Keesokan paginya, suasana rumah besar di kawasan Jakarta itu masih diselimuti keheningan yang sama. Namun, kali ini bukan hanya para pelayan yang gelisah. Di tengah ruang makan, Madiev duduk diam dengan sepiring nasi goreng yang nyaris tak disentuh. Bocah 6 tahun itu memang bukan anak cerewet, tapi pagi ini, wajahnya tampak lebih muram dari biasanya. "Mba sari," katanya lirih sambil menoleh ke arah pelayan rumah yang paling ia percaya, "Kak rayya kenapa sih nggak keluar kamar terus?" Bu Sari terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ia melirik ke arah tangga, lalu membungkuk sedikit untuk menatap Madiev sejajar. “Kak rayya, mungkin lagi capek, Nak. Lagi butuh waktu sendiri.” Madiev mengerutkan kening. “Ayah marah, ya?” Belum sempat Bu sari menjawab, David muncul dari arah koridor dalam, ma

