Lima

1591 Words
Day 4 Raina dan sahabat-sahabatnya menghabiskan harinya di Chitwan Nasional Park yang memakan waktu perjalanan 3-4 jam dari Kathmandu, Raina yang memiliki SIM Internasional sudah menyewa sebuah mobil agar mereka tak perlu mengejar bus. Bersafari di taman nasional, naik gajah bertiga, dan memandikan gajah, bahkan Raina yang hendak berpose di atas gajah mendapat siraman dari gading gajah, membuat Sada dan Meta terbahak-bahak. Tetapi saat melihat hasil jepretan Meta, mereka berdecak. “Ini kali ya kenapa petugas hotel nyuruh bawa baju ganti,” ucap Raina sambil mengusap wajahnya yang basah. “Tadi pas gue naik gak disiram sama gajahnya. Curang banget,” ucap Sada. Meta tertawa, hanya Sada yang tidak tersiram air diantara mereka. “Mungkin karena lo jomlo,” celetuk Meta. Sada semakin kesal. “Raina juga jomlo!” ketus Sada. “Tapi dia udah ada gandengan,” jawab Meta. Raina berdecak, dan bisa ditebak, detik selanjutnya Raina sudah menjadi bulan-bulanan kedua sahabat anehnya. Setelah itu mereka menikmati segelas teh masala panas. Raina sudah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong hitam dipadukan dengan outer maroon bermotif bunga.     Kembali ke Kathmandu dengan bermodalkan google maps terasa begitu menyenangkan. Raina mengemudikan mobil yang mereka sewa dengan kencang, sesekali Sada minta berhenti saat menemukan spot foto yang bagus. “Gue mau cari cowok Nepal aja kali ya? Gue kok masih ngenes aja? Padahalkan banyak cowok Indonesia,” curhat Sada lalu ia menyantap sepotong momo goreng yang tadi sempat mereka beli. “Boleh juga, nanti gue cari ke penjuru hotel cowok yang cocok buat lo,” ucap Meta tersenyum manis. “Atau lo mau teman Bang Aries, Da?” tanya Raina. Tentu saja bercanda. Sada hanya mendengus tak percaya. Raina memelankan laju mobilnya saat melihat seseorang melambaikan tangannya. “Excuse me, can you help me?” tanya seorang lelaki yang tadi melambaikan tangannya. Raina menyipitkan matanya bingung, tetapi ia mengangguk pelan. “Kenapa Rain?” tanya Sada yang duduk di belakang. Ia memajukan tubuhnya dan pandangannya terhenti pada seorang pria muda dengan wajah asia. “Ada apa pak?” tanya Sada, lugu. “Psstt, English please!” ucap Meta sinis. Sada nyengir. “Kalian Indonesia?” “Eh?” Mereka bertiga saling bertatapan dan menganggukkan kepalanya. “Wahh kebetulan banget, mobil kalian punya dongkrak gak? Gue mau ganti ban mobil tapi perkakas gue ketinggalan,” ucap pria itu. Raina menganggukkan kepalanya lalu turun dan membuka bagasi belakang mobil yang mereka sewa. “Gue Devan,” ucap pria yang ternyata bernama Devan itu saat Raina memberikan dongkrak kecil, Devan mengulurkan tangannya. “Gue Raina,” jawab Raina balas mengulurkan tangannya. Kemudian mereka menunggu Devan menyelesaikan pekerjaannya. “Lo liburan di sini?” tanya Devan pada Raina. Raina menganggukkan kepalanya. “Besok kalian mau ke mana?” tanya Devan lagi. “Ehm Pokhara, lo di sini liburan juga?” Raina balik bertanya. “Iya, eh kebetulan besok gue mau ke Pokhara. Gue mau trekking.” Devan tersenyum. “Kita Cuma jalan-jalan di Phewa Lake habis itu balik ke Kathmandu lagi,” jelas Sada. Meta hanya diam memperhatikan. “Besok berangkat bareng, gimana? Gue sendirian naik mobil ini,” ucap Devan menawarkan. Ketiga sahabat itu bertatapan, meminta pendapat satu sama lain kemudian mengangguk setuju. Lumayan, hemat ongkos.     Day 5 Raina sudah siap dengan jeans navy dan baju kaos hijau army nya, rambutnya di kucir dengan rapi. Setelah check out, mereka menunggu kedatangan Devan yang akan menjemput. Kesempatan itu digunakan Raina untuk memanfaatkan wifi hotel. Berbagai chat masuk ke dalam ponselnya setelah kemarin dia sama sekali tidak bermain sosial media.   Ayahanda Ayah dan Ibu hari ini ke Semarang jenguk Nenek dan Kakek. Hati-hati di Nepal, nak.   Chat itu di kirim kemarin pagi, artinya kedua orangtuanya sudah berada di Semarang saat ini.   Iya Yah, salam buat Kakek dan Nenek. Ayah sampai kapan di Semarang?   Ayahanda Sampai minggu, setelah tahun baru.   Kemudian ada chat dari Olivia.   Oliv Lo kok buat gue iri sihh?? Sialan, kalian pasti sekongkol kan?   Raina tertawa, dia sering mengunggah status di w******p dan i********: dan itu disengaja agar Olivia bisa melihat betapa menyenangkannya liburan mereka.   Hahaha. Emang gue sengaja, biar lo nyesel gak ikut ke sini. Seru lho. Pagi ini gue mau ke Pokhara.   Tawa Raina terhenti saat melihat chat dari Aries. Chat itu baru saja masuk 2 menit yang lalu.   Bang Aries Raina rencana pulang kapan?   Tanggal 1 Abang.   Bang Aries Oke. Hari ini mau ke mana?   Rain hari ini ke Pokhara, ada yang tawarin bareng ke sana, gak jadi naik bus.   Raina memang sempat membahas rencananya ke Pokhara semalam sebelum mereka ke Chitwan Nasional Park.   Bang Aries Siapa?   Namanya Devan, orang Indonesia juga kemarin ketemu pas pulang dari Chitwan.   Bang Aries Oh iya hati-hati ya Raina, jaga diri.   Iya Abang, siap. Abang hari ini ngapain?   Bang Aries Lagi libur ini, di rumah aja nemenin Mama   Akhirnya abang libur heheh. Yaudah Raina mau siap-siap dulu.   Aries hanya mengirimkan emoji jempol sebagai balasan dan Raina segera menutup ponselnya saat melihat kehadiran Devan. “Ini gue yang lama atau kalian yang cepat?” gurau Devan, tertawa. Raina ikut tertawa. “Kita yang cepet kok, ini juga baru mau jam 7,” jawab Raina. Setelah mengangkut koper Raina, Sada, dan Meta, mereka berangkat ke Pokhara. Raina duduk di samping Devan, sedangkan Meta dan Sada di jok belakang.     Setelah 7 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di hotel dekat Phewa Lake. Devan rencananya akan tracking di Annapurna Basecamp. “Kapan-kapan gue chat gak apa-apa?” tanya Devan saat membantu Raina menurunkan kopernya. Raina tertawa. “Gak apa-apa chat aja,” jawab Raina lalu mereka berdiri berhadapan. Sada dan Meta sudah masuk ke dalam untuk melakukan check in. “Gue harap kita masih bisa ketemu,” ucap Devan. Raina hanya mengangguk bersamaan dengan ponselnya yang berdering dan nama Aries terpampang di layar ponselnya. Raina pamit untuk menjawab telepon dari Aries. “Halo Abang.” Devan menatap punggung Raina yang berjalan menjauh. Selama perjalanan menuju Pokhara mereka banyak bertukar cerita. Tentang Ayah Raina yang ternyata dulu dosen Devan, Devan bahkan beberapa kali ke rumah orangtua Raina tetapi tak menemukan gadis itu. Rupanya saat itu Raina masih studi di Paris. Tak bisa dipungkiri, Raina memiliki paras yang cantik khas Tiongkok, kulit putih bersih, tubuh mungil, hanya matanya yang bulat gadis pribumi. Lalu tawanya yang menawan, suaranya yang merdu, dan sikapnya yang ramah. “Abang gak boleh nonton dulu, tunggu Rain pulang lah.” Devan mulai penasaran, siapa yang dipanggil Abang oleh Raina? Apalagi suara gadis itu terdengar seperti anak kecil yang merengek. “Nanti Rain beliin oleh-oleh di sini, tapi Abang tunggu Rain, ya Abang? Lagian Abang mau nonton sama siapa coba?” Suara tawa Raina terdengar, dan Devan menyukai tawa itu sejak pertama kali mendengarnya kemarin. “Hahaha Abang ngenes ih nonton sendirian.” Setelah mengucapkan beberapa kata lagi, sambungan berakhir. Raina beranjak menghampiri Devan yang menunggu. “Jadi rencana ke Annapurna kapan?” tanya Raina. “Besok pagi,” jawab Devan. Merasa tak ada obrolan lagi, Raina pamit masuk ke dalam hotel, apalagi Meta sudah melambaikan tangannya, mengajak masuk. Devan menatap wajah Raina, membalas senyuman gadis itu dan menatap punggungnya hingga mereka sempat bertatapan sebelum pinti lift tertutup. Sebuah benih mulai tumbuh di hati Devan. Semudah itu Raina menarik perasaannya.     Day 6 Jika di Kathmandu banyak bangunan kuil di sekitar kota, maka di Pokhara merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan hati. Pemandangan terhampar luas dan beberapa kali Raina membidik lensa kameranya pada objek yang menurutnya indah. Setelah menyusuri Phewa Lake, mereka bertiga menumpang perahu menuju kuil Tal Barahi yang berada di tengah Phewa Lake. Kuil ini merupakan tempat ibadah penganut agama Buddha, kebetulan pagi itu sedang dilangsungkan Ibadah dan beberapa turis mengikuti ritual itu sebagai bentuk toleransi. Dari kuil Tal Barahi, mereka kembali ke ujung Phewa Lake kemudian berangkat menuju Peace Pagoda yang merupakan tempat ibadah penganut agama Hindu dengan menumpang taksi yang jaraknya 20 menit dari Phewa Lake. “Devan gimana?” tanya Meta saat mereka sedang makan siang. Alis Raina bertaut bingung. “Gimana apanya?” Raina balik bertanya. “Lo kok mulai ikutan Sada yang lemot sih? Yaa hubungan lo sama Devan, Raina Azalea Hutomo,” ucap Meta gemas. Mendengar namanya disebut, Sada menolehkan kepalanya, hendak protes. “Gak gimana-gimana,” jawab Raina santai. Meta menghela napas. “Lo sebenarnya suka sama tentara itu atau sama Devan sih?” tanya Meta lagi. “Gak suka siapa-siapa, kenapa lo malah bawa-bawa Devan?” “Gue yakin dia suka sama lo,” ucap Meta, Sada juga mengangguk setuju. “Yaampun, baru juga kenal 2 hari.” Raina menggelengkan kepalanya. Bersama Aries saja dia sama sekali belum merasakan benih-benih tumbuh walaupun Raina mulai merasa nyaman. “Siapa tau jodoh lo kan, Rain,” celetuk Sada. Raina hanya mendengus. Raina adalah tipe cewek yang setia terhadap satu orang. Jika dia sedang jalan bersama Aries artinya dia hanya fokus pada Aries saja. Jadi manusia tuh gak boleh serakah, jangan banyak mau, kalau ada ya di syukuri, gak usah jelalatan lagi. Itu adalah nasihat Rania, kakak semata wayangnya. Untungnya setelah itu mereka membahas rencana jalan-jalan mereka besok.     Day 7 Hari terakhir di Pokhara, mereka mengunjungi Gorkha museum. Gorkha adalah tentara pasukan elit yang dimiliki Nepal. Sesuai namanya, museum ini menceritakan sejarah awal mula terbentuknya pasukan Gorkha. Raina menjadi orang yang paling antusias tentu saja, lihatlah, berlibur ke Nepal tidak seburuk yang orang-orang katakan. Justru teman yang jarang dikunjungi malah terlihat sangat istimewa dan spesial. “Gue jadi pengen sama tentara deh, benar-benar perjuangan mereka tuh buat gue tersentuh,” ucap Sada saat mereka sedang dalam perjalanan kembali ke hotel. “Bacot lo Da, ntar kalau LDR lo malah uring-uringan. Sama tentara tuh mesti kuat, tangguh, dan tahan banting,” celetuk Meta. Raina hanya tertawa menanggapi ucapan Meta, dia juga setuju. Lihat saja Kai, sepupunya yang suaminya adalah anggota Kopassus yang malah jarang berada di rumah. “Emang gitu ya? Bukannya yang sibuk itu pasukan merah itu?” tanya Sada, polos. Benar-benar orang awam, padahal Papanya juga seorang Abdi Negara. “Semua tentara tuh sibuk, orang raga mereka untuk negara. Nih gue, ditelepon sekali sehari aja udah syukur banget,” ucap Raina memulai sesi curhatnya. “Diucapkan dengan baik oleh calon istri tentara,” ucap Meta merusak suasana. “Emang Raina udah punya calon suami ya, Met?” tanya Sada. Lemotnya kembali kambuh. Dan detik berikutnya, mereka sudah berdebat alot karena gemas dengan Sada.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD