7. Tujuh

1114 Words
Setelah beristirahat di rumah selama dua hari. Nastya mulai kembali bekerja, kondisi tubuhnya sudah jauh lebih baik dari sebelum ini. Dan kini ia sudah menyiapkan makanan untuk Kashgar. "Kashgar, aku akan pulang malam. Tetapi jika pekerjaanku selesai lebih awal, aku janji akan segera kembali," jelas Nastya. "Aum ... auuww." "Aku akan membawakan makan malam yang lezat untukmu," ujar Nastya sembari berlari ke luar rumah. Kashgar melihat Nastya pergi dan setelah beberapa menit berlalu, tubuh anjing* itu berubah menjadi manusia. Pria itu berjalan ke kamar dan duduk di tepi ranjang Nastya. Pandangan matanya tertuju pada sebuah buku lama yang ada di rak buku. Kashgar berjalan mendekati rak itu, lalu mengambil buku yang ada di sana. Ia melihat judul pada buku itu, "The Alpha's Prince." Tangannya mulai membuka lembar buku secara perlahan. Kashgar membaca kisahnya di sana, dan saat sampai di halaman sepuluh, pria itu mengerutkan keningnya. "Kemana halaman selanjutnya?" gumam Kashgar. Ya ... kertas pada buku itu menjadi putih dan tidak ada satupun kata tertulis di sana, hingga halaman terakhirnya. "Nastya pasti tahu akhir dari cerita ini," gumam Kashgar. Pria itu kembali meletakkan buku ke tempatnya. Lalu ia berjalan ke luar dari kamar Nastya. Dan di halaman depan, sudah menunggu dirinya, Matrius. Sahabat Kashgar sejak pria itu masih kecil. "Ada apa?" tanya Kashgar. Matrius masuk ke dalam rumah, dan langsung memeluk Kashgar. "Syukurlah kau masih hidup," ujar pria dengan rambut panjang sebahu itu. "Apa yang terjadi?" "Raura mengirim seseorang untuk membunuhmu, dan sepertinya wanita itu terkecoh dengan berita kematian yang dibuat seseorang," jelas Matrius. "Dan sepertinya kau juga termakan berita itu, Matrius," sahut Kashgar dengan terkekeh. "Kau seharusnya tahu bagaimana ekspresi Raja yang mendapatkan berita itu, ia nampak sangat sedih,” jelas Matrius. “Sebaiknya kau bungkam soal diriku, karena aku memerlukan mantra yang bisa mencabut kutukan ini,” jawab Kashgar. “Baiklah, aku akan menjadi mata-mata di istana dan berusaha agar kau tetap aman.” Setelah perbincangan itu, Kashgar terlihat diam dan merenungkan sesuatu. Sampai akhirnya, Kashgar mengatakan jika Seff juga mengetahui keberadaannya. Dan beberapa saat setelah mereka berbincang, terlihat dari kejauhan seekor serigala dengan bulu hitam pekat berdiri mengawasi rumah Nastya. Kashgar yang merasakan kehadiran serigala itu menjadi khawatir dengan Nastya jika pulang larut malam. “Matrius … apa kau merasakan kehadirannya?” tanya Kashgar. “Ya, ternyata ia mengikuti aku sampai kemari. Maafkan aku, Kashgar.” “Tidak, bukan salahmu. Kau hanya memastikan saja. Lagi pula jika memang aku mati, kau tahu bagaimana cara melacak jasadku bukan?” “Hei, tidak lucu berkata seperti itu. Jangan pernah mengatakannya lagi.” “Hahaha, sudahlah. Apa kau ingin menyerangnya bersamaku?” tanya Kashgar. “Apa kekuatanmu sudah pulih?” “Belum sepenuhnya, tetapi aku bisa mematahkan tangan atau kakinya.” “Tidak perlu, sebaiknya kita diam saja sampai ia benar-benar membahayakan keselamatan kita,” ujar Matrius. “Sebaiknya kau kembali ke istana, sebelum sesuatu terjadi di sana.” Akhirnya Matrius beranjak dari rumah Nastya. Ia kembali ke wujudnya sebagai serigala, sedangkan Kashgar kembali ke tubuh anjing* Alaskan Malamute. Kashgar kembali menunggu Nastya datang dari tempat kerja, ia duduk di atas sofa dengan sesekali menengok ke jendela jika ada yang melintas di depan rumah itu. *** Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Nastya masih belum sampai di rumah, dan membuat Kashgar khawatir. Beberapa kali anjing* itu mencoba kembali ke dalam wujud manusia, tetapi sayang tidak berhasil. Sepertinya kekuatan itu memiliki batas, sehingga membuat Kashgar kesulitan saat keadaan bahaya. ‘Kemana Nastya?’ batin Kashgar. Sampai akhirnya Kashgar memutuskan untuk ke luar dari rumah dan ingin menjemput Nastya di tempatnya bekerja. Namun, saat Kashgar pergi menjemput Nastya melalui jalan utama, Nastya datang dari arah yang berlawanan. Dan mereka tidak saling bertemu. Nastya masuk ke dalam rumah, lalu memanggil Kashgar. Sayangnya … tidak ada jawaban dari anjing* itu, sehingga membuat Nastya khawatir. “KASHGAR!” teriak Nastya di depan rumah. Suasana pada jalanan kota kecil itu sangat sepi dan sunyi. Nastya takut jika para pemburu akan mengambil Kashgar. Nastya kembali ke luar dari rumah dan mencari keberadaan Kashgar. Ia juga menghubungi temannya yang bekerja sebagai polisi kota, untuk membantu dirinya mencari Kashgar. “Dimana anjing* itu?” gumam Nastya. Langkah kaki Nastya terlihat terburu-buru, beberapa kali ia menyoroti jalanan gelap dengan lampu sorot yang ada di tangannya. Dengan berjalan mengelilingi kawasan rumahnya, Nastya tidak menyerah mencari keberadaan Kashgar. “KASHGAR!” panggil Nastya sekali lagi. Ggrr … Nastya nampak terkejut saat seekor serigala berbulu hitam berdiri di hadapannya. Ia menelan ludahnya dengan kasar, berhadap hewan itu akan pergi dengan segera. Namun, langkah kaki serigala itu semakin mendekati Nastya. Dan membuatnya berjalan mundur. “A-aku mohon … pergilah! Aku tidak akan mengganggumu!” ujar Nastya. “Nastya!” seru seorang pria dari belakang serigala itu. Saat mendengar suara orang lain di sana, serigala itu berlari menjauh dari Nastya. “Astaga! Aku masih hidup!” ucap Nastya dengan mengelus dadanya. Nastya melihat pria yang memanggilnya membawa Kashgar. Dan saat itu juga Nastya berlari memeluk anjing* yang terlihat kembali terluka pada bagian wajahnya. “Kau kenapa?” tanya Nastya. “Aku menemukannya di depan klinik, sepertinya ia mencarimu. Apa kau pulang terlambat hari ini?” tanya pria itu. “Ya, aku sedikit terlambat karena membeli makanan special untuknya. Apa ia diserang serigala itu?” tanya Nastya. “Entahlah, aku menemukannya sudah tergeletak di sana, beruntung ia masih bisa bergerak.” “Baiklah, aku akan memeriksanya di rumah.” Nastya berterima kasih pada pria yang mengenakan pakaian polisi itu, dan mengantarkannya sampai di rumah dengan selamat. Di dalam rumah, Nastya menyiapkan air hangat untuk membasuh wajah Kashgar yang terlihat banyak darah. “Apa yang terjadi padamu?” tanya Nastya. “Nastya, aku harus kembali ke kantor. Sepertinya ada korban lain yang diserang oleh serigala itu,” ujar pria yang membantu Natsya. “Okay, terima kasih.” Setelah kepergian pria itu, Nastya melanjutkan kegiatannya untuk mengobati Kashgar. “Maaf karena aku tidak tahu kau pergi dari rumah untuk menjemput. Aku sungguh minta maaf,” ujar Nastya yang kini terlihat meneteskan airmata. Kashgar meletakkan kaki depannya di tangan Nastya. Anjing* itu ingin meminta maaf pada Nastya karena membuatnya khawatir. “Untuk sementara ini jangan ke luar dari rumah tanpa diriku, kau harus tetap berada di dalam apapun yang terjadi! Aku sangat takut kehilangan dirimu,” ujar Nastya dengan memeluk Kashgar. Nastya masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya yang sudah kotor karena mencari keberadaan Kashgar. Ia kini mengenakan pakaian tidur yang tipis, hingga membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. “Kashgar, naiklah ke atas ranjang. Aku masih harus memeriksa beberapa laporan klinik,” ujar Nastya. Kashgar pun menurut pada Nastya, naik ke atas ranjang dan memejamkan mata. Anjing* itu terlelap setelah beberapa saat karena obat yang Nastya berikan. “Selamat malam, Kashgar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD