"Ayo kalian kenalan dulu," perintah Hendry membuyarkan lamunan keduanya.
Kenny masih diam di tempatnya sambil menatap Adriella yang mematung hingga akhirnya Adriella yang berinisiatif memulai. Dengan keberanian yang tidak sampai pada angka sepuluh persen, Adriella mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, aku Adriella," ucapnya dengan jantung yang berdebar begitu kencang.
Sebelum membalas uluran tangan Adriella, Kenny lebih dulu menatap gadis yang sudah menjadi masa lalunya itu.
"Kenny, kamu bisa panggil saya Mas Kenny kayak yang lain," ujarnya dengan suara berat.
Adriella mengangguk lalu tersenyum, ia buru-buru melepaskan jabatan tangan antara dirinya dan Kenny.
"Semoga kita bisa jadi partner kerja yang baik," lanjut Adriella.
Kenny mengangguk lalu ia menghampiri Hendry untuk mendiskusikan sesuatu.
"Ken, saya harap kamu cocok sama Adriella ya. Dari CVnya dia tuh ada pengalaman jadi asisten pribadi selebgram selama empat tahun loh. Lama banget kan?"
"Ya," jawab Kenny singkat.
"Kalau pengalaman kerja selama itu udah pasti kinerjanya bagus."
"Hm, besok mulai syuting ya?" tanya Kenny kemudian.
"Oh iya, Riel sini coba," ujar Hendry kepada Adriella.
Dengan langkah canggunh gadis itu mendekati Hendry.
"Ini jadwal Kenny bulan ini. Kamu bisa cek ya dan persiapkan segala yang Kenny butuhkan," tukas Hendry.
Adriella mengangguk dan dengan seksama membaca tabel yang berisi jadwal kegiatan Kenny satu bulan ini.
"Ini besok syuting ke luar kota?" tanya Adriella.
"Iya, maaf ya mendadak. Soalnya kamu ini diperlukan banget buat segala keperluan Kenny selama syuting nanti."
"Oke, nanti Mas Kenny tolong kasih tahu aku apa aja yang biasa Mas bawa, biar nanti aku siapkan," ujar Adriella tanpa berani menatap Kenny.
Sedangkan Kenny hanya diam di tempatnya, menatap wanita yang akhirnya ia temui lagi setelah empat tahun.
____
Jam makan siang telah tiba, Adriella sedang makan siang bersama dengan Hendry dan Kenny. Tadinya ia sudah menolak tidak akan makan siang bersama, tapi Hendry memaksa dengan dalih agar ia paham dengan karakter Kenny.
"Padahal aku udah paham banget karakter doi," cibir Adriella dalam hati.
Saat ini mereka bertiga sedang menunggu pesanan datang. Hendry sibuk dengan layar laptopnya, sedangkan Kenny sibuk menulis sesuatu di atas sebuah kertas putih berukuran kecil dan Adriella hanya menatap kedua orang itu bergantian.
Di detik berikutnya, Kenny tiba-tiba menyodorkan kertas lengkap dengan sebuah catatan yang tadi ia tulis kepada Adriella. Sontak asisten pribadi Kenny itu mengernyit tak mengerti.
"Ini hal yang saya butuhkan setiap syuting. Kamu harus siapkan ini semua terutama saat syuting ke luar kota. Selain itu, kamu harus rajin-rajin cek persediaan barang-barang yang saya perlukan. Sekiranya masih ada, gak usah beli. Kalau habis kamu harus buru-buru beli," ujar Kenny panjang lebar.
Adriella diam mendengarkan ucapan Kenny dengan seksama. Ternyata sudah banyak yang berubah dari mantan kekasihnya ini. Gaya bicaranya pun sudah tidak seperti dulu.
"Adriella?" panggil Kenny saat gadis itu tak merespon ucapannya.
"Ah iya, Mas. Siap nanti aku persiapkan semuanya."
Setelah itu makanan yang dipesan telah datang dan mereka fokus untuk menghabiskan makanan masing-masing.
____
Sore hari Adriella baru saja tiba di apartemen miliknya. Ia baru selesai membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan oleh Kenny untuk syuting di luar kota. Adriella kembali mengecek barang-barang yang sudah ia beli, ia tidak ingin diomeli karena ada yang terlewat.
"Shampo, sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, handuk. Oke yang ini semuanya udah," gumam Adriella.
"Berarti aku sekarang harus kemas dulu barang-barang aku, karena nanti harus langsung pergi ke apartemen buat siapin semua barang yang dia perlu," lanjutnya.
Adriella akan menurunkan gengsinya sebisa mungkin. Ia tidak akan menganggap Kenny sebagai seorang mantan yang harus ia hindari, melainkan ia akan menganggap Kenny sebagai atasannya yang memberi dia kesempatan untuk menyambunh hidup dan lebih lama tinggal di apartemen yang membuatnya nyaman ini.
Satu jam kemudian, Adriella sudah mandi dan selesai mengemasi barang-barangnya. Sekarang ia sedang menunggu taksi online yang menjemputnya. Ia akan segera pergi ke apartemen Kenny.
Jarak dari apartemen Adriella ke apartemen Kenny tidaklah jauh, hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke sana.
Tiba di depan unit apartemen Kenny, Adriella langsung memencet bel dan menunggu sang empunya unit keluar.
Tiga detik kemudian, Kenny mempersilakan Adriella masuk. Dengan canggung Adriella masuk ke dalam. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ada seorang wanita berpenampilan seksi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok.
"Sya, kamu bisa pergi sekarang. Asisten saya udah datang," suruh Kenny pada wanita itu.
"Asisten baru lagi?" tanya wanita itu dan langsung diangguki oleh Kenny.
"Cakep juga. Ya udah, aku pulang ya Ken. Jangan lupa transfer uangnya," pamit wanita itu. Sebelum keluar ia menyempatkan diri untuk meninggalkan satu kecupan di pipi Kenny.
Adriella yang melihat itu sontak memalingkan wajahnya.
"Semua baju saya udah dikemas sama Sasya tadi, kamu bereskan barang-barang yang kamu beli aja. Kita berangkat satu jam lagi, saya mau mandi dulu," pamit Kenny meninggalkan Adriella yang masih berdiri di ruang tamu apartemennya tanpa menyuruh asisten pribadinya itu untuk duduk terlebih dahulu.
"Cewek tadi siapa?" tanya Adriella dalam hati.
____
"Riel, kamu kenapa udahan jadi asisten pribadinya influencer itu?" tanya Hendry yang saat ini sudah duduk manis di samping kursi supir.
Mereka akan berangkat ke Bandung malam ini untuk melaksanakan syuting film terbaru Kenny.
Adriella mengatur napas terlebih dahulu sebelum ia menjawab. Jantungnya cukup berdegup kencang karena saat ini Kenny duduk di sebelahnya.
"Ada kesalahpahaman, Mas. Kena fitnah juga sebenarnya hehe," jawab Adriella diserai kekehan di akhir kalimatnya.
Kenny yang sedari tadi fokus menggulir layar ponselnya langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Adriella.
"Loh kok bisa?" tanya Hendry lagi.
"Iya Mas, miskomunikasi awalnya. Yang salah manajer influencernya tapi malah jadi nyalahin saya, padahal saya gak tahu apa-apa."
"Wah gak bakal benar tuh kalau kerjanya begitu. Terus influencernya lebih percaya sama manajernya itu?"
Adriella mengangguk, "Jelas Mas, manipulatif banget soalnya manajernya."
"Hahaha ya udahlah, kamu sekarang udah dapat kerja lagi. Kuat-kuat aja kamu menghadapi aktor yang lagi naik daun itu."
"Hahaha iya, Mas," ujar Adriella dengan tawa canggung.
"Diam deh, Mas. Gak usah nyindir-nyindir gitu. Saya juga gak akan marah-marah kalau asisten saya yang kemarin-kemarin kerjanya benar," sela Kenny kesal.
"Iya iya, Ken."
____
Keesokan harinya cuaca begitu buruk dan mengharuskan kegiatan syuting ditunda untuk keesokan harinya.
"Wah cuaca akhir-akhir ini emang sulit diprediksi ya," ujar Hendry sambil menyesap secangkir kopi dalam gelas.
"Ya udah sih, masih ada hari besok," ketus Kenny.
"Bukan masalah masih ada besok, kan lusanya kamu tuh harus pemotretan buat produk di Jakarta. Besok udah syuting kamu mau langsung balik ke Jakarta?"
"Ya udah resiko."
"Semoga Ariel kuat ya ngikut jadwal kamu yang padat itu. Jangan lupa asisten kamu suruh minum vitamin, Ken. Biar daya tahan tubuh dia kuat."
"Dia udah pengalaman jadi asisten pribadi, pasti dia udah paham."
"Jangan ketus-ketus, Ken. Nanti naksir."
"Udah pernah," jawab Kenny yang tentunya hanya dalam hati.
"Kayaknya dia capek banget deh, dia udah bangun dari jam enam pagi. Terus pas Mas bilang syuting diundur dia langsung minta izin buat tidur lagi."
Kenny tak menjawab, ia malah menatap lekat pintu kamar di mana di dalamnya ada Adriella yang sedang terlelap.
"Bangunin, Ken. Udah siang, gak baik juga tidur terlalu lama."
"Sama Mas aja."
"Dih jangan dong, Mas udah punya istri."
"Terus kalau belum punya istri emang mau ngapain?"
"Hahaha ya gak enak aja. Udah cepetan, kasihan dia belum sarapan juga."
Dengan langkah ragu Kenny berjalan ke arah pintu kamar yang ditempati oleh Adriella. Tangannya ragu hendak mengetuk pintu.
"Masuk Ken, diketuk doang mah gak akan bangun."
Karena Kenny juga membutuhkan sesuatu yang harus dibantu oleh Adriella, maka lelaki itu terpaksa membuka pintu dan nekat masuk ke dalam. Saat pintu terbuka terlihat Adriella masih bergelut dengan selimutnya. Lalu Kenny melanjutkan langkahnya. Ia buka selimut yang melingkupi tubuh Adriella. Gadis itu masih terlelap dengan tenang.
Tanpa sadar Kenny menatap wajah mulua Adriella ini. Bahkan saat ini tangannya maju hendak memegang wajah sang mantan. Detak jantung masih bergemuruh sama seperti dulu. Kenny tak menyangka ia bisa sedekat ini lagi dengan Adriella.
Saat tangan Kenny berhasil menempel pada pipi Adriella dan mengusapnya secara perlahan, detik itu juga Adriella reflek membuka matanya karena gadis itu sensitif akan sentuhan.
Saat ini keduanya ada dalam jarak yang sangat dekat.
"Mas Kenny mau ngapain?" tanya Adriella waspada.