[3] SEAN - Si Pembunuh c***l

1326 Words
Cewek ini benar-benar kuat. Setelah menangis tersedu-sedu dalam waktu yang cukup lama, kukira tenaganya sudah habis. Ternyata dia masih mampu berdiri tegak dan melayangkan pisau dapurnya padaku secara bertubi-tubi. Dalam kilatan matanya, aku bisa menemukan semangatnya untuk menyerangku seperti T-62. Sambil terus menghindari serangannya, aku mencomot sekotak kue dari atas meja dan mengunyahnya dengan nikmat. “Lo punya potensi,” pujiku. Sambil berderai air mata, cewek itu tak meresponsku dan terus mengejarku sambil mencengkeram pisaunya kuat-kuat. Sampai akhirnya, dia berhenti setelah menabrak satu vas kaca besar di dekat tangga. Aku yang hanya berdiri lima langkah darinya dapat melihat pecahan vas itu menancap di kedua kakinya dan menggores bagian tubuhnya yang lain. Dia terdiam dan menunduk, menatap kedua kakinya yang berdarah. Yah, dapat kusimpulkan saat ini tenaganya sudah benar-benar habis. Karena setelah menunggu untuk beberapa saat, cewek itu terus terdiam di tempatnya tanpa suara, dan tanpa niatan untuk membalut lukanya. Aku akhirnya meletakkan kotak kue itu di atas meja dan berjongkok di dekat kakinya. Dengan cepat kubersihkan semua pecahan vas kaca itu dari lantai, lalu mendongak menatapnya. “Di mana kotak P3K lo?” Cewek itu merapatkan bibirnya sambil memejamkan mata. Buliran air mata masih jatuh membasahi wajahnya yang merah. Tangan kirinya masih mengepal kuat, dan tangan kanannya masih enggan melepaskan pisau dapurnya. Aku mendesah. “Ya udah, gue cari dulu.” Saat aku berdiri dan hendak melewatinya, cewek itu bertanya lirih, “Kenapa lo bunuh kedua orang tua gue? Apa yang lo mau dari kami?” Dia masih dalam posisi yang sama, tak menatapku. “Gue kasih tau alasannya kalau lo bersedia ikut gue ke suatu tempat.” Aku masih mencoba bernegosiasi dengannya agar dia mau kubawa ke mansion. Yah, walaupun aku sudah tahu dia akan menolak ajakanku sehingga aku harus memikirkan alasan lainnya.... “Oke,” jawabnya singkat. Eh? Aku mengerjapkan mata tak percaya. Secepat itu? Kukira bakal panjang proses negosiasinya. “Lo setuju ikut?” tanyaku sekali lagi, memastikan tak salah dengar. “Ya,” jawabnya dengan nada tegas. “Tapi sebelum itu, kasih tau gue nama lengkap lo.” “Sean Owen.” Karena dia tak bertanya lagi, aku melanjutkan langkahku mencari kotak P3K. Setelah mendapatkannya, aku kembali ke tempat Alena tapi cewek itu sudah tak ada di tempat. Sial, masa kabur sih? Kalau cewek itu benar-benar kabur, berarti dia termasuk cewek bodoh karena membiarkan darah dari kakinya merembes meninggalkan jejak dengan sangat jelas. Aku mengikuti jejak darah itu dan berakhir di kamarnya. Ternyata Alena sedang duduk di atas kasurnya sambil menunduk. Tanpa bertanya apa-apa, aku berjongkok di depannya dan mulai membersihkan luka di kedua kakinya. Untuk ukuran manusia biasa, luka itu pasti terasa sangat sakit. Saat aku berusaha mencabut pecahan vas yang tertancap cukup dalam di kakinya, cewek itu hanya menahan napas tanpa mengeluarkan rintihan apa pun. Benar-benar cewek yang kuat. Atau mungkin rasa sakitnya tak sebanding dengan melihat kedua orangtuanya yang mati secara mengenaskan. Setelah membalut luka-lukanya, aku menutup kotak P3K seraya memutar tubuh agar punggungku menghadap ke arahnya. “Mau pergi sekarang?” tanyaku sambil memberi kode padanya untuk naik ke punggungku. Cewek itu mengangguk, lalu mulai melingkarkan lengannya di leherku dan kugendong dia pergi keluar rumah. Oke, dia kooperatif sekali. Agak-agak mencurigakan. Yah, kalau statusku manusia biasa sih aku harus lebih berhati-hati pada setiap detailnya. Berhubung aku makhluk abadi dengan gelar “Makhluk yang Tak Terkalahkan”, aku bisa sedikit santai dengannya. Kecurigaanku ini terbukti saat kami berdua baru berjalan beberapa langkah dari rumahnya. Dia tiba-tiba mengeluarkan pisau—kurasa dia punya banyak pisau cadangan tersembunyi di bajunya, karena pisaunya yang tadi sudah kuamankan—dan siap memotong leherku. Aku mendesah malas. “Lo mau ngapain?” “Dasar bodoh,” hinanya. “Lo pikir gue cewek gampangan yang bisa lo ajak ke mana-mana? Sori-sori aja, gue udah hubungi polisi selagi lo cari obat-obatan tadi. Dan biar gue puas ... lo harus mati sekarang!” Dia mulai menyayat leherku dengan cepat, lalu meloncat turun dari punggungku. Dia tak segera lari, melainkan menikmati pemandangan di mana aku menggeliat secara heboh di atas aspal dengan darah yang bercucuran dari leherku. Saat aku tergeletak tak berdaya, cewek itu mendekat ke arahku sambil menyeringai keji. “Baik-baik di neraka ya.” “Iya, makasih atas perhatiannya,” jawabku santai. Alena terkejut sampai tubuhnya terjerembab ke belakang. Cewek itu mendelik dan menatapku tak percaya. Aku berdiri sambil menepuk-nepuk bajuku yang kotor akibat berguling-guling di atas aspal, lalu mengusap darah di leherku dengan punggung tanganku. Seketika sayatan itu tertutup dan leherku kembali seperti sedia kala. “Kok....” Alena tak bisa berkata apa-apa lagi sampai wajahnya pucat pasi. “Bukannya gue mau sombong atau gimana ya, tapi lo itu bukan tandingan gue,” jelasku dengan nada super pongah. “Jadi, daripada buang-buang waktu, mending lo diem aja dan bersikap kooperatif dengan tulus.” Sirene polisi terdengar saling sahut-sahutan. Rupanya mereka datang dengan cepat. Sebenarnya hal itu bukan masalah, toh aku ini bisa menghilang kapan saja. Tapi berbeda dengan Alena. Walaupun cewek itu sama sepertiku, dia tetap tak bisa berbuat apa-apa selagi belum menyadari jati dirinya sendiri. Lagi-lagi aku yang kerepotan. Dasar Slencey. Harusnya Jemi saja yang diberi misi seperti ini. Menyadari tak ada waktu lagi, aku segera menyentuh puncak kepala Alena dan cewek itu langsung tertidur. *** “Wasseo?” Jemi keluar dari kamarnya saat mendengar pintu mansion terbuka. “Apa sih, wasseo wasseo? Tiap ada yang datang, selalu bilang wasseo,” celetuk Benkichi dari ruang TV sambil bermain PS5. “Itu artinya ‘udah pulang?’. Dasar gamer bodoh, gitu aja pake tanya,” sahut Jemi dengan nada mengejek. Tanpa memedulikan mereka lagi, aku langsung pergi ke kamarku untuk membaringkan Alena yang tertidur. Setelah menyelimutinya, aku memutar badan dan langsung menemukan dua makhluk bodoh yang sudah berdiri di ambang pintu kamarku. “Oh, itu misi yang dikasih Slencey? Beneran bukan martabak ternyata...,” Jemi memberengut sambil berjalan masuk. Saat melihat wajah Alena dengan jelas, Jemi langsung mendelik dan mencengkeram kerahku kuat-kuat. “Kampret lo! Enak-enakan sama cewek cantik selagi gue kelaparan di sini!” “Apa sih?” Aku mengempaskan cengkeraman Jemi dari kerahku. “Kalau mau protes, sana ke Slencey.” “Sialan, dasar Pak Tua curang,” gerutu Jemi. “Yang cantik-cantik selalu dikasihkan ke Sean.” “Itu karena lo jelek aja,” sahut Benkichi dengan ekspresi tenang, tapi nadanya sangat menjengkelkan. Lalu dia ikut-ikutan masuk dan mengamati wajah Alena yang tertidur pulas. “Apanya sih yang cantik? Biasa aja. Masih cantikan Mikasa-chan.” Salah satu penyebab Jemi dan Benkichi sering bertengkar adalah karena perbedaan ideologi hidup masing-masing. Jemi yang doyan banget nontonin drama Korea selalu jengah tiap kali berurusan dengan Benkichi, si gamer handal yang hobi nontonin anime sembari koleksi action figure para waifu-nya. Dasar para maniak bodoh. “Turut berduka cita untuk orang-orang yang haluin karakter 2D. Udah fiksi, gepeng lagi.” Omongan Jemi langsung mengaktifkan serangan tenaga dalam Benkichi untuk menggeplak kepalanya dengan stik PS5. “Sadar diri, dong. Lo bukan manusia aja pake begaya haluin manusia biasa. Yang ada mereka pingsan duluan lihat tampang lo yang begini,” balas Benkichi tak terima. Keributan mereka berdua pelan-pelan mengembalikan kesadaran Alena. Cewek itu menggerakkan kedua tangannya sampai keluar selimut dan merentangkannya di atas kepala. Melihat cewek itu hampir terbangun, aku buru-buru menghadap kedua teman bodohku itu. “Kalian buruan nyamar jadi manusia biasa! Bisa pingsan nih cewek lihat penampilan asli lo semua.” Dengan malas, Jemi dan Benkichi langsung mengubah penampilan mereka menjadi manusia biasa dalam hitungan detik. Kemudian kami bertiga sama-sama menunggu Alena sampai terbangun. Cewek itu menguap lalu membuka matanya perlahan. Pandangannya menyisiri kamarku, kemudian beralih pada Jemi yang menyengir lebar, Benkichi yang berwajah datar, dan terakhir padaku. “Elo?!” tunjuknya padaku sambil memekik keras. Saat dia menyadari sedang duduk di atas kasur, dia mendelik dan cepat-cepat mengintip tubuhnya sendiri di balik selimut. “Ngapain lo bawa gue ke sini dalam keadaan pingsan?! Dasar pembunuh c***l!” Saat itulah kedua temanku spontan tertawa dan membuat ‘Pembunuh c***l’ menjadi nama tengahku. Sialan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD