Waiters

1007 Words
Sedari tadi, Stella tak begitu fokus dengan pekerjan yang ada di depannya. Dia terus saja melamun, teringat akan ucapan dari Tika yang membuatnya kebingungan. Satu hal yang Stella takutkan adalah, saat semua rencana kakaknya itu diketahui okeh orangtunya dan kakaknya itu justru berdalih bahwa dirinya lah penyebab ada party di rumah itu. Mereka, akan selalu menggunakan dirinya untuk menjadi tempat perlindungan. Fakta itu sungguh menyebalkan sekali. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar, kali ini, dia hanya bisa berharap bahwa semua yang terjadi nantinya, tak akan berdampak apa-apa untuk dirinya sendiri. Ya, setidaknya itulah yang diinginkannya. Wanita itu mulai membangunkan tubuhnya. Dia menengok, melihat Sasha yang sedari tadi terus memperhatikannya. Matanya berkedip beberapa kali, baru menyadari bahwa sudah ada Sasha di sini yang sungguh mengagetkan nya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Stella. Sasha yang sebelumnya sedikit menunduk untuk memperhatikan Stella, segera menegakkan tubuhnya. "Kau tampak cemas saja dari tadi, apa yang kau khawatir kan?" Sepertinya, Sasha sudah memperhatikan dirinya sejak tadi. Kepalanya menggeleng sebagai jawabannya. Sebisa mungkin, Stella menunjukkan reaksi yang santai, agar Sasha bisa mempercayainya. Stella sangat tahu, bahwa Sasha sering sekali membaca ekspresi seseorang dengan mudahnya. "Tidak ada yang aku khawatirkan saat ini, hanya saja mood ku sangat buruk, hingga rasanya aku tak bisa fokus bekerja hari ini." Stella mengungkapkan alibi nya dan saat ini, dia hanya bisa berharap kalau Sasha akan mempercayai apa yang baru saja dikatakannya itu. Sasha mengangguk pelan, lalu wanita itu membalikkan tubuhnya, pergi dari sini, membuat Stella benar-benar merasa sangat lega. Dielus pelan dadanya dan dia mulai melanjutkan lagi pekerjaannya, yaitu membersihkan beberapa meja di sini yang terlihat sangat kotor sekali. Bunyi lonceng yang mengartikan bahwa saat ini ada tamu yang datang, membuatnya langsung menoleh. Matanya melihat pada seorang pria bertubuh besar dengan pakaian kaus juga celana pendek. Terlihat sekali kalau pria itu baru selesai olahraga. Stella menerbitkan senyum datar nya. Dia adalah bos nya, pria muda yang tampan juga cukup ramah kepadanya. Pria itulah yang membantunya selama ini, dalam bidang perekonomian nya. "Bagaimana? Apakah hari ini ramai di restoran?" tanya dia. Lantas, Stella menganggukkan kepalanya, sebagai jawabannya sendiri. "Ya, Tuan Nathan. Tadi di sini sangat ramai sekali." Nathan mengangguk pelan. "Baguslah kalau begitu. Tolong sekarang siapkan sandwich spesial untukku juga air putih. Kebetulan aku belum sarapan." Mendapatkan perintah dari bos nya itu, Stella langsung bergerak untuk menyiapkan sandwich dan juga segelas air putih yang hangat. Disajikan makanan itu ke atas meja. "Terimakas---" Ucapan dari Nathan langsung berhenti saat dia melihat ke arah pintu, keningnya tampak mengerut seraya memandang objek yang baru saja masuk ke dalam restoran nya ini. Satu alis Stella menukik naik, merasa keheranan atas reaksi yang ditunjukkan oleh bos nya ini. Dia memilih untuk menengok, melihat pada dua orang tamu yang rasanya tak asing di matanya. 'Bukankah mereka adalah orang yang kemarin datang?' Stella cukup mengenal mereka, kata Sasha mereka adalah orang yang berpengaruh, membuatnya harus benar-benar hormat dan tak melakukan sedikitpun kesalahan dengan mereka. "Saya akan kembali ke dapur, Tuan." Nathan memberikan anggunkan kepala sebagai jawabannya. Tatapan pria itu masih jatuh akan kedatangan Arka dengan sekretarisnya itu. "Tak mungkin mereka datang tanpa alasan," gumamnya. Dia menaikkan bahunya dan sedetik kemudian, sebuah senyum muncul di wajah tampannya itu. Tubuhhya terangkat, dia menghampiri mereka. "Helo, Friend," sapanya. Dia mengambil tempat duduk di depan Arka, melihat wajah pria itu yang tampak datar saja sedari tadi. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arka dengan sinis nya. "Astaga, Arka. Apakah kau lupa jika aku pemilik dari restoran ini," ucapnya dengan heboh. Nathan menatap Arka yang sedang memandang ke arah lain. Dia mengikuti arah pandang pria itu dan menemukan Stella yang saat ini tengah membersihkan meja lainnya. Keningnya mengerut, mengapa temannya itu menatap salah satu pekerjanya dengan begitu? Dia tahu bagaimana Arka sebenarnya, pria itu tak akan mudah menatap seorang wanita dengan lekat seperti itu. Apa jangan-jangan .... Sebuah seringai muncul di wajahnya, berdeham pelan, dia menengok. "Stella, sini!" Panggilan dengan nada tinggi itu berhasil membuat Stella menengok. Wanita itu mengangguk dan langsung menghampiri Nathan. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Nathan melirik sejenak ke arah Arka. "Kami ingin memesan nasi goreng seafood juga steak, dengan minuman kopi dan air putih," ucapnya. "Baik, Tuan." "Aku ingin kau yang mengantarkannya ke sini, ingat itu Stella." "Ya, Tuan." Wanita itu mulai melangkah, pergi dari sini. Lalu, Nathan mulai menatap dengan seriusnya Arka. "Apakah kau menyukainya?" Tak ada balasan sementara dari Arka yang membuatnya benar-benar merasa geram saat itu kepada temannya itu. "Hey, sahabat mu ini sedang berbicara bodoh!" Nathan mengungkapkan kekesalannya. "Kau tak perlu tahu, Nathan," ucapnya. Nathan berdecak pelan. Dia memilih untuk diam, sampai pada suatu saat, Stella datang dengan membawa satu nampan makanan yang tadi dipesannya. Pria itu memperhatikan Stella dengan lekatnya, wanita itu memang benar-benar cantik, seperti wanita Chinese pada umum nya. Hanya saja, tubuhnya yang kurus dengan warna kulit putih pucat nya itu, sangat menganggu. "Stella, duduk di samping saya," ucap Nathan, yang berhasil membuat Stella terkejut mendengarnya. "Tapi, Tuan---" "Cepat, Stella." Stella mengangguk, wanita itu mengambil tempat duduk tepat di samping Nathan. Sungguh, rasanya saat ini dia merasa sangat canggung sekali, dengan ada tiga pria disekelilingnya. Kepalanya menunduk, merasa sangat tak nyaman sekali dengan tatapan lekat dari pria yang ada di depannya saat ini. "Perkenalkan, dia Stella, salah satu waiters di sini." Dirangkulnya tubuh Stella, membuat sang empu terkejut, karena ini adalah kali pertamanya Nathan menyentuhnya seperti ini. Stella berdeham pelan, dia menggeser tubuhnya, agar rangkulan dari bos nya itu tak semakin erat. Sungguh, dia merasa sangat tak nyaman sekali berada dalam situasi seperti ini. Apalagi, tepat di depannya, ada Arka yang terus menatapnya dengan sangat lekat. Bibirnya digigit dengan sekuat mungkin, agar keresahan yang tengah dirasakannya saat ini, cepat pergi. Sementara itu, Nathan mengeluarkan seringai nya saat dia melihat lebih jelas tatapan membara dari Arka. Hatinya merasa sangat puas sekali, karena dia merasa sudah membangunkan singa yang tengah tidur. "Nathan, alangkah baiknya biarkan dia pergi dari sini," ucap Arka dengan tenang, ada yang tahu bahwa saat ini, tangannya sudah mengepal dengan sangat kuat, menunjukkan kemarahnnya. Kepada Nathan. *Tadi ada kesalahan update, ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD