Pergi

1001 Words
Seperti biasanya, setiap malam Stella akan membuatkan makanan untuk kekuarganya dia menyajikan makanan dengan serapih mungkin, agar tak mendapatkan nilai negatif tepat di depan mereka. Napasnya berhembus dengan lega setelah makannya jadi. Dia mulai mengangkutnya, hendak membawa menuju ke dapur. Dilihatnya, di sana sudah ada keluarga nya yang mungkin tengah menunggu makanan ini. Harapan Stella untuk malam ini, agar keluarganya berada dalam suasana hati yang baik. Dia tak ingin lagi menjadi bahan pelampiasan untuk mereka, sudah cukup kemarin-kemarin saja. Ditaruhnya makanan itu ke atas meja, berusaha untuk tak membuat kesalahan yang bisa menyebabkan mereka menjadi mengamuk kepadanya. Untungnya, mereka semua pada fokus ke ponsel masing-masing, hingga tak ada seorangpun yang menyadari keberadaan mereka. "Ekhem." Reza berdeham, dia menaruh ponselnya di atas meja, membuat istri juga anak-anak yang lainnya tadi tampak sibuk, kini justru langsung menaruh ponselnya. Kaki Stella melangkah mundur, dia rasa ini sudah waktunya untuk keluar dari ruang makan. Ikut makan malam bersama? Jangan harap, mereka tak akan membiarkan sampah ini duduk di kursi mahal tersebut. "Stella tunggu." Langkah wanita itu langsung berhenti. Dia membalikkan tubuhnya dan mulai mendekat lagi ke arah mereka. "Ada apa, Ayah?" "Besok Ayah dan Ibu ingin pergi ke luar negeri dan kau harus menjaga rumah ini dengan baik. Jika kami pulang dan melihat rumah ini berantakan, maka hukuman akan kau dapatkan." Ditelannya ludahnya dengan kasar, sungguh dia merasa sangat takut sekali saat dirinya mendapatkan ancaman seperti itu dari ayahnya. Apa yang dikatakan ayahnya tak pernah main-main. Tentu sangat mudah untuk Stella menjaga keamanan dan kebersihan tempat ini, hanya Saga ada Tika dan Lia yang akan menganggu dirinya di sini dan akan playing victim bahwa dirinya lah yang membuat rumah ini berantakan. "Dengar kau, Stella!" Clara berucap dengan nada tingginya, membuat Stella langsung tersadar dari lamunannya. Lantas, Stella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dia. "Sudah pergi sana!" usir Clara. Tak ingin mendapatkan masalah dengan ibu tirinya itu, langsung saja Stella melangkah pergi dari sana. Kakinya sudah gemetar takut saat itu dan sebuah firasat buruk datang dalam dirinya, membuatnya jadi tak tenang. Kepalanya menggeleng pelan. Sebisa mungkin, dia menenangkan hatinya saat ini dan tak lagi memikirkan beberapa masalah nya yang terbilang sangat rumit sekali. "Semoga saja Kak Tika dan Lia tak membuat masalah." Dia menghembuskan napasnya dengan kasar, wanita itu lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya. Keningnya mengerut saat dia mencium aroma aneh di dalam kamarnya ini. Seperti aroma mint. Tapi, Stella sangat yakin bahwa dirinya tak memiliki parfum atau wewangian lainnya yang memiliki aroma mint seperti ini. Bahunya terangkat, berusaha untuk tak memikirkan kejanggalan itu. Rasa lelah dan kantuknya sudah menjadi beban dalam dirinya, membuat dia ingin cepat-cepat tidur malam ini. Wanita itu mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat pendek itu, tak terasa empuk, tapi karena Stella sudah terbiasa tidur di situ, jadi dia bisa lebih menikmati tempat tidurnya itu. Matanya yang memberat mulai tertutup, kesadarannya sudah habis, dia tertidur dengan sangat nyenyak di atas ranjangnya. Tangannya yang panjang itu, tampak memeluk sebuah guling, menjadi teman tidurnya malam ini. Sampai pada suatu saat, jendela yang terbuat dari kayu rapuh itu terbuka dengan mudahnya, meski sudah dikunci hanya menggunakan paku saja. Seorang pria muncul dari luar, pakaian yang dikenakannya adalah kaus hitam dengan celana jeans hitam juga, topi terpasang, dengan kaca mata juga masker yang menutupi seluruh wajahnya. Tatapannya jatuh ke arah seorang wanita yang kini tengah tertidur di atas ranjang. Suara jejak kakinya yang mengisi keheningan di kamar ini, tak mampu membuat wanita yang ada di dalam kamar itu terbangun. Napasnya yang teratur dengan tak ada gerakan tubuh, membuat pria itu yakin bahwa Stella sudah benar-benar tidur. Pria itu berjongkok, dia melihat lebih lekat lagi pada seorang wanita yang ada di depannya saat ini. Tangannya terangkat, menurunkan masker yang membuat kumis tipis juga bibir merah nan tebal terlihat dengan jelas. Senyum tersungging di wajahnya saat dia melihat wanita cantik itu, rasanya hatinya sangat tenang sekali saat ini. "Wajah mu terlihat kelelahan sekali," ucapnya seraya tangan dia bergerak, menyentuh area bawah matanya yang menghitam. Lalu tangannya bergeser, menyentuh bibir Stella yang terlihat pucat sekali. Kepalanya menggeleng pelan. "Kau akan cepat-cepat keluar dari penderitaan ini, maka percayalah padaku," ucapnya. Dikecupnya pelan kening wanita itu, ingin rasanya saat ini dia tidur bersama dengan Stella, hanya saja saat matanya melihat kasur Stella yang sudah hampir rusak itu, membuat niatnya langsung dikuburkan. "Kau akan merasakan bagaimana nyenyak nya tidur di atas ranjang empuk suatu hari nanti, percayalah itu." Dia beranjak. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, terlebih dahulu matanya menatap ke arah sudut ruangan, di mana sudah ada sesuatu yang disimpannya. Dia pergi dari tempat tersebut dengan bersiul pelan. Tak ada seorangpun yang akan curiga kepadanya, permainan nya cukup pintar dan baik, dia tak akan membiarkan seorangpun menghancurkan semua rencana nya saat ini. "Malam yang indah," ucapnya seraya menatap ke arah bulan yang bersinar terang. *** Stella menatap kedua orangtunya yang saat ini tengah disibukkan dengan menyiapkan beberapa koper yang akan dibawa ke luar negeri. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar, bahkan saat hari sudah berubah, dia tetap saja merasakan keresehan di dalam hatinya. Sungguh, wanita itu merasa sangat takut sekali kalau Tika dan Lia akan membuat masalah. Hatinya hanya bisa berdoa kepada Tuhan saat ini, agar kedua kakaknya itu tak kumat dan membuat masalah. Setelah Reza dan Clara pergi dari rumah ini, dapat dia dengar suara serokan dari para saudaranya itu, merasa begitu bebas sekali dalam melakukan sebuah aktivitas tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Bibi Sri? Gak mungkin juga pembantunya itu menegur mereka, karena jujur saja, Tika dan Lia begitu angkuh kepada orang yang dirasa berada di bawahnya. Itulah yang Stella ketahui. "Hey, Stella! Cepat bersihkan rumah ini dan hias secantik mungkin, malam ini atau besok, kami akan melakukan party," kata Tiara. Stella terdiam beberapa saat ketika dia mendengar apa yang baru saja dengan apa yang dikatakan oleh Tika tadi. Hatinya ragu, dia tak bisa menuruti apa yang diperintahkan oleh kakak nya itu, bagaimanapun juga orang tuanya melarang untuk melakukan party di tempat ini. "Apakah aku harus menuruti apa yang mereka katakan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD