Di rumah sakit, Raka diperiksa dan langsung dibawa ke ruang rawat sebab dokter mengatakan kalau Raka sebaiknya mendapatkan perawatan untuk beberapa hari kedepan.
Megumi pun setuju sebab melihat luka yang dialami oleh Raka memang cukup parah. Dimana Raga memukulnya dengan sangat keras.
Megumi masih menunggu Raka yang belum sadarkan diri. Dalam hatinya ia terus mengumpat Raga dan juga Aluna yang telah membuat Raka menjadi seperti ini. Meski memang bukan Aluna yang membuat Raka terluka, tapi tetap saja jika Aluna adalah pemicu kemarahan Raga dan putranya.
“Aku tidak akan memaafkan perbuatan kalian.” gumamnya kesal. Lalu ia menghubungi ponsel suaminya. Dan akan melakukan protes karena Raga telah membuat Raka terluka begini.
Namun, pria itu tidak mengangkat panggilan dari Megumi. Ia masih kesal pada Raka yang telah berbuat semaunya, giliran terluka seperti ini Brama harus perhatian padanya. Ia tidak akan melakukan hal itu, jika Megumi berpihak pada Raka, maka ia pun akan berpihak pada Raga, putranya. Bukan bermaksud untuk berkubu seperti ini. Hanya saja Brama kecewa pada Megumi karena ia selalu melihat sesuatu secara sepihak. Menganggap kalau apa yang Raka lakukan sama sekali bukan kesalahan, dan disini Raga harus menerima kesalahan Raka dengan lapang hati, bahkan kata maaf pun tak terucap darinya. Malah ia justru bersikap angkuh dan selalu menatap Raga dengan penuh ejekan.
“Astaga, kenapa panggilanku tidak diangkatnya.” gerutunya kesal, lalu memasukan ponselnya ke dalam tas.
-
-
Di kediaman Shankara
Dengan lembut dan telaten, Raga merawat Aluna. Ia juga memanggil dokter untuk memeriksanya, dan bisa Raga ketahui kalau ternyata Aluna mendapatkan kekerasan dan hal itu dilakukan oleh Raka padanya.
Raga sangat geram, dan mungkin ia akan kembali membuat perhitungan dengannya nanti. Untuk saat ini, ia akan merawat Aluna terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat, Aluna pun sadar dan ia melihat keadaan sekeliling. Lalu ia tahu kalau kamar yang ditempatinya adalah bukan kamar Raka, melainkan kamar Raga. Sebab, dulu ia pernah masuk dan bahkan Aluna sendiri yang membantu Raga untuk menata setiap barang yang ada disana. Jadi, mana mungkin ia tak tahu dimana saat ini ia berada.
Meski ia sangat mencintai Raga, akan tetapi saat ini statusnya adalah istri Raka. Dan itu berarti ia adalah adik ipar Raga, kekasihnya. Sungguh ironi yang sangat menyakitkan.
“Kau sudah sadar?” suara bariton yang selalu dirindukannya kini terdengar lembut di telinganya.
Dengan kepala yang masih terasa pusing, dan tubuhnya yang gemetar Aluna bangun dan hendak meninggalkan kamar Raga. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman nanti diantara mereka berdua. Jangan sampai orang-orang men mengira jika dirinya tengah berselingkuh.
Ya Tuhan … kata apa itu? Sebuah kata yang menyayat hati.
“Kau mau kemana?” dengan sigap Raga menahan tubuh Aluna yang masih lemah.
“Aku mau pergi, tempatku bukan disini.” jawab Aluna.
“Aku tahu, tapi istirahatlah dulu, Aluna. Kau sedang sakit.” Raga berusaha untuk membujuk Aluna agar ia mau beristirahat sejenak, ia cemas melihat keadaan Aluna yang seperti ini.
“Tidak.” Aluna tetap pergi, dan Raga pun lalu menarik Aluna kedalam pelukannya. Aluna hendak berontak, tapi ia sadar kalau dirinya kalah tenaga. Tubuhnya yang kecil dan lemah, tidak akan bisa melawan Raga.
Aroma maskulin memenuhi rongga hidungnya, pelukan hangat terasa seperti sedang melindunginya. Dan suara lembut seolah sedang menenangkan hatinya. Namun, semua itu tak mampu mengobati luka hati yang dialaminya saat ini.
Aluna ingin sekali memeluknya, tapi ia tahu kalau kini mereka telah berbeda. Perbedaan ini membuat hatinya hancur berkeping-keping.
“Mas …” Aluna tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia tahu jika mungkin sebagian orang akan menganggapnya sebagai wanita lemah. Namun, siapapun yang berada di posisinya sekarang. Aluna yakin jika orang lain pun akan sama terluka seperti dirinya.
“Aluna, katakan padaku apa yang terjadi?” tanya Raga, ia penasaran apa yang membuat Aluna menikah dengan Raka. Jujur … saat ini Raga ingin sekali membawa Aluna pergi jauh dan hidup hanya bersama dengannya. Akan tetapi, sebuah nama baik keluarga akan menjadi taruhannya.
Aluna menggelengkan kepala, “Dengan aku mengatakan apa yang terjadi. Semua itu tidak akan mengubah keadaan, aku akan tetap menjadi istrinya Raka. Dan Mas akan tetapi menjadi kakak iparku.” Aluna berusaha untuk tegar saat mengatakannya.
“Aluna, kau sangat menyakitiku. Aku sangat terluka sekarang.”
“Lalu bagaimana denganku?” tanya Aluna balik, ia memukul-mukul d**a Raga dan mencurahkan semua rasa sakit dan juga kecewanya. “Lalu bagaimana denganku, Mas. Hatiku hancur, impianku untuk hidup denganmu juga hancur. Seluruh hidupku hancur sekarang!”
“Aluna.”
“Kenapa Mas pergi? Kenapa Mas tidak ada disaat aku sangat membutuhkan bantuanmu. Kenapa Mas harus pergi secepat itu, kenapa Mas tidak pergi menemuiku dulu. Kenapa… kenpaaaaaaa???” Aluna histeris. “Aku sangat berharap Mas bisa membantuku.” tubuhnya lunglai dan Raga masih menahan tubuh Aluna, ia terduduk bersama dan siap mendengarkan perkataan Aluna.
“Malam itu aku pergi menemuimu, aku berharap kalau Mas akan bisa menolongku dari sebuah keadaanku yang sangat sulit. Ibuku sedang diambang nyawa, tapi yang aku temui malah adikm. Dan tanpa perasaan dia mempermainkan nyawa ibuku, dan ia jadikan sebuah negosiasi yang hanya menguntungkannya.”
Raga masih menyimak, tangannya mengepal. Sepertinya hukuman yang diberikan pada Raka tadi rasanya masih sangat kurang. b*****h itu telah mempermainkan orang yang sangat dicintainya.
“Aku tidak punya pilihan, aku hanya ingin ibuku hidup. Apa aku salah?” tanyanya sambil menangis.
Raga menggelengkan kepala, ia menyesal kenapa dirinya tidak ada di saat Aluna sedang benar-benar membutuhkannya. Kenapa ia harus pergi hari itu, kenapa?
“Aku menyesal, kenapa saat itu aku tidak mati saja. Kenapa aku harus menjalani kehidupan seperti ini. Aku tidak bisa, Mas. Aku tidak bisa.” tangisan Aluna semakin kencang, “Dia juga menghancurkan ponselku, Raka menutup semua akses agar aku tidak bisa menghubungimu. Dia memang memberikan uang untuk operasi ibuku, tapi dia juga menempatkan orang untuk melenyapkan ibuku. Agar aku hanya bisa tunduk dan menuruti semua keinginannya.”
“Kurang ajar!”
Aluna mengusap air matanya, “Tapi … meski aku sangat tidak menginginkan hidup seperti ini. Takdir tetap membawaku untuk tetap berada dalam kehidupan yang sangat menyakitkan untukku.”
“Aluna, aku akan tetap mencintaimu, Sayang. Sebuah status tidak akan bisa mengubah rasa cintaku padamu.”
“Tapi rasa cinta itu, tidak akan pernah bisa mengubah takdir hidupku.” Aluna pun bangkit dan akan pergi meninggalkan Raga. Bagaimanapun juga ia harus bisa menjaga sikap. “Cinta kita telah berakhir, Mas.” ucapnya lalu pergi keluar dari kamar Raga.
Dan betapa terkejutnya ia saat pintu terbuka, Megumi tengah berdiri sambil menatapnya dengan tajam.
“Suamimu sedang di rumah sakit, tapi kau malah bermesraan dengan kekasihmu? Astaga … rupanya putraku telah menikahi seorang ja-lang!”
“Apa?”