Pernikahan antara Raka dan Aluna jelas membuat orang tua Raka terkejut. Terlebih yang mereka tahu adalah jika Aluna adalah kekasihnya Raga.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Raka? Apa maksud semua ini, kenapa kau menikah dengan Aluna?” pria yang bernama Brama Shankara itu tengah bertanya pada Raka, yang merupakan anak sambungnya. Dulu ia menikah dengan ibunya Raka, yang bernama Megumi. Pernikahan mereka dilakukan saat Raga dan Raka masih kecil. Dan sebelum masalah ini, kehidupan mereka baik-baik saja. Bahkan mereka hidup dengan damai dan bahagia.
Sedangkan Megumi, ibu sambung yang merupakan ibu kandungnya Raka, wanita cantik itu menunduk malu atas perbuatan putranya. Bisa-bisanya ia menikah dengan wanita yang sangat dicintai oleh Raga, kakaknya.
“Memangnya kenapa kalau aku menikah dengannya, tak ada larangan apapun. Raga saja tak memiliki hubungan resmi dengannya.” jawaban Raka, dengan angkuhnya.
Megumi maju dan mendekat pada Raka.
Plaaaaakkkk …
Sebuah tamparan ia layangkan pada putra kesayangannya, “Kau benar-benar membuat Mama kecewa, Raka. Apa yang kau lakukan? Kau tahu jelas kalau Aluna adalah kekasih kakakmu. Tapi apa ini? Mama tidak mau tahu sebelum Raga tiba ceraikan Aluna, dan anggap semua ini tidak pernah terjadi!”
“Tidak!” Raka langsung menolak permintaan ibunya, “Kenapa aku harus melakukannya?”
“Raka!” bentak Brama.
Tatapan Raka kini ia tujukan pada pria yang selama ini membesarkannya, pria yang selama ini menjadi ayahnya dan membesarkannya layaknya anak sendiri. “Apa karena aku bukan anak kandung Papa, jadi aku harus mengalah?”
“Raka, Papa tidak pernah membeda-bedakan antara kau dan Raga. Papa sangat menyayangimu sama dengan kakakmu, Papa …”
“Lalu kenapa selama ini harus aku yang mengalah?” Raka maju dan mendekati Brama, “Aku sadar kalau aku memang hanya anak sambungmu, Pah. Untuk itulah selama ini aku selalu mengalah karena, aku sadar diri.”
“Astaga, apa yang kau katakan?” Brama merasa tak pernah membeda-bedakan kedua putranya. Begitu juga dengan Raka, ia berkata seperti itu hanya untuk berdalih agar kedua orang tuanya tak menyalahkan dirinya.
Brama mengusap wajahnya kasar, entah apalagi yang harus ia katakan pada Raka. Karena perkataan Raka padanya seolah menunjukkan bahwa ia adalah seorang ayah yang tidak adil pada putranya.
Megumi melihat Aluna tengah menangis di sudut ruangan, ia hanya bisa diam dan tak mampu mengatakan apapun. Karena sepatah kata saja terucap dari mulutnya. Maka ia harus bersiap untuk kehilangan ibunya, karena Raka tidak sedang main-main. Hanya dengan menekan ponselnya maka nyawa ibunya akan melayang.
“Aluna, katakan sesuatu.” Megumi memegang kedua bahu gadis ini. Terasa getaran dalam tubuhnya, dan ia tahu kalau Aluna sedang sangat ketakutan. Lalu tatapannya ia kembali tujukan pada Raka, “Apa yang kau lakukan padanya, Raka?”
Raka hanya mengangkat bahunya acuh, ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan ibunya. Yang ia lakukan malah justru menarik tangan Aluna dan akan membawanya ke kamar.
“Raka!” panggil Brama.
“Aku ingin istirahat, Pah.” jawabnya lalu kemudian ia pergi membawa Aluna.
“Ya Tuhan …”
Megumi mendekati suaminya lalu memegang tangan Brama, “Mas, bagaimana ini? Bagaimana dengan Raga nanti?”
Brama melepaskan tangan Megumi, “Entahlah,” jawabnya kemudian berlalu pergi.
Megumi menghela nafas panjang, “Apa yang anak itu lakukan? Sebenarnya apa rencananya?” Megumi jadi kesal, tapi entah pada siapa ia harus marah. “Raka tidak mungkin melakukannya tanpa sebab, apa mungkin mereka telah melakukan sesuatu?” ia menutup mulutnya. “Atau apakah Aluna tengah menggodanya? Astaga … sudah aku duga kalau Aluna memang bukan gadis baik-baik.” ucapnya lalu kemudian pergi menyusul suaminya.
-
-
Brukkk
Dengan kasar Raka mendorong tubuh Aluna sampai tersungkur, “Meski kau sudah menjadi istriku. Jangan harap kalau aku akan memperlakukanmu layaknya seorang istri, bagiku kau hanya sampah kotor yang tak layak di sampingku!”
Aluna bangun, meski tubuhnya begitu sakit karena entah berapa kali pria ini mendorongnya sampai terjatuh dan tersungkur. Ia tak akan pernah mau harga dirinya diinj4k oleh Raka, pria jahat yang memanfaatkannya demi hal yang Aluna sendiri tidak mengerti.
Ia tersenyum sinis, “Jadi, aku hanya sampah untukmu?” Aluna menggelengkan kepalanya, “Kalau aku adalah sampah, lalu kenapa kau menikah dengan sampah? Apa karena hatimu busuk seperti sampah, hingga kau menganggap kalau aku ini adalah wadah sampah untukmu?”
Plakkkkk …
Raka tak segan untuk menyakiti Aluna, pipinya terasa perih. Ujung bibirnya bahkan robek dan terluka akibat pukulannya yang yang kejam.
“Jaga mulutmu! Bagiku, kau hanya ja-lang yang tidak berharga. Tapi kau cukup berguna untuk membuatku bahagia.” ucapnya lalu ia pergi meninggalkan Aluna untuk membersihkan tubuhnya. Baginya berdekatan dengan Aluna dan bahkan sejak tadi ia menyentuh untuk menyakitinya, ia anggap sebagai sebuah sentuhan kotor yang harus dibersihkan.
“Dasar brengs3k!” umpat Aluna.
-
-
Keesokan paginya
Aluna terbangun dengan tubuh lemah, kelelahan dan juga siksaan yang didapatkannya dari Rama membuat ia tak enak badan. Apalagi semalaman ia hanya tidur di lantai tanpa beralaskan apapun. Tubuhnya yang menggigil, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah siraman air di wajahnya.
Raka menyiram wajah Aluna dengan segelas air, “Bangun!”
Dengan lemas Aluna bangun, wajahnya pucat, tubuhnya demam. Tapi Raka sama sekali tidak peduli.
“Cepat bersihkan tubuhmu, berdandanlah yang cantik. Karena kekasihmu tercinta sebentar lagi akan tiba.” senyuman penuh dengan ejekan ia tunjukkan pada Aluna. “Oh astaga … air matamu membuatku sangat bahagia.” pria jahat itu lalu tertawa dan pergi meninggalkan Aluna.
Tangis Aluna pecah, seberapapun ia bertahan dan mencoba untuk kuat. Jika ia harus berhadapan dengan Raga, ia sungguh tidak sanggup.
Gegas ia bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama ia berada di sana, tubuhnya yang menggigil tak kuat berlama-lama berada disana.
Aluna melihat ada gaun indah yang tergeletak diatas ranjang, juga satu paket makeup yang telah disiapkan oleh pelayan atas perintah Raka.
Namun, hanya pakaiannya saja yang ia kenakan. Ia tidak mau merias wajahnya. Biarlah ia terlihat berantakan di depan Raka dan semua orang. Itu adalah bukti dari penolakan dan juga bantahannya terhadap Raka.
Bisa Aluna lihat, tampilan wajahnya terlihat sangat pucat. Ia memang sedang tak enak badan. Bahkan luka di pipi dan bibirnya tampak sangat jelas. Jika sikut dan lututnya yang memar terlihat jelas di kulit putihnya. Ia tampak sangat menyedihkan.
Setelah selesai berganti pakaian dan menyisir rambutnya yang masih agak basah. Aluna keluar dan turun untuk berkumpul bersama dengan keluarga barunya.
Rumah mewah ini terasa seperti neraka baginya, ia menghela nafas panjang. Lalu melanjutkan langkahnya, sampai suara seseorang yang sangat ia rindukan terdengar lembut menyapa indera pendengarannya.
“Aluna…”
Deghhh …
Aluna berbalik dan melihat ke belakang dengan pelan, sesosok tubuh tegap sedang berdiri di belakangnya, wajahnya yang tampan tengah tersenyum manis, dan matanya yang indah tengah menatapnya dengan hangat.
“Sayang …” Raga pulang, ia tiba pagi ini. Sejak kemarin ia tak bisa tenang dan terus mengingat Aluna. Ia takut terjadi sesuatu padanya. Sebab nomor ponselnya tak bisa dihubungi sampai sekarang.
Bagaimana bisa dihubungi, jika ponselnya saja telah hancur dilempar dan di injak oleh Raka.
Aluna terpaku saat melihat Raga, tubuhnya membeku saat pria itu memeluknya. “Aku sangat merindukanmu, Sayang.”
“M-mas …” air mata Aluna meleleh, begitu banyak penyesalan yang dirasakannya sekarang. “Kenapa baru pulang?” lirih Aluna pelan, seandainya Raga tidak pergi, seandainya Raga pulang lebih awal mungkin mimpi buruk ini tidak akan terjadi. Seandainya … seandainya … semua kata itu berputar dalam kepala Aluna sekarang. Sambil menangis tersedu-sedu ia memeluk Raga.
“Hei … ada apa? Kenapa menangis? Apa terjadi sesuatu? Tubuhmu juga panas, apa kau sakit?” Raga melepaskan pelukannya dari Aluna dan memegang kedua pipinya. “Kau demam, apa yang terjadi padamu?” Raga baru menyadari kalau Aluna terluka di beberapa bagian tubuhnya.
Aluna tak mampu berkata-kata apa-apa, ia hanya menangis sebuah tangisan yang seolah sedang mengadukan rasa sakitnya pada Raga.
“Katakan padaku, apa yang terjadi?” perasaan Raga mendadak tak nyaman, apa terjadi hal buruk selama ia pergi. Ternyata firasatnya benar, telah terjadi sesuatu pada Aluna.
“Lepaskan tanganmu dari istriku!” Raka datang dan berteriak pada Raga.