[2] ALENA - Hadiah Ulang Tahun Ke-20

1865 Words
Sudah seharusnya aku senang karena tengah malam nanti aku akan menginjak umur 20 tahun, tapi entah mengapa aku terus merasa gelisah. Sekarang pukul 22.00 dan aku masih terjebak di kampus. Aku tidak sendirian, masih ada beberapa panitia acara yang berseliweran di sekitarku. Kami sedang menyiapkan keperluan untuk acara teater dua hari lagi. Jadilah aku lembur di sini. Sudah beberapa kali aku menguap sambil menggunting kertas hiasan dinding. Selain bosan, aku juga mengantuk. Tak ada yang mengajakku mengobrol karena semuanya sibuk dengan tugas masing-masing. Sial, aku sudah tak kuat lagi. Kuletakkan barang-barangku sekenanya dan menyandarkan punggungku ke dinding. Jari-jariku rasanya mulai kram. Bagaimana tidak? Sudah tiga jam aku terus berkutik dengan gunting dan kertas-kertas sialan itu. Benar-benar pekerjaan yang melelahkan. Saat sedang menikmati istirahatku yang super singkat, cahaya ruangan yang terang itu tiba-tiba meredup. Walau aku sedang menutup mata, aku bisa tahu bahwa ada seseorang sedang berdiri di depanku. Aku membuka mata dan menemukan Chrissy berdiri menjulang di depanku. Dia tersenyum sambil menyodorkan segelas kopi hangat untukku. “Biar nggak ngantuk.” “Thanks.” Aku menerima kopi tersebut dan langsung meminumnya. Chrissy kemudian duduk di depanku dan mengamati kertas-kertas yang berserakan di sekelilingku. “My lord, berantakan banget.” “Begitulah.” Aku menguap lagi. “Tiga jam gue ngurus beginian. Bosen, makanya cepet ngantuk.” “Gue datang di waktu yang tepat ya,” tawa Chrissy. “Anyways, lo mau hadiah apa di hari ulang tahun lo?” Aku paling suka pembahasan seperti ini, apalagi yang menyangkut gratisan. “Gue pengin dapat hadiah yang bisa bikin gue surprised.” “Tiket liburan?” tanya Chrissy mengetuk-ketuk dagunya. Aku mendecak. “Ya nggak jadi feeling surprised kalo udah lo bocorin duluan, Neng!” Chrissy menyengir. “Sekarang sih gue belum kepikiran mau kasih hadiah apa buat lo. Biar gue pikirin dulu deh hadiah apa yang bisa bikin lo surprised.” “Oke! Gue jadi nggak sabar.” Kuretangkan kedua tanganku ke udara, lalu menghirup oksigen banyak-banyak. “Ayo kita selesaikan tugas malam ini biar bisa cepet pulang. Perkiraan gue tiga puluh menit lagi paling udah selesai!” Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa perkiraanku tadi sama sekali tak bisa dipercaya. Nyatanya, aku baru bisa benar-benar menyelesaikan tugasku tepat tengah malam! Astaga, kurasa kantong mataku semakin melebar yang membuatku makin jelek saja. Chrissy berjalan di sampingku dalam keadaan yang sama. Punggungnya bungkuk dengan kedua lengannya mengantung begitu saja. “Hari yang berat.” “Sori ya, lo jadi pulang tengah malem begini,” kataku merasa bersalah. Habisnya, aku sudah meminta Chrissy untuk pulang duluan saja, tapi dia kekeuh menungguku dengan alasan ingin menjadi orang pertama yang menyambut umur 20 tahunku. “Enggak sih, nggak papa.” Dia berhenti melangkah begitu kami berdua sudah berada di depan pagar rumahku. Aku kebingungan melihat dia diam saja. “Kenapa? Jadi nginep di rumah gue, kan?” “Jadi sih, tapi...,” Chrissy mendadak jadi salah tingkah, “gue sungkan sama orangtua lo. Mungkin next time aja ya? Lagipula gue udah puas kok jadi orang pertama yang nemenin lo di umur 20 tahun. Happy birthday, my sweet friend!” Aku terkekeh dan membalas pelukan Chrissy. “Thanks ya udah mau jadi temen gue. Seneng banget gue bisa kenal lo.” “Dah, buruan masuk sana! Besok siang gue jemput, kita pergi ke suatu tempat buat rayain ulang tahun lo.” “Hah? Maksudnya kita bolos kuliah?” Kenapa rasanya terdengar menyenangkan ya? Chrissy mengangguk. “Iya dong! Bolos satu hari aja nggak masalah. Gimana?” “Ya mau, dong!” seruku senang. “Oke, lo kabarin gue ya nanti. Sekarang lo pulang juga. Keburu makin malem.” Lalu mataku menangkap jalanan gelap yang akan dilewati sahabatku itu. “Lo berani? Udah gelap begini. Nginep ajalah.” Dia menggeleng dengan wajah berani. “Nggak papa, lagian udah biasa kok. Rumah gue juga nggak jauh-jauh amat. Ya udah gue cabut deh. See you tomorrow, Len!” Aku melambaikan tanganku dan terus menatap Chrissy hingga tubuhnya termakan gelapnya malam. Setelah itu barulah aku memasuki rumah. Di dalam semuanya sudah gelap, itu berarti orangtuaku sudah tidur. Yah aku juga tak mengharapkan mereka masih bangun tengah malam begini. Aku meletakkan barang-barangku di atas kasur dan kemudian berniat untuk mandi. Tapi entah mengapa, aku tiba-tiba merasa dingin. Oke, untuk aku yang tinggal di negara tropis dengan rumah yang terletak di tengah kota, jarang-jarang banget dinginnya udara bisa mengusikku. Tapi kali ini dinginnya benar-benar menusuk. Kenapa ya, bisikku dalam hati sambil berusaha meredakan bulu kudukku yang merinding. Bodo amat, mungkin efek kecapekan. Jadi begitulah aku menghibur diriku sendiri. Alih-alih mandi, aku justru membelokkan langkahku menuju dapur. Rencananya sih aku akan membuat teh hangat sambil memakan beberapa biskuit. Setelah perasaanku tenang, barulah aku mandi. Tapi ini ... ini benar-benar aneh. Kegelapan yang kurasakan saat berjalan menuju dapur seperti kegelapan yang mengerikan. Aku tak pernah merasa takut berjalan dalam kegelapan, apalagi kegelapan dalam rumahku sendiri. Namun, kali ini aku bisa mendengar detak jantungku yang berpacu cepat, kemudian bisikan lirih di sudut hatiku yang terus mengatakan untuk segera kabur dari sana secepatnya. Oke, ini mulai tak masuk akal. Buat apa aku harus kabur dari rumahku sendiri? Lalu kemudian, aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku barusan. Kakiku tiba-tiba melangkah dalam genangan air yang kental. Aku menunduk sambil mengangkat satu kakiku. Bau anyir langsung menyengat hidungku, membuatku otomatis panik dan mencari saklar lampu. “Jangan dinyalain.” Aku refleks menahan napas begitu mendengar suara asing dari belakang tubuhku. Nadanya datar dan sedikit lirih, tapi mampu melumpuhkan segala tindakanku. Tanganku menggantung di udara, tersisa beberapa senti dari saklar lampu. Napasku mulai menderu tatkala menyadari ada orang asing di rumahku, tepat ketika aku merasa ganjil dengan rasa dingin dan kegelapan yang tak masuk akal. Apa yang terjadi? Apakah rumahku dibajak? Apakah dia pencuri? Atau apakah dia adalah sepupu jauhku yang diam-diam bertingkah aneh hanya untuk merayakan ulang tahunku? Kurasa yang terakhir ini cukup menghibur, walau rasanya tak mungkin banget. Aku tak punya sepupu, begitulah kata orangtuaku dari dulu. Jadi, kemungkinan yang lebih masuk akal adalah rumahku dibajak oleh pencuri. Aku mendecak kesal mengingat perdebatanku dengan orangtuaku masalah pagar rumah kami yang kelewat rendah. Sudah kukatakan berkali-kali bahwa pagar serendah itu tak akan mampu melindungi rumah kami dari orang iseng. Tapi orangtuaku tetap tak peduli. Sekarang semua ucapanku terbukti benar, kan? “Si-siapa lo?” Suaraku bergetar. Aku masih belum berani menoleh ke belakang. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya. Lalu kurasakan dia menepuk bahuku dengan cepat. Inilah saatnya ... inilah saatnya aku akan mati di tangan pencuri ini! “Gue nggak bakal apa-apain lo kalo lo mau ikut gue ke suatu tempat.” Aku meneguk ludahku. “Lo ... mau perkosa gue ya?” “Amit-amit!” serunya, membuatku semakin tegang di tempat. “Nggak usah mikir macem-macem deh. Pokoknya lo harus ikut gue sekarang.” Astaga! Apakah aku akan dijual ke pasar ilegal? Kalau benar begitu, aku pasti akan dimutilasi. Organ-organ tubuhku diambil dan dimasukkan ke plastik bening dengan stiker label “Ginjal Kualitas Premium”. Oke, tenang. Alena tenang. Ini bukan saatnya berpikir yang macam-macam. Keselamatanku saat ini sedang dipertaruhkan. Aku harus cari cara untuk kabur. Tapi sebelum itu, akan kunyalakan lampunya terlebih dahulu, karena perasaanku sudah tak enak saat kakiku menjejaki genangan air itu. “Jangan coba-coba nyalain lampu,” kata cowok asing itu. “Oke, udah gue peringati ya. Terserah lo mau gimana, tapi jangan salahin gue kalo lo syok dengan apa yang akan lo lihat.” Ada pepatah yang dikenal dengan nama Streisand Effect, yaitu di mana ketika kita semakin dilarang, semakin gencar kita melakukannya. Kurasa itulah yang bisa mendeskripsikan tindakanku saat ini. Aku tak lagi mendengarkan peringatan cowok asing itu. Jari telunjukku terus bergerak dan akhirnya menekan saklar lampu. Perkataan cowok asing itu rupanya tak main-main. Apa yang kulihat saat ini adalah bagian dari mimpi terburukku sepanjang hidup. Air yang sempat kuinjak dengan kakiku rupanya berkolerasi dengan bau anyir yang tadi kucium. Darah. ITU DARAH! Darah itu terlihat masih baru dan segar. Alirannya terus menuntun pandangan mataku hingga berhenti di dua tubuh yang kuasumsikan sebagai tubuh orangtuaku. Mereka tergeletak di lantai dengan sangat mengenaskan. Rasanya aku ingin pingsan saking kakiku sudah tak kuat lagi menopang tubuhku. Napasku tersendat-sendat. Tubuhku sakit, rasanya seperti masing-masing bagian tubuhku itu tercecer seperti kondisi kedua orangtuaku. Aku tak lagi bisa mendengar degup jantungku karena suara nyaring di telingaku sudah mendominasi. Ke-kenapa bisa begini? Orangtuaku yang malang kenapa bisa begini?! Akhirnya aku terkulai lemas dengan tubuh siap jatuh dan membaur dengan aliran darah itu. Tapi cowok asing di belakangku itu menangkap tubuhku dengan sigap. “Kan udah gue bilang.” Mendengar suara tanpa rasa bersalah itu membuatku naik pitam. Mataku memerah dengan air mata yang mengalir deras. Tubuh yang awalnya terasa sangat menyakitkan kini mendadak segar bugar. Aku menegakkan tubuhku dengan kekuatanku sendiri, lalu mendorong tubuh cowok dengan keras. “LO APAIN ORANGTUA GUE?!” teriakku histeris. Kulemparkan semua barang-barang yang bisa kulempar ke arah cowok itu. Aku tak peduli jika lemparanku bisa melukainya, karena itu tak sebanding dengan nyawa kedua orangtuaku yang direnggutnya. Namun, cowok itu dengan santai bisa menghindari lemparanku. Aku tak menyerah! Aku berlari ke arah dapur—melewati jasad kedua orangtua tanpa berpikir panjang—dan mengambil pisau terbesar yang digunakan untuk memotong daging sapi. Aku menodongkan pisau itu ke arahnya. “Slow down, dong! Kan udah gue bilang jangan salahin gue kalo lo syok.” Alih-alih merasa takut, cowok itu justru memasukkan kedua tangannya di saku hoodie. “KEMBALIKAN KEDUA ORANGTUA GUE!” bentakku. Kepalaku rasanya mau pecah menyadari situasi yang sedang kuhadapi. Aku tak percaya aku baru saja kehilangan kedua orangtuaku dengan cara yang mengenaskan. Aku kehilangan keluarga satu-satunya. Astaga, apa yang kulakukan selama ini? Kenapa rasanya waktu yang kuhabiskan dengan kedua orangtuaku isinya hanyalah masalah perdebatan pagar dan adu opini tentang klub teater yang kuikuti? Seharusnya aku lebih bisa menghargai waktu sehingga penyesalan ini tak terasa begitu menyakitkan. Cowok itu mengendikkan bahunya. “Itu di luar kemampuan gue. Lagipula yang bisa menghidupkan mereka lagi ya cuma elo.” Apa maksudnya itu? Aku tak menghiraukan perkataannya dan langsung menyerangnya dengan pisau daging di tanganku. Lagi-lagi dia bisa menghindar dengan santai tanpa adanya perlawanan. Hingga akhirnya aku menyerah. Kujatuhkan pisau itu dan menjatuhkan diriku di samping jasad kedua orangtuaku. Lalu aku menangis sejadi-jadinya. Cowok itu berjalan mendekat dan berdiri di belakangku. “Percaya deh, suatu saat lo akan lebih menyesal karena pernah menangisi kedua orang ini.” Aku mengepalkan kedua tanganku di atas lutut. Telingaku panas mendengar semua ocehan tak berperikemanusiaan yang dilontarkan cowok b*****t itu. Aku masih ingin menyerangnya—upaya dalam membalas dendam atas apa yang terjadi pada kedua orangtuaku—tapi aku sudah tak punya tenaga lagi. Seluruh tenaga dan emosi dari dalam diriku terkuras habis. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menangis tersedu-sedu sambil menyesali apa yang terjadi. Aku ingin membentak-bentak seluruh panitia klub teater yang membuatku jadi lembur hari ini. Kalau saja aku tak terjebak dengan gunting dan kertas-kertas sialan itu, aku bisa melindungi keluargaku. Tidak, ini semua salahku. Akulah yang harus membentak diriku sendiri karena gagal menyelamatkan kedua orangtuaku. Jadilah tangisanku kini semakin keras. Cowok b*****t di belakangku itu kembali mengucapkan sebuah kalimat yang mampu menghentikan tangisanku seketika. “Omong-omong, happy birthday, Alena Margo.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD