2. Bertemu Kembali

1340 Words
Masuk ke dalam apartemennya, Adriella kembali menangis. Entah sudah berapa banyak helai tisu yanh ia habiskan untuk mengelap air mata dan juga cairan bening yang keluar dari hidungnya. "Gimana kalau aku susah dapat kerja lagi? Nanti aku gak bisa bayar sewa apartemen ini, terus aku diusir, terus nanti mau tinggal di mana?" keluhnya dengan suara yang tersendat-sendat. Detik berikutnya, ponsel miliknya berbunyi menandakan ada panggilang masuk. Buru-buru Adriella mengambil ponselnya, ia masih berharap itu adalah Arabella yang memintanya untuk kembali bekerja dengan wanita itu. Namun kenyataannya, bukan Arabella yang menhubunginya, melainkan Sandra. Dengan berat hati ia menerima panggilan tersebut. "Halo," sapanya dengan suara parau. "Ha—eh suara kamu kenapa, Riel?" "Gak apa-apa." "Bohong ya? Suara kamu kayak orang yang hidungnya lagi mampet loh." "Iya, cuma mampet doang." "Bohong ah, kamu abis nangis ya?" Adriella diam. "Ariel, kenapa?" "Dra, aku dipecat." "Hah? Kok bisa?" "Salah paham, intinya aku dituduh sama manajernya Mbak Ara." "Duh, aku gak tahu harus prihatin atau justru bersyukur nih, Riel. Soalnya aku tahu banget kalau kamu suka ngeluh sama sikapnya si Ara-Ara itu." "Ih jangan gitu, Dra. Meski kayak gitu juga Mbak Ara yang dari dulu gaji aku." "Hadeuh, masih mikirin itu. Terus kamu sekarang mau kerja ke mana lagi?" "Justru itu, aku bingung. Pengalaman aku dari lulus kuliah kan cuma jadi asisten pribadi influencer doang." "Aduh bingung ya, di kantorku juga belum ada lowongan lagi." "Yah..." "Atau nanti kita tanya si Naufal deh ya?" "Boleh." "Nanti aku kabarin ya kalau nemu yang pas buat kamu." "Iya, Ndra terima kasih banyak ya." "Oke. Udah kamu jangan nangis, orang kayak si Ara itu gak pantas buat ditangisi. Nanti juga dia kena karmanya, apalagi manajernya juga udah pokoknya jangan dipikirin." "Iya." "Sekarang istirahat ya, mau aku pesankan makanan?" "Enggak, aku udah makan kok." "Serius kan gak bohong?" "Iya, aku gak bohong, Sandra." "Ya udah kalau gitu aku matikan dulu ya, aku mau cari informasi dulu siapa tahu ada lowongan kerja buat kamu." "Iya Sandra, kamu juga istirahat ya." "Iya iya." ____ Di lain tempat, seorang aktor terkenal sedang uring-uringan di depan asisten pribadi dan manajernya. Bagaimana tidak, jam tangan kesayangannya dibawa dengan tidak hati-hati oleh si asisten pribadi sehingga benda itu saat ini sudah rusak. "Kenapa sih kamu tuh gak bisa dipercaya banget? Bawa jam tangan yang ukurannya sekecil ini aja masih ceroboh," makinya. "Sabar Kenny, sabar." "Saya gak bisa sabar dong, Mas Hendry! Itu jam tangan pemberian mendiang ibu saya, terus sekarang dipecahkan sama dia. Aku gak mau tahu, cari lagi asisten pribadi yang lebih baik daripada dia." Hendry selaku manajer Kenny hanya bisa menghela napas berat. Pasalnya dalam dua bulan terakhir ini, Kenny sudah delapan kali mengganti asisten pribadinya. "Saya mau asisten yang kriterianya kayak Mbak Gita. Dia telaten banget dalam segala hal, gak ada tuh ceroboh apalagi sampai merusak barang," tukas Kenny lagi. "Susah cari yang kayak Gita tuh." "Makanya itu, kenapa sih suaminya harus suruh dia berhenti kerja?" "Ya suaminya punya hak lah, Ken." "Udah, pokoknya saya gak mau tahu, Mas. Besok atau lusa harus ada asisten baru buat aku. Soalnya sebentar lagi saya syuting film baru ke luar kota dan gak mungkin aku urus apa-apa sendirian." "Iya, tapi kamu jangan aneh-aneh lagi loh. Mas harap ini yang terakhir, semoga Mas nemu orang yang cocok sama kamu deh." "Hm." "Mbak Reva, mohon maaf ya. Mas Kenny sepertinya kurang cocok sama Mbak. Mungkin Mbak bisa mencari atau menjadi asisten pribadi untuk public figure yang lain," tukas Hendry dengan lembut. Perempuan bernama Reva itu mengangguk sambil menitikan air matanya. Padahal Kenny adalah idolanya, tapi ia begitu ceroboh malah merusak kepercayaan sang aktor. ____ Pukul lima pagi, dering ponsel milik Adriella sudah sangat nyaring. Gadis itu meraba-raba sisi bantalnya untuk meraih benda pipih tersebut. "Halo," sapa Adriella dengan setengah sadar. "Riel, di mana?" "Ini siapa?" "Lah pake nanya, ini Naufal." "Hm, kenapa Nau?" "Kamu masih tidur?" "Hm, kan udah gak kerja." "Aduh, mending sekarang kamu bangun deh." "Mau ngapain kan pengangguran." "Ini, aku sama Sandra udah dapat lowongan buat kamu kerja. Jadi asisten pribadi aktor terkenal." Mata Adriella seketika langsung melotot, benarkah? Secepat ini ia mendapatkan pekerjaan lagi? "Kamu serius, Nau?" "Iya, makanya cepat kamu siap-siap. Interview jam sembilan pagi, nanti kamu dijemput Sandra jam delapan." Mata Adriella melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit. Itu artinya masih ada waktu sekitar empat puluh lima menit untuk Adriella bersiap-siap. "Ya udah kalau gitu aku mau siap-siap dulu ya, Nau. Terima kasih banyak atas bantuan kamu sama Sandra, nanti kalau aku gajian aku kirimin makanan deh." "Hahaha gak perlu, Riel. Aku ikhlas bantu kamu, kita udah kenal dari zaman bocah." "Kalau gitu aku tutup dulu ya." "Iya, semangat ya Ariel." Usai panggilan terputus, Adriella langsung melompat dari kasurnya. Kali ini semesta berpihak kepadanya. Adriella merasa sia-sia kemarin menangisi Arabella sampai matanya sembab dan tenggorokannya sakit. ____ "Ndra, kok kamu sama Naufal bisa cepat dapat info pekerjaan buat aku sih?" tanya Adriella yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama Sandra yang ada di balik kemudi. "Aku kemarin langsung kasih tahu Naufal, maaf ya gak diskusi dulu sama kamu soalnya aku yakin kamu kemarin masih sedih. Jadi kita gerak deh berdua," jelas Sandra. "Terus infonya ada lowongan kerja buat asisten pribadi artis dari mana?" "Temannya Om si Naufal kemarin pasang status di sosial media gitu, katanya artisnya ada yang butuh asisten pribadi baru. Nah langsung tuh si Naufal minta kontaknya dan langsung bikin janji deh buat beliau ketemu kamu." "Nanti aku langsung ketemu artisnya?" "Ya gak tahu, bisa aja sih. Kata Omnya Naufal, ini artis udah lebih dari lima kali ganti asisten pribadi." "Hah?" Sandra mengangguk, "Jadi kamu siap-siap aja deh, semoga gak lebih parah dari si Ara-Ara itu." "Aduh aku jadi deg-degan, semoga dia baik ya." "Baik enggaknya pasti tergantung kamunya sih. Pokoknya lakukan aja yang terbaik ya," ujar Sandra. "Selama ini aku selalu melakukan yang terbaik sih, ya walau sambil ngomel dalam hati." "Hahaha katanya ini aktor loh, siapa tahu kamu jodoh sama dia." "Wah gak dulu deh." "Hahaha." ____ Tiba di sebuah gedung agensi, Adriella langsung masuk ke dalam dan menunjukan segala persyaratan kepada resepsionis yang ada di lobi gedung itu. Setelah itu Adriella diantar oleh salah satu staf. Tok..tok..tok Staf tersebut mengetuk pintu. Setelah mendengar suara balasan dari dalam, ia mempersilakan Adriella untuk masuk. "Silakan masuk ya, Mbak. Sudah ditunggu sama Pak Hendry di dalam," jelasnya kemudian meninggalkan Adriella sendirian. Adriella masuk ke dalam dan langsung disambut oleh senyum hangat dari Hendry. "Selamat pagi, Adriella ya?" tanyanya. Adriella mengangguk dan membalas senyuman tersenyum. "Silakan duduk dulu," suruhnya. Setelah itu sesi interview dilakukan dan Adriella terlihat santai dalam menanggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Hendry. "Jadi kamu sudah siap kan menjadi asisten pribadi dari artis saya?" tanyanya. Adriella mengangguk, "Saya siap, Pak." "Oke kalau gitu, semoga kamu betah dan tahan ya dengan sikap dia. Kalau ada keluhan bisa langsung bicarakan kepada saya." "Baik, Pak." "Gak usah panggil Pak, panggil aja Mas biar sama kayak yang lain." "Oh iya Mas Hendry." "Nah kan enak, berasa lebih akrab jadinya." "Oh iya Mas, nanti yang jadi atasan saya datang jam berapa ya?" "Ehm, kayaknya sebentar lagi. Nanti ada meeting buat bahas filmnya soalnya." Adriella hanya membalas dengan anggukan kepala. "Kalau kamu mau bikin kopi dulu silakan." Selang beberapa menit pintu diketuk dari luar, Hendry yang sedari tadi fokus pada laptopnya menyuruh orang itu masuk. "Nah Adriella, kayaknya itu dia," ujar Hendry. Adriella pun langsung bangkit dari duduknya. Ia langsung merapikan pakaiannya terlebih dahulu. Detik berikutnya tubuh Adriella benar-benar membeku, tak bisa bergerak. Di depannya saat ini adalah orang yang pernah menjadi masa lalunya. Orang yang ia putuskan secara sepihak lewat chat empat tahun yang lalu dan reaksi lelaki di depannya juga sama membeku, atmosfer di ruangan tersebut menjadi begitu kaku. "Beneran kamu, Ken. Nih saya udah bawa asisten pribadi sesuai permintaan kamu. Nah Adriella, ini namanya Kenny Sky Zaedyn. Kamu pasti gak asing sama nama ini," tukas Hendry. Iya benar, lelaki ini tidak asing untuk seorang Adriella Emerilda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD