Yasmin berdiri di bahu jalan, menunggu angkot melintas pada jalanan beraspal yang situasinya saat ini sedang padat merayap memulai aktivitas. Hari ini ia punya agenda, mendadak menjadi super sibuk setelah memiliki kesepakatan tidak biasa dengan suami orang. Kemarin Chandra menghubungi, memberikan alamat untuk didatangi pada esok harinya. Dan ya, hari ini Yasmin menepati kesepakatannya itu. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang sempat ia tolak sebelumnya.
Setelah berdiri kurang lebih dua puluh menit dan hal itu berhasil membuat pegal pada kakinya yang kurus, akhirnya angkot itu tiba juga. Yasmin melebarkan senyum dan mulai bergerak mendekati angkot. Baru saja satu kaki menapak, seseorang dari jarak jauh menyerukan namanya.
Ia pun reflek menoleh, raut mukanya tiba-tiba berubah pias setelah beberapa detik lalu sempat berekspresi riang. Ia pun buru-buru masuk ke dalam angkot. Tidak! Dia tidak sudi bertemu pria itu, pria yang telah menyakiti sedemikian rupa, sampai hatinya nyaris terasa mati.
"Yasmin!" Yasmin menutup mata dan telinga.
Beruntungnya, belum sempat pria itu memaksanya turun, angkot yang ditumpangi lebih dulu bergegas pergi.
Tangannya bergerak meraba d**a seraya menghela napas.
Ia mencoba menoleh sekilas ke belakang, pada refleksi pria yang masih mematung memandangi kepergiannya. Tangannya terkepal di atas pangkuan. Mencoba memejamkan mata sebentar, entah mimpi apa semalam, hingga pagi ini harus bertemu dengan pria itu. Di tengah kemelut yang merengkuh jiwa, ponselnya berdering membuat Yasmin terperanjat dan bergegas meraih benda dalam kantung tote bag barunya. Nama Chandra menghiasi layar ponsel, mau tidak mau, Yasmin harus segera mengangkatnya.
"Halo ..."
"Kamu di mana? Kenapa belum sampai juga?"
"Ini masih di jalan, Om. Baru juga berangkat, sabar dong! Namanya juga naik angkot," ujarnya sembari meliarkan pandangan pada sekitar. Cuaca pagi ini cukup mendung, matahari yang biasa naik ke peraduan dan betugas menyebarkan sinar, kini bersembunyi di balik awan putih.
"Astaga di antara banyak Alternatif yang lebih mudah, kamu memilih angkot? Yasmin ... Yasmin ..., hah... ya sudah, saya tunggu." Panggilan ditutup sepihak, membuat si pemilik telepon menggerutu sembari memandangi ponsel yang layarnya baru menghitam.
Ia kembali memasukkan ponsel, kemudian melanjutkan kegiatan yang sempat terjeda–memikirkan pria yang kembali muncul– setelah sekian lama menghilang.
Dulu Yasmin memiliki kekasih, pria mapan dengan paras rupawan, berprofesi sebagai seorang fotografer dan digandrungi oleh para gadis seusianya. Bangga karena beruntung memiliknya? Oh itu jelas! Tiga tahun menjalin hubungan dengan pria itu, ia terlihat benar-benar excited, tetapi sayang sekali di detik-detik hubungan yang akan kandas, ia baru sadar jika selama menjalin hubungan hanya dirinya yang excited sendirian, sementara kekasihnya tidak.
"Sudah sampai, Mbak." Yasmin memotong lagi lamunannya, ia pun bergegas turun dari angkot dan mengulurkan tangan pada si supir untuk menyerahkan beberapa lembar uang pecahan dua ribu.
Setelah angkot itu pergi, ia membawa tatapannya mengarah pada rumah berlantai dua dengan gerbang hitam yang menjulang. Ia menghela napas panjang, jantungnya tiba-tiba memompa cukup cepat karena rasa takut tiba-tiba saja melingkupinya. Ponselnya kembali berdering, Yasmin menyambar benda pipih itu dan mengangkat panggilan dari Chandra.
"Kamu sudah di depan? Kenapa tidak masuk saja!" Kepala Yasmin mendongak, tepat pada jendela panorama yang di baliknya ada Chandra yang berdiri di sana.
Astaga, dari tadi dia nunggu?
"Langsung masuk?"
"Hmm ... buka saja gerbangnya." Usai memberikan titah begitu padanya, Chandra mematikan sepihak panggilannya dan beranjak dari tempat.
"Dia sudah datang, Tam." Tamara yang awalnya sibuk berselancar di ponselnya, mendongak pada suaminya dengan memberikan tatapan datar.
"Ayo."
"Kamu saja, aku tetap di sini."
"Yakin?" Chandra menaikkan sebelah alis.
"Hmm ..." Chandra pun berlalu, meninggalkan Tamara yang tampak tidak senang dengan kedatangan Yasmin ke rumah ini.
****
"Perkenalkan, ini istri saya, namanya Tamara." Yasmin yang baru saja memasuki area ruang utama usai digiring oleh Chandra, mendadak menegang di tempat. Chandra memperkenalkan Tamara padanya secara gamblang, seketika itu juga wajah perempuan yang masih setia duduk di sofa itu, membuat Yasmin teringat pada sesuatu. Sesuatu pada masa lalu yang pernah membuat hatinya berdenyut-denyut tak kunjung reda sampai saat ini.
Sepersekian detik ia menatap lekat sosok wanita yang juga menatapnya sengit, buru-buru Yasmin mengubah ekspresi, ia tersenyum ramah, menyembunyikan raut keterkejutan itu sebelum disadari oleh sepasang suami istri yang berada bersebrangan itu.
"Aku ... Yasmin, mantan pacar Ody. Salam kenal, Tante." Tangannya terulur ke depan, mengajak Tamara bersalaman. Yasmin sengaja menyertakan nama Ody dalam sesi perkenalannya, karena ia ingin melihat bagaimana respon perempuan yang sudah menjadi kekasih gelap Ody selama hubungan mereka masih berlangsung.
Rencananya sukses, Tamara berhasil dibuat tercengang–merasa percaya atau tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Senyum kecil Yasmin terbit, berpikir bahwa ternyata perempuan ini masih ingat padanya.
"Tam, kenapa bengong? Ayo!"
"Oh, ya! Hai ... Tamara." Tamara buru-buru menyambut uluran tangan Yasmin, berusaha bersikap biasa, meski perasaannya tengah bercampur aduk tidak karuan, sebab harus dipertemukannya dengan Yasmin. Pantas saja ia seperti mengenal wajah itu ketika Chandra menunjukkan foto Yasmin padanya. Ternyata benar! Ini adalah perempuan yang pernah menjadi kekasih Ody, yang juga merupakan kekasihnya di tiga tahun silam.
"Silakan duduk!" Yasmin mengangguk, memundurkan langkah ke belakang dan menjatuhkan bokongnya di tempat yang tepat.
"Terima kasih, Om dan Tante," ujarnya sembari melebarkan senyum hingga menunjukkan dua sekaligus lesung pipitnya.
"Kamu tahu tujuan kamu di sini untuk apa?" Tamara mulai mengutarakan pertanyaan.
"Membahas sesuatu yang belum selesai, mungkin." Yasmin menjawab, ia pun mengembungkan pipi melihat kebingungan di raut wajah Chandra.
"Aku cuma becanda, jangan diambil hati, Tante," tukasnya kemudian, terlambat. Raut wajah Tamara pucat pasi seakan sedang dikejar oleh makhluk tak kasat mata.
"Maaf, ya. Seperti inilah aku, suka bercanda dan blak-blakan. Nggak apa-apa kan?"
"Iya, tidak apa-apa. Tapi kali ini tolong serius, ya. Jawab pertanyaan saya dengan benar." Yasmin tersenyum samar, cenderung mencemooh ucapan Tamara.
"Tujuan kamu dipanggil ke rumah ini untuk apa, Yasmin?"
"Untuk hamil kan, mengandung buah hati Om dan Tante yang akan kemudian setelah lahir, aku diminta pergi dari rumah ini karena kerja sama sudah selesai, begitu kan?"
Tamara mengarahkan tatapan pada Chandra, sebelum akhirnya kembali memusatkan atensi pada Yasmin lalu tersenyum.
"Chandra banyak memberi penjelasan padamu, ya? Apakah kalian sering berjumpa?"
"Tentu saja, bahkan aku pernah diminta menemani Om Chandra minum pada suatu malam itu di unit apartemennya, benar begitu kan Om?" Yasmin tidak peduli meski kedua tanduk ilusi milik Tamara keluar dari tempatnya.