Empat

1729 Words
Raina duduk di atas troli di dekat pintu keberangkatan, sesekali ia mencomot kripik kentang yang disodorkan Aries. Hari ini adalah hari keberangkatan Raina ke Nepal bersama tiga sahabatnya untuk liburan. “Temannya sudah ditelepon lagi, Rain?” tanya Aries. Raina menggeleng, kembali mengutak-atik ponselnya, menghubungi Olivia yang belum tiba juga sedangkan mereka sudah harus check in. Olivia belum juga menjawab panggilan telepon Raina. Diantara mereka berempat memang Olivia terkenal paling rempong, selalu ngaret jika janjian, tetapi tak separah sekarang. “Dia udah di mana sih? Kabarin juga enggak,” gumam Raina kesal lalu ia mengirim pesan untuk Olivia. Sada dan Meta juga ikut menghubungi Olivia. Wajah Meta kentara sekali sebal, dia tidak pernah menyukai keterlambatan. “Abang pulang aja, mau pengamanan kan?” ucap Raina pada Aries. Dia tidak enak harus membuat Aries menunggu. Aries mengangguk, ia menyodorkan sebotol air mineral pada Raina. Saat Raina hendak meneguk air mineralnya, ponselnya berdering dan menampilkan nama Olivia. Raina menghela napas lega lalu menjawab panggilan Olivia. “Oliiivv, lo udah di mana?” tanya Raina gemas. “Lho? Gue kan gak jadi ikut, Rain,” ucap Olivia tanpa rasa bersalah. “Heh? Tapi lo gak pernah bilang, Liv. Seenggaknya lo kabarin biar kita gak nunggu,” ucap Raina sewot. Dia kesal, sudah menunggu malah Olivia segampang itu membatalkan rencana mereka. “Sekarang kan lo udah tahu, gue harus ke Singapore sama Fabian. Udah dulu,” Raina berdecak tak suka, wajahnya tertekuk. Aries mengamati perubahan wajah Raina. Tak lama kemudian Sada dan Meta bersungut-sungut, sepertinya mereka juga sudah tahu. “Rain check in sekarang,” ucap Raina pada Aries. “Temannya gak ditungguin?” tanya Aries. Raina menggelengkan kepalanya, dia beranjak. “Gak jadi ikut,” jawab Raina cemberut. Aries tertawa dan memijit kening Raina yang berkerut. “Gak usah kesal lah, mau gimana lagi?” ucap Aries lembut. Raina tak menjawab, masih dongkol. “Yaudah, sana masuk,” ucap Aries membantu Raina meletakkan kopernya di atas troli yang tadi diduduki Raina. Raina mengangguk lalu mengulurkan tangannya. Aries mengangkat sebelah alisnya, bingung. “Mau minta uang?” tanya Aries. Raina menghentakkan kakinya. “Iih bukan Abang, mau salim,” jawab Raina. Aries tertawa lalu mengulurkan tangannya. “Hati-hati ya di sana,” ucap Aries begitu Raina melepaskan genggaman tangannya. “Iya, dah Abang.” Raina melambaikan tangannya lalu mendorong trolinya, menyusul Sada dan Meta.     Begitu tiba di Tribhuvan International Airport dan mengurus Visa On Arrival (VOA), Raina, Sada, dan Meta beranjak menuju pintu keluar dan langsung disambut oleh petugas hotel tempat mereka menginap telah menunggu. “Benar-benar kayak film zaman dulu ya,” bisik Sada saat mereka sudah dalam perjalanan menuju hotel. Mobil yang mereka tumpangi lumayan besar untuk ukuran kendaraan Nepal yang kebanyakan berukuran kecil. Kendaraan juga melaju seenaknya karena tidak ada traffight light, jadi jika pejalan kaki harus berhati-hati jika di negara ini. “Internet di sini juga salah satu jaringan yang paling lemot di antara 10 negara lainnya,” ucap Meta, santai. “Serius?” tanya Raina shock. Dia adalah salah satu manusia millenial yang tidak bisa hidup tanpa internet. “Emang lo gak searching?” tanya Sada. Raina menggelengkan kepalanya. Selama ini untuk urusan liburan, Raina selalu bersikap santai. Asal barangnya sudah siap, bisa berwisata kuliner, dan belanja, dia sudah tenang menikmati liburan. Pantas saja, kakaknya kaget saat Raina mengumumkan rencana liburannya di grup keluarga.   Mbak Rania What the hell? Nepal? Gak ada yang lebih baik lagi dari Nepal?   Lalu, Kai yang mengatakannya gila karena memilih negara tempat blackpacker liburan itu.   Kai Lo gila? Ngapain di Nepal? Mau fashion show di puncak Everest?   Tepukan di pundaknya membuat lamunan Raina buyar. Mereka sudah tiba di hotel tempat mereka menginap. “Kita jalannya besok aja kali ya? Hari ini kita buat list tempat yang akan kita kunjungi selama di sini, gimana?” Meta menatap Sada dan Raina. Raina mengangguk setuju, juga Sada. Sore itu mereka memilih menghabiskan waktu di rooftop hotel ditemani sepiring momo (makanan khas Nepal yang terbuat dari sayuran dan daging cincang yang biasanya disajikan dengan kari) dan segelas Yak butter tea (minuman berupa teh hitam, s**u, dan mentega Yak yang rasanya asin).     Day 2 Raina menyantap sarapannya sambil memeriksa chat di ponselnya. Akhirnya Raina bisa memegang ponselnya setelah kemarin mengabaikan ponselnya saat tiba di hotel. Berbagai chat masuk di akun w******p nya, serta balasan story di instagramnya.   Keluarga Hutomo Ibunda : Raina udah tiba di Nepal? Mbak Rania : Udah mungkin, Bu. Arina : Apa dia terjebak di udara? Kok belum muncul? Ibunda : Husstt sembarangan kamu Arin Arinda : tapi kan bisa jadi, Bu Ibunda : Inda! Awas kamu ya! Mbak Rania : Gak usah kasih uang jajan, Bu. Arina : Ntar mbak yang dimintai uang jajan haha Raina : I’am here!   Kemudian Raina mengirim foto sepiring momo yang sedang ia santap, lalu Raina membuka ruang obrolannya dengan Aries. Tak ada pesan apapun dari pria itu. “Yuk berangkat,” ajak Meta sambil beranjak. Raina dan Sada mengangguk. Raina memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia mampir sebentar ke kamar untuk mengambil kameranya agar mereka bisa mengambil gambar. Mereka memilih berjalan kaki menuju Durbar Square untuk menghemat biaya, lokasinya juga tidak begitu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Sada beberapa kali menarik tangan Raina karena kendaraan yang melaju kencang. “Raina!” Untuk kesekian kalinya Sada menarik tangan Raina. Raina terkekeh lalu ia memilih berjalan diantara Sada dan Meta. Meta hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Raina yang memang pecicilan. Saat tiba di Durbar Square, Raina terkesima melihat kuil-kuil, patung dewa-dewi, serta air mancur. Puluhan merpati terbang bebas. Raina dengan sigap menjadikan Sada dan Meta sebagai objek yang ia potret. “Sini, gue fotoin lo, Rain,” ucap Meta mengambil kamera milik Raina, lalu Raina mulai berpose. “Yang kayak di ig itu lho Met, lo pegang tangan gue, gini.” Raina mempraktekkan apa yang ia lihat di i********:. Ia memegang tangan Meta yang terulur, kemudian Meta memotretnya dari belakang. “Dasar jomlo!” ejek Sada. Raina hanya melotot kemudian ia tersenyum melihat hasil foto-foto mereka. Saat siang hari mereka mencari makan siang di sekitar Durbar Square, mereka kembali memilih makanan khas Nepal. “Kayaknya pulang dari sini timbangan gue naik deh,” ucap Raina saat mereka sedang menunggu pesanan makanan. “Gue makan sebanyak apapun juga tetap aja kurus,” ucap Sada cemberut. “Berarti makanan lo dimakan cacing dalam tubuh,” ucap Meta. Sada menatap Meta horror. “Beneran? Kalau gue minum obat cacing gitu, gue bisa gemuk gak?” Meta dan Raina saling menatap kemudian tawa mereka pecah. Tentu saja Meta hanya bercanda, dan Sada menanggapinya dengan serius. Begitu makanan pesanan mereka datang, Raina langsung semringah. Seporsi Dal Bhat dan Yak Butter Tea menjadi pilihan mereka, juga seporsi momo yang kini menjadi makanan kesukaan mereka. Setelah makan siang mereka kembali ke hotel, lalu sore harinya mereka menghabiskan waktu di Garden of Dreams yang berada di dekat hotel mereka. “Nepal indah juga, ya?” ucap Raina, ia tersenyum menatap taman yang terhampar di depannya. Satu-dua burung merpati hinggap di dekat Raina. “Dan pastinya Oliv nyesal gak ikut kita liburan,” ucap Sada lalu ia tertawa penuh kemenangan. “Nanti malam kita post foto, gimana?” tanya Meta. Raina dan Sada mengangguk riang, setuju dengan ide Meta. Sebenarnya mereka masih kesal karena Olivia malah membatalkan rencana liburan mereka.     Day 3 Postingan Raina semalam mendapat banyak komentar, Raina hanya bisa tertawa melihat kedongkolan Oliv yang sedang berada di Singapore. Ponsel Raina berbunyi, notifikasi chat dari Aries. Itu kali pertama Aries kembali mengabarinya sejak ia tiba di Kathmandu.   Bang Aries Raina lagi apa?   Ini baru pukul setengah 6 pagi, artinya di Jakarta hampir pukul 7 pagi.   Lagi rebahan. Abang gak kerja?   Ponsel Raina berdering, telepon dari Aries. Raina tersenyum lebar lalu menjawab panggilan dari Aries. “Assalamualaikum Abang,” sapa Raina, riang. “Wa’alaikumussalam. Hari ini mau ngapain?” “Jalan-jalan lagi lah, hari ini ke Swayambunath. Abang gak kerja?” “Ini lagi siap-siap mau pengamanan. Enak ya Raina bisa liburan.” “Alhamdulillah, Abang gak ada libur sama sekali?” “Iya, kan harus jaga negara, biar rakyat liburan dengan tenang.” Mendengar itu Raina tertawa. “Baik banget sih Abang ini,” ucap Raina. Aries tertawa. “Nanti abang hubungi lagi ya? Udah mau ke lokasi. Rain hati-hati jalannya.” “Oke, Abang juga hati-hati pengamanannya.” Setelah mengucap salam, sambungan berakhir, Raina masih terus tersenyum. “Amboi, kayaknya ada yang lagi kasmaran nih,” ucap Meta mengerling jenaka. Sejak di bandara kemarin dia sudah curiga karena keberadaan Aries. Raina hanya tertawa dengan wajah memerah. Setelah sarapan, mereka berangkat ke Swayambunath dengan menumpang taksi. Mereka di beri pilihan ingin menumpang taksi sampai tiba ditujuan, atau memilih berjalan kaki menaiki 365 anak tangga. “Jalan aja sekalian olahraga,” ucap Meta. Sada menolak, tak setuju. “Capek tau Met, gue bisa tambah cungkring kalau gitu ceritanya!” Sada mendebat. Raina yang duduk di samping sopir tersenyum canggung pada sopir mereka yang menatap bingung. “Elo kurus karena gak pernah olahraga, mageran pula, hobinya rebahan doang!” ucap Meta tak mau kalah. “Heh! Enak aja! Daripada lo, gendut!” “Gue gak gendut ya! Wahh lo body shaming, mau gue laporin ke polisi?” Raina menepuk jidatnya. Ia menyunggingkan senyuman canggung pada sang sopir dan mengucapkan permintaan maaf dengan bahasa inggris, untung saja sopir itu tak mempermasalahkannya dan menanyakan asal Raina. Dan kedua orang itu mulai mengobrol, mengabaikan Meta dan Sada yang masih berdebat.     Sada menghentakkan kakinya dengan kesal, Raina yang berjalan di belakang Sada tak dapat menahan tawa melihat kedongkolan sahabatnya. Bisa ditebak, Raina memilih berada di kubu Meta untuk berjalan menaiki 365 anak tangga untuk sampai di Swayambunath. Tentu saja itu membuat Sada kesal. Sepanjang jalan menuju Swayambunath mereka melihat tulisan-tulisan kuno. Raina membidik kameranya untuk mendapatkan objek yang bagus, sesekali ia menjadikan kedua sahabatnya yang kini sudah berlarian menaiki anak tangga. Raina hanya menggelengkan kepalanya, sesekali mendengar seruan Sada dan Meta yang memanggilnya. Raina tersenyum saat ia berpapasan dengan warga lokal. Masyarakat di Nepal terkenal ramah, apalagi dengan turis. “Rain, minum dong,” Sada sudah duduk di undukan anak tangga, padahal mereka baru mencapai setengahnya. “Rasain lo, lari-larian sih,” ucap Raina sambil memberikan tumblr air mineral yang ia bawa. Setelah menunggu Meta dan Sada beristirahat, mereka kembali menaiki anak tangga, kali ini Raina berjalan di depan. Di sisa perjalanan mereka Raina merekam kegiatannya. Hingga mereka tiba di atas, Raina terkesima melihat landscape kota Kathmandu. Mereka menyusuri Swayambunath, Raina bahkan sempat membeli kalung bunga lalu ia berpose di salah satu tugu kuil. Kali ini, mereka melihat banyak monyet yang berkeliaran. “Sodara lo tuh, Da,” ucap Raina menunjuk salah satu monyet. Sada melotot tak terima. “Mantannya Raina tuh bergerombolan.” Meta menunjuk monyet di sisi lainnya, Raina terbahak-bahak. “Bagus banget,” ucap Raina lalu ia memejamkan matanya dan menghela napas, menikmati angin yang berhembus. Kali ini mereka makan siang di salah satu restoran khas Eropa. Raina jadi flashback saat ia selalu liburan ke beberapa negara di Eropa saat tabungannya cukup, lalu ia akan mencicipi kulinernya yang tentu saja halal. Ah Raina jadi merindukan saat dimana dia masih menjadi pelajar yang bisa santai.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD