Chapter 8 Mau

1352 Words
“Nah ini dia rumahnya,” ucapku saat melihat nomor rumah yang tertera jelas. Aku sudah pernah datang kesini sebelumnya, jadi masih cukup ingat nomor rumah Arianti. Yang tidak aku hafal adalah jalan menuju kemari. Itu sebabnya masih butuh bantuan dari maps. Mobil yang dikemudikan Indra itu berhenti dan aku melepas sabuk pengaman. “Permisi,” ucapku ketika tanganku menggapai ponsel dan melewati depan wajah Indra begitu saja. Lagian kenapa sih dia meletakkan ponselku di sebelah kanan. Terlalu kanan jadi aku harus begini untuk menjangkaunya. Tanganku tiba-tiba dipegang oleh Indra. “Lo nginep? Terus besok lari di GBK gimana?” tanyanya. Aku mengangkat satu alis. Padahal kami sudah membahasnya tadi. Kesimpulannya adalah aku tidak jadi meminjam. Indra juga tadi hanya mengatakan ‘ya udah’. Kenapa sekarang dibahas lagi? “Gimana sih. Gue kan nggak jadi minjem.” “Adik lo udah transfer emang?” “Belom. Tapi pasti sebentar lagi transfer. Dia lagi kerja aja jadi masih belum bisa dihubungi.” Indra pun berdecak. “Nggak punya duit, belagu.” Aku langsung menatap Indra kesal. “Duh iya deh siap si paling punya duit,” sahutku. Indra ini aneh. Kemarin bilangnya tidak akan meminjamkan uang. Lalu tiba-tiba mau meminjamkan. Tiba-tiba minta nomor rekening. Soal kelas memasak juga. Padahal aku sudah memohon padanya terkait kelas memasak, tapi dia menolak. Katanya aku harus usaha sendiri. Sekarang saat sudah usaha sendiri sampai nyasar di Nambo, dia malah mendadak mau carikan dan bayarkan kelas memasak. Aneh. “Lo tadi mau minjem seratus buat ojol kesini. Tandanya lo se-enggak punya duit itu. Ngapain masih nolak duit yang mau gue pinjemin?” Aku mengepalkan tangan. Kepalaku jadi pusing hanya karena masalah pinjam meminjam uang ini. “Duh! Iya deh iya. Transfer gue sekarang. Ribet banget deh heran!” Aku menatap Indra itu dengan tatapan tajam. Persetan dengan apapun alasan lelaki itu berubah pikiran. Aku tidak peduli. Nanti kalau Anjas tiba-tiba transfer, tinggal aku kembalikan saja ke Indra. Kalau aku tidak berikan nomor rekening sepertinya Indra akan terus mengungkit masalah ini. Tumben sekali yang meminjamkan uang memaksa peminjam agar jadi meminjam uang. “Sebentar. Lo tiba-tiba ngebet minjemin uang, bukan aneh-aneh kan?” “Aneh-aneh seperti?” “Ya apa aja. Menjebak gue.” “Bisa aneh-aneh apa dari minjemin dua juta?” tanya Indra. “Ya mana tau.” Indra memainkan ponselnya. Lelaki itu kemudian memberikan ponselnya padaku. Meminta aku untuk memberikan nomor rekening. Aku ketik nomor rekeningku dengan cepat. “Gue transfer dua ratus juta ya?” tanyaku iseng. Aku menatap Indra untuk memastikan ekspresinya. Ekspresi datar itu tidak berubah. Aku jadi menghela napas. Dengan cepat aku ketikkan nominal dua juta. Setelah itu diminta memasukkan pin. “Pin 2552.” Aku langsung menoleh pada Indra. Lelaki itu masih menatapku. Aku putuskan langsung mengetik pin itu saja. Muncul notifikasi transaksi berhasil. “Oke udah. Thanks my future husband. Besok kita lari pagi di GBK. Tapi tolong jemput gue ya biar irit ongkos.” Aku mengatakannya sambil menyerahkan ponsel Indra. “Oke.” Aku tersenyum palsu. “Terima kasih juga atas tumpangan dan airnya. Hati-hati di jalan, oke?” tanyaku sambil menepuk pundaknya. Aku membuka pintu mobil. “Lo mau balik jam berapa nanti ini?” “Nggak tau nanti sekelarnya.” Indra kemudian diam dan menatapku cukup lama. Aku kira dia akan lanjut bicara namun berhubung dia diam saja aku putuskan untuk memalingkan wajah dan hendak keluar. “Chat nanti kalo udah selesai. Gue jemput kesini. Balik bareng aja ke Jakarta.” Aku langsung sumringah menatap Indra. Lumayan tidak perlu naik kereta. Juga tidak perlu naik ojol. Cukup duduk nyaman di kursi mobil Indra. “Oke siap my future husband. Bye. Hati-hati pokoknya.” Aku turun dari mobil, menunduk agar bisa menatap Indra. Aku berikan flying kiss kemudian melambaikan tangan dan menutup pintu mobil. *** Aku berdiri di depan gerbang rumah Arianti dan mengirim pesan padanya bahwa aku sudah di depan. Tidak butuh waktu lama, Arianti pun muncul. Kami berpelukan dulu begitu bertemu baru masuk ke dalam rumahnya. Sampai di rumah, Arianti langsung mengajakku ke dapur. Katanya dia sudah buat es buah untuk menyambutku. Ah terdengar menyegarkan sekali langsung disambut es buah. “Ayo sini, Vir. Buru ceritain kenapa bisa putus sama Ilham.” Aku sudah komitmen untuk tidak menceritakan soal perselingkuhan Ilham itu meski sangat ingin menceritakannya pada siapapun. Jadi aku hanya akan katakan kalau kami sudah tidak cocok. “Udah nggak cocok. Ya biasalah. Susah.” Arianti pun menghela napas. “Gue sadarnya itu gara-gara foto Ilham di IG lo udah ngga ada. Jadi ya jelas satu-satunya kemungkinan tuh kalian putus.” “Ya udahlah ya mungkin nggak jodoh. Jangan dibahas lagi ya, Ti.” Saat mulutku bicara begitu jujur sebenarnya dalam hatiku bergejolak tidak setuju. Sungguh aku ingin menceritakan semua kebusukan Ilham itu. Aku ingin curhat pada Arianti. Hanya saja aku menahannya. Aku harus tetap bersikap elegan. Alasan yang Indra katakan juga cukup make sense. Kalau Indra tidak ingin terlihat seperti dia pelarianku karena Ilham selingkuh. Meskipun kenyataannya memang demikian. Itu sebabnya dia minta aku tidak menggemborkan perselingkuhan Ilham. Apalagi pernikahan kami direncakan dalam waktu dekat. Jika aku berhasil memenuhi syaratnya. Tentu saja harus berhasil. “Iya, Vir. Ini abisin dulu es buahnya. Baru kita mulai belajar masak nanti.” *** Berhubung masakan yang akan aku coba buat adalah ayam kecap, maka aku harus memulainya dari mengolah ayam mentah terlebih dahulu. Mulai dari mencuci ayamnya. Awalnya aku pikir biasa saja namun sungguh ketika kulitku beradu dengan kulit ayam mentah itu, rasanya menggelikan. Aroma amis yang sebenarnya tidak terlalu menyengat itu seolah dengan mudah memancing rasa ingin muntahku. Perpaduan yang terasa menyebalkan. “Dicuci yang bersih ya, Vir.” Aku mengangguk mendengar instruksi Arianti. Aku ingin bila kalau aku sungguh merasa geli memegang ayam mentah ini tapi ku tahan. Aku harus tahan. Ayam adalah makanan kesukaanku. Saat dia sudah matang, rasanya begitu enak. Jadi aku harus melawan rasa geli ini. “Ini udah bersih belom?” tanyaku. “Itu kalo ada bulu-bulu yang tertinggal dibersihin juga, Vir. Cabutin.” *** Ternyata mudah juga membuat ayam kecap. Apalagi setelah dicoba rasanya, kata Arianti enak. Lumayan seru juga memasak bersama Arianti. Kami banyak berbincang. Jadi tidak berasa seperti sedang belajar masak. Arianti itu terlampau baik. Dia bahkan menolak saat aku ingin membayar untuk semua bahan yang disiapkan. Katanya ia tidak masalah. Aku pulang saat sore hari. Suaminya belum pulang kerja kala itu. Aku juga sudah kirim pesan pada Indra. Jadi tidak heran saat keluar dari rumah Arianti, mobil lelaki itu sudah terlihat. Aku hanya bilang kalau itu taksi yang ku pesan dan untungnya Arianti tidak terlalu curiga. Aku masuk mobil dan sengaja duduk di kursi belakang. Membuat Indra langsung menoleh padaku. “Ngapain duduk disitu?” tanyanya. “Udah buru jalan. Kan Arianti taunya gue order taksi online.” Indra berdecak dan kemudian mobil mulai dikemudikan. Aku membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada Arianti. Setelah mobil mulai menjauh, Indra menghentikan laju mobil. “Pindah,” ucapnya. “Iya, iya. Duh.” Aku keluar mobil dan masuk lagi untuk duduk di kursi sebelah kemudi. Setelah aku pakai sabuk pengaman, baru Indra melajukan kembalu mobilnya. “Lo berarti dari tadi nungguin gue?” tanyaku. “Enggak. Emang ada urusan juga di Bogor.” “Oh urusan apa?” “Ya ada lah urusan.” Indra sepertinya enggan menjawab. Aku juga enggan bertanya lebih lanjut. Yang terpenting aku bisa pulang dengan nyaman dan tinggal turun di depan kost nanti. Aku kemudian menunjukkan kotak bekal yang diberi Arianti. Hasil masakan yang ia bungkuskan untukku. Katanya untuk makan malam aku di kost. “Nah ini dia hasil masakan gue. Lo harus cobain.” Indra hanya melirik sebentar karena ia harus fokus menyetir. “Ayam kecap,” ucaku bangga sambil mendekatkan kotak bekal itu ke wajah Indra supaya dia bisa mencium aromanya. Indra sedikit menjauh. “Bisa dimakan nggak itu?” tanyanya meremehkan. “Ya bisa dong. Enak begini. Makanya cobain.” “Suapin,” ujar Indra kemudian. “Ya nanti aja nyobainnya, Bambang!” “Sekarang.” Tidak ada sendok. Arianti hanya memberikan kotak makan saja tanpa sendok. “Nggak ada sendok. Emang lo mau makan dari jari gue?’ “Mau.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD