Empat tahun berlalu sejak Adriella meninggalkan kosan lamanya, sekarang gadis itu telah bekerja menjadi asisten pribadi seorang influencer yang cukup terkenal di Ibu Kota ini, yakni Arabella Putri.
Pagi ini ketika ia bangun tidur, rasa malas tiba-tiba menyelimuti dirinya. Padahal alarm sudah berbunyi dengan nyaring di telinganya.
"Malas banget sebenarnya buat pergi ke Arabella, tapi kalau gak kerja nanti gimana caranya bayar sewa apartemen ini," keluh Adriella.
"Oke Ariel, semangat deh," ujarnya pada diri sendiri, lalu segera bangkit dari tempat ternyaman di apartemennya ini.
Sebelum bergegas ke kamar mandi, gadis itu terlebih dahulu membereskan tempat tidurnya.
Ting!
Ponselnya bersuara tanda ada notifikasi. Dengan langkah cepat ia mendekat ke arah nakas di mana tempat ponselnya.
Adriella menggeleng kala ia menyadari bahwa dirinya mengisi daya ponsel semalaman penuh.
"Duh, Ariel kebiasaan deh ngisi baterai semalaman," omelnya pada diri sendiri.
Setelah itu ia segera membuka aplikasi pesan. Seketika Adriella langsung menghela napas berat ketika tahu bahwa pesan tersebut adalah pesan dari Arabella yang menyuruhnya untuk cepat-cepat datang ke lokasi syuting produk.
Arabella Influencer
Ariel, jam setengah 7 kamu udah harus standby ya. Kita janjian aja di sana, nanti pulangnya bareng.
Adriella melihat angka jam yang ada di sudut kiri atas ponselnya. Waktu telah menunjukan pukul 6 lewat dua menit. Itu artinya gadis berusia 26 tahun itu hanya memiliki waktu yang sedikit untuk sampai ke tempat syuting Arabella. Maka dari itu, secepat kilat Adriella mengambil handuk dan buru-buru mandi dalam waktu 5 menit. Dengan rambut yang masih belum disisir dan wajah yang belum dirias, gadis itu buru-buru mengambil tasnya. Biarlah ia merias wajah di dalam taksi, yang terpenting saat ini ia tepat waktu datang ke tempat orang yang memberinya pekerjaan itu.
____
Adriella akhirnya telah tiba di lokasi syuting milik Arabella. Beruntung lokasi itu dekat dengan apartemennya, jadi ia bisa datang tepat waktu.
"Eh, Ariel udah datang?" tanya Arabella yang sepertinya juga baru tiba di sana.
"Iya, Mbak Ara."
"Oh iya, tolong ambilkan baju, make up sama sepatu aku di mobil ya. Biar aku bisa siap-siap," perintahnya.
Dengan sigap Adriella patuh akan perintah Arabella. Setelah mengambil kunci mobil dari manajer Arabella, Adriella langsung menuju mobil dan mengambil barang-barang milik sang influencer.
"Mbak, mau siap-siap sekarang? Biar aku siapkan semuanya," ujar Adriella.
"Santai aja, Ariel. Syutingnya masih sekitar jam 10, kamu boleh sarapan dulu sekarang."
Adriella jelas saja melongo dibuatnya. Jika syuting dimulai jam 10 kenapa dirinya harus ada di sini dari jam setengah 7?
Adriella menghela napas berat, tidak sekali ini saja Arabella seperti ini. Entah hari ini adalah ulah yang ke berapa.
"Ya udah, aku mau cari sarapan dulu ya, Mbak. Mau titip?"
"Gak, Mas Bintang manajer aku udah pesan bubur di ojek online."
"Oke kalau gitu, aku minta waktu 30 menit buat sarapan ya, Mbak."
"Iya, jangan lebih," tegas Arabella sambil memainkan ponselnya tanpa menatap ke arah Adriella sama sekali.
Adriella kemudian mengambil tas dan memakai maskernya. Ia berencana akan sarapan roti dan s**u coklat saja. Suasana hatinya sudah cukup buruk dengan sikap Arabella, yang penting ia sarapan, pikirnya.
____
Tiba di mini market, Adriella langsung mengambil sekotak s**u coklat dan satu bungkus roti. Kemudian ia mengambil beberapa jenis makanan ringan, untuk ia bagi nanti dengan Arabella karena wanita itu cuku rewel jika Adriella hanya jajan sendirian.
"Tuan putri kalau gak dibeliin nanti ngomongnya kemana-mana. Ya udah buat jaga-jaga beli aja, biar gak berisik. Kalau gak dimakan ya udah aku bawa pulang aja," tukasnya pelan.
Selesai membeli semuanya, Adriella langsung membawa semua barang belanjaannya menuju ke kasir.
"Semuanya jadi delapan puluh dua ribu rupiah," ujar kasir tersebut.
Adriella langsung merogoh uang dalam tasnya dan memberikan dua lembar uang berwarna biru pada kasir itu.
Setelah urusannya di mini market selesai, Adriella buru-buru pergi dari sana karena ponselnya telah berbunyi dan menandakan bahwa Arabella telah memanggilnya. Padahal masih ada sisa lima belas menit lagi dari waktu yang diberikan oleh Arabella.
Sesampainya kembali di lokasi syuting, Adriella bisa melihat Arabella telah berganti pakaian.
"Tadi katanya santai," cibir Adriella dalam hati.
"Mbak, mau camilan apa? Tadi aku beli lumayan banyak," ujar Adriella.
"Aku mau yang rasa jagung bakar aja, gak mau keju, gak suka."
"Oh ya udah, yang keju buat aku aja."
"Eh yang keju kasih aja ke Mas Bintang, dia suka banget soalnya sama semua yang rasa keju-keju gitu."
Tanpa membantah, Adriella membawa camilan rasa keju kesukaannya itu kepada manajer dari sang influencer.
"Nih Mas, kata Mbak Ara suka banget sama rasa keju," tukas Adriella sambil memberikan camilan tersebut.
"Hehehe terima kasih banyak, Ariel."
____
Adriella saat ini menemani Arabella yang tengah dirias wajahnya oleh seorang make up artist.
"Eh Kak Laila, aku suka banget loh sama produk make up ini. Ke muka akunya aja bagus gak bikin jerawatan," ujar Arabella memulai pembicaraan.
"Iya emang bagus, lagi viral juga sekarang. Udah banyak influencer yang endorse produk ini."
"Ih aku kapan ya, Mbak?"
"Loh, bukannya kamu gak ambil tawaran kerja sama dari produk tersebut?" tanya Laila.
"Hah? Kapan, Kak?"
"Eh kamu gak tahu? Katanya produk ini tuh bulan lalu mengajukan kerja sama bareng kamu, tapi ditolak sama pihak kamu."
"Ih ke aku gak ada laporan sama sekali, Kak! Kamu tahu, Ariel?" tanya Arabella menatap Adriella yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh gadis itu.
"Mas Bintang sama sekali gak ada laporan sama aku, Mbak. Biasanya kan kalau Mbak Ara sibuk, dia pasti titip pesan sama aku," ujar Adriella.
"Ih aneh banget Mas Bintang!"
"Katanya karena kamu nolak yang gantiin kamu jadi influencer agensi sebelah yang namanya Jenna gitu."
"Hadeuh, dia lagi."
"Coba tanya sama manajer kamu deh, takutnya ada miskomunikasi sama beliau."
"Ya udah dandanin aja dulu aku, Kak," suruh Arabella dengan wajah ditekuk.
Satu jam kemudian, wajah Arabella telah selesai dirias. Terlihat cantik, tapi wanita itu tetap menekuk wajahnya.
Setelah Laila keluar, Arabella memanggil Bintang untuk segera menghadapnya.
"Kenapa, Ara?" tanya Bintang dengan santai sambil tangannya memegang satu cup kopi.
"Mas kenapa gak bilang kalau produk kosmetik avorit aku kasih penawaran buat kerja sama?" tanya Arabella marah.
Bintang mengerutkan dahinya tanda ia tak mengerti, "Gimana maksudnya, Ra?"
"Tadi Kak Laila make up kasih tahu aku kalau produk kosmetik favorit aku pernah mengajukan kerja sama ke aku, tapi aku tuh gak pernah tahu loh, Mas. Mana pengganti aku tuh si Jenna lagi. Mas pasti tahu kan mengenai ini?"
Bintang mengangguk-anggukan kepalanya, "Iya tahu, Mas udah bilang ke Ariel loh."
"Hah? Kapan, Mas?" tanya Adriella tak mengerti.
"Loh, waktu itu kan Mas bilang ke kamu. Mas kira Ara menolak karena gak ada laporan ke Mas lagi," tukas Bintang dengan santai.
Kemudian Arabella menatap Adriella dengan tajam, "Kamu kenapa sih, Riel?"
"Loh seriusan aku gak tahu, Mbak. Mas Bintang gak bilang apa-apa sama aku. Mbak Ara juga tahu pasti kalau aku dikasih amanat pasti langsung aku sampaikan."
"Pokoknya Mas udah bilang sama Ariel, Ra. Asisten kamu ini kayaknya gak becus kerjanya."
Adriella langsung melotot, "Mas jangan asal tuduh."
"Udah Riel, Mas tahu kamu ini suka mengeluh sama sikap Arabella. Padahal kamu harusnya tahu diri karena Ara ini kan yang gaji kamu selama ini. Kamu tuh harus dukung karir dia, kalau dia banyak job kan kamu juga yang enak dapat gaji," cerca Bintang tak memberi sedikit celah untuk Adriella berbicara.
"Mbak—"
"Kamu kalau iri sama Ara bilang—"
"Cukup, Mas! Semua yang Mas katakan itu gak ada yang benar!" sanggah Adriella.
"Loh, kok kamu marah?"
"Siapa yang gak marah kalau tiba-tiba dituduh kayak gitu. Mas jangan melimpahkan kesalahan Mas sama aku ya! Mas gak ada bilang ke aku sama sekali perihal produk yang mau kerja sama bareng Mbak Ara."
"Alah—"
"Udah cukup!" sergah Arabella.
"Ariel, aku benar-benar kecewa sama kamu ya. Kamu itu udah bareng sama aku selama empat tahun, tapi kamu malah nusuk aku dari belakang," lanjut Arabella.
Adriella melotot tak percaya. Arabella lebih mempercayai Bintang yang saat ini tengah menyeringai.
"Justru itu, Mbak aku udah lama sama Mbak, gak mungkin—"
"Udah deh, Riel. Aku tuh emang salah suka seenaknya sama kamu, tapi bukan berarti kamu bisa menghalangi job aku!"
"Mbak lebih percaya sama Mas Bintang?"
"Ya iyalah! Mas Bintang tuh manajer, dia lebih tahu cara kerja yang benar daripada kamu. Mulai sekarang kamu gak usah jadi asisten pribadiku lagi! Kamu aku pecat!" ucap Arabella final.
Adriella langsung kelabakan. Jelas saja ini sangat mengejutkan baginya. Meski ia kadang kesal dengan sikap Arabella yang seenaknya, tapi dari wanita itulah dia bisa menyambung hidup.
"Mas Bintang, tolong besok cari asisten pribadi buat menggantikan dia. Cari yang benar dan jujur," tukas Arabella kemudian berlalu dari hadapan Adriella dan diikuti oleh Bintang.
Sebelum Bintan pergi, lelaki itu lebih dulu memasang muka mengejek pada Adriella dan menangkat jempol dengan posisi ke bawah di depan wajah Adriella.
"Bintang b******k!" umpatnya.
____
Adriella turun dari taksi tepat di depan unit apartemennya. Mata sembab saat ini telah menghiasi wajahnya karena di dalam taksi tadi ia terus menangis. Hatinya sakit akibat tuduhan yang dilemparkan oleh Bintang. Apalagi ketiga Arabella lebih mempercayai Bintang daripada dirinya yang sudah lebih lama bekerja dengannya.
"Awas ya, Bintang! Suatu saat kamu bakalan dapat pembalasan lebih dari ini," sumpahnya.
Sebelum masuk ke apartemen, Adriella melangkahkan kakinya ke dalam mini market terlebih dahulu. Menangis seharian membuatnya lelah dan ia ingin membeli minuman dingin sebentar.
Beruntungnya ia selalu membawa masker ke manapun, sehingga wajah sembabnya dapat tertutupi. Tak apa jika hanya mata yang terlihat, asal jangan hidung yang merah bagaikan tomat itu terlihat oleh orang-orang.
Baru saja Adriella menginjakan kaki di tangga, seorang lelaki dengan masker dan juga kacamata hitam menabraknya hingga gadis itu nyaris terhuyung ke belakang apabila orang itu tak memegang tangannya.
"Maaf, gak sengaja," ujar orang itu, kemudian pergi dari hadapan Adriella.
Adriella merasa familiar dengan suara itu. Ia menoleh menatap lelaki yang buru-buru melangkah dan masuk ke dalam sebuah mobil.
"Suaranya gak asing ya," gumamnya.