Dua

1124 Words
"Kenapa berubah?" Chandra tersenyum kecil mengingat pertanyaan Tamara sore tadi. Ucapan itu terngiang tanpa henti menjamah kepalanya yang sudah penuh oleh problematika. Chandra sendiri tidak mengerti dan tidak bisa merasakan, apakah benar dirinya sudah berubah? Katanya dia juga tidak sehangat saat pertama membina rumah tangga. Ah~ Tamara sangat mendetail mengamati dirinya. Chandra melangkah ke ruang tengah sembari membawa secangkir kopi hangat di tangannya. Menyimpan cangkir itu di atas meja kemudian mendaratkan bokongnya di sofa. Tercenung sebentar, mengutip beberapa keping memori yang masih melekat dalam ingatan ketika Tamara mengaku jika tidak bisa hamil lantaran rahimnya sudah diangkat oleh suatu hal, dan pengakuan itu tentu saja membuat jantung Chandra benar-benar seperti dihantam beton tak kasat mata. Sejumput rasa kecewa melekat, menyayangkan kenapa pengakuan itu terjadi setelah mereka menikah? Kenapa tidak jujur sedari awal sebelum ikrar suci menggema dan menjamah telinga para saksi. Hari-hari Chandra terasa hampa setelah malam itu, tidak ada semangat dan kepercayaan diri seperti yang pernah dilakukan sebelum tahu fakta mengejutkan ini. Janji yang selalu mengudara untuk orang tua terpaksa harus pupus karena pada faktanya, memiliki keturunan adalah hal yang mustahil baginya. "Chan ..." Chandra terkesiap ketika suara Tamara menyentuh gendang telinga. Spontanitas ia menengadah, menatap wanita yang tengah memasang wajah masam padanya. "Udah bangun?" "Udah." Tamara melirik sekilas pada cangkir kopi yang masih mengeluarkan asap. "Ada masalah apa sih?" Seakan memahami, Tamara mencoba mengulik keresahan yang terjadi pada Chandra. Secangkir kopi adalah sebuah simbol ketenangan, jika Chandra meminum kopi itu artinya, Chandra butuh ketenangan? "Nggak ada masalah apa-apa, cuma pingin minum kopi aja. Salahnya di mana emang?" Chandra berujar santai seraya mengulurkan tangan meraih gagang cangkir keramik dan mengangkatnya. Menyesap pelan-pelan cairan berwarna pekat itu, mencecap perpaduan rasa pahit dan manis yang terasa nikmat di ujung lidah. "Jangan bohong! Aku tahu kamu kayak gimana, nggak mungkin kamu minum kopi kalau bukan ada kaitannya sama masalah." Chandra menghela napas, terasa berat sekali seperti ada beban yang menghimpit rongga d**a. Tamara adalah pengamat yang handal, sebesar apa pun ia menyembunyikan sesuatu, tetap saja terbaca oleh wanita tersebut. "Seperti yang kamu tahu, mama dan papa–" Chandra menjeda sejenak kalimat yang mengudara, membawa tatapannya ke samping tepat pada wanita yang duduk anggun di sana. "Mereka sering banget tanya kapan kamu hamil. Aku bingung mau jawab apa, Tam." Laki-laki itu tampak frustasi, menyugar rambut ke belakang sembari membuang napasnya kasar. "Aku nggak mungkin ngomong tentang kenyataan yang terjadi sama kamu, karena ini sangat jelas akan berdampak pada pernikahan kita," imbuhnya benar-benar bingung. Tamara turut menghela napas. "Lalu, kita harus apa? Apa aku lebih baik pura-pura hamil saja? Tapi, kalau aku pura-pura hamil, bayi siapa yang akan aku akui?" Chandra membuang pandangannya sebentar, bukan untuk menghindar dari tatapan sang istri melainkan sedang mempertimbangkan ide gilanya ini. "Bagaimana kalau dengan menyewa rahim?" ujar Chandra tanpa tedeng aling-aling. Tamara diam seribu bahasa, Chandra tahu mungkin ini sedikit mengejutkan untuk seukuran perempuan yang bahkan tidak pernah melakukan dosa besar sepertinya. "Jadi, apa kita harus menghadirkan wanita lain di antara kita?" "Kita nggak punya pilihan, Tam. Aku tahu ini jahat tapi–" Lebih jahat kamu yang telah menipuku dulu. "Tapi apa?" "Tapi hanya ini cara satu-satunya untuk mengatasi masalah ini. Aku capek ditekan sama mereka." "Kenapa kamu nggak coba jujur aja?" Chandra tersenyum masam ketika Tamara bertanya demikian. "Membiarkan hubungan kita berakhir? Begitu? Nggak bisa kayak gitu. Astaga ..." Chandra menghela napas kasar, sebab merasa intonasi bicaranya sudah mulai tidak terkendali. "Aku bingung, ini terlalu chaos untukku. Aku nggak mungkin rela kamu berbagi ranjang dengan perempuan lain." "Dan lebih rela hubungan kita berakhir karena mereka tahu kamu nggak bisa hamil? Begitu Tam?" "Jangan egois, Chan!" "Kamu yang egois! Selama ini kamu selalu melimpahkan setiap masalah untuk kuatasi sendiri, Tam." Chandra kehabisan rasa sabar yang selama ini tak ada batasnya itu, terlalu lelah dengan tekanan, mentalnya pun tak sanggup menyongsong sekelumit masalah yang tidak ada habisnya. *** "Orangnya nungguin tuh di depan!" Yasmin mengigit bibir bawahnya. Uang lima juta kemarin sudah habis bayar sewa kos, memenuhi kebutuhan sehari-hari, lalu mengisi token listrik yang sudah berbunyi, dan sekarang hanya tersisa kebingungan bagaimana cara membayar hutang pada lintah darat yang saat ini tengah menunggunya di ruang depan. "Duh, gimana ya? Belum ada duit nih!" "Ya, kamu tinggal ngomong aja kalau belum ada. Beres kan?" Yasmin belum beranjak, ia menatap nanar sahabatnya yang tinggal di kamar sebelah. "Gimana kalau dimarahin? Masalahnya ini bukan sekali dia kali aku alasan kayak gitu. Tapi sering." "Dicoba dulu, kalau dimarahin ya kamu dengerin aja, yang penting kamu nggak mangkir? Aku tuh khawatir kalau nanti dia maksa buat masuk ke sini dan mengganggu ketenangan penghuni lain kayak tempo lalu." Yasmin berdecak, ia pun bangkit dari posisinya, membawa tungkai kaki dengan malas keluar dari kamar berukuran kecil yang ditinggali sejak beberapa tahun lamanya itu. "Jangan sampai ada alasan belum punya duit." Seakan sudah hafal, pria yang memakai baju batik itu pun berujar demikian setelah Yasmin berdiri dengan tangan kosong. "Nyatanya emang bener kok, Pak. Saya belum ada uangnya." "Astaga. Hutang tidak seberapa, tapi nagihnya sulit luar biasa. Kamu lihat orang di sana?" Yasmin mengikuti gerak ujung telunjuk si debt collect tersebut. "Itu adalah orang-orang saya, saya sengaja bawa mereka ke sini untuk membawa kamu ke kantor polisi kalau kamu tidak membayarnya sekarang juga." Glek! Yasmin mendadak kesulitan bernapas, melihat dua orang yang berdiri tidak jauh darinya. "Berapa duit yang harus saya bayar memangnya?" ujarnya dengan nada pelan. Bohong jika tidak merasa takut oleh ancaman itu, pasalnya dulu sang kakak juga mengalami hal serupa ketika dikejar-kejar oleh debt collect perkara hutang orang tua mereka. "Dua puluh juta untuk tiga kali tunggakan." Kepala Yasmin berdenyut-denyut mendengar nominal yang disebut tadi. Kesialan macam apa ini, alih-alih mendapat warisan harta dan tahta, dirinya justru diwariskan hutang bernilai fantastis oleh mereka yang lebih dulu meninggalkannya. "Sebentar saya pikirin dulu." "Jangan cuma dipikir! Tapi dibayar!" Sepertinya pria berperawakan tinggi dan gempal itu mulai tidak sabaran. "Iya, Pak, iya." Tidak ada pilihan lain, Yasmin harus meminta pertolongan Chandra saat ini juga. Dia yakin Chandra bisa membantu kesulitan yang menghimpit ini. "Halo?" Chandra mengangkat telepon dari Yasmin, pria yang baru saja melewati sesi debat bersama sang istri pergi beranjak ke ruang tengah. Meninggalkan kamar yang sejak tadi memanas karena adu mulut tak kunjung usai. "Om Chan di mana? Aku butuh pertolongan," cicitan dari seberang sana membuat perasaan dongkol itu berangsur membaik. Emosi yang semula menggebu-gebu, perlahan lenyap tanpa sisa. Chandra menghela napas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Yasmin. "Ada di rumah, pertolongan apa?" "Aku didatangin lagi sama rentenir itu. Tiga bulan nunggak jadi dua puluh juta katanya. Aku nggak ada uang Om, bisa–" "Bisa. Saya ke sana." Panggilan itu berakhir begitu saja. Chandra memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah. Persetan dengan keadaan Tamara di dalam kamar, Chandra benar-benar kecewa pada wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD