Semilir angin di sore hari, berembus hingga menusuk-nusuk ke tulang belulang, Yasmin yang tengah bersimpuh di depan pusara sang kakak mengulurkan tangan menyentuh batu nisan berwarna putih dan mengusapnya konstan. Lengan yang terbuka, dibiarkan tertiup oleh angin dari arah Utara. Dingin, tetapi tak menyurutkan niatnya berziarah di makam sang kakak yang mulai ditumbuhi rerumputan liar.
"Apa kabar, Kak?" ujarnya pada benda mati di hadapannya. Ia tahu, sapaannya ini tidak akan membuah hasil, akan tetapi Yasmin merasa ia perlu berbicara pada benda itu untuk segala menyampaikan keluh kesahnya.
"Maaf ya, aku baru berkunjung setelah satu bulan penuh absen," imbuhnya lalu terkekeh kecil. Tawanya kemudian surut. Tangannya pun menjauh, lantas merogoh kantung plastik berisi kelopak bunga mawar merah dan putih yang dibawanya dan menabur rata di atas pusara. Kini gundukan tanah yang kering kerontang itu terlihat segar oleh air dan taburan bunga segar di atasnya.
"Kakak boleh aku curhat?"
"Mungkin kakak akan kecewa kalau tahu fakta mengejutkan ini, kakak juga pasti akan marah besar sama aku. Tapi, aku ngga ada pilihan lain. Aku merasa harus mengambil jalan ini untuk melanjutkan hidup dan pula mencari keadilan." Yasmin menjeda kalimatnya, kemudian mengerucutkan bibir.
"Jadi, Kak. Sekarang aku menggadaikan diri ini ke Om Chandra, Menjadi pencetak penerus untuk keluarganya yang ingin punya pewaris. Aku tahu ini tindakan tidak benar. Aku tahu ini salah dan–"
Yasmin menghela napas ketika rongga dadanya sudah mulai berfluktuasi.
"Mungkin akan berisiko besar di masa mendatang," imbuhnya dengan perasaan bercampur aduk, emosionalnya sedang tidak stabil, sehingga ketika ia berucap di akhir kalimat, air matanya menetes membasahi pipi tanpa terasa.
Buru-buru Yasmin mengusap permukaan pipi, berusaha berhenti menangis. Supaya ia tidak telihat lemah di sini, bukankah Revan benci pada gadis cengeng?
"Oh ya Kak, Kakak ingat kan kalau aku pernah berjanji? Kalau aku udah banyak uang nanti, aku akan mengusut kasus kematian kakak, mencari pelaku yang selama ini menghilang dari radar dan tidak sama sekali bertanggung jawab. Dan dengan cara inilah, aku yakin aku akan cepat banyak uang. Maafkan aku ya, Kak. Maaf." Pada akhirnya, Yasmin kembali menangis, air matanya tak mampu dibendung karena derasnya arus yang keluar dari pelupuk mata. Tangisnya pecah di sana, Yasmin meringkuk menggenggam erat tanah berwarna hitam dan liat itu. Sungguh dalam posisi seperti ini, ia rindu dekap sang kakak, pelukan penuh ketenangan yang mampu membuatnya serasa dalam buai kehangatan. Kapan dia mendapatkan hal ini lagi? Tidak akan pernah, ia sudah kehilangan jiwa dan raga satu-satunya kakak yang teramat berarti dalam hidup setelah kedua orang tua.
Dalam suasana sendu sedan, rintik hujan turun membasahi bumi, menambah kesan dramatis di area pemakaman yang sepi itu.
Hingga beberapa detik berlalu terbunuh waktu, hujan yang awalnya hanya rintik-rintik berubah menjadi deras, barulah Yasmin beranjak, ketika tubuhnya sudah lebih dulu kuyup oleh terpaan air hujan, ia meninggalkan area pemakaman. Untung saja taksi masih melintasi jalanan lengang itu meski hujan mengguyur, sehingga tidak perlu menunggu waktu lebih lama.
***
Chandra menghentikan laju mobilnya begitu tiba di halaman rumah, hujan belum berhenti justru semakin deras sehingga dibiarkan wiper menyala.
Chandra dilanda kegundahan mendalam, diremasnya kuat gulungan map berwarna putih berlambangkan rumah sakit. Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya setelah membaca hasil dari pemeriksaan test darah yang dilakukan Yasmin tempo lalu. Hasilnya positif, artinya Yasmin telah berhasil mengandung buah hatinya dan segera memberikan pewaris pada keluarga ini. Ia menarik napas besar lalu membuangnya kasar sebelum akhirnya bergegas turun dari mobil. Dibantingnya kasar pintu mobil dan bergegas memasuki rumah.
Di dalam rumah, ia langsung di sambut oleh Tamara yang menunggunya dengan harap-harap cemas. Hujan deras, kilat menyambar, siapa yang tidak khawatir ketika suami berada di luar rumah.
"Bagaimana?" tanya Tamara begitu mendapati presensi suaminya baru saja memasuki pintu utama.
"Positif, Yasmin hamil." Tamara langsung menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan. Ia takjub, hanya membutuhkan waktu satu bulan memelihara Yasmin di rumah ini, perempuan itu sudah berhasil memberikan keuntungan untuk keluargaku kecilnya.
"Ah, terima kasih Tuhan. Akhirnya perempuan itu hamil. Aku dalam posisi aman." Tamara berujar dengan cukup gembira, menadahkan tangan ke atas mengucapkan kata syukur pada Yang Maha Kuasa.
"Kamu senang?"
"Tentu saja, bukannya misi kita sudah berhasil? Aku bisa memamerkan kehamilan ini pada orang tuamu, pasti mereka bangga."
Chandra tersenyum kecut, apa yang dikatakan memang Tamara benar adanya, seharusnya ia bahagia dan excited memamerkan ini pada orang tuanya supaya mereka yang berada di belahan benua lainnya itu turut berbahagia dan segera membuang rasa tidak suka itu pada sang istri, tetapi apa yang terjadi padanya sekarang? Rasanya ada yang berbeda ketika hatinya justru menginginkan hal sebaliknya, ada apa ini?
Oh, ya Tuhan ... Chandra spontan menaikkan tangan dan menyentuh pangkal hidung, hal itu di sadari oleh Tamara. Tamara yang semula tersenyum lebar perlahan menyurutkan senyum itu.
"Kenapa? Kamu pusing? Kamu sakit?"
Chandra menjauhkan tangan Tamara yang berusaha menyentuh permukaan dahinya.
"Aku nggak apa-apa, aku ke kamar duluan ya." Pria tua mengendalikan tungkai kakinya menuju kamar pribadi mereka.
Beberapa jam setelahnya ...
"Yasmin, selamat ya kamu hamil." Baru saja datang dengan keadaan basah kuyup, Tamara menyambutnya dengan riang gembira. Yasmin melihat perbedaan signifikan pada diri Tamara yang biasanya selalu mencari gara-gara dengannya.
"Hamil?"
"Iya, kamu hamil. Chandra sudah mengambil hasil test darah kamu di rumah sakit dan hasilnya kamu positif." Yasmin terkejut, benarkah ia hamil? Secepat ini?
"Aku serius hamil?"
"Iya, masa aku bohong?"
"Ah, syukurlah kalau aku hamil. Ya sudah, aku ke kamar dulu, Tan."
"Eh, tunggu dulu dong!" Tamara mencegah tangan Yasmin, menghentikan niat Yasmin yang hendak pergi begitu saja dari posisinya.
"Ada apa, Tan?"
Tamara tersenyum lantas mendekat pada Yasmin.
"Kamu sudah hamil, itu artinya kamu harus menjauhi Chandra."
"Jangan cemas, aku mengingatnya setiap saat. Lagipula aku nggak punya minat deketin suami kamu,"pungkas Yasmin. Dia cukup percaya diri dalam mengatakan hal demikian sebab memang tidak ada perasaan lebih pada Chandra–pria yang memiliki perbedaan usia sekitar sepuluh tahun itu.
"Bagus, itu artinya kamu masih cukup tahu diri." Yasmin menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman erat Tamara.
"Sekarang biarin aku masuk, aku capek dan perlu istirahat."
"Kalau sudah tahu hamil kayak gini, berhenti keluyuran bebas kayak orang nggak bener, fokus sama kehamilan dan jaga baik-baik perkembangan janin di perutmu." Usai mengatakan hal demikian, Tamara menyematkan senyum singkat sebelum akhirnya pergi dari sana.