6. Enam

1171 Words
“Kashgar … tolong aku!” “Kau siapa?” “Kashgar … tolong!” “Tidak!” “Jangan pergi! Tidak!” Kashgar terbangun karena mimpi buruk yang dialaminya. Sudah tengah malam, dan Nastya masih belum juga kembali dari pekerjaannya. Kashgar dengan tubuh anjing* itu kini berusaha ke luar dari rumah dan memutuskan untuk mencari keberadaan Nastya. Beruntung ia memiliki indera penciuman yang tajam, hingga bisa melacak kemana harus pergi. Kashgar berjalan menuju ke klinik tempat Nastya bekerja, dan saat sampai di depan klinik itu, ia melihat Nastya tengah tergeletak di depan sana. Entah apa yang telah terjadi pada wanita itu, Kashgar mengubah tubuhnya menjadi manusia, dan membawa tubuh Nastya kembali ke rumah. Sampai di rumah, Kashgar merebahkan tubuh Nastya perlahan di atas sofa. Lalu ia pergi ke dapur untuk membuat semangkuk soup, dan minuman hangat. Ia melakukan apa yang biasa Nastya kerjakan di dapur, dan setelah selesai … Kashgar meletakkan semua itu di meja. “Cepatlah sadar,” ujar Kashgar dengan mengecup kening Nastya. Pria itu melihat tangan Nastya mulai bergerak, dan dengan cepat ia kembali ke dalam tubuh anjing*. “Ehm … kenapa aku bisa ada di rumah?” gumam Nastya. Wanita itu bergerak dan membenarkan posisinya. Ia duduk dan melihat ke sekeliling rumah. Nampak Kashgar yang duduk di samping sofa dengan lidah menjulur seakan menunggu Nastya. “Kashgar … siapa yang membawa aku pulang?” tanya Nastya. Kashgar hanya memiringkan kepalanya, lalu menggelengkan kepala setelah itu. “Kau tidak tahu? Baiklah … aku akan bertanya pada orang lain esok,” ujar Nastya. Kashgar mendekati Nastya lalu meletakkan kaki depannya di pangkuan Nastya. “Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan saja, kau tenang saja, Kashgar.” Nastya tersenyum dan mengusap kepala anjing* itu. “Aku sepertinya melihat seekor serigala hitam, tubuhnya terlihat sangat besar, bahkan lebih besar dari yang sebelumnya,” ujar Nastya. ‘Rafe.’ *** Pagi ini, Nastya menghubungi Helga. Ia meminta agar diberikan waktu untuk beristirahat, karena sepertinya tubuhnya mengalami demam. Nastya menyiapkan beberapa obat untuk dirinya sendiri, dan juga selimut tebal. Setelah makan pagi bersama Kashgar, Nastya mulai meminum obatnya dan kembali ke atas ranjang. Kashgar sangat setia menunggu Nastya di samping ranjang. Jika wanita itu ingin sesuatu, ia akan menyuruh Kashgar untuk melakukannya. Tepat disaat Nastya terlelap karena obat, Kashgar kembali pada tubuh manusia. Ia mengganti kain yang menempel di atas dahi Nastya. Tidak hanya itu, Kashgar juga kembali memasak di dapur untuk makan siang Nastya dan dirinya sendiri. Kashgar mencoba membuat bubur dengan membawa catatan resep yang ada di laci. Perlahan pria itu menyiapkan semua bahan dan mulai memotong juga mengupas. “Terlihat sangat mudah,” gumam Kashgar dengan tersenyum. Membutuhkan beberapa menit saja untuk melakukan semua kegiatan itu, hingga akhirnya Kashgar meletakkan mangkuk bubur dan juga minuman hangat diatas nakas. Tidak hanya itu, pria itu juga menyiapkan obat yang harus diminum Nastya di atas nakas bersama dengan makanan. Kashgar kembali ke dapur untuk memakan makanan miliknya. Hingga semua habis tidak tersisa, Kashgar kembali ke dalam kamar Nastya dalam bentuk anjing*. “Ehm … Mama … Papa.” Nastya terlihat mengigau. Kashgar menjilati tangan Nastya agar tidak berlarut dalam mimpinya. Hingga akhirnya Nastya terbangun karena merasa terganggu oleh kegiatan Kashgar. “Kashgar, apa yang kau lakukan?” tanya Nastya. Kashgar menunjuk pada nakas tempat makanan itu berada. Dan tentu saja hal itu membuat Nastya terkejut. “Kenapa ada makanan di sini?” tanya Nastya. Lagi-lagi … Kashgar hanya memiringkan kepalanya dan menggeleng seperti tidak tahu. Dua kali sudah, Nastya merasa jika seseorang pasti keluar – masuk di dalam rumah itu tanpa sepengetahuan dirinya. Tetapi, Nastya tidak bisa menebak siapa itu. “Tidak mungkin jika Sam melakukan semua ini, Helga? Alanis?” gumam Nastya. Nastya meraih nampan yang ada di atas nakas, lalu mulai memakan makanan yang masih terasa hangat itu. Perlahan, satu persatu ia sendok bubur ke dalam mulutnya. “Hmm, terasa enak … apa kau yakin tidak tahu siapa yang datang?” tanya Nastya sekali lagi. “Aum … auw.” “Baiklah, aku akan menyiapkan makan untukmu setelah ini,” ujar Nastya. Setelah selesai dengan kegiatan makan itu, Nastya berjalan ke luar dari kamar untuk menuju ke dapur. Betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi dapur yang berantakan. Nastya menggelengkan kepala, lalu perlahan membersihkan area itu. “Makanan yang dibuat memang enak, tetapi apa ia harus melakukan ini padaku?” gumam Nastya. Kashgar hanya duduk dengan menatap Nastya di depan pintu kamar. Sampai akhirnya satu persatu peralatan masak di dapur kembali bersih dan tertata rapi pada tempatnya. Nastya berjalan untuk mengambil makanan Kashgar yang ada di atas lemari. “Kashgar, waktunya makan,” ujar Nastya memanggil anjing besar itu. Kashgar berjalan menghampiri Nastya dan mulai memakan makanannya. Setelah itu, Nastya duduk di ruang santai dan menghidupkan televisi. “Tubuhku jauh lebih baik sekarang. Aku harus mencari tahu siapa yang sudah menyiapkan makanan untukku. Sayang sekali Kashgar tidak bisa berbicara, tetapi … jika ia berbicara, pasti aku akan lari tunggang langgang karena takut,” gerutu Nastya. Kashgar baru saja selesai menghabiskan makanannya. Ia mendekati Nastya dan duduk di sampingnya. “Kashgar, akan ada kompetisi di pusat kota. Aku ingin mengajakmu melihat ke sana, tetapi … aku belum mendapatkan jadwalnya.” Kashgar merebahkan kepalanya di atas pangkuan Nastya, dengan manja ia ingin tangan wanita itu terus membelai bulu di tubuhnya. “Kenapa kau terlihat sangat manja?” tanya Nastya. Tidak peduli dengan ucapan Nastya, Kashgar memejamkan mata dan terlelap. Tok Tok Tok Terdengar ada suara ketukan dari pintu masuk rumah. Kashgar yang mendengar suara itu langsung berlari menghampiri asal suara. Sedangkan Nastya masih berjalan untuk membuka pintu. Ceklek “Nastya, aku dengar kau sedang sakit,” sapa Alanis. “Alanis, kau baru tahu jika aku sedang sakit?” tanya Nastya memastikan. “Ya, kenapa?” “Tidak, aku hanya sedang bingung. Apa Helga datang kemari?” tanya Nastya. “Tidak, Helga sedang sibuk mengurus klinik hari ini.” “Ah … begitu rupanya. Baiklah.” “Hei, jangan sedih. Ia akan datang kemari, ini … makanan untukmu,” ujar Alanis sembari memberikan bungkusan makanan. Nastya menerima bungkusan makanan itu, lalu mempersilakan Alanis masuk ke dalam rumahnya. Alanis sudah terbiasa dengan hewan yang ada di dalam klinik, dan kini ia juga terlihat biasa saja saat tahu ada anjing* Alaskan Malamute di dalam rumah sahabatnya. “Hei, aku kira Sam tidak marah soal hal ini,” ujar Alanis sembari menunjuk Kashgar. “Dia sangat marah, dan sepertinya hubungan kami akan segera berakhir,” jelas Nastya. “Apa? Ada apa?” “Kau tahu jika ia sangat membenci anjing* dengan jenis apapun. Akan tetapi … aku ingin anjing* ini ada di sini bersamaku.” “Aku mengerti, kau tidak perlu bersedih. Mungkin ini sudah jalan takdir untukmu.” “Ya, kau benar. Terima kasih karena sudah datang.” “Sama-sama, aku tidak bisa berlama-lama, itu karena seseorang akan marah jika ditinggalkan seorang diri di dalam klinik.” “Ya, kau benar, hahaha.” Setelah perbincangan singkat itu, Alanis melangkah pergi dari rumah Nastya. Dan kini, Nastya lagi-lagi harus menjalani kehidupan seorang diri di dalam rumah itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD