Tiga

872 Words
"Makasih. Maaf aku udah merepotkan Om." Yasmin duduk di samping Chandra. Tatapan mereka mengarah pada obyek serupa–bulan sabit yang menggantung indah di angkasa, memberikan secercah cahaya pada pekat malam. "Sama-sama. Ini sudah ketiga kali saya bantu kamu, Yas, tapi kamu belum satu pun membantu mengatasi masalah saya." Ucapan cenderung satir itu jelas menohok Yasmin, ia spontan menoleh pada sosok di sampingnya, tetapi tidak dengan pria yang masih memusatkan atensi pada titik yang tetap. Rasanya sungguh tidak enak, ia merasa menjadi manusia paling egois se antero jagat raya karena berbuat curang. Tangannya spontan bergerak ke belakang, mengusap tengkuk yang sama sekali merasa tidak gatal. "Om butuh bantuan apa emangnya?" Chandra menghela napas membuat Yasmin semakin beringsut. Ia tahu permintaan Chandra, tidak lupa tentang obrolan mereka malam itu ketika Chandra sedang dilanda ketidaksadaran oleh pengaruh minuman alkohol. "Kamu lupa?" "Enggak kok, aku masih ingat. Cuma kenapa aku tanya lagi, ya karena mana tahu butuh bantuan lain selain apa yang ditawarkan Om malam itu." "Tidak ada," tukas Chandra singkat, padat dan jelas. Hening! Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Yasmin sibuk berpikir apakah lebih baik menyetujui tawaran Chandra atau tidak sedangkan Chandra sendiri sibuk memikirkan rumitnya rumah tangga yang sedang dibinanya itu. "Ehmm ... Boleh aku tahu," kesunyian yang melingkupi keduanya pecah, begitu suara Yasmin terlepas dan menjamah telinga. "Alasan kenapa Om begitu kukuh mendapatkan seorang penerus? Kenapa sampai rela menempuh jalan apa pun itu? Soalnya Om belum cerita apa pun sama aku." Awalnya Chandra hanya diam, tidak lama hanya beberapa menit saja sebelum pada akhirnya merespon, kepalanya menoleh sekilas ke samping lalu meniup napas ke udara, ditatapnya lekat Yasmin yang masih menatapnya. "Saya terlahir menjadi seorang anak tunggal, nggak punya saudara dan nggak akan pernah bisa punya saudara, karena keadaannya saat itu Mama saya mengalami gangguan reproduksi usai melahirkan saya, dan bukan lagi wanita produktif, padahal beliau ingin sekali melahirkan penerus selanjutnya. Tapi apa boleh buat? Takdir sudah menuliskan garis kehidupan yang kontradiktif dengan harapan Mama." Chandra menghela napas berat, sebelum melanjutkan kembali kalimatnya yang belum usai. "Untuk itu sebelum menikah, mama saya yang memiliki jiwa overprotektif beberapa kali selalu bertanya pada wanita manapun yang dekat dan menjadi pacar saya. Apakah mereka tipe perempuan penganut sekte childfree atau tidak, bisa hamil atau tidak, dan banyak hal yang lain terkait kehamilan, dengan harapan supaya tidak ada lagi Chandra yang lain, Chandra yang kesepian dan menjadi olok-olok di sekolah karena tidak punya saudara. Beberapa dari mereka tentu saja berpikiran buruk terkait pertanyaan itu. Dan hanya Tamara satu-satunya yang welcome dan memberikan jawaban memuaskan. Itulah yang pada akhirnya mama merestui hubungan kami." Lagi. Chandra menghela napas kemudian membuangnya. "Sabar, ya!" Spontanitas tangan Yasmin terulur menyentuh punggung pria yang tengah dilingkup oleh kegundahan. "Ini ... sudah 1x24 jam. Sudah saatnya kamu memberikan saya keputusan." Yasmin menarik pelan tangannya dan menjauh dari punggung Chandra. Mereka sempat saling menatap satu sama lain sebelum pada akhirnya Yasmin memutus kontak masa mereka, ia membawa pandangannya turun menatap sandal yang sudah tipis dengan tali karet yang usang. "Apakah solusi ini aman untuk kita semua?" "Saya udah pikirin ini matang-matang. Dan nggak akan saya lakuin kalau emang punya risiko yang besar." "Bagaimana dengan orang tua, Om? Setuju dengan usulan poligami ini?" "Mereka tidak tahu dengan rencana ini, karena mereka di luar negeri." "Lalu?" *** "Namanya Yasmin Annora, usianya masih remaja, baik, santun, energic dan poin pentingnya adalah kami mengenal sudah sangat lama." Chandra mulai memberikan pemaparan pada Tamara yang sedang menatap layar ponsel milik suaminya, menelisik foto Yasmin yang ada di dalam sana dengan saksama. "Kamu begitu kenal dia?" "Ya, sangat kenal, apalagi dengan kepribadiannya, jadi untuk itu aku tidak ragu memilihnya. Aku yakin, dia bisa menghasilkan keturunan yang baik sesuai harapan kita, Tam." Tamara mencebikmendengar ucapan Chandra. "Bukan harapan kita, Chan. Ini harapanmu dan orang tuamu," sahut Tamara kemudian. Jawaban tidak bersahabat itu tentu memicu kegusaran pada Chandra. Akhir-akhir ini pria itu cenderung lebih sensitif apalagi ketika sedang ditanya kapan punya momongan oleh orang tuanya. "Jangan mulai lagi. Aku capek mau debat." "Kamu pikir aku enggak?" Tamara melempar tatapan sengit, wajahnya bermuram durja apalagi sedari tadi melihat foto Yasmin di ponsel milik Chandra. Paras gadis itu jauh lebih cantik dan menarik membuat Tamara dilalap api cemburu. "Harus seperti ini ya cara mendapatkan keturunan? Nggak coba opsional adopsi?" tanya Tamara. Chandra memutar tubuh, ia memfokuskan tatapan pada Tamara yang duduk di tepian ranjang sembari bersungut-sungut. "Adopsi? Apa menurutmu itu efektif? Bagaimana jika suatu hari orang tuaku mempertanyakan tentang genetik pada anak kita? Jangan sampai anak adopsi itu menjadi sumber masalah dalam hubungan keluarga ini, Tam." "Terus kenapa harus perempuan ini?" "Memang siapa lagi? Kamu ada kandidat? Coba kasih tahu kalau ada? Kasih tahu aku seperti apa wanita yang akan mengandung anak kita nanti. Apakah lebih baik dari Yasmin?" Tamara mendengkus, ia berdecak sebelum akhirnya beranjak keluar kamar. Tidak ada yang bisa Chandra lakukan selain hanya bergeming pandangi punggung ringkih Tamara. Ah~ Chandra jadi merasa bersalah atas semua yang terjadi di beberapa hari terakhir ini. Pertemuannya dengan Yasmin beberapa waktu lalu setelah sekian lama tidak pernah berjumpa pasca kematian mendiang sahabatnya–Kakak Yasmin, membuat gundahnya terobati. Bahkan dua malam lalu, untuk dapat tidur dengan nyenyak setelah beberapa hari mengalami insomnia, dia bersedia menyewa Yasmin meski bocah remaja itu memberikan tarif sedikit kelewatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD