16. Bangsa Yang Nyaris Punah

1129 Words
Aku dan Jayen duduk berdampingan di pesawat. Lima anggota tim lainnya juga sibuk dengan buku, sebagian lagi tampak terlelap. Selepas interview, aku meminta mereka bergabung dalam satu bilik, jadi aku dan Jayen bisa mengamati tindak tanduk mereka selama perjalanan.  Sejak tadi, Jayen tenggelam dengan buku tebalnya. Semua buku di perpustakaan kesatuan sudah habis dilahapnya, tapi dia masih kurang saja. Makanya, dia lebih tahu urusan banyak orang daripada yang lain. Bahasa-bahasa ahli botani tidak asing baginya, sebagaimana bahasa ahli fisika. Pun masalah konstruksi pesawat, dibandingkan struktur anatomi manusia, dia bisa membedakan dalam perbincangan. Meski, dari semuanya itu, dia tidak terlalu mendalam memahami. Wide not deep. Itulah Jayen. Jayen sungguh anak buah yang tepat untuk misiku saat ini. Meski aku lebih suka menyebutnya sebagai parner. "Kau baca apa sekarang?" tanyaku sambil melirik Jayen. Dia sudah menghabiskan dua buku tebal dalam perjalanan pesawat selama lima jam. Tmpukan bekal buku di sebelah Jayen, masih tampak rapi meski dia sudah membacanya sebagian. Dia memang orang yang selalu perhatian dengan barang-barangnya. Sebagian buku itu malah masih bersegel. Aku  melihatnya sudah merasa mulas. Mending dia disuruh mengangkuti material daripada membaca buku. "Sejarah bangsa-bangsa di Bumi." sahut Jayen, tidak melepaskan matanya dari buku di pangkuannya. "Hmm, lumayan, " sahutku, "kita memang perlu mempelajari budaya mereka. Karena di Mars tidak bisa disamakan dengan Bumi. Kita tidak ingin, mereka yang semula rukun di Bumi, di Mars menjadi bersengketa. Perubahan alam sedikit saja di Mars, mereka bisa depresi luar biasa. Belum lagi, perjalanan antar distik dome yang tidak semudah di Bumi. Hanya bangsa yang paling besar dan kuat yang bisa bertahan." "Belum tentu," sahut Jayen. Jawabannya itu memantik reaksi dari lima anggota tim. Mereka menoleh ke arah Jayen, mungkin merasa heran kenapa Jayen merasa ringan saja membantahku sebagai Kapten dalam misi ini. "Banyak bangsa yang dulunya besar, mengecil dan hilang. Karena mereka tidak lagi bisa menyatukan visi dan misi mereka. Kita berkeliling dunia ini dalam rangka itu, kan. Bahkan, bila memungkinkan, kita harus punya visi dan misi satu saja. Karena di atas sana, batas kita cuma dengan angkasa. Tidak ada yang lain lagi." Kurasa Jayen hanya ingin menegaskan pada lima anggota tim yang aku yakin sedang mendengarkan diskusi ringan kami, bahwa misi yang sedang kita jalani adalah misi dami. "Aku dengar Enterprise sudah menemukan semesta lain. Beberapa buku sudah menuliskannya demikian. Masih ada batas di atas sana, Katpen Eran. Bagaimana menurutmu, " tanya Jayen penasaran, dia menutup bukunya dan memasang muka layak diskusi. Sepasang mata berbinar dan mulut siap meluncurkan kalimat-kalimat yang pernah dibacanya di buku-buku yang sudah dilahapnya. Selama ini, dia lebih suka berdiskusi denganku daripada orang lain di kesatuan, termasuk petugas perpustakaan. Karena dia sendiri perpustakaan berjalan. "Enterprise ya, hmm.” Sepertinya aku pernah mengetahui soal pesawat legendaris itu. “Perlu kau lihat siapa penulis buku itu. Kapten Picard apa bukan?" "Bukan. Tak satupun dari mereka yang di Enterprise menulis buku itu. Bahkan tidak ada satupun kutipan atau pernyataan dari mereka. Penulisnya seorang ahli fisika." Pramugari melintas dari belakang, membawa troli berisi minuman. Setiap anggota tim mengambil botol minuman dari troli, hingga pramugari itu sampai di depanku dan Jayen. "Pia Bellack." ucapnya sembari menyodorkan botol berisi air berwarna kuning, "ahli fisika Iceland. Benar begitu, tuan?" "Sepertinya kau terbalik antara Greenland dengan Iceland. Greenland itu selalu tertutup Ice, sedangkan Iceland itu hamparan hijau di mana-mana, " sahut Jayen, menatap pramugari itu tajam. "Oh, maaf. Saya kebalik ya. Permisi." Aku menoleh ke arah Jayen, "Kau membuatnya malu." "Aku harus membenarkan dia, Kapten. Pia Bellack menulis buku tentang Enterprise saat dia terjebak musim dingin selama sepekan di rumahnya, tanpa bahan makanan apapun. Makanya, bacalah buku." Jayen meletakkan buku Sejarah Bangsa Dunia di pangkuanku. Sepertinya dia hendak menyindirku, alih-alih mengejekku. Mana mungkin aku membacanya. “Sebaiknya kau bacakan untukku, Jayen. Aku bahkan tidak bisa melihat satupun hurufnya.” Jayen terkekeh lalu menenggak minumnya. “Aku tidak yakin Kapten akan tetap membuka mata hingga aku selesai membaca buku dongeng ini. Mau mulai dari mana? Bangsa Kaburu?” "Hm, Kaburu. Ini nama bangsa? Kenapa aku baru tahu?" Jenderal Baron mengkhususkan misi untuk bangsa ini, yang hanya aku mengetahuinya. Setelah mengutarakan deduksiku pada Jayen tadi, kurasa aku bisa menemukan benang merahnya. Meski masih belum begitu terang. Aku harus bersabar, mungkin semuanya akan terjawab seiring dengan berjalannya misi ini. "Itu karena Kaburu nyaris lenyap." "Lenyap?" Sudah kuduga. Kaburu akan lenyap, tapi Kesatuan akan melestarikannya. Di Mars. "Mereka sudah hampir punah, Kapten. Tidak ada lagi literature tentang mereka, hanya para ilmuwan sepuh yang mengingatnya. Mengingat bahwa mereka pernah ada. Seperti Pia Bellack. Kaburu adalah contoh segelintir orang yang masih bertahan dengan visi dan misinya. Semula bangsa yang besar, menjadi suku yang harus dilestarikan." “Lalu, mereka berada di mana sekarang? Kaburu masuk dalam list negosiasi dari Kesatuan.” Jayen tidak menjawab. Dia menutup buku tebal di pangkuannya. “Tidak ada yang tahu mereka di mana saat ini.” *** Kyaa Kari adalah jubir bangsa berkulit hitam dari salah satu negara termiskin di Afrika. Bangsa ini mempunyai populasi penduduk paling sedikit dari seluruh bangsa di dunia, jika tidak dibandingkan dengan Kaburu. Penduduk mereka banyak yang tidak bisa bertahan melalui masa-masa sekarat Bumi. Banyak bangsa memberikan bantuan bahan pangan, namun topografi negara yang mereka huni sangat tidak mendukung untuk bertahan hidup. Jangankan di negara yang lebih dari lima puluh persennya gurun sahara, di negara yang lebih subur dan makmur pun, populasinya pun banyak menurun karena berbagai penyakit akibat Bumi yang sekarat. Hanya orang-orang kaya yang bisa menjalani hidup sehat dengan fasilitas lengkap. Bahkan misi pertama Frontier adalah mengirim orang-orang berduit ini ke Mars, karena mereka mampu membayar. Aku meninggalkan timku beberapa meter di belakangku. Negosiasi dengan bangsa ini sepertinya mudah karena penawaran yang diberikan oleh Frontier menjanjikan kehidupan yang lebih baik dari tanah tandus mereka.  Kyaa Kari menatapku dengan tatapan meremehkan. Meski kata Jayen mereka berkulit hitam pekat hingga hanya putih matanya saja yang tampak, tapi bagimu mereka semau sama. Biru. “Katakan pada pimpinanmu, kami tak akan bunuh diri di Mars.” “Kami tidak mengirimmu untuk bunuh diri. Tapi untuk kehidupan yang lebih baik.” Aku sengaja tak membuka kaca mata hitamku. Pastinya bola mataku sama pekat hitamnya dengan kulitnya. Aku tak ingin membuatnya ketakutan. “Bagaimana aku membayarnya? Seluruh rakyat kami bahkan harus memakan kayu kering untuk mengganjal perut. Tidak ada binatang lagi di negara kami, karena mereka semua sudah punah semua kami makan. Bahkan seekor kecoa adalah binatang rebutan di sini.” Ini semua terdengar begitu memilukan hati. “Kami datang membawa bahan makanan.” “Itu tidak akan menghilangkan lapar bangsa kami. Bahkan aku sendiri tidak yakin, aku bisa hidup sampai besok. Bisa jadi, dalam hitungan hari tubuhku hanya tinggal tulang belulang, karena mereka akan memakan seluruh dagingku.” Aku tertegun. Separah inikah bangsa ini? Hingga mereka menjadi kanibal di negaranya sendiri. “Aku tunggu tengah malam. Bawa istri dan anakmu ke pesawatku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD