar.  Aku mengusap mukaku dan merasakan telapak tanganku basah. Ini hujan pertama setelah beberapa dekade.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD