Tujuh

1027 Words
"Tamara di mana?" Yasmin yang sedang duduk santai di ruang tengah sembari menonton drama Korea pun terkesiap ketika tiba-tiba mendengar suara Chandra yang menjamah gendang telinga. "Lho, Om? Udah pulang?" Sekilas dibawanya tatapan mata itu tertuju pada jam dinding yang menunjukkan angka dua siang. "Maaf ya, aku nggak denger pas Om buka pintu." Disimpannya remot yang semula bertengger di atas paha dan bangkit menghampiri Chandra. "Iya, tiba-tiba tidak enak badan. Jadi, saya pulang. Kamu tidak melihat Tamara pergi ke mana?" "Entahlah! Dia pergi nggak pamit," sahut Yasmin seraya mengedikkan bahu. Mendekati Chandra di depan pintu lemari pendingin. "Om tunggu di sini, aku mau ambil sesuatu." Chandra menoleh ke belakang, menatap singkat punggung Yasmin yang lebih dulu beranjak ke kamar untuk mengambil sesuatu, kemudian menggeleng pelan. Tidak lama kemudian, Yasmin keluar dengan membawa sesuatu di tangannya. "Omong-omong, Om udah makan belum?" "Belum, tidak sempat," sahut pria itu menatap lawan bicaranya, ia lebih sibuk menyisir isi kulkas yang nyatanya tidak ada makanan yang bisa di makan. Keterlaluan, isi kulkas penuh dengan bahan makanan mentah, tetapi tidak ada satupun yang berhasil dimasak untuk mengisi perut. Tidak tahukah perut Chandra sedang sangat keroncongan sekarang. "Laper nggak? Aku beli makanan sih, tadi. Tuh masih ada di meja makan. Om bisa makan kalau mau sih." Yasmin tiba-tiba mengulurkan satu butir obat yang masih terbungkus oleh cangkang. "Habis itu minum obat," imbuhnya lantas tersenyum kecil. Chandra ikut tersenyum lalu menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih," ujar Chandra, perhatian kecil seperti ini, perhatian yang didamba seorang suami dari istrinya, tetapi sayangnya Tamara jarang sekali memperhatikan hal-hal kecil jika bukan kemauannya. "Sama-sama, aku ambilin piring dulu. Om duduk gih!" Tanpa membantah, Chandra pun mengangguk lalu menarik satu buah kursi untuk diduduki. Menunggu Yasmin kembali dengan membawa piring untuknya. "Om suka rendang nggak? Kalau suka aku bisa bagi. Tadi pagi aku masak nasi doang, terus beli lauk online. Lumayan banyak sih, soalnya takut nanti tiba-tiba kelaparan." kalimat itu diakhiri dengan tawa jenaka. Chandra yang mendengarnya pun ikut tersenyum singkat. "Nih, makan yang banyak, Om. Habis itu minum obat." Yasmin mengulurkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk rendang yang melimpah. Menggiurkan sekali apalagi posisi perutnya sangat lapar lantaran belum terisi sejak pagi. Chandra adalah pria penggila kerja, seringkali melewati waktu makan siang kalau sudah dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya. "Terima kasih." "Iya, iya. Terima kasih terus dari tadi." Yasmin tidak meninggalkan Chandra. Ia berjalan menyebrangi meja dan mengambil posisi duduk tepat di depan pria yang saat ini sudah menikmati makan siangnya. "Boleh aku tanya?" Yasmin yang tidak bisa diam, tentu saja ingin tahu banyak hal serupa anak baru mengenal dunia. "Tanya saja. Mau tanya apa kamu?" "Om sering ya ditelantarkan gini sama Tante Tamara?" Chandra tidak menyahut, meski pertanyaan Yasmin itu benar adanya, tetapi Chandra tidak pernah berniat menjawab iya. Baginya pantang menceritakan keburukan istri kepada wanita lain. "Nggak usah dijawab kalau keberatan, entar juga aku bakal tahu dengan sendirinya." "Cuma aku tuh kasian aja gitu, kalau ternyata kehidupan seorang Chandra Varendy sebegitu mirisnya," imbuh Yasmin lagi. Mendengar ucapan itu, pria tersebut hanya bisa menghela napas panjang. Memang benar, kehidupannya menjadi sangat ironis setelah menikah dengan Tamara, Tamara yang sejak dulu tidak bisa meninggalkan gemerlap dunia, susah untuk diajak kerja sama. Wanita itu terlalu menggandrungi kebiasaan berkumpul dengan teman-teman untuk sekadar haha hihi tidak jelas. Apa yang bisa dilakukannya sebagai suami? Tidak ada. Chandra tidak bisa berbuat apa-apa karena cinta membutakannya. Membiarkan saja apa pun dilakukan oleh Tamara meski tahu itu salah. Kerapkali menutupi setiap kesalahan kecil pada kedua orang tua demi kebaikan rumah tangganya. Sampai dosa terbesar Tamara yang telah menipu dirinya serta orang tuanya, pun ditutupinya sampai sekarang. "Kamu tidak makan lagi?" "Nggak ah, aku baru aja selesai makan. Udah dua kali, hah ... sehari hidup di rumah ini kesejahteraan hidupku benar-benar meningkat," ujarnya lalu terkekeh, menganggap ucapannya hanya sebatas candaan, tetapi membuat Chandra yang memang sejak dulu menaruh peduli pada Yasmin menjadi simpati. Hidup Yasmin memang tidak pernah bahagia, tetapi hebatnya gadis itu sangat kuat berdiri di kaki sendiri apalagi setelah kehilangan kakak satu-satunya yang menjadi penopang hidup. *** "Dari mana saja kamu?" Tamara yang baru sampai pun terkejut. Dia tidak tahu kalau Chandra sudah ada di rumah sore hari begini, biasanya laki-laki itu pulang tepat pada pukul tujuh malam. Tetapi kenapa sekarang justru pulang cepat? Kenapa dia tidak tahu kalau Chandra ada di rumah? Ah~ sialan. "Dari arisan, maaf ya. Aku nggak tahu kalau kamu pulang awal." Tamara memasang ekspresi merasa bersalah, membuat Chandra hanya mampu menggeleng pelan. "Jangan seperti ini terus, mulai sekarang hidup kita nggak cuma berdua, Tam. Ada Yasmin yang tinggal di sini juga. Kalau kamu terus-terusan kayak gini, itu artinya kamu membuat citramu sebagai istri rusak di mata orang lain." "Heleh ... peduli apa aku sama sudut pandangnya? Biar aja kalau dia menilai aku buruk, lagian mana betah aku tinggal di rumah? Sendirian aja nggak mau, apalagi ada lagi anak ingusan itu di sini. Makin bosen," kilah Tamara, sembari menyimpan clutch model terbaru yang baru saja launching bulan ini. "Kamu beli tas baru?" "Iya, temenku yang nawarin, ya udah aku beli. Kenapa?" Chandra menghela napas, ia menutup rapat buku bacaannya dan menyimpan di atas ranjang. Menghampiri Tamara yang sedang membuka anting-anting di depan meja rias. "Bisa tolong kurangi gaya hidup kamu yang terlalu berlebihan ini? Koleksi tas kamu udah banyak banget, nanti kalau orang tuaku berkunjung dan melihat tas-tas kamu berjajar kayak toko gini mereka bisa marah." "Ya ini kan bentuk nafkah kamu ke aku, masa mereka bakal marah?" Chandra menahan diri untuk tidak meluahkan emosinya. Berusaha tetap sabar menghadapi Tamara yang makin ke sini semakin menjadi-jadi. "Perusahaan tempat aku mendedikasikan diri, itu bukan perusahaan pribadi, tapi masih milik orang tuaku. Jangan sampai mereka berpikir kalau kamu bakal jadi penghambat wacanaku membangun perusahaan sendiri." "Dasar kamu perhitungan! Keluar uang buat Yasmin aja kamu nggak hitung-hitung, Chan." "Kenapa kamu jadi bawa-bawa dia?" "Ya habisnya aku kesel." "Kesel bukan berarti kamu bebas menyeret nama orang lain dalam pembicaraan ini. Lagian bisa-bisanya kamu nggak suka sama Yasmin. Kalau bukan karena dia, mungkin sekarang kamu nggak akan nikah sama aku." "Maksudnya apa?" "Kamu pikir sendiri, Tam. Kurasa aku nggak perlu repot-repot menjelaskannya sementara kamu adalah yang paling tahu di sini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD