Sebelas

1014 Words
Melewati makan malam berdua memang terasa sangat aneh terhitung sejak malam ini, jika biasanya hal tersebut bukan menjadi hal tabu, maka menjadi pengecualian untuk malam ini. Kendati begitu, Yasmin tetap berusaha fokus, memainkan pisau steak–mengiris potongan daging menjadi bagian kecil-kecil sebelum akhirnya memasukkan potongan itu ke dalam mulut. Keduanya tampak anteng saat tenggelam menikmati makanan di plate masing-masing. Tidak ada obrolan selain hanya fokus pada kegiatannya saja. Beberapa detik berlalu, isi pada hot plate keduanya sudah tandas, Yasmin yang tiba-tiba merasa membutuhkan kamar mandi pun berpamitan sebentar untuk membuang air. "Mau pulang jam berapa?" "Kayaknya aku harus mampir ke rumah Axel dulu. Ada barangku ketinggalan di sana kemarin malam." Tatapan Yasmin yang semula tertuju pada ponselnya, pun terangkat pada pintu yang ditutup rapat. Ia mendengar dengan jelas obrolan di balik pintu tersebut. Di luar bilik kamar mandi yang digunakannya saat ini. Ia membenarkan panties-nya kemudian bergerak maju beberapa langkah dan menempelkan telinga di daun pintu. "Suamimu nggak nyariin apa?" "Tenang aja. Aku udah bilang kalau aku pulang terlambat. Dia memahami itu, kok. Well, don't worry." "Keren, enak banget ya punya suami pengertian. Jadi, pengen cepet nikah." Suara pancuran air wastafel pun berhenti, tetapi Yasmin masih bertahan dalam posisinya saat ini. Dia yakin, kedua wanita yangs Edang mengobrol itu belum pergi dari sana. "Iya lah, kalau nggak pengertian mana mau aku bertahan. Laki-laki kayak Chandra itu langka, jarang banget ada kriteria laki-laki kayak gitu." Suara tawa dari bibir itu pun menguar diakhir obrolan. "Iya bener banget, tapi juga kayaknya dia kecintaan sama kamu, Tam." "Jelaslah, apalagi aku punya kartu as nya. Mana bisa berkutik dia. Dah yuk! Keburu Axel nungguin, kasian juga kalau kelamaan." Langkah kaki dua orang perempuan itu terdengar mulai menjauh, meninggalkan tempat di mana mereka membicarakan banyak hal di sana. Sunyi! Keadaan kamar mandi tidak seriuh sebelumnya. Sejurus kemudian Yasmin keluar dari bilik sempit itu, bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter. Ia membuang napas berkali-kali sebelum akhirnya menyusul keluar dari area kamar mandi wanita. "Maaf, lama!" ucapnya setelah mencapai meja tepat di ana Chandra menunggunya. "Nggak apa-apa. Udah kan? Kalau udah ayo kita pulang." Yasmin mengangguk, menggenggam erat tali slingbag berjalan lebih menuju pintu masuk. Sungguh, ia masih penasaran apa maksud ucapan Tamara mengenai kartu AS yang disimpannya terkait Chandra. Entah mengapa ucapan Tamara tentang kartu AS itu benar-benar mengganggu pikirannya, apakah ini ada kaitannya dengan dirinya sendiri? Sekilas ia menoleh ke samping, tepat pada Chandra yang tengah membuka pintu mobil, ia mengigit bibir bawahnya sembari berpikir keras. Apakah ia harus mencari tahu? "Yasmin! Kenapa berhenti di sana!" "Ayo!" Yasmin pun kembali melangkah, mengikuti ajakan Chandra. Keduanya sampai di rumah pukul sembilan malam. Dan sesuai apa yang didengar oleh Yasmin tadi, Tamara belum ada di rumah sebab masih terlebih dulu bertandang ke kediaman teman prianya. Buru-buru Yasmin pergi ke kamarnya, mengabaikan Chandra yang saat ini ke dapur. Ia tidak peduli, bergegas menutup rapat pintu kemudian bersandar di belakang daun pintu. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak, moodnya menurun, dan keanehan mulai menggerayangi. Tangannya terulur meraba d**a, merasa ada yang berbeda semenjak mendengar percakapan Tamara dengan teman perempuannya tadi. Apa karena kartu As itu, Chandra menikahi Tamara? Lantas tujuan Tamara menjebak Chandra untuk menikahinya apa? *** Kicau burung kenari saling bersahutan melengkapi panorama pagi yang indah nan cerah, setelah semalam sempat hujan deras beberapa jam. Yasmin terjaga dari tidurnya, menguap lebar, kemudian bersandar pada punggung ranjang. Tangannya terjulur ke samping meraih ponsel dan mengisi daya yang sejak semalam mati tanpa diketahui. Ia pun menuruni ranjang lalu bergegas ke kamar mandi. Pagi ini, ia memiliki jadwal mengunjungi tempat tinggal Milka, semenjak kejadian beberapa Minggu lalu, ia belum tahu lagi kabar sahabatnya itu. "Yasmin! Heh! Buka pintu!" Yasmin membuang napas melalui mulutnya usai mendengar teriakan di balik pintu kamar mandi yang disertai gedoran pintu, bising sekali. Baru saja menanggalkan baju tidak termasuk dalaman, Yasmin terpaksa membuka pintu, benar-benar malas. Dalam pikirannya pun bertanya, kira-kira mau apa lagi wanita ini? Kenapa juga pagi-pagi sudah membuat moodnya buruk saja? "Apa?" ujarnya seraya bermuram durja, wajah itu kentara sekali jika sedang jengah. "Pulang sama siapa semalam dari rumah sakit? "Sendiri. Kenapa?" "Alah ... jangan bohong! Kamu dijemput Chandra kan? Terus kalian makan malam berdua, ya kan? Ngaku!" Yasmin memutar jengah bola matanya. Tidak terbayang seandainya ia benar-benar hamil, apakah ia dapat mengahadapi kehamilannya dengan baik dan tenang? "Kalau tahu kenapa tanya? Aneh banget, deh! "Jadi benar kamu pulang sama Chandra dan makam malam berdua?" "Ya!" "Tanpa aku?" Tamara menunjuk diri sendiri dengan mata melotot tajam kepada Yasmin yang spontan terpejam karena suara lengking milik Tamara. "Benar!" Plak! Yasmin terkejut buat main ketika tiba-tiba telapak tangan Tamara begitu ringan terangkat dan memukul pipi hingga merah, tidak pernah menduga dia mendapatkan serangan mendadak seperti ini sebelumnya. "Maksudnya apa? Kenapa nampar?" "Masih tanya kenapa? Kenapa kamu belum paham juga? Kenapa nggak bisa menelaah dengan baik apa yang aku omongin malam itu, hah?" "Berapa kali harus kuulang? Jangan bersikap berlebihan sama suami orang. Nggak usah kegatelan. Kamu itu cuma perempuannya bayaran, ditempatkan hanya sebagai penampung bayi, nggak lebih. Paham posisi!" Tamara memberondong kalimat menyakitkan itu bertubi-tubi tidak dengan suara datar, tetapi menggelegar. Siapa yang tidak terluka? Tentu saja perkataan itu menggores berkali-kali permukaan hati yang lembut. Yasmin memilih untuk tidak melawan, ia masih berusaha menahan diri untuk tidak membalas perbuatan Tamara. Tetapi, janjinya dalam hati, ia akan membalas lebih sakit dari apa yang dirasakannya selama tinggal di rumah ini. Dia tidak main-main dengan sumpahnya. "Jawab! Kenapa kamu goda suamiku?" "Aku nggak menggodanya! Dia yang duluan ajak, bukan aku yang kegatelan deketin dia. Kalau nggak percaya tanya aja sana! Lagian peduli apa sih sama suami, kalau ujung-ujungnya masih jalan sama cowok lain." "Jaga mulut kamu! Cowok yang mana yang kamu maksud?" Yasmin mengedikkan bahu sebelum akhirnya membanting pintu kamar mandi cukup keras. Pipinya memerah, bisa dilihat dari pantulan cermin di depannya. Tangannya mengepal sempurna, ia memang makhluk yang butuh makan, butuh uang dan semua jenis kebutuhan hidup lainnya, tetapi bukan dengan seenak jidat Tamara memperlakukannya seperti ini. Yasmin membuang napas gusar dan menanggalkan dengan cepat sisa kain yang melekat pada tubuhnya. Membuka kran air shower untuk membasahi sekujur tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD