Sepuluh

1019 Words
"Kita akan melakukan tes darah lengkap untuk mendeteksi apakah sudah ada pembuahan atau tidak di dalam rahim," ujar dokter pria yang menanganinya. Seulas senyum terbit, manis sekali dengan dua lesung pipit yang menghiasi pipi. Berbeda dengan respon yang diberikan oleh sang Dokter, Yasmin terlihat tegang menghadapi situasi ini, menggenggam erat tangannya di bawah meja. Kendati demikian, ia tidak ragu dalam memberikan anggukan kepala secara lugas. Beberapa kali juga Yasmin mengambil napas lalu membuangnya perlahan. "Ayo, ikut saya ke ruang lab," ajak dokter tampan itu, hingga keduanya pun beranjak berpindah posisi ke ruang lain. Dua puluh menit berlalu, akhirnya serangkaian pemeriksaan yang dilakukan Yasmin usai. Gadis itu keluar dalam keadaan cemas. Entah mengapa moodnya mendadak longsor. Karena tes hCG yang dilakukan olehnya merupakan test kuantitatif, maka ia perlu menunggu sekitar dua sampai tiga hari atas hasil optimal. Ia diminta untuk kembali datang untuk mengambil hasil pemeriksaannya hari. Tungkainya melangkah keluar ruangan, berjalan gontai menyusuri koridor yang ramai oleh aktivitas para para medis, mereka berlalu lalang dengan langkah terburu-buru. Tatapannya tiba-tiba kosong. Ia mendadak berpikir, apakah dirinya akan berhasil hamil dalam waktu dekat ini? Apakah dia akan baik-baik saja menghadapi kehamilan pertama? Hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan dalam kepala yang berisik saat ini. Begitu tiba di lobby rumah sakit, langkahnya berhenti, pendar matanya menyipit ia heran kala mendapati mobil Chandra terparkir rapi di sana. Untuk apa? Tanpa menunggu lagi, Yasmin berinisiatif mendekat, meski tidak tahu tujuannya menghampiri roda empat itu belum jelas. "Om?" Yasmin mengangkat tangan, mengepal, lalu mengetuk kaca pintu mobil yang tertutup rapat. Tidak berselang lama kaca mobil itu pun diturunkan, memperlihat sosok Chandra dengan balikan kaos polo berwarna abu-abu lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Sepersekian detiknya, ia menatap suami Tamara dengan tatapan sulit dibaca, tetapi sejurus kemudian Yasmin lekas mengalihkan tatapan ke arah lain. Menatap Chandra, ia seperti merasakan ada hal yang tidak biasa dan Yasmin tidak ingin membiasakan hatinya merasakan hal demikian. "Kamu sudah selesai?" tanya pria itu sembari memberikan tatapan teduh, setelah kacamatanya di turunkan. "Hmm, sudah. Semua tes udah aku lakuin." "Oke, good. Terima kasih ya, sudah mau koperatif. Untuk hasilnya di dua hari lagi, biar saya saja yang ambil, saya udah konfirmasi ke dokter langsung kok." Chandra mengangkat ponselnya, menyatakan secara nonverbal melalui media apa ia melakukan komunikasi dengan dokter kandungan itu. Yasmin mengangguk lalu tersenyum singkat. Sebelum akhirnya memberikan jawaban pada Chandra. "Sama-sama. Omong-omong Om ngapain ke sini?" "Jemput kamu. Memang apa? Tunggu apa lagi? Ayo, naik! Saya mau ajak kamu makam malam." Yasmin yang semula terlihat linglung pun buru-buru mengangguk, tangannya lekas menarik handle pintu lalu memasukkan tubuh mungilnya ke dalam kabin mobil. Makan malam? Di mana memangnya? Dalam rangka apa? Sepanjang perjalanan pulang, tatap mata Yasmin fokus pada hiruk pikuk jalanan pada malam hari, tetapi tidak dengan pikirannya yang kacau balau. Nuansa malam terlihat semakin menarik lantaran dihias oleh gemerlap lampu-lampu kota. "Udah lama aku nggak pergi ke makam kakak," ujar Yasmin memecah keheningan di dalam ruang lingkup tersebut. Kalimat itu terjadi secara spontanitas, sebetulnya tidak ada wacanaku bicara seperti ini, tetapi entah mengapa bibirnya bergerak melontarkan kalimat random yang seharusnya tidak perlu dibahas. "Kalau kamu mau, saya bisa mengantar besok." "Eh, ..." Yasmin langsung tersentak begitu mendapatkan respon dari Chandra, ia pun mengalihkan tatapannya ke depan. "Nggak usah, Om. Aku berangkat sendiri aja. Aku bisa kok pergi sendiri." "Memang kenapa kalau sama saya?" "Ya, nggak apa-apa, sih. Cuma kan selama ini aku terbiasa melakukan apa pun sendiri, jadi agak gimana gitu kalau tiba-tiba orang yang merasa harus mendampingi ke manapun aku pergi." "Risih?" Setelah alis Chandra menukik tajam, menatap gadis di belakangnya melalui kaca spion. Terdapat gesture tidak nyaman dengan menu obrolan mereka. "Hmm, seperti itulah," sahut Yasmin seraya mengedikkan bahu. "Saya ini suami kamu, kan?" "Tapi–" "Terlepas perjanjian tertulis kita di atas kertas, status saya tetap suamimu dan punya kewajiban untuk mendampingi selama kamu pergi." Yasmin terdiam, menyinggung perihal status mereka yang hanya abal-abal, terasa rikuh apalagi dibahas dalam keadaan berdua dan serius seperti ini. Dia memang kesal pada Tamara, pernah membuat hatinya terluka ketika Ody kekasihnya justru menjadi kekasih Tamara juga saat itu. Tetapi di kesempatan ini, Yasmin tidak berniat membalas apa pun apalagi sampai ingin merebut kebahagiaan Tamara, tidak ingin menjadi duri atau perebut sesuatu yang bukan ditakdirkan untuknya. Biarkan Tuhan yang membalas rasa sakit itu. "Hmm ... aku bisa sendiri, jangan merasa terbebani, aku nggak apa-apa tanpa didampingi sama Om, suamiku," sahut Yasmin berusaha menolak halus. "Akhir-akhir ini saya melihat ada yang berbeda dari kamu? Kenapa?" Yasmin kembali mengatupkan rapat bibirnya beberapa saat. Tidak bicara sampai beberapa menit lamanya. Apakah perubahan atas sikapnya beberapa hari terakhir terbaca oleh Chandra? Akan tetapi, masa iya laki-laki ini sebegitu memperhatikan hal kecil seperti ini? "Mungkin cuma perasaan Om aja kali." "Ada sesuatu yang menganggu mood kamu? Apa itu Tamara?" Yasmin membasahi bibir bawahnya, buru-buru ia menggeleng kecil dan menutup erat kedua matanya. Mungkin jika Chandra mengira jika perubahan Yasmin berawal dari kejadian di dapur usai pertemuan Yasmin dengan Tamara dan beberapa percakapan mereka berdua yang tidak didengar, tetapi itu bukan alasan utamanya. Sebetulnya saat malam hari ketika Yasmin hendak pergi ke dapur, di bawah temaram lampu LED yang menyala di ruang tamu, Yasmin melihat dengan jelas bagaimana mereka saling b******u dengan penuh cinta. Tangan Yasmin menggigil melihat adegan itu, untung saja cangkir kaca dalam genggamannya tidak terjun begitu saja dan buru-buru dibawa kembali ke dalam kamar. "Nggak, Om. Aku cuma nggak mau terbiasa bergantung sama orang lain. Aku ingin tetap menjadi aku yang biasanya. Apalagi kontrak ini bertahan hanya sebentar," pungkasnya. "Y–" "Kita mau makan di mana? Sama Tante nggak?" Sebelum obrolan itu berlanjut, lebih baik Yasmin mengalihkan obrolan. Dia tidak mau berlarut-larut membahas terkait status pernikahan di bawah tangan ini. "Berdua. Cuma saya dan kamu." "Lho, kok? Kenapa berdua? Nanti kalau tant–" "Dia sedang ada urusan di luar. Pulangnya larut malam. Saya nggak mungkin menunggu dia pulang, karena sekarang posisi perut saya benar-benar lapar." Mau tidak mau, Yasmin pun pasrah dengan ajakan dalam konotasi memaksa. Mau menolak dengan apa pun juga rasanya akan percuma, seperti tidak tahu saja bagaimana tabiat pria yang dikenalnya sejak masih anak-anak itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD