Seorang pria tampak keluar dari sebuah mobil yang terbilang mewah. Sebuah senyum tersungging di wajahnya saat dia melihat ke arah restoran yang ada di depannya.
Pandangannya tampak sangat fokus ke arah seorang wanita yang kini tengah membersihkan meja dengan kain yang ada di tangannya.
Dia mengancingkan jas kerja nya. Kaki nya langsung melangkah dengan pelan menuju masuk ke dalam restoran. Dia mengambil tempat duduk yang berada dekat dengan jendela. Tempat itu juga cukup strategis, di mana dia bisa melihat waiter yang sedari tadi sedang asik membersihkan meja itu.
"Ingin pesan apa, Tuan?"
Pandangannya teralihkan, dia melihat pada seorang wanita yang kini tengah memegang sebuah pena dengan buku kecil.
Seorang pria yang ada di sampingnya langsung angkat suara. "Pesan beberapa menu utama di sini dan saya ingin dia mengantarkan makanan ke sini," ucapnya seraya menunjuk pada waiter yang sedang membersihkan meja.
Wanita itu mengangguk pelan. Sebelum dia pergi, tubuhnya ditundukkan dulu sebagai tanda penghormatan nya. Kemudian, dia pergi dari sana seraya memanggil temannya untuk ikut dengannya.
Sementara itu, pria yang berpenampilan sangat rapih itu hanya bisa menyeringai. Dia membukakan kaca mata yang menutupi matanya.
"Apakah wanita itu yang menjadi objek mu?" tanya pria yang ada di sampingnya.
Dia menganggukkan kepalanya. "Dia adalah orang yang menolongku semalam, cantik bukan?"
"Ya, dia cantik." Pria itu berucap, mengakui kecantikan yang dimiliki oleh seorang waiters yang membersihkan meja tadi, "Ngomong-ngomong, Arka. Apakah selera mu sudah lebih rendah lagi? Dia hanya seorang waiter dan ini adalah kali pertama nya kau menjalin kasih dengan wanita yang berstatus rendah."
Arka mengalihkan pandangannya, dia menaikkan kedua bahunya, tak peduli dengan status sosial yang dimiliki oleh wanita. "Tidak, Markus. Aku tak akan pernah peduli dengan status sosialnya."
Markus mendelik saat dia mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Arka. Lalu, pria itu menganggukkan kepalanya. "Aku lihat wanita itu juga sangat cantik. Siapa nama nya tadi? Ketela?"
"Stella," kata Arka dengan malas nya.
Kali ini, Arka tinggal menunggu gadis nya datang. Gadis yang baru saja dikenalnya pada malam itu. Saat dirinya terluka dan membutuhkan seseorang untuk membantunya. Manik matanya yang indah itu terus menjadi mimpi nya setiap malam akhir-akhir ini.
Ah, betapa obsesi nya Arka sama wanita itu.
Sementara di sisi lain, Stella tengah memperhatikan Sasha yang saat ini tengah menaruh makanan yang telah jadi ke ranjang makanan nya.
"Ada tamu di meja 08, dia memesan menu utama di sini, aku minta kau yang mengantarkannya."
Mulut Stella membulat, mengerti akan maksud ucapan Sasha. Setelah dilihat wanita itu sudah menata makanan dengan baik, dia segera mendorong ranjang makanan itu, menuju ke tempat dua orang pria yang saat ini tengah duduk dan bersantai ria seraya berbincang.
Tatapan Stella jatuh kepada seorang pria yang memakai jas hitam. Sangat tampan sekali, membuatnya hampir saja terhipnotis dengan ketampanannya. Kepalanya menggeleng pelan, berusaha untuk menghilangkan pikiran buruk yang saat ini tengah menghantuinya.
Senyum terbit di wajahnya, tak lebar, hanya senyum segaris yang memunculkan lesung pipi cukup mendalam.
Saat tatapan nya bertemu dengan pria yang dinilainya sangat tampan itu. Keningnya mengerut, entah mengapa dia merasa tak aisng dengan bentuk wajah pria itu.
'Ah, mungkin hanya kebetulan.' batinnya berkata, berusaha untuk melupakan pertanyaan yang ada di dalam dirinya.
Dia berhenti tepat di dekat mereka. Menyajikan makanan itu dengan sebaik mungkin, dilihat dari penampilan mereka yang sangat rapih juga berkelas, membuatnya berpikir bahwa pria-pria yang ada di depannya ini adalah orang yang berpengaruh.
Dia menyajikan makanan dengan rapih. Saat tubuhnya sedikit menunduk, dia mencium aroma mint yang memanjakan area penciumannya. Kepalanya menggeleng pelan, berusaha untuk fokus saat ini dan tak mengindahkan godaan dalam dirinya.
"Selamat menikmati makan siang nya," kata Stella setelah dua menyelsaikan pekerjaannya saat itu.
Dia berbalik, pergi dari sana. Dirasakan punggungnya sangat panas sekali saat ini, entah mengapa dia yakin bahwa ada seseorang yang kini menatapnya dengan lekat.
But, who?
Rasanya saat ini dia ingin menengok ke belakang, melihat siapa orang yang menatapnya, tapi sepertinya apa yang dilakukannya itu, justru akan berdampak negatif bagi para pelanggan yang ada di sini.
Dia menuju dapur, tubuhnya bersandar di tembok dam tangannya teangkat, menyentuh dadanya yang terasa berdegup dengan sangat cepat sekali saat ini.
"Pria itu memang sangat menggoda."
Tiba-tiba saja, Sasha datang dan menepuk keras bahunya, membuat Stella terkejut.
"Untung kau melakukan pekerjaan dengan benar. Kau tahu, aku baru saja mendapatkan informasi, kalau pria itu adalah Arka Hawkins, pengusaha muda tambang terbesar di negara ini." Sasha berucap dengan hebohnya, tapi suaranya masih terbilang rendah, tak ingin jika ada orang lain mendengar apa yang baru saja dikatakannya.
Stella mengedipkan matanya beberapa kali, tak begitu mengerti maksud akan ucapan dari sahabatnya itu. "Pengusaha? Terus, kenapa kalau dia pengusaha?"
Sasha berdecak kesal, cukup sulit juga berbicara dengan temannya yang sedikit bodoh ini. "Jika kau melakukan sesuatu yang tak berkenan di dalam hatinya, pasti dia akan meruntuhkan restoran ini. Lalu kita kerja apa? Pengangguran? Aku tak mau."
Kepalanya mengangguk, mulai mengerti maksud Sasha. "Tenang saja, aku tak melakukan kesalahan yang membuatnya sakit hati, kok."
"Ya, aku dari tadi mempethatikan mu dan sekarang, kau antarkan lagi makanan ke meja 12. Sekarang!"
Stella mengambil sebuah nampan yang berisi makanan dan mulai mengantarkannya, dia sempat melewati meja nomor 08, yang ditempati oleh dua pria tampan dengan wajah yang menurutnya sangat menakutkan.
Wanita itu mulai merasa sedikit takut saat dia berusaha diintimidasi oleh mereka.
Sungguh, mereka sangat menyeramkan sekali di matanya.
Sementara itu, tanpa Stella sadari kalau sedari tadi Arka terus menatapnya dengan tajam. Saar wanita itu melewatinya, sebuah senyum tersungging di wajahnya, merasa sangat puas sekali meski dirinya hanya melihat Stella lewat saja.
"Aku pikir kau akan berkenalan dengannya atau melakukan sesuatu yang diluar akal, ternyata kau hanya diam saja." Markus berucap dengan kesalnya.
Padahal, sudah sedari tadi dia terus memperhatikan Arka, tapi ternyata apa yang diharapkan nya saa ini, tak terkabulkan.
"Aku tak mungkin langsung membawanya saat ini juga." Arka berucap dengan santainya. "Tak banyak yang aku tahu tentangnya. Aku hanya ingin mencari tahu dulu tentangnya, agar nanti tak akan ada kesalahan saat aku mengklaim nya."
Pria itu mengambil sebuah gelas yang berisi cairan bewarna biru muda, diteguknya minuman yang dapat menyegarkan tenggorokan nya itu.
"Namun, setelah aku mendapatkan semua nya, maka aku pastikan dia tak akan lepas dariku."