Chapter 9 IG

1771 Words
Suara dering ponsel membuatku bangun terkesiap. Dengan setengah kesadaran aku segera mengangkat telepon itu. “Halo,” ujarku dengan mata kembali terpejam. Masih merasa begitu ngantuk. “Gue udah di depan.” Aku diam karena masih memproses informasi tersebut. “Siapa?” “Indra.” “Indra?” gumamku terasa masih melantur. Kantukku benar-benar tidak tertahankan. “Your future husband.” Satu detik, dua detik, otakku mulai memproses informasi itu. “Buruan. Gue udah di depan.” Mataku langsung terbuka saat sudah paham maksud ucapan Indra. “Oh iya, iya sebentar.” Ponsel itu langsung ku letakkan di atas ranjang. Ku pandang jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan. “Gilak kesiangan banget gue!” Aku punya janji pagi ini untuk menemani Indra lari di GBK. Siapa sangka aku malah bangun sesiang ini. Dengan tergesa aku langsung menuju kamar mandi, gosok gigi secepatnya dan hanya membasuh wajah. Tidak perlu mandi. Aku keluar dari kamar mandi dan langsung mencari pakaian yang sudah aku siapkan semalam. Iya, semalam aku mengeluarkan hampir seluruh isi lemari hanya untuk mencari outfit yang cocok. Sebab aku tidak pernah lari atau jogging jadi merasa tidak punya outfit yang mendukung. Untungnya ada kaos dan celana training yang ku anggap layak dipakai. Ganti baju dengan cepat dan kemudian mengambil ponsel lalu keluar. Keluar dari kost aku langsung menghampiri mobil Indra. Membuka pintu dan duduk disana dengan kondisi napas terengah. “Aduh ya ampun maaf banget ya gue kesiangan gini,” ucapku merasa bersalah. Sepertinya aku kelelahan karena kemarin. Bepergian juga lumayan melelahkan dan menghabiskan energi, meski aku hanya menjadi penumpang di kereta dan penumpang di mobil Indra. “Siang?” Satu alis Indra itu terangkat dan ia menatapku heran. “Lo ngingau? Ini masih jam setengah enam,” ucap Indra memberitahu. Keningku mengernyit. “Jam setengah 6?” tanyaku bingung. Aku langsung menoleh kedepan dan baru sadar langit memang tidak seterang kalau sudah jam sembilan pagi. “Hah? Gue liat jam dinding tadi udah jam 9 loh.” Aku lantas melihat jam yang tertera di ponsel. Benar memang baru jam setengah enam pagi. “Salah liat berarti,” sahut Indra. Entah kenapa perasaanku menjadi begitu dongkol setelah tahu kalau ini masih sangat pagi. “Gilak gue udah buru-buru keluar lagi.” Aku langsung menoleh pada Indra. “Lagian lo kenapa nyuruh buru-buru sih? Gue baru bangun tadi. Gue kira udah kesiangan.” “Pake sabuk pengamannya. Kita berangkat.” “Gue haus banget gilak. Nggak sempet ambil minum, nggak sempet pipis. Sisiran pun enggak. Nggak sempet pake parfum, nggak sempet mandi. Gue balik kost dulu deh kalo gitu,” keluhku. “Udah gitu aja udah cantik.” Aku langsung menoleh pada Indra. “Heh! Ini bukan masalah cantik nggak cantik. Ini masalah kenyamanan!” Tubuh Indra itu menghadap ke belakang untuk mengambil sesuatu. Rupanya ia mengambil air kemasan dalam botol, membuka tutupnya, dan kemudian memberikannya padaku, “Nih minum dulu.” Aku mengambil air yang dia berikan. “Makasih.” Setelah meminumnya sampai habis, aku jadi merasa lega. Indra menatap jam di tangannya, nampak seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “10 menit lagi lo harus udah balik kesini. Sekarang silahkan balik ke kost.” Aku berdecak sebal namun tetap saja aku turuti. “Awas aja lelet.” Aku yang sudah berada di luar pun kemudian membalikkan tubuh dan memberikan ponselku pada Indra. “Nih pegang nih. Jaminan.” Lelet itu tidak ada di kamusku. Jadi akan aku buktikan pada Indra kalau aku bisa kembali dengan cepat. Setelah menyerahkan ponsel, aku kembali lagi ke kamarku. Buang air kecil terlebih dahulu dan baru setelah itu menyisir rambut. Mengikatnya dengan rapi dan kemudian mengambil jam tangan. Tadi tidak sempat. Mataku lantas menatap menatap tajam pada jam dinding. Rupanya jarum jam itu masih berada di angka sembilan. “Yaelah, jamnya mati ternyata.” Aku kemudian ambil parfum dan menyemprotkannya ke tubuh. Baru ingat juga aku belum pakai body lotion dan deodoran. Aku pakai itu semua dan juga memakai sunscreen. Ku ambil tisu di atas meja, aku yakin aku akan sangat membutuhkannya nanti. Setelah semua dirasa sudah beres aku langsung keluar dan kembali ke mobil Indra. “Gue nitip parfum sama kunci kost disini ya. Gue nggak bawa tas,” ucapku. Indra tiba-tiba terbatuk. “Lo ngapain pake parfum sebanyak ini?” tanyanya sambil menutup hidung. “Ya biar wangi lah.” “Ini mah kebanyakan. Nyengat.” Aku tidak peduli. “Ups sorry,” sahutku sambil memakai sabuk pengaman. *** Tisu yang aku bawa akhirnya hanya ditelakkan di dalam mobil. Sebab membawa ponsel dan botol minuman saja bagiku sudah cukup memberatkan. Jadi aku putuskan tidak membawa tisu. Aku dan Indra melangkah dari parkiran untuk mencari spot lari yang menyenangkan. Ternyata ramai juga dan ada banyak lelaki tampan. “Kalo tau bakal banyak cogan gini, gue dandan cakepan tadi.” Sungguh ini bisa menjadi ajang untuk ‘cuci mata’. Ada banyak lelaki tampan disini. “Lo dandan juga mereka belum tentu mau.” “Kata siapa? Who knows kan.” “Gue ngajak lo kesini bukan buat cari cowok ya.” “Iya tau. Apa salahnya sih cuci mata?” “Pemanasan dulu,” ucap Indra mengakhiri topik kami sebelum perdebatan semakin memanas. “Lo aja. Kan lo doang yang lari. Gue cuma nemenin kan?” “Lo nemenin sambil terbang emang?” Aku menghela napas. “Ya ikut lari lah,” imbuh Indra. “Duh iya iya, Pak Guru. Lo udah cocok jadi guru Penjas gue.” Kami mulai pemanasan. Aku hanya mengikuti yang Indra lakukan. Cukup lama juga. Pemanasannya lebih kompleks dari yang dulu seingatku aku lakukan saat masih SMA. Begitu selesai pemanasan, Indra mengampiriku dan tiba-tiba mengambil ponselku. “Ngapain ngambil HP gue?” “Biar lo fokus lari.” Aku menatap Indra dengan pandangan penuh tidak percaya. “Apa? Mau protes?” Tidak ada yang bisa aku lakukan selain memberikan senyuman palsu dan menggelengkan kepala. Anjas masih belum membalas pesanku dan juga belum ada transferan masuk darinya. Aku sudah punya hutang pada Indra. Selain tanggungan uang, aku punya tanggungan syarat darinya yang harus dipenuhi. “Gue bisa nyari calon istri yang lain aja kalo begini doang lo protes.” “Duh iya, iya. Ayo deh mulai lari.” Aku mulai dari dengan perlahan. Indra juga mulai lari. Kami lari bersebelahan. Rasanya belum ada tiga menit aku berlari, perutku rasanya sudah sakit. Dadaku juga terasa sakit, napas terengah. Aku tidak kuat, jadi aku langsung berhenti. “Duh gue tuh nggak kuat lari.” “Jalan aja kalo gitu.” *** Aku sedang minum air saat Indra mengakhiri larinya dan menghampiriku. Langsung aku akhiri kegiatan minum dan menadahkan tangan meminta ponselku yang dibawanya lari sejak tadi. Sementara aku, duduk disini sambil memandangi orang-orang yang berlari. Bukannya mengembalikan ponselku, Indra langsung mengambil botol minuman yang tadi aku pakai untuk minum. “Eh itu bekas gue…” Ucapanku terhenti karena Indra langsung minum begitu saja seolah tidak peduli. Lagian siapa suruh dia tidak membawa air. Hanya aku saja yang bawa air meski akhirnya aku hanya duduk disini. Selesai Indra minum baru dia memberikan ponselku. “Enak ngeliatin cowok-cowok pada lari?” tanyanya. “Ya enak dong. Mata jadi seger, pada ganteng-ganteng.” Aku sebenarnya tadi ikut berjalan beberapa putaran sementara Indra sudah melesat jauh karena lari. Akhirnya aku duduk saja karena lelah. Tidak kuat berjalan lebih lama lagi, sebab aku sudah lama tidak berjalan kaki selama itu. Untungnya Indra tidak ada protes. Dia tetap lari saja namun tetap menatapku saat berlari di depanku. “Next time kita lari di pekarangan rumah gue aja kalo gitu.” “Next time?” Aku lebih peduli pada kalimat Indra tentang kemungkinan akan ada kegiatan lari lagi kedepannya, dibanding tempat yang disebutkan Indra. “Iya. Jadwalnya jelas. Lo belajar golf, belajar masak, sama lari. Kelas masak udah gue atur. Lo tinggal datengin aja kelasnya.” Aku kemudian tersenyum miris. “Ini lo emang seenaknya gitu ya ngatur gue? Udah maksa belajar golf, maksa lari.” “Kalo lo nggak mau, kita bisa berhenti sekarang. Gue nggak mau buang waktu sama yang nggak serius.” Tidak bisa kulepaskan Indra begitu saja. Sebab sangat kecil menemukan peluang lelaki seperti Indra yang bisa membantuku membalas dendam pada si Ilham dan Meri. “Gue serius kok!” Indra tidak merespon. Aku kemudian mulai memeriksa ponsel. Siapa tahu ada pesan dari Anjas. “Ada chat dari Ilham sama Meri.” Aku langsung mengalihkan pandangan dari ponsel menjadi menatap Indra. “Lo buka HP gue?” tanyaku sinis. “Geter tadi terus keliatan di notifikasi. Lagian gimana gue bisa tau password HP lo.” “Oh,” ucapku sedikit malu. Hampir saja aku emosi kalau Indra sampai berani lancang memainkan ponselku tanpa izin. Aku yang penasaran dengan pesan Ilham dan Meri itu pun langsung memeriksanya. Memang benar mereka mengirimkan pesan. Ilham mengirim pesan yang bertanya soal pekerjaan dan Meri mengajakku untuk bertemu. Aku memutar bola mataku malas. Enak saja aku masih harus mengurusi pekerjaan itu padahal Ilham sendiri yang memecatku. Dengan tidak tahu malunya dia bertanya. Seharusnya dia pikir itu dulu kan sebelum memecatku begitu saja? Lalu soal Meri, kenapa juga baru sekarang dia mengajakku bertemu? Aku tidak ingin bertemu dengannya. Pesan dari kedua orang itu aku abaikan saja. “Lo punya IG nggak?” tanyaku kemudian pada Indra. “Enggak.” Mataku membulat dan mulutku ternganga. “Serius?” Indra menganggukkan kepala sebagai jawabannya. “Hari gini nggak punya IG. Yang bener aja lo?” tanyaku. Masa ada di jaman serba digital seperti ini, ada orang yang tidak punya media sosial. “Gue beneran nggak punya IG,” ucap Indra terlihat serius. Ini akan menjadi masalah. Sebab aku butuh akun IG milik Indra supaya bisa pamer kemesraan nanti. Minimal fotoku harus diunggah di feed IGnya Indra. Akan lebih bagus juga kalau foto-foto di IG Indra estetik. Apalagi Indra itu tampan dan kaya. Aku yakin bisa membuat Ilham memanas kalau stalk akunnya. Masalahnya, Indra tidak punya IG. “Kalo gitu buat aja.” “Untuk apa?” “Ya buat bantuin gue lah! Buat posting foto gue, posting foto kita ngedate, posting foto kita nikah. Pokoknya buat flexing dan nunjukkin ke Ilham kalo pasangan gue yang sekarang tuh jauh kelasnya di atas dia.” “Enggak. Pake IG lo aja.” Hanya dengan menggunakan akunku saja tidak cukup. Indra harus punya akun juga supaya Ilham dan Meri bisa stalking nantinya. “Please lah. Itu salah satu cara biar gue bisa balas dendam ke Ilham.” Indra menggelengkan kepala. Aku berdecak sebal. “Please banget, Indra. Kalo nggak, gue yang jalanin akun lo. Gimana? Jadi ya lo tinggal foto-foto aja.” Indra tetap menggelengkan kepala. “Gue harus ngapain biar lo mau buat IG?” tanyaku kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD