Chapter 10 Kedatangan Mantan

1420 Words
Aku bersendawa selesai makan. Reflek langsung menutup mulut dan meminta maaf pada Indra. Lelaki itu hanya cuek saja sambil minum. Kami makan bersama karena Indra yang ingin sarapan setelah lari. Aku ikut saja dan bisa menikmati makan gratis. Menyenangkan ya kalau punya gebetan seroyal Indra. Aku anggap dia gebetanku, my future husband. Aku kemudian memeriksa ponsel dan mengernyitkan kening melihat Ilham yang ternyata mengirim pesan beruntun, alias spam. Kalo gini pesangon lo ditunda deh cairnya. Sebelum lo selesaiin semua tanggung jawab lo Aku membaca pesan paling terakhir yang dia kirim. Yang benar saja? Aku akan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik kalau dia juga memecat baik-baik. Sekarang lihat sendiri siapa yang kesulitan. Siapa suruh main memecatku dari agensi yang aku bangun sendiri. Mengenai pesangon, aku tidak peduli. Pesan spam dari Ilham itu aku putuskan untuk mengabaikannya. “By the way, lo ada loker nggak? Gue ada pengalaman di bidang digital marketing. Lo kan IT tuh, masih agak berhubungan lah jadi siapa tau punya kenalan yang buka loker seputar digital marketing.” “Lo bilang lo yang diriin agensi itu. Kenapa bisa dia malah pecat lo?” “Karena bego,” sahutku cepat. Indra mengangkat satu alisnya dan hanya menatapku. “Dia CEOnya dan selingkuhannya itu CFOnya. Gue bagian kerja keras doang,” imbuhku. Indra hanya diam. “Dan lebih begonya lagi. Beberapa bulan lalu gue all in tabungan gue untuk boost production. Beli banyak alat kayak kamera, pecantik studio. Demi proyek tiga digit yang lagi mereka kerjain. Terus gue dipecat gitu aja dong gilak, padahal itu gue yang pitching kliennya.” “Terus lo terima digituin?” “Ya enggak dong. Tapi mau gimana? Gue recokin proyeknya? Bisa banget tapi kasian sama yang lain. Agensi itu kan bukan isinya mereka berdua aja.” Indra kini bersandar di kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Jadi sekarang lo pengangguran?” “Kan udah gue bilang. Gue aja sampe minjem duit ke lo kan. Tabungan gue habis buat invest alat sama mabok. Pokoknya kalo ada lowongan kerja, kabarin ya. Gue kirim CV gue deh sekalian ke lo.” Indra hanya menganggukkan kepala. *** Mataku membulat saat melihat Ilham yang duduk di atas motor. Dia ngapain berada di depan kostku? “Itu si Ilham ngapain sih?” keluhku kesal. Pasti lelaki itu sengaja datang kemari karena aku mengabaikan pesannya. “Mau puter balik?” tawar Indra. “Enggak. Gue hadapin aja. Biar sekalian. Berhenti disini aja,” pintaku. Jarak mobil Indra sekarang cukup jauh dari kostku namun cukup terlihat jelas bahwa Ilham sedang ada disana. Tidak lama kemudian ponsel di genggamanku bergetar. Panggilan masuk darinya. Kontaknya sudah aku hapus tapi aku hafal nomornya, jadi jelas aku tahu deretan nomor itu milik Ilham. “Berhenti depan dia aja.” Aku langsung menatap Indra. “Eh jangan! Mana gue duduk depan. Dia belum boleh tau lo kalo lo belum buat IG.” Ya perihal akun IG, Indra bilang akan memikirkannya dulu. Terkait apa yang harus aku lakukan supaya dia mau membuat IG dan menjalankannya percis seperti yang aku mau. “Terus?” tanya Indra. “Ya gue turun disini aja terus lo langsung pergi. Biar dia ngiranya ini taksi online.” Mobil Indra itu tidak kunjung berhenti. “Berhenti disini aja tolong!” pintaku mulai kesal. Aku ingin Indra bertemu Ilham dengan cara yang lebih keren. Kalau mobil Indra berhenti tepat depan kostku, jelas dia bisa melihat wajah Indra meski Indra tidak keluar mobil. Aku tidak ingin Ilham melihat Indra sekarang. “Nggak. Depan kost lo aja.” “Duh please banget gue punya rencana. Tolong banget Indra!” Aku memegang lengannya. Otot lelaki itu langsung terasa. Akhirnya mobil berhenti. “Oke thank you ya. Langsung balik lo. Terima kasih udah traktir makan. Hati-hati.” Aku langsung melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Untungnya Ilham tidak melihat saat aku turun dari mobil. Dengan cepat aku melangkah dan saat aku sudah depan kost, akhirnya Ilham menoleh. “Ngapain?” tanyaku. “Kenapa nggak bales dan nggak angkat?” tanyanya kelihatan sebal. “Ops, sorry. Gue fokus olahraga tadi. Kenapa?” Sebenarnya aku kesal tapi berusaha menjaga emosiku. “Yang gue minta. Database yang selama ini lo keep.” “Semuanya udah diarsip rapi. Ngapa lo minta gue lagi?” “Lo ada nyembunyiin kontak klien prioritas, Ra.” “Udah gue bilang. Semuanya diarsip rapi. Lo cari aja dulu yang bener.” “Lo kok nggak kooperatif gini sih? Lo mau balas dendam? Lo mau nyuri klien kami?” Aku mengepalkan tangan. Tidak pernah terlintas di benakku untuk berbuat seperti itu. Bahkan meski aku tahu lebih banyak dibanding Ilham dan Meri tentang agensi kami. Ponsel Ilham tiba-tiba berdering. Sebuah telepon masuk nampaknya. Ia langsung mengangkatnya. “Halo kenapa Sayang?” Sayang? Aku yakin buku-buku tanganku sekarang memutih karena saking kerasnya tanganku mengepal. Aku bukan cemburu mendengar Ilham bicara begitu. Sungguh semenjak aku sadar betapa buruknya dia, sudah tidak ada rasa cinta setitik pun. Benar-benar hanya kebencian. Mendengar Ilham yang dengan tanpa malu bicara begitu di depanku, mengingatkanku betapa brengseknya dia saat mengakhiri hubungan empat tahun kami. “Oh ya proyek 1 milyar? Oke, oke. Aku kesana sekarang.” Telepon itu berakhir dan kemudian Ilham menatapku. “Lo denger kan, Ra. Gue baru aja dapet proyek 1 M. Mecat lo malah bawa rejeki. Silahkan terserah lo mau keep semua itu. Agensi gue sama Meri tetap aja lebih berkembang tanpa lo.” Aku hanya diam. Ingin menamparnya juga tidak mungkin karena malu dilihat warga sekitar yang lewat. Ilham kemudian segera mengenakan helmnya dan naik ke atas motor. “Sebentar lagi pesangon lo gue transfer. Gue balik.” Aku hanya diam saja sampai dia pergi. Bahkan ku tatap saat motornya menjauh. Hingga motor Ilham itu melewati mobil hitam yang diam di pinggir jalan. Aku mengernyitkan kening. Mobil Indra, masih ada disitu? Aku langsung memainkan ponsel untuk mencari kontak Indra dan menelponnya. Langsung diangkat. “Lo ngapa belum balik?” tanyaku. “Tadi abis telponan sama orang masalah kerjaan. Sekarang balik.” Keningku mengernyit. Indra bilang akan pergi tapi mobil itu justru kini melaju ke arahku. Padahal bisa langsung putar balik saja. “Terus ngapain kesini?” tanyaku. Lajunya cepat hingga tahu-tahu mobil Indra sudah berhenti di depanku. Kaca jendela di sebelahku itu terbuka dan kemudian Indra menoleh padaku. “Masuk dulu sini sebentar.” “Ngapain?” tanyaku heran. Indra menunjuk kursi mobil yang tadi aku duduki. Perintah tanpa kata dan aku menurut saja. “Apa?” tanyaku setelah menutup pintu mobil Indra membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu dari sana. “Karena lo pengangguran dan nggak ada duit. Pake ini.” “Hah? Sumpah lo nggak jelas banget.” “Lo harus rutin latihan golf dan pergi kesana butuh biaya. Latihan masak juga gitu. Pake ini. Minggu depan lo harus masak empat menu dan hasilnya nggak boleh mengecewakan.” “Empat menu?” tanyaku sambil terkekeh. “Sebentar. Soal golf. Gue nggak kesana sama lo?” Indra menggeleng. “Silahkan dateng sendiri. Gue nggak bisa setiap hari nganter jemput lo. Jangan manja.” Aku kemudian menatap Indra dengan tatapan aneh. Baiklah soal itu aku paham. Hanya saja, tiba-tiba memberi kartunya untukku? Padahal lelaki itu yang bilang kalau dia tidak mau meminjamkan uang karena takut aku kabur. “Kalo gue kabur gimana?” “Lo kehilangan kesempatan jadi istri gue.” Aku terkekeh. Selalu itu saja yang Indra gunakan sebagai ancam namun sialnya berhasil. Aku tidak ingin melepaskan Indra karena aku butuh dia. “Karena lo pengangguran dan gue mau lo fokus persiapan jadi istri gue.” “Kalo gue ternyata manfaatin lo aja dan sengaja tetap nggak bisa masak dalam dua bulan gimana?” tanyaku. Sebenarnya aku penasaran kenapa Indra ini impulsif sekali. Dia suka tiba-tiba berubah. “Berarti lo bodoh udah sia-siain kesempatan yang gue kasih.” Aku menatap kartu yang dia berikan. Bagiku saat mendapatkan rejeki terlalu mudah begini rasanya aneh dan janggal. Atau mungkin ini karma baik setelah begitu jahatnya Ilham dan Meri padaku? “Pinnya 0116. Udah silahkan turun. Gue harus segera balik ngurus kerjaan.” “0116?” tanyaku. Indra mengangguk. Itu tanggal dan bulan lahirku, bisa jadi pin kartunya Indra? Sebuah kebetulan yang unik. Akan tetapi aku tidak peduli. “Oke terima kasih. Siap-siap gue habisin duit lu.” “Jangan lupa empat menu.” “Dua dulu gimana? Pemula dalam waktu seminggu woi,” pintaku memohon kebebasan. “Kalo begitu aja nggak bisa, gimana mau bales dendam ke Ilham?” Oke! Ucapan Indra itu terasa menjatuhkan harga diriku sampai ke kerak bumi. Lihat saja nanti akan aku buktikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD