Ada kamar Anin di sebelah, kutip Anin dalam bekunya. Begitu tadi kalimat suaminya meluncur kepada Furqon, di depan Anin, di depan Furqon. Suara gebrakan pintu yang Hadid tutup menggunakan kakinya juga mengirimkan nyeri tak terkira bagi batin Anin. Harga dirinya lebur sebagai perempuan dan istri. "Nin," panggil Furqon lagi. Anin menggulung bibirnya demi menahan desakan air mata. Laki-laki yang berdiri di depannya bukan lagi siapa-siapa bagi Anin. Dulu memang dia pernah begitu membuat Anin terbuai dalam jebakan syaitan, tapi itu dulu. Itu dulu yang tak akan pernah Anin ulang kembali. "Anin, aku nanya ... di mana salepnya?" ulang Furqon pelan-pelan. Anin tak suka kehadiran laki-laki ini. Anin tak ingin dia ada di tempat ini dan menambah kacau semua usahanya untuk mendekatkan diri kepada H

