8. Delapan

1196 Words
Setiap luka yang dialami Kashgar selalu sembuh dengan cepat, membuat Nastya terheran bahkan terkadang berimajinasi jika Kashgar bukanlah anjing* biasa. Beberapa hari berlalu, Nastya sering kali mencuri pandang pada anjing* yang selalu tidur di atas sofa itu. Jika Nastya ada di rumah karena tengah menikmati hari libur, Kashgar akan bersikap seolah tidak peduli dengan keberadaan wanita itu. Tetapi, jika Nastya bergerak membuka pintu rumah, anjing* itu akan langsung berlari menyusul langkah Nastya. Seperti hari ini, karena cuaca yang cerah Nastya akan menjemur pakaian di halaman depan. Dengan membawa keranjang berisi pakaian yang masih basah, Nastya membuka pintu rumah. Kashgar mendengar langkah kaki Nastya dan langsung berlari mengikutinya ke depan rumah. “Apa kau ingin bermain di luar rumah?” tanya Nastya. Kashgar hanya berputar dan duduk di depan Nastya. Nastya terlihat sedikit tertawa saat Kashgar melakukannya. Ia kembali melanjutkan kegiatannya, lalu segera masuk ke dalam rumah setelah selesai. “Kashgar, akan ada kontes untuk hewan peliharaan. Apa kau ingin melihat-lihat ke sana?” tanya Nastya. “Auw, aum.” “Baiklah.” Siang ini, Nastya mendapatkan telepon dari sahabatnya yang bernama Helga. Helga memberitahu mengenai kontes dan Nastya mengatakan jika ia tidak berniat mendaftarkan Kashgar. Nastya tidak ingin Kashgar terlalu dikenal oleh orang-orang di sana, karena sering kali anjing* yang mengikuti kontes akan menjadi incaran pencuri. “Kashgar, kau tidak akan marah bukan? Aku tidak ingin kau mengikuti kontes itu karena beberapa alasan,” jelas Nastya. “Aum … auw … .” Nastya tersenyum lalu mengusap kepala Kashgar dengan gemas. Mereka kini berada di ruang tamu untuk menikmati camilan dengan menonton acara televisi. Nastya memang sangat jarang ke luar dari rumah itu jika sedang tidak bekerja. Ia lebih memilih membersihkan rumah dan melakukan beberapa kegiatan di dalam daripada harus keluar. Kashgar duduk di samping Nastya, dengan sesekali mendapatkan suapan camilan dari wanita itu. Sampai akhirnya seseorang mengetuk pintu rumah Nastya dan memanggilnya. “Sayang?” Nastya mengernyitkan dahinya mendengar suara itu. Tidak pernah ia sangka jika Sam akan kembali datang ke rumah itu. Kashgar tidak menyukai kehadiran Sam, dan ia seperti ingin mengusir pria itu dari sana dengan menggonggong. “Kashgar, tidak apa-apa. Aku akan menemuinya dulu, kau harus tetap berada di sini!” ujar Nastya. Nastya berjalan mendekati pintu rumah, dan mulai membukanya perlahan. Nastya tidak mengizinkan Sam masuk, tetapi dia sendiri yang ke luar dan kembali menutup pintu. “Ada apa, Sam?” tanya Nastya. “Apa anjing* itu masih ada di sana?” “Ya, Kashgar selalu ada di dalam rumah.” “Kau yakin tidak ingin membuang atau memberikannya pada orang lain?” “Tidak, Sam. Aku sudah jatuh cinta dengan Kashgar. Aku tidak akan membuangnya!” “Sayang, kau tahu jika aku tidak menyukai seekor anjing*! Dia membuat hubungan kita menjadi renggang, Nastya!” jelas Sam. “Sam, maaf. Tapi aku tetap akan membiarkan Kashgar tinggal di rumah ini.” “Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak bisa jika kau terus seperti ini!” “Aku tahu, sebaiknya kita menghentikan semua ini. Kau dan aku memerlukan waktu untuk saling berpikir. Aku tidak akan marah jika kau ingin hubungan ini berakhir –“ “Tidak! Mungkin hanya beristirahat saja untuk beberapa waktu.” “Ya, baiklah.” “Aku akan pergi ke Manhattan selama kita saling memikirkan hubungan ini.” “Baiklah, hati-hati selama bertugas di sana. Aku akan menjaga klinik seperti biasa.” “Ya, terima kasih.” Setelah perbincangan singkat itu, Sam berjalan pergi dari rumah Nastya. Wajah Nastya terlihat murung, dan ia kembali masuk ke dalam rumahnya. Di balik pintu, Kashgar sudah berdiri dan menatap wajah Nastya. “Aku tidak apa-apa, Kashgar.” Anjing* itu mengajak Nastya untuk kembali duduk di kursi, dan menikmati sisa acara yang mereka saksikan bersama. Sampai hampir tiba waktu makan malam. Nastya ingin memasak sebuah steak daging untuk Kashgar, akan tetapi pintu rumahnya kembali berbunyi. Seorang pria dengan pakaian polisi datang dengan tersenyum. “Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Nastya. “Tidak ada, hmm … orang-orang ingin mengadakan pesta malam ini, apa kau bersedia untuk hadir? Mereka sedang membuat steak dan barbeque.” “Terdengar menarik, apa ada hari khusus?” “Ya, pasangan Johny dan Jean sedang merayakan hari pernikahan mereka. Dan mereka menyuruh aku untuk mengundang dirimu datang ke sana,” ajak Pria itu. “Baiklah, beruntung aku belum membuat steak untuk makan malam.” “Kau bisa mengajak Kashgar jika mau. Mereka memiliki banyak persediaan daging di sana,” ujarnya lagi. “Terima kasih, Kashgar pasti akan sangat senang.” “Baiklah, aku harus pergi.” “Ya, sampai jumpa.” Nastya menutup pintu, dan kembali menemui Kashgar. Ia menjelaskan mengenai pesta itu, dan Kashgar juga nampak senang mendengar pesta daging malam ini. Nastya berjalan masuk ke dalam kamar, lalu mulai masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia menyiapkan sebuah celana panjang berwarna cokelat, lalu sepatu boots yang senada, dan kaos tipis. Tidak lupa, Nastya juga mengenakan jaket tebal, karena malam ini pasti akan terasa sangat dingin, meski tidak ada salju yang turun. Waktu sudah menunjukkan pukul enam. Dan Nastya sudah siap pergi ke rumah Johny dan Jean. Jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh, jadi saat Nastya melihat kea rah lain dari rumahnya, akan terlihat beberapa orang yang berjalan menuju rumah dua pasangan itu. Kashgar juga sudah siap dengan dasi kupu-kupu merah yang melingkar di lehernya. Mereka berjalan bersama ke rumah Johny dan bertemu kembali dengan opsir yang sudah mengajak Nastya. “Hai, kau terlihat cantik mala mini,” ujarnya. “Terima kasih, kau juga … terlihat berbeda.” “Ya, malam ini aku tidak sedang bertugas, jadi … aku bisa mengenakan pakaian lain selain seragam polisi,” jelasnya dengan tersenyum. Mereka memutuskan berjalan bersama dan masuk ke halaman belakang yang menjadi tempat acara itu berlangsung. Nastya menyapa pasangan yang menjadi tuan rumah untuk acara malam itu. Di tangan Natsya juga sudah ada wine dengan kualitas yang tidak diragukan. Wanita itu memiliki minuman wine karena sang ayah memiliki gudang wine di bagian belakang rumah. “Selamat untuk kalian, ini hadiah kecil dariku,” ujar Nastya. “Terima kasih, ini adalah kado yang sangat kami suka. Jika ingat siapa yang sudah menyimpannya, kami ingin sekali bertemu kembali dengan ayahmu,” ujar Jean. “Ya, kalian memang benar. Aku bahkan ingin sekali bertemu. Hanya saja, setiap kali aku berharap, mereka selalu datang ke dalam mimpiku ,hanya untuk memeluk dan memberikan dukungan,” jelas Nastya. “Sayang, kau sungguh anak yang manis. Hanya saja, kau masih saja sendiri. Apa kekasihmu tidak ingin meminang kau?” “Nyonya Jean, aku masih menikmati semua sendiri. Dan maaf, aku lupa … perkenalkan, dia Kashgar.” “Anjing* pintar. Aku sudah tahu tentang anjing* ini. dia memang sangat pandai.” Setelah perbincangan singkat itu, mereka pun membuka acara dan melakukan banyak kegiatan saat berlangsungnya pembuatan steak dan barbeque. Hingga tengah malam, Nastya pun merasa mengantuk dan memutuskan untuk pulang. Tidak bisa lagi menahan tubuhnya, Nastya tertidur di atas sofa yang ada di ruang tamu. Meski Kashgar mencoba untuk membangunkan Nastya, tetap saja wanita itu tidak membuka mata. Kashgar mengubah dirinya menjadi manusia, lalu meraih tubuh Nastya dan memindahkannya ke dalam kamar. Kashgar tersenyum saat menatap wajah cantik itu. “Selamat malam, Nastya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD