Ini Belum Seberapa

1053 Words
Aluna begitu terkejut dengan pernyataan Megumi barusan yang mengatakan kalau Aluna adalah seorang jal-lang. “Mama jangan salah paham.” ucap Aluna, ia tahu kalau kini ia adalah istri dari Raka, untuk itulah ia akan menjaga jarak dengan Raga, meski ia masih sangat mencintainya. “Jangan panggil aku Mama, karena sampai sekarang aku masih belum menerimamu sebagai menantuku! Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Raka, hingga dia mau menikah dengan ja-lang miskin sepertimu!” kata-kata penghinaan begitu kental keluar dari mulut Megumi. Kata-kata jahat itu sangat lancar dan keluar begitu saja dari mulutnya. Mendengar keributan di depan kamar,, Raga pun keluar untuk melihat. “Ada apa?” tanyanya. Megumi tak menjawab dan hanya mendelik tajam ke arah Aluna. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan Aluna yang berdiri mematung disana. Raga melihat Aluna , “Luna, ada apa?” Perlahan Aluna menatap Raga, “Mulai sekarang, jangan dekati aku lagi, Mas. Hubungan kita sudah berubah, aku bukan lagi kekasihmu, tapi aku adalah adik iparmu.” setelah mengatakan hal itu, Aluna pun kemudian pergi meninggalkan Raga tanpa berkata apapun lagi. Raga menyugar rambutnya, ia menahan kekesalannya yang membuncah di d**a. “Brengs3k!” ucapnya lalu masuk ke dalam kamar dengan sambil membanting pintu kamar. - - Aluna membersihkan diri, sebelum ia pergi ke rumah sakit. Sambil menjaga suaminya, ia juga akan menjenguk ibunya. Setelah dioperasi ia belum sekalipun melihat keadaannya. Ia merasa jadi orang yang sangat jahat, tapi bagaimana lagi. Suaminya yang jahat, tidak mengizinkannya untuk pergi. Aluna telah siap, ia membawa segala perbekalan untuk Raka. Persis yang suaminya itu katakan dibalik sambungan telepon. Raga melihat Aluna akan pergi, ia kemudian bertanya. “Luna, kau mau kemana?” Sebelum menjawab pertanyaan Raga, Megumi menjawab pertanyaan Aluna duluan. “Malam ini Aluna akan menjaga Raka di rumah sakit, dia istrinya dan sudah sepatutnya ia menjaga dan juga melayani suaminya.” Tangan Raga mengepal, rasa marah dan cemburu kembali merasuki hatinya. Bagaimana bisa mereka berduaan di rumah sakit, apa yang akan mereka lakukan. Raga tidak bisa menerimanya. “Aku pergi dulu.” pamitnya. “Aku akan mengantarmu.” ucap Raga. “Dia akan diantar oleh sopir,” potong Megumi, “Raga, Mama mengerti perasaanmu. Tapi kau harus ingat posisimu sekarang, jangan kau gadaikan nama baik keluarga Shankara. Hanya demi seorang wanita.” Aluna menatap Raga dengan tatapan sendu, ia tak bisa berkata-kata. Karena apa yang dikatakan oleh Megumi adalah benar. Raga harus menjaga sikapnya demi nama baik keluarga. Jangan karena hanya Aluna, nama baik keluarganya dan juga kehormatan yang dijunjung tinggi, hancur begitu saja. Aluna lalu pergi meninggalkan Raga yang masih berdiri mematung di sana, ada banyak hal yang ingin dikatakannya. Namun, ia tak bisa dan harus menahan segala perasaan yang ada. - - Sesampainya di rumah sakit, Aluna segera pergi ke ruangan dimana selama ini ibunya berada. Dan disana, ada Rami sahabatnya yang sedang duduk menunggu ibunya yang sedang tertidur. Begitu melihat Aluna datang, Rami pun segera menghampirinya. “Aluna … “ Panggilnya, “Akhirnya kau datang.” “Bagaimana keadaan ibu?” “Ibumu baik, tadi Bibi sempat bangun dan bertanya kapan kau pulang. Aku jawab aku tidak tahu, dan aku bilang kalau kau sedang banyak pekerjaan. Dan aku juga bilang kalau kau harus bekerja keras untuk biaya operasi. Maaf ya, aku bingung harus menjawab apa.” Aluna mengangguk mengerti, “Jangan meminta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena aku sudah merepotkanmu.” “Ahh kau ini, kau sudah seperti saudaraku. Ibumu seperti ibuku juga. Aku tidak merasa direpotkan.” jawab Rami. “Terima kasih banyak ya “ “Sama-sama.” Aluna pun mendekati ibunya, dan bisa ia lihat kalau ibunya sedang tidur terlelap. Wajahnya begitu damai, ia senang karena pada akhirnya nyawa ibunya bisa diselamatkan. Meski masa depannya yang menjadi taruhan. Aluna memegang tangan ibunya, lalu mengecupnya lembut. “Maafkan aku, Bu. Aku belum bisa menjaga ibu.” lirihnya pelan. Ia begitu menyesal karena tak bisa menjaga ibunya disaat seperti ini. “Rami, maaf … aku harus pergi.” “Kenapa? Tunggulah ibumu bangun, kasihan. Dia sangat merindukanmu.” “Aku tahu, tapi ada hal yang harus aku lakukan. Karena Raka juga ada disini.” “Apa? Kenapa dia? Semoga saja dia terkena serangan jantung karena telah membuat hidupmu susah.” Rami adalah satu-satunya orang yang tahu tentang keadaan Aluna. Sebab, saat ia menitipkan ibunya ia menceritakan semuanya pada Rami. Dan ia meminta tolong padanya, agar bisa menjaga ibunya selama ia tidak berada disampingnya. Beruntung Rami bersedia, ia ikut prihatin dan marah pada Raka. Yang telah berbuat seenaknya pada Aluna. “Dia bukan terkena serangan jantung, tapi dia terkena serangan Raga.” “Apa?” “Nanti saja aku ceritakan, pria jahat itu pasti sedang menungguku disana.” “Aah iya, baiklah. Jangan khawatirkan ibumu, karena aku akan selalu menjaganya.” Aluna memeluk Rami sebentar, “Sekali lagi terima kasih, aku pergi dulu. Aluna pun segera pergi untuk menemui Raka, pria jahat itu pasti sedang menunggunya. Dan Aluna yakin kalau caci maki akan menyambutnya sebentar lagi. Dan benar saja, saat Aluna sampai disana. Sebuah lemparan langsung mengenai kepalanya. Raka melemparnya dengan sebuah botol minuman. Beruntung botol minuman itu tidak mengenainya. Jika tidak, maka sudah pasti kepalanya akan terluka. “Apa yang kau lakukan?” pekik Aluna, ia sungguh terkejut dengan perbuatan Raka barusan. “Kemana saja kau! Aku sudah menunggumu dari tadi, aku sudah bilang untuk cepat datang. Tapi kau datang begitu lama, apa kau tahu aku sangat tidak nyaman dengan pakaianku!” bentaknya. Aluna menghela nafas, untuk menetralkan segala perasaannya sekarang. “Aku menemui ibuku sebentar. Aku ingin melihat keadaannya.” ucap Aluna, ia berharap kalau Raka akan mengerti akan perasaannya. Namun, sayangnya Raka bukan tuan baik hati yang akan mengerti dengan apa yang dirasakannya. “Siapa yang menyuruhmu untuk melihat keadaan ibumu? Apa kau mau kalau aku memindahkan ibumu ke tempat yang jauh, agar kau tidak bisa lagi melihatnya!” “Apa?” Aluna mendengus, ia tak percaya kalau Raka akan sekejam itu kepadanya. “Kau memang sangat keterlaluan!” “Iyakah?” ejeknya, “Sayangnya ini belum seberapa.” Aluna mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sekarang aku paham, kenapa wanita itu tidak menyukaimu dan lebih menyukai Raga. Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang menyukai iblis sepertimu!” “Kurang ajar!” Raka bangun dan akan menyerang Aluna. “Ya Tuhan …” tubuh Aluna gemetar, entah apa yang akan dilakukannya sekarang pada Aluna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD