Anin membeku tak bergerak. Ia beberapa saat itu tak bisa bernapas seakan dunia berhenti di sisinya, sampai Hadid bangkit meninggalkan Anin di atas sajadahnya. Anin tak mengharapkan semua ini. Bukan begini doa-doa yang Anin panjatkan satu tahun terkahir. Bukan, sama sekali bukan. "M-mas...!" panggil Anin pelan. "Kamu tau artinya, Nin," ujar Hadid tak menggubris perasaannya. Haura segera melesak masuk berlari memeluk kakaknya. "Sudah, Mbak. Sudah," bisik Haura lirih penuh kesedihan dan air mata. "Dia tidak mengatakannya," ujar Anin tak ingin percaya. "Aku salah dengar." "Mbak Anin...!" seru Haura mengguncang tubuh Anin. "Udah, Mbak." Anin pasrah. Haura membuktikan bahwa yang sedang dihadapi Anin adalah kenyataan paling pahit dalam hidupnya. Anin seketika merasa lelah juga kalah. "Yaa A

