Delapan

1002 Words
Sore hari, Yasmin yang sejak pagi sudah memiliki wacana pergi berkunjung ke tempat tinggal Milka untuk melepas rindu menggebu, sudah selesai bersiap-siap. Karena hidupnya sudah teramat enak di rumah orang kaya, dia tidak boleh lupa bukan pada teman yang selama ini telah bersedia menemani disaat susah? Jelas saja itu perbuatan tidak terpuji. Apalagi Milka adalah satu-satunya teman yang benar-benar tulus berbuat sesuatu untuknya. Ia tersenyum puas, menatap refleksi diri sendiri melalui pantulan kaca. Penampilan anggunnya begitu menunjang paras cantik yang semakin bersinar setelah mengaplikasikan make up flawless pada permukaan wajah. Dress-nya bagus, ternyata seleranya menjadi orang kaya baru tidak buruk juga, satu dress berwarna salem yang menjadi pilihannya di antara banyak dress yang tersedia, begitu elegan ketika menempel pada tubuh semampainya. Setelah selesai bercermin, tangannya lekas terulur mengambil tote bag berwarna cream yang sudah terisi oleh dompet dsn pondelnya. Ah~melihat Tote bag ini, ia masih ingat betul sejarah dari mana benda itu dibeli. Benda tersebut ia dapatkan setelah mendapatkan jackpot besar dari Chandra untk pertama kali, meski bahannya bagus, tetapi soal harga cukup ekonomis. "Lama banget sih, siap-siap gitu doang bikin orang kesel nunggunya. Ngapain aja di kamar? Semedi?" Baru saja keluar dari kamar, suara Tamara yang selalu menyebalkan di telinga mulai mengudara, merusak kesenangannya saja. Jika bukan karena tawaran Chandra, tentu saja ia tidak mau satu mobil dengan wanita ini. "Sudah. Jangan mulai, Tam!" Yasmin lantas tersenyum miring begitu Chandra memberikan peringatan pada Tamara, membuat wanita itu memasang wajah kian keruh. Sempat ia menjulurkan lidah yang tentu saja ditatap tajam oleh Tamara yang seakan melempar bola api kepadanya "Ayo, kita berangkat. Keburu sore." Ajakan Chandra, membuat Yasmin berbegas beranjak mengekori langkah sepasang suami istri yang memimpin di depan. "Oiya, nanti kalau misal saya belum menjemput, kamu pulang naik taksi saja, ya. Pastikan jangan pulang terlalu malam! Ingat, bahaya." "Ck, udahlah, Chan. Kamu kasih inget dia kayak ngasih tau anak SD aja. Dia udah besar, tahu kapan waktunya pulang ke sini," celetuk Tamara, seakan tidak suka mendengar perhatian yang diberikan Chandra pada Yasmin. Chandra menggeleng pelan mendapati timpakan ketus itu, tidak ingin menyahut apa-apa, ia pun memilih meraih tangan istrinya dan menggenggam erat, seolah sedang memberikan afeksi pada wanita yang akhir-akhir ini suka sekali marah-marah setelah kehadiran Yasmin di rumah ini. Tindakan Chandra memang mujarab, terbukti setelah jari-jari lentik dengan kuku panjang hiasan nail art berada dalam lingkup telapak tangan Chandra, Tamara tidak lagi merasa marah seperti sebelumnya, ia justru memamerkan hal tersebut pada Yasmin yang masih setia di belakang mereka. Perjalanan dari rumah menuju tempat tinggal lama Yasmin terbilang singkat, hanya memerlukan waktu sekitar lima belas menit, Yasmin sudah berada tepat di depan gerbang berwarna pink. "Terima makasih, Om. Sudah berkenan kasih tumpangan." "Iya, saya pergi dulu." Yasmin mengangguk kemudian tangannya spontan terangkat untuk memberi lambaian tangan pada mobil yang mulai beranjak dari sana. Ia menghela napas sembari menatap nanar kepergian roda empat yang kian menjauh. Ia pun tersenyum kecil. "Yasmin!" Baru saja memutar tubuh hendak menyentuh gembok, ia pun menoleh ke belakang. "Astaga ... jadi, beneran Yasmin ternyata, aku pikir tadi aku salah lihat." Milka mendekat sembari memendar pandangannya pada gadis yang sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat itu, kulit yang dulu sedikit kusam, kini terlihat bersinar apalagi di bawah sinar mentari sore. "Iya, dong. Cantik ya aku?" "Cantik banget, gila! Eh, masuk yuk!" Milka menyeret tangan Yasmin, membawa sahabatnya itu menuju kamar kos miliknya. "Omong-omong ada apa nih? Tumben datang ke sini?" tanya Milka setelah meminta Yasmin duduk di kursi berbahan rotan yang sudah usang itu. "Nggak ada apa-apa sih, cuma kangen aja. Pingin ketemu." Milka terkekeh mendengar ucapan Yasmin. Ia mengibaskan tangan di depan wajah, kemudian menjawab, "Aku pikir kamu udah lupa," katanya jenaka. "Mana ada? Nomor kamu kenapa nggak aktif sih?" Milka menghela napas sembari memanyunkan bibir. Ia bangkit dari kasurnya kemudian meraih benda pipih yang sudah dalam keadaan hancur. "Ponsel aku jatuh dan nggak sengaja terinjak sama seseorang. Jadi gini, deh." Ia mengulurkan benda itu pada Yasmin. Menunjukkan betapa ironisnya benda yang biasa dipakai berkomunikasi tersebut. "Astaga, bisa parah gini? Terus dia tanggung jawab?" "Boro-boro tanggung jawab, ngaku aja enggak. Masa katanya ponsel aku emang udah hancur begini." "Astaga ... bisa-bisanya." Milka mengangguk kecil lalu mengambil kembali benda itu dari tangan Yasmin. "Udah nggak usah sedih, beli aja yang baru." "Beli yang baru apaan? Duit aja belum ada." Yasmin menarik tangan sahabatnya, secara tidak langsung meminta perempuan di depannya itu kembali duduk seperti sedia kala. "Aku beliin, ayo! Kamu siap-siap. Berangkat ke mall." "Eh, nggak usah. Jangan! Biar aja aku yang usaha cari uang buat beli ponsel baru. Jangan pakai uang kamu." "Kenapa? Karena uang yang aku hasilkan nggak halal ya?" Sepertinya Yasmin salah paham, hal itu membuat Milka buru-buru memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya ia tidak ingin memanfaatkan kekayaan yang didapatkan Yasmin sekarang. Tetapi, alasan seperti itu justru dianggap basi oleh Yasmin, Yasmin masih saja kukuh memaksa Milka untuk menuruti kemauannya. *** "Itu kan cowok yang udah bikin ponsel aku hancur waktu itu, wah ... kebetulan banget ketemu. Tuhan maha baik, terima kasih Tuhan." Sempat ia menengadahkan kedua telapak tangan mengucap syukur. "Aku harus dikasih pelajaran." Milka buru-buru memangkas lengan kemeja panjangnya untuk kemudian bergegas menghampiri laki-laki yang sedang makan dengan seorang wanita, karena sedang dikuasi emosi, tentu saja Milka kalap, bahkan halangan yang diberikan oleh Yasmin pun tidak mampu menghentikan langkah untuk tetap maju menuju pertempuran. Brak! Tidak hanya pria itu dengan kekasihnya saja yang terkejut, bahkan Yasmin pun kaget hingga spontan mengelus dadanya. "Masih ingat saya?" "Siapa?" "Perempuan yang kamu injak ponselnya sampai hancur lebur. Sudah ingat?" "Kapan? Kamu salah orang." "Kapan? Jangan pura-pura lupa! Dasar laki-laki nggak tanggung jawab." Keributan pun terjadi, Milka yang dirundung oleh emosi di dalam kepalanya, terus memberondong kalimat-kalimat tidak baik pada pria yang bahkan tidak diketahui siapa namanya, sementara kekasih dari pria itu sendiri tampak lebih memilih untuk menutup mulut alih-alih membela kekasihnya. Suasana mendadak riuh oleh mereka yang sibuk adu mulut, sampai-sampai atensi para pengunjung pun teralih pada keduanya. Sepuluh menit mereka berargumen pada akhirnya berakhir di pos satpam karena laporan dari manager restauran itu sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD