Gia tidak berpikir panjang, Abim benar-benar meninggalkan dirinya di pagi hari setelah sarapan. Gia hanya ingin cepat menyelesaikan kuliahnya agar bisa cepat kerja dan melayani suaminya tanpa ada yang di pikirkan mengenai pelajaran. Dengan langkah berat, Gia menemui dosen yang menjadi pembimbing nya di ruangan. Seperti yang di janjikan kemarin, Gia mencarinya tidak berpikir lain. Tok Tok “Masuk.” suara berat itu menyambut Gia. Gia menyerahkan skripsi yang sudah dia buat untuk di periksa. Memang tanpa di persilakan, Gia langsung duduk di kursi yang tersedia. “Berdiri, aku tidak sama sekali menyuruh mu duduk.” kata dosen muda yang usianya baru memasuki angka dua puluh lima tahun. Seumuran dengan suaminya, mungkin mereka saling kenal atau bagaimana Gia tidak tau. Ka

