Apa Rencanamu

1033 Words
Raga menatap Raka dengan tatapan tajam dan penuh dengan tanya, mengapa adiknya berkata hal seperti itu. Kenapa Raka berkata padanya kalau Aluna adalah istrinya. “Apa katamu, siapa istrimu?” tanya Raga. Raka maju dan mendekati mereka berdua, lalu dengan cepat dan juga kasar ia menarik tangan Aluna. “Wanita ini adalah istriku.” jawabnya, seringai licik dan sangat jahat ia perlihatkan pada kakaknya. Raga menarik kerah kemeja Raka, “Apa yang kau katakan, b******k! Aluna adalah kekasihku, bagaimana bisa dia menjadi istrimu? Jika kau sedang membuat lelucon, ini sungguh sangat tidak lucu!” Raga mendorong tubuh Raka ke belakang, hingga terhuyung. “Aku tidak peduli apa yang kau katakan dan yang kau pikirkan, karena kenyataannya adalah jika Aluna adalah istriku.” jawab Raka santai, ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku sambil menikmati raut kecewa dan juga marah kakaknya. “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja padanya. Tatapan Raga kini beralih pada Aluna, ia mendekat lalu memegang bahu Aluna dengan lembut. “Aluna, apa yang dia katakan adalah sebuah kebohongan, bukan?” tangan Raga bergetar, ia tak sanggup mendengar kenyataan pahit ini. Aluna adalah gadis yang sangat ia cintai, ia tak rela Aluna menjadi milik pria lain. Apalagi pria itu adalah adiknya sendiri, Raga tak terima ini. Raga tak akan sanggup. Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Raga, tentu Aluna tak mampu menjawabnya. Hanya air mata yang mewakili peresanangis dan tak sanggup berkata apapun pada Raga. “Aluna, katakan padaku. Jika yang dikatakannya adalah bohong!” seru Raga, ia mulai kesal karena tak mendapatkan jawaban dari Aluna. “Katakan Aluna!” bentak Raga, ia kehilangan kesabarannya sekarang. “Iya, aku telah menikah dengan Raka. Aku istri adikmu, dan Mas adalah kakak iparku.” Deggghhh … Jawaban Aluna menghancurkan hatinya, seketika jiwanya terasa remuk. Orang sangat ia cintai melebihi dirinya sendiri, telah mengkhianatinya dengan sangat kejam. “Kenapa kau melakukan itu, Aluna. Jelaskan padaku!” Dada Aluna terasa begitu sesak, ingin sekali ia berkata kalau semua ini adalah perbuatan adiknya yang sangat jahat. Menjebaknya dan mengancam akan menghabisi ibunya. Apalagi Raka menyuruh seseorang di rumah sakit untuk menjaga ibunya Aluna. Dan jika Aluna membuat masalah, maka seseorang itu akan langsung membu-nuhnya. Raka memang orang yang jahat, bahkan sangat jahat. Demi membalas sakit hatinya ia rela mengorbankan kebahagian kakaknya, menyakiti Aluna dan membuatnya berada di bawah tekanannya agar menuruti segala perintah Raka. Bahkan ia tak segan untuk melenyapkan nyawa ibunya Aluna, jika rencananya tak berhasil. “Dia menikah denganku karena dia mencintaiku.” dengan pongahnya Raka bicara. Tatapan Aluna langsung mengarah pada Raka, ia menggelengkan kepalanya meminta Raka untuk tidak menyakiti hati Raga terlalu dalam. Cukup dengan ia menikah dengan Raka, jangan pernah katakan kalau Aluna tidak mencintainya. Karena dalam hatinya, hanya Raga yang ia cintai saat ini. Namun, apa peduli Raka. Karena niatnya memang ingin menyakiti hati Raga. Justru ia sangat bahagia melihat kakaknya itu menderita. “Raka!” seru Aluna. “Ada apa, Sayang?” suaranya begitu menyebalkan hingga membuat Aluna ingin sekali mencekiknya. Habis sudah kesabaran Raga, ia menghampiri Raka lalu memukulinya. “Bangs4t! Beraninya kau melakukan hal ini! Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan, b******k!” Bughh … Bughh … Bughh … Mendengar keributan di depan, Brama dan Megumi pun menghampiri tempat dimana kedua putra mereka berada. Dan di sana bisa mereka lihat kalau Raga tengah memukuli Raka. Megumi kesal saat melihat Aluna hanya diam dan tak berusaha untuk melerai mereka. “Kenapa kau hanya diam saja!” sergahnya. Aluna tak menjawab karena sejujurnya hatinya sedikit terobati saat melihat Raga memberikan pelajaran pada Raka. Anggaplah jika ia memang jahat, tapi apa yang dilakukan Raka padanya Aluna tak bisa memaafkan pria itu. Pria yang telah memaksanya untuk menikah. Aluna memalingkan wajah, tak peduli jika ibu mertuanya tak menyukainya. Karena disini ia hanya menjalankan perintah bajing4n yang telah memaksanya. Ia tidak akan berusaha untuk menjadi menantu terbaik di rumah ini. Brama melerai mereka berdua dan menjauhkan Raga dari Raka, “Raga, sudah cukup! Hentikan!” Dengan dibantu oleh para penjaga akhirnya Brama berhasil memisahkan mereka berdua. Megumi panik saat melihat putra kesayangannya tidak berdaya. “Cepat bawa putraku ke rumah sakit!” serunya. Raka masih sadar saat itu, dan ia melihat Aluna dan memberikan tatapan ancaman. Kalau ia sampai bicara pada Raga, maka habislah ibunya. Di saat yang sama, Raga juga menatap Aluna, ia sama sekali tidak peduli pada Raka yang terluka sekarang. Justru Raga bisa melihat ada sedikit senyuman penuh kepuasan di wajahnya. Melihat itu, Raga yakin telah terjadi sesuatu. Aluna yang dicintainya memiliki cinta yang sama besar. Dan mereka sudah berjanji untuk hidup bersama. Bertahun-tahun mengenalnya, Raga yakin jika ada hal yang membuat Aluna melakukan hal ini. Ia harus mencari tahu. Brama mendengus, saat ini ia sedang berusaha untuk menetralkan suasana hatinya. Ia pun marah pada Raka, dan tak menyalahkan Raga karena telah memukul anak sambungnya itu. Karena apa yang dilakukannya sungguh sangat keterlaluan. “Raga, tenanglah dulu. Kita bicarakan baik-baik.” Brama berusaha untuk menenangkan putranya. Ia tahu bagaimana perasaannya. Namun, kekerasan juga bukan jalan yang terbaik. Raga balik menatap papanya, “Tenang? Bagaimana aku bisa tenang, jika kekasihku menikah dengan adikku!” “Papa tahu, Papa sangat mengerti perasaanmu. Asal kau tahu saja, Papa juga tidak tahu apa yang terjadi sampai mereka menikah. Dan gilanya adalah, jika Raka juga ternyata sudah menyebar kartu undangan dan akan mengadakan resepsi pernikahannya dengan Aluna. “Apa?” Aluna pun ikut terkejut mendengarnya, sebab ia pikir jika pernikahannya ini hanya sebatas pernikahan di depan penghulu. Tapi ternyata Raka telah menyiapkan sesuatu yang tidak Aluna tahu. Berapa banyak lagi penderitaan yang sedang menunggunya di depan, jika begini lebih baik ia mati saja. Lebih baik ia mengakhiri hidupnya daripada ia harus melihat Raga menderita dan semakin terluka karenanya. Perasaan bersalah membuat luka menganga di batu Aluna. Bruukkkk Aluna yang memang sedang tak baik-baik saja pun jatuh pingsan. Ia sangat tertekan dengan masalah hidupnya akhir-akhir ini. Ditambah dengan perlakuan kasar dari Raka, yang membuat tubuh lemahnya tak berdaya. “Luna!” Raga pun panik dan langsung menggendong dan membawa Aluna ke kamar. Sejak tadi, Raga lihat kalau Aluna memang sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya ia merawat dulu Aluna, setelah itu ia akan mencari tahu apa yang terjadi. “Massss, maafkan aku …” lirihnya begitu pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD