Satu
"Makasih banyak, Om." Tangan Yasmin bergerak cepat menyambar amplop berwarna coklat di atas meja dan bergegas membukanya.
Ia tersenyum lebar, memperlihatkan sederet gigi putih pada pria berpenampilan parlente di hadapannya.
"Iya sama-sama," sahut Chandra. Dengan tidak sabaran ia lantas mengeluarkan setumpuk uang pecahan seratus ribuan dan lalu menghitungnya tanpa sungkan.
"Satu juta, dua juta, tiga, empat, lima–"
"Wah ...totalnya ada lima juta. Gila, cuma nemenin minum semalam doang dibayar lima juta? Buset! Kalau gini terus bisa kaya mendadak aku." Ia berujar girang, matanya berpendar sempurna dan bergerak impulsif mengecup uang-uang tersebut dengan perasaan riang gembira.
Mau dipakai untuk apa uang ini? Bayar hutang? Beli handphone baru? Pakaian baru atau tas branded impian? Aaaaa ... bingung!
Isi kepalanya mendadak dipenuhi oleh banyak wacana.
"Kamu senang?"
"Iyalah, siapa yang nggak senang punya duit berjuta-juta, wuuuu," sahutnya excited.
"Saya bisa kasih lebih banyak lagi kalau kamu mau menyetujui usulan saya semalam." Sesungging senyum itu lantas mengendur, pudar tertelan ucapan yang menyentuh perasaannya, dan segumpal rencana indah dalam kepalanya pun lenyap terdistraksi.
Ia beralih tatap memandang pria bernama lengkap Chandra Varendy Hadinata dengan ekspresi tidak terbaca.
"Aku pikir Om nggak serius."
"Buat apa saya bercanda untuk hal semacam ini. Pembicaraan soal keturunan semalam, saya nggak main-main."
Senyap! Yasmin terlalu shock dengan perkataan Chandra.
"Tapi gimana ya? Aku nggak mau jadi pelakor, aku nggak mau merusak rumah tangga orang," ujarnya menolak halus.
Meski tawaran Chandra memang begitu menarik, berhasil membuat raga yang selama ini terbelenggu di bawah garis kemiskinan, meronta-ronta untuk segera menerima tawaran itu.
Namun otaknya yang waras masih dapat berpikir rasional, ia memang membutuhkan kehidupan yang layak dan sejahtera, akan tetapi, ia tidak berkenan menjadi wadah penampung janin di rahimnya pun hadir sebagai pihak ketiga dalam rumah tangga mereka.
"Tolong kamu pikirkan kembali tentang benefitnya, karena saya jamin setelah kamu menerima tawaran ini, segala kebutuhan finansial kamu akan dapat dipenuhi dengan mudah tanpa harus berusaha payah menguras keringat." Yasmin menghela napas, dibasahi bibir bawah itu menggunakan ujung lidahnya sembari menimbang-nimbang.
Ah~sialan! Kenapa dia goyah? Bukannya baru saja ia memilih keputusan untuk menolak? Astaga ...
"Gimana?"
"Hmm?" Ia mengangkat kembali pandangannya. Menatap lekat pria tampan, tetapi sudah beristri itu.
Bukan hanya sejumlah uang yang bisa dia dapat jika seandainya sepakat dengan tawaran Chandra, tetapi kemakmuran hidupnya juga terjamin sempurna.
Dia mendapatkan segudang keuntungan yang menjanjikan–apartemen mewah, kendaraan pribadi, melanjutkan kuliah di universitas ternama. Nikmat mana yang ingin didustakan?
Woah~Kepalanya yang berisik semakin riuh tidak karuan, suara-suara ilusi mulai berebut mendorong dirinya agar menerima saja usulan itu tanpa banyak berpikir panjang.
"Ntar deh, kenapa harus aku? Aku masih bocah, lho. Baru dua puluh satu tahun. Kenapa nggak sama yang lain?"
"Karena cuma kamu yang bisa saya percaya."
Yasmin meniup napas. Dirangkumnya uang itu dan kembali memasukkannya ke dalam amplop.
"Aku pikirin lagi, deh. Sekarang mau pulang dulu," ujarnya seraya memasukkan amplop dalam tas lusuh. Sepertinya setelah ini ia akan mampir ke toko aksesoris untuk membeli tas baru.
"Yas ..."
"Ya?" Yasmin menjeda pergerakannya, mengarahkan netra pada Chandra di depannya.
"Kalau bisa jangan lama."
"Hmm-mm. 1x24 jam. Kasih aku waktu segitu! Aku pulang dulu, ya. Bye-bye, Om
Chan."
Yasmin berlalu, berjalan dengan beragam polah seperti anak-anak, berloncatan sembari memutar tubuhnya dan tidak lupa bersenandung.
****
Yasmin menaruh punggung pada ranjang reyot di kamar kosnya. Kedua mata masih terbuka lebar meski rasa lelah tengah menggelayut. Pikirannya yang tidak mau diam terus berkelana melanglang buana, memikirkan ucapan Chandra yang masih terngiang sejak dalam perjalanan pulang.
"Kenapa harus terbebani kayak gini sih?" ujarnya sembari menepuk kening beberapa kali dengan kepalan tangan. Dia tidak bisa berpikir enteng terkait tawaran itu terlebih lagi yang memintanya adalah sahabat mendiang sang kakak. Bagaimana mungkin hal ini harus terjadi? Seketika itu, ia menyesal menerima ajakan Chandra yang memintanya menemani pria itu minum di unit apartemennya semalam. Mungkin jika tidak melewati waktu bersama di tempat Chandra, obrolan terkait hal serius itu tidak mungkin ada.
Yasmin menghela napas berat, lalu mengubah posisinya ke samping.
"Ada yang harus aku lakukan? Astaga kenapa juga aku bilang bakal kasih jawaban 1x24 jam, duh bego banget sih." Memukuk pelan kepalanya dengan dua kali pukulan sebelum akhirnya ia mengerang frustasi.
"Dari mana kamu?" Chandra menoleh ke belakang kemudian tersenyum pada wanita yang duduk di atas sofa. Wanita itu merupakan sosok yang dinikahinya dua tahun silam.
Langkahnya berputar, menghampiri sang istri yang sepertinya sudah menunggunya pulang sejak semalam.
"Dari apartemen, aku tidur di apartemen semalam."
"Kamu habis minum lagi?" Chandra mengangguk, tidak menampik jika dirinya tengah mengabiskan semalam suntuknya untuk menenggak minuman keras.
Chandra bukan peminum handal, dia juga tidak terbiasa dengan minum-minuman keras, tetapi semenjak pernikahanya sedang diambang kehancuran, Chandra tidak bisa menahan diri untuk tidak mencicipi minuman berkarbonasi itu.
"Kenapa minum terus? Beberapa hari terakhir ini setiap kali aku tanya jawaban kamu masih sama."
Chandra terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa pada orang yang menjadi faktor utama dirinya tidak berhenti mabuk setiap malam.
"Aku cuma lagi pusing," sahutnya singkat. Polemik sedang menghadang langkahnya sekarang, membuatnya terjebak dalam lembah kekacauan.
Bayangkan saja, ayah dan ibunya selalu menekan Chandra agar segera memiliki buah hati, tanpa mereka tahu sebetulnya ada masalah yang terjadi pada Tamara.
Chandra tidak bisa menceritakan ini secara gamblang, ia hanya tidak ingin menimbulkan pertengkaran hebat hanya perkara ini. Tamara tipikal orang yang sensitif, tidak mudah membahas sesuatu yang bersinggungan dengannya.
"Karena aku?" Chandra buru-buru menggeleng kepala.
"Terus pusing karena apa?"
"Kerjaan di kantor," sahutnya asal.
Tangan Tamara merambat menyentuh tengkuk Chandra dan memberikan pijatan-pijatan kecil di sana.
"Jangan capek-capek! Nanti bisa sakit kalau terlalu memforsir pikiran kamu."
Chandra tersenyum kecil mendengar petuah sang istri.
"Makasih, Tam."
"Sama-sama." Keduanya saling melempar senyum kemudian berpelukan.
Memeluk Tamara, hal yang acap kali dilakukan. Tetapi akhir-akhir ini, entah apa penyebabnya, dia merasa kalau hanya minuman keras yang bisa menenangkan dirinya. Kerap kali dirundung permasalahan yang tidak mampu dibendung, ia akan pergi ke apartmen mengabiskan waktu bersama botol-botol minumannya.
"Aku ke dalam dulu, ya." Chandra beranjak, lebih dulu mengurai pelukan pada Tamara yang sebetulnya belum ingin melepaskan pelukan itu.
"Chan? Kenapa?"
Chandra memutar kepala ke belakang, ia menatap Tamara yang tiba-tiba bertanya ambigu. Kedua alis tebalnya saling menyatu keheranan.
"Kenapa kamu berubah?"