Sembilan

742 Words
Yasmin pulang dalam keadaan cemberut, iras cantiknya dihiasi oleh kerutan di dahi lengkap dengan bibir mengerucut tidak ramah sama sekali, dibukanya flatshoes berwarna cream secara serampangan dan menyimpan kasar benda itu di bagian rak sepatu. Disepanjang jalan pulang tadi, ia tidak berhenti mengoceh pada Milka yang dianggapnya ceroboh mengambil tindakan. Mengatainya banyak hal karena terlalu gegabah. Lihat, buah dari kesalahan itu, Milka akhirnya dituntut ganti rugi atas pencemaran nama baik oleh pria itu. Yasmin melangkah pergi ke dapur, membuka pintu lemari pendingin kemudian meraih satu botol minuman, meredakan dahaga yang merongrong tenggorokan sejak tadi. Tidak ada minuman bersoda atau minuman dengan kandungan sukrosa, hanya ada minuman sehat berupa ramuan-ramuan. Dia sedang menjalankan program hamil, yang artinya tidak boleh sembarangan meminum apa pun kecuali minuman yang ada kaitannya dengan kesuburan. Tidak berselang lama, Chandra bersama Tamara datang, tepat setelah Yasmin melempar botol minuman kosong ke dalam tempat sampah. Keduanya langsung menuju kamar, mungkin keduanya sedang lelah setelah menghadiri acara grand opening perusahaan milik relasi Chandra. Ditatapnya punggung lebar sembari menyilangkan tangan di depan d**a. Pandangannya memburam, sebab pikirannya sedang menggali keping demi keping kenangan di masa lalu. Revan–Kakaknya–sempat berniat menjodohkan dirinya dengan Chandra, tetapi karena Yasmin tidak memiliki perasaan apa pun pada pria yang berbeda sepuluh tahun dengannya itu, akhirnya Yasmin memutuskan untuk mengabaikan ucapan sang kakak, menganggap ucapan itu sebagai candaan belaka. Yasmin juga sempat melarang Revan menyampaikan keinginan itu pada Chandra, membuang jauh niatan tersebut dan melupakannya begitu saja. Revan benar-benar mengabulkan kemauan Yasmin, Revan tidak pernah membahas apa pun terkait ini pada Chandra, kecuali hanya pernah meminta agar Chandra menjaganya, tentu saja Yasmin merasa permintaan itu ada konotasi lain di dalamnya. "Siapa yang suruh kamu melamun di sini?" Yasmin terkesiap dan bergegas menarik seluruh lamunannya, memindahkan posisi begitu lengannya didorong paksa oleh Tamara. "Sana masuk kamar! Lagian ngapain juga berdiri di sini?" tukas Tamara ketus, semenjak kedatangan Yasmin, sedikit saja wanita itu tidak pernah bertutur lembut pada Yasmin. "Kenapa sih? Sewot amat." "Ck, bantah aja kerjaan, jangan mentang-mentang kamu tahu track record saya kamu jadi melawan. Sadar diri posisi kamu di sini sebagai apa? Kamu itu cuma perempuan yang dengan mudahnya menyewakan rahim hanya demi segepok uang. Jadi, sekali lagi, mohon untuk sadar diri dan berhenti bersikap seenaknya." Kalimat itu kembali terlontar, jelas hal itu kembali melukai perasaannya. Yasmin hanya mampu menghela napas kemudian memilih untuk tidak lagi membalas perkataan Tamara. Meladeni wanita itu, sama halnya dengan menusuk-nusuk perasaannya yang sudah berantakan ini. Ia berbalik badan, meninggalkan perempuan itu. Perasaannya benar-benar dongkol. Cukup sadar atas keberadaannya di sini, tetapi bukan berarti orang lain bisa merendahkan harga dirinya seperti ini. Dulu, Tamara memintanya melakukan test keperawanan yang tanpa tedeng aling-aling langsung dilakukan tanpa berat hati, padahal sebenarnya hal tersebut telah membuat egonya terluka karena dihina secara tidak langsung. Hendak memasuki kamarnya, ia tidak sengaja bersitatap dengan netra Chandra yang baru saja keluar. Keduanya saling memaku pandang untuk sepersekian detik sebelum akhirnya Yasmin lebih dulu memutus tatapan keduanya. Tindakan aneh yang dilakukan Yasmin, membuat Chandra mulai berpikir, apa yang terjadi pada gadis itu? *** Hari demi hari berlalu begitu cepat, ini sudah memasuki lima Minggu Yasmin berada di rumah itu, dan melakukan banyak hal untuk segera mengandung buah hati Chandra dengan Tamara. "Hari ini jadwal konsultasi ke dokter." Chandra mengingatkan, Yasmin yang semula fokus pada makan siangnya pun mengangguk paham. Malam ini ia akan pergi kontrol pada dokter kandungan. Ingin memastikan seberapa besar progress yang dicapai oleh Yasmin selama lima Minggu menjalankan program yang diberikan oleh dokter padanya. "Semoga lekas hamil," celetuk Tamara. Tamara sendiri sudah tidak sabar menunggu kehamilan Yasmin, sebab dengan begitu, tidak ada lagi alasan bagi Chandra berbagi malam dengan perempuan yang menjadi madunya. "Aamiin," sahut Yasmin kemudian meraih gelas berisi air mineral. Sebagai perempuan yang datang untuk dibayar. Tentu saja Yasmin siap hamil kapan saja, tidak peduli dengan perjanjian konyol yang menyatakan, 'Pihak pertama berhenti menggauli pihak kedua setelah pihak kedua dinyatakan hamil; sampai dengan melahirkan.' Chandra menatap Yasmin, semenjak kejadian beberapa minggu lalu, sikap Yasmin sedikit aneh, bahkan ketika mereka melalui malam bersama pun Yasmin tidak seperti biasa. "Aku udah selesai, ayo sayang! Kita berangkat sekarang." Tamara mendistraksi kegiatan Chandra yang sesekali mencuri pandang pada Yasmin. Pria itu pun mengangguk kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan, mengekor pada Tamara yang lebih dulu meninggalkan meja. Hanya tersisa sendiri, Yasmin pun ikut menghentikan aktivitas makan. Ia menghela napas, lalu menjatuhkan pandangan pada meja makan yang berantakan. Ia bangkit, membersihkan piring-piring lalu membawanya pergi ke belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD