Tiga belas

1030 Words
"Dari mana kamu semalam?" Yasmin yang tengah berada di depan kompor pun terperanjat, bergegas menoleh ke belakang tepat pada pria yang mengenakan piyama berwarna hitam polos. "Aku dari rumah Milka," sahutnya singkat. Bohong? Tentu saja iya, selepas bertemu Milka mereka berpisah di tempat. Yasmin pergi ke sebuah penginapan yang letaknya berada di jantung kota. Apa tujuannya? Tentu saja ia ingin menenangkan diri, sehari saja tidak ingin melihat wajah Tamara yang begitu menyebalkan baginya. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan pria yang merupakan teman mesra Tamara di sana. "Hmm, sampai larut malam? Ngapain saja di sana?" Yasmin merasa kesal ketika harus melewati interogasi seperti ini. "Tentu saja melepas rindu. Memang apa lagi? Kan kami lama nggak ketemu," sahutnya seraya kembali melanjutkan aktivitas membumbui ikan segar dengan bumbu halus marinasi. Sebetulnya ia tidak berniat memasak pagi ini, tetapi entah mengapa ketika ia membuka kulkas untuk mengambil minuman segar, dua netranya tak sengaja menangkap keberadaan ikan segar di dalam freezer, dan tiba-tiba merasa ingin memasak ikan itu. "Saya harap hal seperti ini jangan terulang lagi, kamu wajib mengabari dulu kalau mau pergi ke mana-mana, agar saya tidak khawatir. Maksudnya, agar kamu tidak khawatir." Yasmin menghela napas, dibiarkan Chandra bicara sesukanya, ia tidak berminat menimpali apa pun. Yasmin kira Chandra pergi setelah mengomelinya, ternyata presensi pria itu masih bertahan pada posisinya. Dengan sudut mata yang tajam, ia melirik ke belakang, mendapati bayang Chandra yang dengan menatap punggungnya. Ekhem ... Yasmin berdehem, berharap pria di belakangnya itu berhenti menatap. Benar saja! Laki-laki yang tampak fokus memandanginya, kini mengalihkan tatapan ke arah lain. "Aku masuk dulu!" ujar pria itu lalu bergegas pergi. Yasmin menoleh kepala, melihat kepergian Chandra semakin menjauh, kemudian mengedikkan bahu acuh tidak acuh. Kini, dua ekor ikan goreng yang berada di fry pan telah berpindah posisi pada piring kaca berisi nasi hangat. Sarapan pagi ini barangkali akan nikmat sekali sebab berasal hasil olahan tangannya sendiri, terlebih lagi dengan menu sederhana seperti sayuran mentah dan sambal terasi. Dibawanya piring itu ke meja makan, kemudian melahap isinya dengan cepat. Tentu saja tidak lupa membaca basmallah sebelum makan. Satu suap, dua suap dan tiga suap nasi terkunyah. Entah mengapa ia merasa perutnya sangat lapar sehingga tidak bisa menelan nasi itu pelan-pelan. "Wah wah, enak banget nih udah sarapan aja. Di makan sendirian lagi." Suara itu, Yasmin langsung menghela napas, lalu meraih gelas berisi air putih untuk mendorong sisa nasi di kerongkongan. Keberadaan Tamara mendadak mengubah suasana meja makan. Diteguknya air itu hingga tersisa sedikit dan menyimpannya kembali ke tempat semula. Otaknya tak habis pikir, kenapa Tamara harus muncul di saat yang tidak tepat, disaat dia ingin tenang menikmati sarapan yang begitu membuatnya berselera. "Sambal apa itu? Kok baunya aneh?" Begitu ia didekati oleh Tamara, selera makannya pergi menguap entah kemana. Bisa tidak, Tamara tidak usah menampakkan batang hidungnya untuk sehari saja? Kenapa perempuan itu selalu saja melontarkan kalimat yang membuatnya merasa sakit hati. "Orang kaya kayak kamu nggak akan biasa makan makanan kayak gini. Jadi, nggak usah tanya-tanya." "Hih ... kok nyolot sih? Apa salahnya orang nanya baik-baik juga." Yasmin memutar jengah bola matanya, dan bergegas pergi dari meja makan membawa serta piringnya. Dia tahu tujuan Tamara tidak hanya sekadar tanya melainkan memberikan cemooh secara nonverbal. Yasmin sangat paham hal itu mengingat Tamara kerap kali melakukannya. "Mau ke mana? Nggak sopan banget orang disamperin malah ditinggal pergi." "Tante bisa nggak jangan cari perkara dulu? Aku lagi pusing, pingin makan dengan tenang. Ada Tante di sini bikin selera makan aku hilang tau nggak?" Kembali Yasmin melajukan langkahnya pergi ke dapur. *** "Yasmin itu makin hari kenapa makin kurang aja gitu sih?" Chandra menjilat bibir bawahnya, keluhan Tamara tidak ada habisnya terkait keberadaan Yasmin di rumah ini. Ada saja yang wanita itu adukan perkara Yasmin. "Nggak usah bahas itu terus bisa nggak? Aku baru pulang kerja, capek. Masa langsung diberondong omongan kayak gini?" tukas Chandra sembari melepas dasi yang melekat di kerah. "Ya ... abisnya dia ngeselin. Pas kamu berangkat kerja tadi, masa dia galakain aku." "Ada sebab ada akibat," sahut Chandra lagi, ia memangkas lengan kemeja hingga siku kemudian membuka almari untuk menyiapkan pakaian. "Aku udah berusaha bersikap baik, aku tanya eh malah diketusin." "Mungkin dia butuh adaptasi sama sikap kamu yang biasanya jutek sekarang mendadak sok akrab." Chandra meraih handuk kemudian pergi ke kamar mandi. Axel: [Sayang] Tamara terbelalak mendapat pesan seperti itu dari Axel. Ia mengangkat pandangan pada pintu kamar mandi yang kini tertutup rapat kemudian mengigit bibir bawahnya. Tamara: [Kamu apa-apaan? Jangan manggil yang aneh-aneh takut suamiku baca.] Axel: [Iya, iya, maaf. Lagi apa kamu?] Tamara: [Nanti malam kita sambung, aku sibuk.] Tamara mengakhiri obrolan melalui pesan dengan Axel, tidak ingin mengambil risiko jika sampai ketahuan oleh Chandra. "Chat siapa?" "Biasa Tamara." "Dia ada suami, hati-hati bahaya." "Hahah ... itu sih, urusan gampang. Nggak kan pernah ketahuan kalau aku yang main." Axel menyimpan ponselnya ke dalam saku seraya melanjutkan perbincangan dengan teman sejawatnya. "Masa sih? Yang bener?" Axel menoleh kasar ke sumber suara, ia mengenal suara perempuan yang baru saja didengar di telinganya. "Mau ke mana?" ujar teman Axel ketika Axel hendak mengejar pemilik suara itu. "Bentar, kamu duluan aja ke resto. Nanti aku nyusul. Aku masih ada perlu." Setelah mengatakan hal seperti itu, Axel bergegas susuri koridor, ia sangat yakin suara samar tadi itu adalah milik perempuan yang ditemui kemarin di lobby hotel. Langkahnya terus berayun tanpa henti, sedang ekor matanya tak luput mengamati ingar bingar lautan manusia yang berlalu lalang di dalam pusat perbelanjaan ini. "Nah, dapat!" Senyumannya melebar, ia merasa puas ketika pencairannya tidak berakhir sia-sia. Sedikit berlari guna lekas menggapai perempuan berbaju Salem itu, hingga akhirnya ia berhasil menjangkaunya . "Hei, ..." Axel sengaja menghadang troli yang di dorong gadis itu. "Ada apa? Kenapa menghalangi jalan?" "Nggak apa-apa, kita belum kenalan." Axel menampilkan cengiran tengilnya pada Yasmin. "Siapa Yas?" Milka berbisik pada Yasmin. "Nggak tahu, cowok nggak jelas," sahut Yasmin sekenanya. "Makanya kenalan dong, biar jelas. Mana tahu bisa memperjelas juga hubungan ini." Yasmin sungguh bergidik mendengar penuturan itu. Bisa-bisanya laki-laki ini bicara seperti itu pada wanita asing yang bahkan baru ditemui sekali kemarin. "Bisa nggak sih, nggak usah maksa? Aku nggak mau kenalan, jangan dipaksa buat kenal!" Yasmin mendorong kembali trolinya dengan cepat, yang disusul oleh Milka di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD