3. Kekuatan Aneh

1012 Words
Professor Nomad tak bersuara, hingga aku khawatir dia menelan Batu Phosperium. "Prof? Anda masih di sini?" tanyaku. "Aku di sini Kapten. Memangnya aku harus ke mana lagi?" Sebuah tepukan berat di pundakku. Sejak aku buta, aku mengenali orang di sekelilingku dari sentuhan dan suara mereka. Dan itu cukup membantu. Di samping aroma tentunya. "Kau bilang melihat cahaya dari batu ini?" tanya Professor Nomad. "Aku tidak melihat apapun selain batu hitam dan pekat. Aku sudah memindainya, tak ada yang kutemukan selain batu Pospor yang padat." Aku tertegun. Aku sangat yakin melihat cahaya. Dengan inti cahaya dua batu itu. Saking silaunya, sampai sekarang sekeliling pelupuk mataku masih ngilu. Chery sudah memijat dan mengolesi dengan salep, tapi ngilunya tak berkurang. Makanya aku meminta Chery menemui Professor Nomad, satu-satunya orang selain Alia yang mengetahui khasiat batu itu. "Kau sudah menempelkan di kakimu?" tanya Professor, menggenggamkan kedua batu itu di tanganku. Dan aku melihat cahaya berpendar dari sela jemari.  "Aku sudah bisa jalan, hanya saja masih belum kuat. Waktu aku tempelkan di lututku, tidak ada perubahan apapun. Apakah benar ini batu yang sama?" Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi. Dan cahaya itu benar-benar begitu kuat, keluar dari sela-sela jemariku, hingga aku bisa melihat bentuk kepalan tanganku dari bentukan cahaya yang keluar dari genggamanku. "Sepertinya aku harus melakukan CT Scan lagi padamu. Mungkin beberapa syaraf mata ada yang mulai tersambung akibat terapi yang dilakukan Chery. Who knows?" Aku mengangguk. Penjelasan Professor Nomad cukup masuk akal. Tidak ada salahnya menurut. Selama ini, aku selalu menurut pada Chery dan memang akhirnya aku sembuh. Bahkan untuk naik ke lantai 2 Laboratorium ini, aku menyuruh Chery menunggu di anak tangga paling bawah. Meski ngos-ngosan dan nyeri di lutut yang hebat, aku akhirnya sampai di pintu Laboratorium. Tak berapa lama, Profesor Nomad dan anak buahnya sudah menyiapkanku untuk dimasukkan dalam kapsul. Dua Batu Phosperium masih dalam genggamanku. Biasanya anak buah Professor selalu bawel memeriksa dan memastikan aku masuk kapsul tanpa membawa benda logam. Toh, ini hanya batu, pikirku. Professor menghadap komputer di ruang berdinding kaca. Dia pasti sedang memindaiku. "Kau membawa batunya?" Suara Professor menggema melalui microphon. Aku hanya mengangguk, karena suaraku dalam kapsul ini sudah pasti tidak akan bisa didengarnya. "Kurasa Alia mengambil batu yang salah, Kapten. Di kapsul dia serupa batu biasa." Alia, aku menghargai usaha kerasmu. Namun bila semua ini sia-sia, apalah artinya kematianmu? Frontier bahkan memberikan santunan kematianmu padaku. Perlahan aku membuka genggamanku, dan kulihat cahaya memenuhi kapsul. Apa ada yang salah di kepalaku hingga hanya aku yang bisa melihat cahaya ini? Apakah ini cahaya menjelang kematian? "Syaraf di kepalamu sudah ada perubahan, tapi itu mengarah ke kakimu. Yang ke arah mata, tidak ada perubahan, Kapten." Perlahan, kudekatkan batu itu ke wajahku. Cahayanya semakin menyilaukan. Entah dari mana, tiba-tiba aku mendapat ide untuk memasukkan dua batu itu ke lobang mataku. Toh, bila hanya batu biasa, tidak akan berpengaruh. Setidaknya, aku mengenang Alia di sepasang kelopak mataku. Arrrggghh!  Perih, sakit, ngilu. Rasanya syaraf-syaraf di mataku ditarik oleh kedua batu yang sudah ada di lobang mataku. Aku tak tahan rasa sakitnya hingga berteriak dan membuka mata. Kilatan lompatan listrik entah darimana, memenuhi kapsul. Membuatnya memercik bunga api. Dan teriakan Professor Nomad teras jauh saat kapsul itu terangkat dan aku terlempar keluar. *** Sebuah tepukan lembut di pipiku. Chery. Aku mengenal tangannya yang lembut namun tegas. "Kapten, kau mendengarku?" Suara Chery panik. Aku merasakan banyak tangan bekerja di badanku. Ada suntikan jarum di lenganku, perban membalut tanganku dan entah apalagi. Suara-suara perintah untuk melakukan tindakan medis padaku. Tapi tangan yang kukenali hanya tangan Chery. Mataku terasa sangat berat. Tapi aku tidak bisa membukanya. "Tetaplah terpejam, Kapten. Jangan buka matamu dulu," ucap Chery penuh kekhawatiran. Suaranya gemetar. Tidak pernah kudengar dia panik seperti ini. "Kenapa?" ucapku, terasa panas dan kering di tenggorokan. "Tim media sedang mengobati lukamu, Kapten. Ada konsleting listrik di kapsul, jadi semuanya menjadi kacau." Chery mengelus punggung tanganku, seperti biasa untuk menenangkanku. "Chery, permisi." Suara Professor. "Aku akan memeriksa matanya. Batu itu harus dikeluarkan." Tangan berat professor menyentuh pipiku. "Kapten, maaf aku memang menunggu kamu sadar untuk mengeluarkan batu itu dari lobang matamu. Karena saat kamu pingsan tadi, kelopak matamu sama sekli tidak bisa dibuka." Aku mengangguk. Aku sendiri, kesulitan membuka kelopak mataku. Lebih tepatnya mungkin aku tidak ingat lagi bagaimana caranya. Selama ini aku hanya bisa terpejam dengan kelopak mata melesak ke dalam karena bola mataku tidak ada. "Katakan bila sakit. Aku akan membuka matamu." Perlahan, tangan professor berbalut karet tipis membuka kelopak mataku. Terasa berat, tapi sudah tak lagi ngilu. Seiring dengan kelopak mataku terbuka, sedikit demi sedikit cahaya kebiruan terlihat dengan jelas. "Ya Tuhan, Kapten!" Suara Profesor terdengar sangat terkejut. Juga Chery dan beberapa suara lain. Aku berusaha bangkit, menopang badan dengan sikutku. Dan yang kulihat sungguh luar biasa. Cahaya-cahaya biru membentuk gestur manusia. Seperti sebuah gambar yang dibuat dari cahaya. Aku mengerjap. Dan kulihat lebih banyak lagi cahaya, di luar tembok. Di atas langit-langit. Dan juga tubuhku sendiri. "Ap--apa yang terjadi?" tanyaku gemetar. Apakah aku berada di alam kematian dan mereka semua hantu? "Kapten, matamu … bercahaya." Aku menoleh. Seraut wajah mendekat, dan sepertinya aku mengenali bentukan cahaya di depanku. "Profesor Nomad?" tanyaku berusaha mengenali gestur itu. "Kau bisa melihatku?" Dua tangan Profesor yang berat menangkup kedua pipiku. Sepasang matanya mengarah ke mataku. Aku bisa melihat Professor Nomad, namun bukan dalam rupa wajahnya seperti biasa. Dia serupa cahaya berwarna biru dengan gradasi berbeda membentuk struktur wajahnya.  Seketika desakan ribuan peristiwa, huruf dan angka seolah berpindah dari matanya masuk ke mataku. Aku memiliki ingatannya. Termasuk ingatannya saat melihat tubuhku terpental dari kapsul yang meledak. Aku menoleh, mencari kapsul itu. Aku tidak melihatnya. Gelap. Yang kulihat hanya cahaya-cahaya biru, yang itu adalah manusia-manusia di sekelilingku. Setiap bentukan cahaya yang tertangkap mataku, semuanya berwarna biru,  dengan gradasi berbeda. Manusia-manusia itu menjadai cahaya di mataku. "Kapten, kau bisa melihat?" tanya Professor Nomad lagi. Dia tahu, aku panik. Karena aku pun tidak bisa mengendalikan gemetar di sekujur tubuhku. Apa yang terjadi padaku? "Kapten?" Profesor menepuk pipiku lembut. "Kau bisa melihat apa tidak?" Aku menggeleng, membuatnya menarik napas kecewa. Aku tidak ingin semua orang tahu sebelum aku sendiri memahami apa yang telah terjadi padaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD