Anin kehilangan semua angannya. Tempat ini area peperangan antara manusia dengan nafsunya, Anin terngiang ucapan ustaz baru saja. Kini suara ustaz tersebut masih terdengar di sela tunggu percakapan antara Anin dan suaminya. Sesuatu belum benar-benar berubah di antara mereka. Hadid masih belum bersedia makan satu meja dengannya. Anin masih harus berusaha lebih jauh mengetuk pintu hati suaminya. "Mas...!" "Pilih, Nin!" bentak Hadid terdengar. Anin mengusap dadanya yang seakan tersentak jatuh bebas. "Anin ke kamar," jawab Anin langsung membawa langkahnya. "Radio." Hadid mengingatkan sambil bergerak duduk di kursinya. Anin mengambil benda itu lalu memboyong serta suara ustaz berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya. Apa hikmah yang ia dapat dari beberapa detik kebersamaan dengan Hadid

