○7
"Kenapa kau tampak seperti orang gila?" tanya Sasha, kepada Nathan yang sedari tadi terus tersenyum tanpa alasan. Ditatap wajah bos nya itu dengan pandangan geli nya. Dia mengambil tempat duduk di samping Nathan yang sudah berdecak kesal akibat kata-kata nya tadi.
Namun, apa Sasha peduli? Dia sangat tak peduli sekali. Bos nya ini adalah sahabatnya sendiri sejak kecil, dipecat pun tak takut karena dia tahu bahwa Nathan tak akan melakukan hal tersebut.
"Kau mengganggu sekali," ucap Nathan dengan kesalnya.
Sasha tertawa kecil, dipukulnya bahu Nathan dengan cukup kuat, membuat sang empu meringis kecil. Lantas, Nathan menengok dan memberikan tatapan tajam nya kepada wanita yang ada di depannya saat ini.
"Ada apa dengan mu? Tadi tampak bahagia sekali, tapi sekarang justru marah. Apakah kau benar-benar gila?" Sasha mendekatkan wajahnya, memaksa Nathan dengan untuk menjawab pertanyaan dari dirinya saat itu.
Nathan menghembuskan napasnya dengan kasar. "Kau tak perlu tahu," ucapnya, yang semakin membuat Sasha semakin ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya saat ini.
"Ayolah, katakan padaku. Aku janji tak akan memberitahukan rahasia mu kepada siapapun itu," katanya.
"Hilih, beberapa rahasia ku kau beritahu kepada Stella. Lalu, aku percaya dengan mu?"
Sasha terdiam sebentar, memang sulit rasanya untuk dia membujuk Nathan. Seringkali mulutnya tak bisa dikendalikan untuk mengungkapkan rahasia Nathan kepada Stella.
"Aku janji untuk kali ini, aku tak akan membocorkan lagi rahasiamu. Jadi, percaya pada ku, ya." Dirangkulnya tangan Nathan, wanita itu mengelus pelan rahang Nathan, membuat pria itu merasa sangat tak nyaman sekali.
Ingin mendorong Sasha rasanya pun sangat sulit sekali, karena wanita itu memiliki pertahanan yang cukup kuat. Sasha terus merengek dan sangat membuat Nathan tak nyaman.
Dihembuskan nafasnya dengan kasar, dia menarik dengan kencang tangan Sasha, membawanya ke ruang kerja nya, agar rahasia ini tak dapat diketahui oleh siapapun.
"Jangan kasar-kasar," kara Sasha, dia mengelus pelan tangannya yang sedikit terluka akibat tarikan dari sahabatnya itu.
Kini, mereka sudah ada di ruang kerja, Sasha duduk tepat di depan Nathan yang sedang mengambil sebuah foto. Diberikan foto itu kepada Sasha, membuat wanita itu kebingungan.
Matanya membelalak terkejut saat dia melihat foto dua pria dengan jas yang terpasang dengan rapinya.
Satu pria dikenalnya dengan baik, tak lain tak bukan adalah Nathan sendiri. Sementara itu, satu pria lainnya itu adalah salah satu pengusaha terkenal di negeri ini.
Arka.
"Kau berteman dengan pengusaha kaya ini?!" ucapnya dengan heboh, nada suaranya yang cukup tinggi, berhasil membuat telinga Nathan terasa nyeri. "Gila, bahkan kau tak pernah mengatakan hal ini kepada ku," lanjutnya.
"Kami dulu satu universitas dan aku cukup mengenalnya dengan baik. Kau tahu, tadi dia kesini dan pandangannya hanya tertuju pada satu wanita."
"Siapa? Aku?" tanya Sasha dengan menunjuk ke arah dirinya sendirinya.
Satu majalah terlempar sempurna di wajah Sasha.
"Mengapa kau melemparku?"
Nathan menghembuskan napasnya dengan kasar, cukup sulit ternyata berbicara dengan wanita hiperaktif seperti Sasha disaat seperti ini.
"Dia suka sama Stella, itulah perkiraan ku."
"Hah!" Langsung saja Sasha membangunkan tubuhnya, mulutnya yang ternganga dengan lebarnya, membuktikan bahwa saat ini dia benar-benar merasa sangat terkejut akibat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Nathan saat itu. "Dia suka sama Stella? Apakah hanya suka? Atau cinta?"
Nathan terdiam sebentar. Wajahnya sangat lesu sekali, seperti ada yang dipendam nya saat ini. "Pria angkuh dan otoriter seperti Arka sangat sulit menyukai seseorang. Tatapannya tadi, aku tangkap dan sepertinya, dia sangat tergila-gila kepada Stella atau kata lainnya, dia terobsesi dengan Stella."
"Dia berbahaya?"
Nathan menganggukkan kepalanya. "Ya, dia jauh lebih berbahaya dari apa yang kau duga."
"Apakah hidup Stella akan jauh lebih hancur nantinya jika dia bersama dengan Arka?"
"Aku tak tahu, selama ini aku tak pernah melihat Arka jatuh cinta pada seseorang sejak sebuah kejadian. Jadi, aku tak dapat membayangkan bagaimana Arka nanti memperlakukan Stella." Pria itu menegakkan tubuhnya, dia mendekati tubuhnya dengan tubuh Sasha, laku membisikkan sesuatu hal, "Jadi, saat ini aku minta pada mu untuk menjaganya dengan baik."
***
"Aku pulang dulu, ya." Stella berucap seraya memakai sebuah tas yang biasa dibawanya. Di tengoknya Sasha yang saat ini tengah melamun, kepalanya menggeleng pelan, sepertinya sahabatnya ini sedang ada pikiran.
Tangan nya memukul dengan sangat kuat bahu Sasha, membuat sang empu langsung terlonjak kaget.
Sasha menengok, melihat Stella menatapnya dengan kening yang mengkerut. "Ada apa?"
"Aku ingin pulang dulu, apakah kau tak ingin pulang juga?"
"Tidak, kau saja yang pulang. Ngomong-ngomong, kau pulang naik apa?"
"Tadi aku sudah janjian dengan Andre, nanti dia akan menyusulku kesini."
Tiba-tiba saja, Sasha langsung terdiam dengan tubuh yang menegang. Raut wajah terkejut juga dengan rasa takut, membuat Stella benar-benar kebingungan.
"Sasha ada apa denganmu?"
Sasha menggeleng pelan. "Tidak, aku tak apa-apa. Sekarang, lebih baik kau pulang saja."
Jawaban yang Stella berikan hanya menganggukkan kepalanya. Dia membalikkan tubuhnya, pergi dari tempat itu.
Angin sore ini cukup kuat sekali, rambutnya yang terurai berterbangan akibat angin itu. Senyum nya muncul, setidaknya dia merasa sedikit lebih nyaman saat ini.
Kakinya melangkah dengan pelan, dia menuju ke area parkiran dan di sana, matanya menangkap keberadaan satu pria yang tengah menunggu tepat di depan mobil dengan tangan yang sibuk menari di atas layarnya.
Stella berdeham pelan, berhasil membuat pria itu menghentikan kegiatannya. "Sayang, ayo masuk mobil," ucap Andre dengan sangat lembut, lalu dia membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.
Mobil itu telah berjalan dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan area restoran tersebut. Tanpa mereka sadari, sudah ada satu pria yang telah memotret kejadian itu, saat tangan Stella menyentuh Andre dan keromantisan mereka yang membuat siapa saja akan merasa terkagum-kagum.
"Berhasil," ucapnya.
Disimpannya kamera yang menjadi alat untuk memotret, lalu dia melangkah pergi dari sana. Saat pria itu akan masuk ke dalam mobilnya, sebuah tangan menyentuh bahunya, membuat pergerakannya langsung terhenti.
Dia menengok, melihat seorang wanita yang saat ini menatapnya dengan tajam.
"Apakah kau suruhan dia?" ucapnya, wanita itu adalah Sasha.
Senyum tersungging di wajah pria itu, tak merasa takut ataupun tertekan saat ini. "Anda tak perlu tahu." Cepat-cepat, dia masuk ke dalam mobilnya, tak ingin rasanya dia memberitahu sedikit tentang rahasia kehidupan tuan nya kepada orang yang dianggap asing.
Sementara itu, Sasha hanya bisa menggeram kesal.
"Sialan, ternyata dia bergerak jauh lebih cepat."