58 🦋

1108 Words

Anin syok saat mendengar suara mobil suaminya datang. Gegas perempuan itu memasang lipstik lalu lari ke pintu untuk menyambutnya. Namun, Anin dipaksa heran melihat kedatangan madu dan suaminya yang berbarengan. Terlebih lagi, Kiya yang sesenggukan bekas tangis. Gadis sembap itu hanya menunduk saat melewati Anin dengan bungkusan yang dibawanya. Anin kemudian beralih kepada suaminya dan tersenyum, “Hari yang berat, ya?” Hadid membalas senyum istrinya. Meski hanya sanggup memberi ukiran lemah yang melengkung singkat, Hadid cukup senang karena sambutan manis Anin. “Temani Mas ke kamar, Nin,” pintanya. Anin mengangguk, “Mau Anin pijat, Mas?” Hadid suka tawaran itu, tapi tidak mau disiksa karena godaannya. Saat ini pikiran Hadid sedang terngiang bekas pembelajarannya kepada Kiya tadi. Hadi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD