Pertemuan mereka tidak berakhir baik, sepanjang melakukan diskusi di ruang utama, wajah Tamara terlihat penuh tekanan dan emosional, ia sangat tidak bersahabat dalam melewati detik-detik pertemuan itu dengan Yasmin. Menganggap Yasmin sebagai seorang musuh yang penuh dengan ancaman pada kehidupannya mendatang. Ya, meski Tamara bersepakat dengan Chandra, tetapi hanya di luarnya saja, tidak dengan hatinya yang dipenuhi oleh segenap ketakutan yang meraja. Sejak tadi kepalanya sudah penuh oleh segala kemungkinan yang buruk, sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
"Aku berpikir, sepertinya aku nggak salah menilai kamu yang berubah banyak sama aku akhir-akhir ini. Kamu sangat berbeda, beda dari yang aku kenal dulu." Situasi yang sedari tadi diliputi kesenyapan selama berada di meja makan untuk melangsungkan ritual makan malam, akhirnya pecah oleh suara Tamara yang menggema di ruang itu. Sepertinya Tamara belum ingin damai, ia masih belum puas dengan aksi perdebatan tadi. Dirinya tak kunjung tenang sehingga gejolak amarah masih membungkus dalam kalbu. Chandra melirik, bola matanya bergerak ke atas merasa tidak senang dengan pernyataan itu.
"Kita lagi makan malam, Tam. Bisa tolong jangan mulai? Jangan cari gara-gara. Pertengkaran kita tadi, tidak usah berlanjut. Apalagi kita sudah ada di meja makan yang sama. Enough!" Tamara mendengkus, menyimpan kasar sendok pada meja hingga berbunyi nyaring.
"Aku tahu kamu sengaja menghindar, itu kenapa setiap aku bahas soal ini, ada aja cara kamu mengabaikannya. Kenapa? Kenapa aku nggak boleh bahas sesuatu yang ingin aku bahas?" Ruang makan mulai tidak kondusif lantaran suara Tamara yang mencecar. Chandra menghela napas panjang.
"Jadi, kamu mintanya bagaimana?" Alis Chandra terangkat sebelah, ia lelah jika menurut emosi Tamara yang meledak-ledak. Memilih untuk diam rupanya pun salah di mata wanita yang menjadi teman hidupnya selama tiga tahun belakangan ini.
"Kamu berubah! Ngaku kalau kamu memang berubah karena perempuan itu!"
"Nggak ada yang berubah, Tam. Aku tetap seperti dulu, dan hubunganku dengan Yasmin masih sama, nggak lebih dari seorang teman. Untuk apa aku berubah karena seorang perempuan yang bahkan ketika masih kecil aku ikut mengasuhnya? Nggak lupa kan kalau Yasmin sudah aku anggap seperti adik karena mendiang sahabatku yang merupakan kakak Yasmin pernah berpesan untuk tetap seperti ini?"
Penjelasan panjang lebar pun terurai dari bibir Chandra.
Tamara mebuang muka, melipat tangan di d**a dan mengerucut bibir. Dahinya mengerut, menggambarkan jika penjelasan tadi tidak mengurangi sedikitpun kadar kemarahannya.
Tadi siang, pertengkaran hebat terjadi usai kepulangan Yasmin dari sana. Tamara yang sedari tadi memang ingin memuntahkan amarahnya, akhirnya meluahkan semua kemarahan itu pada suaminya.
Mencecar dengan beragam tudingan tidak berdasar hingga akhirnya perdebatan sengit itu terjadi.
"Aku harap kamu bisa menerima faktnya," imbuh Chandra.
"Fakta kalau ternyata seseorang yang kamu anggap teman dan adik itu adalah partner ranjang?"
"Astaga ... kepalaku sakit mendengar tuduhan kamu itu! Harus berapa kali aku bilang, kalau tidak terjadi apa pun di antara kami meski semalaman dia di unitku."
"Kamu mana tahu, bukannya kamu mabuk?"
"Tam! Tolong berhenti menuduhku yang tidak-tidak!"
Tamara memang sudah sedikit keterlaluan, menuduh Chandra berlebihan.
"Oke, kalau memang kamu yakin atas hal ini, aku mau dia melakukan tes keperawanan." Gila! Tamara mulai tidak waras. Rahang Chandra mengerat, ia pun meremas kuat sendoknya sendiri.
"Kamu!" Suara Chandra tidak terkendali , tetapi ia mencoba untuk menurunkan intonasi Dnegan menghela napas panjang.
"Kamu tahu apa dampak dari permintaan kamu? Itu sama aja kamu melukai harga dirinya sebagai seorang perempuan."
"Kenapa harus merasa terluka? Kalau memang dia masih perawan seharusnya tidak keberatan untuk menuruti kemauanku kan?"
"Terserah!" Selera makan Chandra menguap, dia beranjak begitu saja pergi meninggalkan meja makan, meninggalkan sepiring nasi yang baru ditelan beberapa suap.
****
"Yas." Yasmin yang baru saja tiba di kamar kos dengan membawa es kantung di tangannya pun menoleh ke belakang.
"Apaan?" Langkahnya turut berhenti, menunggu sosok yang meneriaki namanya itu mendekat.
"Dari mana?" Mereka berjalan berjajar melintasi beberapa pintu kamar yang berjajar untuk mencapai pintu kamar kos miliknya.
"Dari pergi, biasa ada urusan. Kenapa emang?" Tangannya merogoh tote bag mencari kunci yang tersimpan di dalamnya.
Setelah berhasil mendapatkan kunci berbandul boneka labubu, diarahkan benda itu pada lubang handle pintu.
"Ada yang cari." Tangan yang sudah bertengger dan siap menekan tuas pintu pun berhenti. Ia menoleh ke samping.
"Siapa? Lintah darat lagi? Kan utangnya udah lunas," pungkasnya sembari menautkan kedua ujung alis tebalnya.
"Kayaknya bukan, ya. Wajahnya asing soalnya."
Disimpannya tote bag itu di atas meja rias, kemudian menyimpan sepatunya di rak kecil belakang pintu. Meski kamar yang disewanya ini terbilang kecil, tetapi cukup nyaman karena penataannya yang rapi. Dan tidak lupa menyimpan es di gelas kaca berukuran besar. Karena membutuhkan air minum, ia membuka lemari pendingin.
"Siapa, ya? Kamu inget ciri-cirinya?" Milka mengerucutkan bibir mendapatkan pertanyaan dari Yasmin, mencoba mengingat bagaimana ciri-ciri dan rupa pada laki-laki yang sempat dilihatnya sekilas sebelum berangkat kerja.
"Tinggi, ganteng, rambutnya pirang. Terus eum ...
Ah, dia ada tato di bagian tangan." Yasmin nyaris saja tersedak, air yang baru masuk ke dalam rongga mulutnya pun ditelan paksa daripada terbuang sia-sia.
"Ada tato?"
"Iya, pas lewat tadi aku sempat lihat dia sekilas."
Ucapan Milka tidak lagi disahutinya, ia sibuk menutup botol dan memasukkan botol itu ke dalam lemari pendingin berukuran kecil di atas meja.
"Dia siapa, Yas? Kamu kenal?" Yasmin membalikkan tubuh dan meraih handuk yang berada di dekat Milka, ia hanya menggeleng kecil.
"Tapi kalau nggak kenal kenapa dia tahu tempat kos kamu?"
"Entahlah, aku nggak terlalu mikirin itu. Udah ya, balik ke kamar kamu gih! Aku mau mandi dan istirahat. Capek banget seharian di luar rumah."
Tanpa menunggu persetujuan Milka, Yasmin mendorong pelan punggung temannya itu untuk keluar dari kamarnya. Perasaannya sekarang mendadak buruk usai mendapatkan kabar tidak mengenakkan ini. Laki-laki bertato? Kepala Yasmin menggeleng dan tangannya mengibas tepat di depan wajahnya. Ah, itu kan laki-laki yang menyerukan namanya tadi pagi. Untuk apa laki-laki itu muncul dan sibuk mencarinya? Apa karena Tamara sudah menikah dengan Chandra, jadi si pria itu ingin kembali padanya?
Dari pada pusing memikirkan hal-hal yang belum jelas. Yasmin bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya yang kegerahan itu.