"Wajah kamu kenapa? Coba lihat!" Tangan Milka terulur ke depan menjepit kedua pipinya kemudian menggerakkan kepalanya ke samping.
"Lebam? Kok bisa? Ini kenapa?" Rasa penasaran yang tercetak di wajah Milka mendadak membesar. Buru-buru Yasmin menangkis tangan yang masih setia bertengger di pipi.
"Nggak apa-apa, cuma habis kebentur aja."
"Kebentur kok di pipi? Kalau mau bohong itu minimal yang logis dikit." Yasmin bungkam, menarik dalgona untuk dinikmati. Mengingat kejadian tadi pagi, hatinya benar-benar dongkol bukan main. Tindakan Tamara itu benar-benar di luar batas.
"Kamu ada masalah? Kalau udah main tangan gini sih keterlaluan namanya? Siapa pelakunya? Suami atau istrinya?" Yasmin menghela napas mendapat rentetan pertanyaan dari Milka, kepalanya sudah pusing jadi semakin pusing sebab pertanyaan tersebut.
"Udah nggak usah dipikirin, ini hal kecil. Jangan ambil pusing. By the way, gimana problem kamu sama si laki-laki itu?" Sengaja Yasmin mengalihkan topik pembicaraan. Sebab ia tidak ingin membuat Milka fokus pada titik masalahnya sekarang. Apa penyebab pipinya lebam dan memerah pun tidak ingin ia jelaskan pada sahabatnya ini.
"Ya, alih-alih yang mendapat ganti rugi, aku malah semakin rugi. Gila tu orang! Aku disuruh kerja di cafenya tanpa dibayar!"
"Dan kamu mau?" Terang saja kedua mata bulat milik Yasmin melebar sempurna mendapati pernyataan tersebut. Kerja tanpa dibayar? Bukankah ini adalah perselisihan hak namanya? Dan pelakunya akan dikenakan tindak pidana.
"Nggak ada pilihan lain. Daripada aku dilaporin ke polisi soal yang di restauran itu? Ya kan?"
Yasmin mengangguk kecil. Dibawanya punggung itu bersandar setelah mengambil satu buah croissant di piring dessert.
Mengigitnya sedikit lalu mengunyahnya tanpa selera.
"Yas?"
"Hmm ..."
"Aku masih penasaran apa yang terjadi sama kamu." Yasmin menelan kasar makanan yang belum dikunyah sempurna, tatapannya terangkat kemudian mengedikkan bahu acuh tak acuh. Berharap setelah Yasmin memberikan respon demikian, Milka berhenti mempertanyakan apa yang terjadi padanya.
"Ya udahlah, nggak maksa juga kalau nggak mau cerita," papar Milka kemudian melakukan hal yang sama.
Keheningan melingkupi dua orang perempuan yang sibuk dengan dessert masing-masing, tentu saja dengan pikiran yang teramat berisik. Keduanya sedang punya problematika tetapi dengan porsi yang berbeda.
Kring!
Ponsel Yasmin berdering, Yasmin menjatuhkan tatapan pada slingbag berukuran tidak besar itu kemudian membukanya. Mengambil ponsel dengan tangan kirinya sebab tangan kanannya sibuk mencomot croissant.
"Hmm apa?"
"Kamu di mana? Kenapa nggak pamit? Saya bangun kamu sudah nggak ada di rumah."
"Harus banget pamit? Kurasa hal seperti ini nggak usah ada ya, karena di surat perjanjian juga nggak tertera kok," sahutnya santai. Yasmin seakan memberikan sebuah peringatan dalam bentuk tindakan halus.
"Kamu kenapa?"
"Aku sibuk, dilanjut nanti, ya! Bye!" Seperti biasa, Yasmin akan menghindari Chandra ketika pria itu sudah mempertanyakan perubahannya.
Matahari bergeser perlahan turun dari peraduan, tetapi Yasmin belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Duduk! Berdiri aja terus kayak orang kebingungan nunggu berlian pulang aja. Heran, deh." Tamara yang duduk santai sembari memainkan ponsel di ruang tengah pun memberikan sindiran pedas pada Chandra yang terlihat mondar-mandir sejak beberapa menit lalu. Gara-gara Yasmin, Tamara terpaksa menahan kantuk lantaran menunggui Chandra yang gundah.
"Hah ( menghela napas) ... kenapa dia belum pulang juga, ponselnya juga nggak aktif lagi. Astaga ..." Alih-alih mendengarkan ucapan Tamara, Chandra sibuk bergumam sendiri, menatap beberapa kali benda pipih dalam genggaman berharap pesannya dibalas.
Hal tersebut tentu saja berhasil membuat Tamara geram, kepalanya mendadak mengeluarkan kepulan asap tak kasat mata atas ulah Chandra yang dianggapnya berlebihan.
"Kamu kenapa sih, impulsif banget gini? Apa udah mulai peduli sama dia? Perasaan aku perhatikan makin ke sini makin berani nunjukin perhatian sama Yasmin." Chandra segera berbalik badan, memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana berwarna hitam lalu menghampiri Tamara, dan duduk tepat di depan wanita itu.
"Tam, tolong jangan ngomong kayak gini lagi. Berhenti menuduh yang enggak-enggak, paham kan kalau dia adalah masa depan kita, kalau seandianya ada apa-apa sama dia, otomatis itu akan berdampak sama kita juga."
"Alasan!" tukas Tamara lugas, melempar asal ponselnya ke samping kemudian melipat tangan di d**a.
"Astaga ... kapan kamu berhenti overthinking? Kenapa setiap omongan aku dianggap cuma alasan? Kapan kamu percaya?"
"Ya gimana aku nggak overthinking, sikap kamu makin aneh. Inget ya, Chand. Sekali lagi aku ingetin sama kamu, kalau misi dinyatakan berhasil. Jangan pernah berani-beraninya kamu pergi ke kamarnya!" Chandra terdiam, tidak menyahuti ucapan Tamara. Apakah egois seandainya dia menginginkan kehamilan Yasmin tertunda? Ah~pemikiran gila!
"Chandra! Jawab dong!"
"Iya, iya, Tam. Nggak usah kamu bahas bolak-balik, aku udah paham," sahut Chandra benar-benar gusar bukan kepalang.
"Nah, gitu dong! Yuk ke kamar, kita tidur." Tamara mengering, memberikan kode pada Chandra, tangannya pun menarik pelan pergelangan tangan pria yang tengah dilanda rasa gelisah.
****
Bruk!
"Hati-hati kalau jalan!" cicit Yasmin dengan raut wajah kesal. Ia berjongkok memungut beberapa benda yang terjatuh akibat ulah laki-laki yang baru saja menubruknya.
"Sorry, nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa?" Laki-laki itu pun ikut berjongkok membantu Yasmin.
"Nggak apa-apa gimana, lihat ini! Kam–"
Ucapan Yasmin terjeda, tatap matanya terpaku untuk sepersekian detiknya guna menatap pria berwajah oriental di depannya.
"Kenapa?"
"Ah, nggak apa-apa. Nggak usah dibantu, aku bisa." Yasmin mendorong tangan itu untuk menjauhi barang-barang miliknya.
"Aku cuma mau bantu."
"Nggak perlu, makasih." Yasmin berdiri, berbalik badan hendak meninggalkan laki-laki itu. Laki-laki ini, dia tahu pria itu siapa. Laki-laki itu bernama Axel–teman dekat Tamara, ah bukan lebih tepatnya teman mesra Tamara. Yasmin pernah melihat laki-laki ini ketika mengantar Tamara pulang pada waktu dini hari. Cukup nekat karena yang diantar pulang adalah wanita bersuami.
"Tunggu!" Spontanitas langkah kaki Yasmin berhenti sesuai instruksi, entah mengapa ia harus berhenti ketika suara itu menjamah telinganya, seharusnya ia abaikan saja seruan itu.
"Kenapa?"
"Aku Axel."
"Aku nggak tanya." Yasmin mendengkus, tudak berminat berkenalan dengan laki-laki semacam Axel.
"Aku tahu, tapi apa salahnya kita kenalan?"
"Nggak tertarik, sama sekali nggak pengin kenalan sama kamu," pungkas Yasmin eksplisit. Apa mungkin si Axel ini menganggap semua wanita semudah itu diajak berkenalan hanya karena mengandalkannya wajah bulenya itu?
"Sayang sekali, padahal aku pengin tahu nama kamu."
"Kalau penasaran, cari tahu aja sendiri," sahut Yasmin lalu kembali membawa langkahnya pergi dari sana.
Perduli setan dengan bagaimana tanggapan pria yang ditinggalkan itu, Yasmin sangat tidak peduli.
Setibanya di tepian jalan, Yasmin menghadang sebuah taksi yang kebetulan melintas di dekatnya.